Berbagi Cinta : Hati Diduakan Yang Tersakiti

Berbagi Cinta : Hati Diduakan Yang Tersakiti
Bab 23.


__ADS_3

“Aku sedang memikirkan Iva.” Hadi menghela nafas panjang. Lita langsung melirik ke arah Hadi saat Hadi mengatakan nama Iva. Iva adalah istri pertama suaminya sekaligus madunya. Apa yang terjadi ya? pikir Lita di dalam pikirannya.


Hadi kembali terdiam. Lita memperhatikan suaminya tersebut. Ingin Lita menanyakan namun ia tak tahu apakah boleh bertanya. Iva ini lebih muda dari Hadi dan Lita. Hadi berumur 25 tahun, Lita 27 tahun sedangkan Iva 20 tahun. Karena saat baru lulus SMA, Iva beberapa bulan kemudian menikah dengan Hadi yang lulusan S1 hingga akhirnya 2 tahun berumah tangga dan kini Lita hadir di antara Iva dan Hadi.


Lita tahu kalau dia adalah pihak ketiganya, namun Lita sudah hamil dan ia perlu ayah si bayi bertanggung jawab. Namun tak dapat di pungkiri kalau Lita dan Hadi memang bersalah karena melakukan hubungan terlarang tersebut.


Dan kini korbannya adalah Iva, Lita tahu itu semua. Tapi ia pun tersudut dengan keadaanya.


Lita membuyarkan lamunannya dan kembali menatap Hadi.


“Mas, Iva sedang hamil juga kan?”


“Iya. Sekarang ini pasti sudah 7 bulan juga. Saat kau hamil sebulan, ternyata Iva telah hamil juga 3 bulan. Kami tak menyadari kehamilannya. Aku bersalah pada Iva, Lita.” Hadi berwajah sedih saat ini.


“Aku juga bersalah Mas, namun bagaimana lagi. Semua sudah terjadi. Mas, sebaiknya kita pindah dan tinggal di rumahku. Apartemen ku kan luas dan besar. Kita tinggal di sana saja ya Mas. Kan ini rumahnya Iva yang dibelikan Ayahnya.” Lita merasa kurang nyaman tinggal di rumah yang seharusnya rumah Iva.


“Aku mau kita tinggal di sini karena berharap kalau Iva akan kembali kemari. Namun, sepertinya Iva nampak tenang di tempat lain.” Hadi mendesah pelan.


“Apa Mas Hadi sudah menemukan Iva?” Lita menatap serius suaminya tersebut.


“Iya ... namun Iva sedang....” Hadi tak meneruskan perkataannya. Tadinya ia hendak berkata kalau Iva sedang bersama pria lain, tapi tak jadi diucapkannya. Sebagai gantinya ia berwajah sedih.


“Kenapa tak di ajak pulang Mas kalau sudah ketemu?” Lita penasaran apa yang membuat wajah suaminya tersebut bersedih.


“Jangan di bahas lagi ya, Lita. Aku mau mandi dahulu. Kau istirahatlah yang cukup Lita. Ingatlah menjaga kesehatan dirimu dan bayi kita.” Hadi mengusap lembut rambut Lita, kemudian beranjak pergi masuk ke kamar dan hendak mandi.


Lita hanya menatap suaminya tersebut yang berlalu masuk kamar yang hendak mandi.


Di tempat lain.


Saat ini Iva hendak membantu Ibunya di dapur. Ia membantu masak dan cuci piring dan bahkan menyapu. Iva terlihat senang saja. Kemudian Iva melihat ayahnya sedang duduk melihat janggutnya. Terlihat sudah nampak lebat. Ia hendak mencukur kumis dan janggutnya.


Iva datang mendekat ke arah Ayahnya. Nina sedang keluar dan Lukas belum pulang kerja. Sedangkan Ayah tadi ke tempat kerja sebentar dan sekarang sudah di rumah. Jadi yang di rumah saat ini Iva, Ayah dan Ibu.


“Ayah ... sedang apa?” Iva duduk di samping ayahnya.


“Melihat kumis dan janggut, mau Ayah bersihkan saja.” Arman menatap cermin kecil untuk melihat wajahnya.


“Iva bantu ya.” Iva menawarkan diri.


“Bisa?”


“Bisalah.”


Arman pun mengiyakan dan Iva segera mengambil beberapa alat. Awalnya Iva menyemprotkan seperti sabun berbusa, namun entah apa namanya. Ia oleskan di sekitar wajah ayahnya hingga kumis dan janggutnya terkena. Selesai itu, Iva langsung mengambil alat cukurnya. Ia mulai dengan hati-hati membersihkan. Dibagian kumis dan pinggir-pinggir kemudian ke janggut ayahnya.


Hadijah Putri menatap kegiatan ayah dan anak tersebut. Keduanya tampak senang. Hadijah putri tersenyum menatap ke arah suami dan putri kecilnya. Usai membersihkan semuanya, Iva membersihkan kembali dengan handuk bersih. Dan air bersih juga  sudah tersedia. Setelah di rasa sudah rapi dan bersih, Iva memeriksa sekali lagi sambil menyentuh wajah Ayahnya. Sudah rapi dan bersih.


“Oke. Sudah selesai yah. Semoga puas. Hehehe.” Iva tersenyum. Padahal ia belum pernah melakukannya. Namun hendak melakukannya.


“Lumayanlah. Makasih ya putri Ayah.” Arman tersenyum pula ke Iva.

__ADS_1


Hadijah Putri bergabung ke tempat suami dan anaknya.


“Ngapain seh? Asyik sekali nampaknya.” Hadijah Putri berbasa-basi saja.


“Ini anak kita bantu aku bersihkan kumis dan janggut ku. Sekarang sudah bersih. Terlihat lebih muda kan Buk.” Arman memamerkan wajahnya. Hadijah Putri tertawa melihat tingkah suaminya. Iva tersenyum.


“Tumben nak, kok bantuin Ayahmu?” Hadijah Putri menatap ke arah Iva.


“Selagi Iva masih dengan Ayah dan Ibu jadi ingin menghabiskan waktu yang masih ada. Takutnya nanti gak bisa lagi atau Iva gak ada lagi ya.” mata Iva berkaca-kaca.


Arman dan Hadijah Putri menatap ke arah Iva.


“Nak, kok gitu ngomongnya. Jangan berpikiran yang aneh-aneh ya.” nasehat si Ibu.


“Iya. Ayah dan seluruh keluarga akan selamanya sama Iva.” Sambung Arman.


Iva malah tertawa terkekeh.


“Ayah dan Ibu mikir apa seh ... Iva baik-baik aja loh. Mikirnya jangan kejauhan ya Yah, Buk....” Iva tersenyum.


Semuanya kembali tersenyum bersama-sama. Arman kembali menoleh ke Iva.


“Iva ... rumah yang Ayah belikan untuk mu di kota itu mau di apakan? Mau di tinggali, di sewa atau dijual saja?” Arman bertanya ke putri nya.


Iva menatap lembut sang Ayah.


“Di biarkan saja ya Yah. Iva udah gak berminat balik ke sana.”


“Ya udah terserah Ayah dan Ibu aja gimana bagusnya.” Iva tersenyum.


“Baiklah. Ayah jual saja kalau begitu. Uangnya Ayah kasi ke Iva untuk biaya persalinan mu nanti.”


“Iya Ayah.”


Mereka pun sepakat hendak menjual saja rumah Iva yang ada di kota. Selang beberapa lama kemudian, datang lah Nina bersama calon suaminya. Bahkan Kak Nina bukan hanya datang dengan tunangannya tapi juga dengan gadis cilik yang masih kecil dan imut. Nina dan tunangannya memberi salam pada Ayah dan Ibu kemudian masuk ke dalam rumah.


Iva pamitan dengan Ayah dan Ibunya yang duduk di kursi teras rumah, Iva hendak bergabung dengan Kak Nina di dalam rumah. Masuklah Iva ke dalam rumah. Iva mencari di ruang tamu namun Kak Nina dan tunangannya tak kelihatan. Ternyata ada di ruang Tv, di ruang keluarga. Iva ikut bergabung.


“Kak....” sapa Iva pada Nina.


“Eh Iva. Ini tunangan kakak kenalan dulu.” Nina memperkenalkan Iva dengan tunangan Nina.


“Iva bang....” ucap Iva di hadapan tunangan Nina


“Ikang Syahputra. Panggil aja Ikang.” Ikang dan Iva berjabat tangan.


Kemudian Iva melihat ke arah gadis kecil yang imut dan manis.


“Kalau yang ini siapa? Halo gadis imut yang manis....” Iva tersenyum lembut ke arah gadis kecil tersebut.


“Dia ponakan bang Ikang.” Nina memberitahukan.

__ADS_1


“Namanya siapa dik?” Iva melihat ke arah gadis kecil tersebut.


“Elin.” Ucap Elin yang imut dan manis.


“Oh Elin. Pintar ya. Umur berapa sayang?


“Berapa ya, 5 tahun eh 6 tahun. Gak tahu. Lupa. Nanti tanya Mama di rumah aja dah.” Polos dan imutnya Elin menjawab.


Spontan saja ketiga orang dewasa yang di dekat gadis kecil tersebut tertawa melihat tingkah Elin yang lucu.


“Ikut tante yuk.”Iva mengajak Elin.


Elin melihat ke arah Ikang.


“Bawa aja Iva. Tu anak tadi merengek mau ikut jadi akhirnya kita bawa kemari dah.” Ikang pun mengijinkan Iva membawa Elin. Biar Ikang dan Nina bisa berduaan hahaha.


“Mau sayang?” kembali Iva melihat ke Elin.


Elin pun mengangguk.


“Kami keluar bentar ya bang dan Kak Nina.” Iva menoleh ke kakak dan ke arah Ikang juga.


“Iya. Hati-hati ya Iva.” Pesan Nina yang langsung di anggukan oleh Iva. Sedangkan Ikang hanya tersenyum.


Pergilah Iva dengan Elin berdua. Iva hendak mengajak Elin berjalan-jalan sekitar kampung. Ikang calon Nina ini berada di kampung sebelah. Jadi mereka berbeda kampung. Untuk itulah Iva mengajak Elin jalan-jalan sekitar kampungnya.


Elin menatap ke arah Iva. Iva menoleh senyum ke Elin.


“Tante lagi hamil ya? ada dedek bayi dalam perut tante?” Elin melihat perut Iva yang membesar.


“Iya sayang. Elin pintar ya, kok ngerti tante lagi hamil?”


“Soalnya Mama Elin hamil perutnya besar juga kayak tante. Mama bilang ada dedek bayinya.”


“Oh iya sayang.” Iva mengelus lembut rambut Elin.


“Papanya mana tante??? Kok gak nampak?” ucapan Elin tersebut membuat langkah kaki Iva terhenti. Iva melihat ke arah Elin.


Karena Elin melihat Iva tak menjawab si kecil yang tak mengerti tersebut, kembali bertanya.


“Papanya udah mati ya tante....” ucap Elin yang sangat polos tersebut.


Bersambung....


Aduh dek Elin kok dibilang Hadi udah mati yak 😅😅😅


Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.


Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.


Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D

__ADS_1


Kakak-kakak pembaca semuanya, berhubung lomba akan segera berakhir jadi dukung karya ini ya kak. Karena karya ini sedang mengikuti lomba berbagi cinta. Jadi Vote sebanyaknya ya kak dan like sebanyaknya. Makasih buat yang selalu setia dengan cerita ini ya kak. Love you all.


__ADS_2