Berbagi Cinta : Hati Diduakan Yang Tersakiti

Berbagi Cinta : Hati Diduakan Yang Tersakiti
Bab 17.


__ADS_3

“Mama....!!!” suara Niken berseru dan bersamaan dengan suara Hadi beserta Andika yang menyebutkan kata “Mama....!!!” juga. Rupanya Andika dan Hadi pulang bersama dan menyaksikan Jihan yang memperlakukan Iva dengan tidak baik.


Jihan menoleh ke arah suara dimana baru saja Andika suaminya dan Hadi putranya baru sampai rumah. Jihan kaget luar biasa. Tadinya hendak terus mengomel malah tak jadi. Sebagai gantinya ia segera mundur beberapa langkah. Sedangkan Niken memeluk tubuh Iva. Iva kembali menangis dan meringis karena rasa sakit akibat tamparan yang baru saja di terimanya.


Hadi dan Andika seharusnya belum pulang jam segini, namun karena di rasa Hadi sepi penumpang jadi ia pulang saja hari ini. Dan Andika merasa sedang kurang enak badan jadi pulang ke rumah lebih cepat. Tak di sangka malah melihat perilaku tak baik Jihan pada Iva. Bahkan mereka baru tahu kalau Jihan memperlakukan Iva seperti pembantu. Sungguh mertua keji.


Andika melangkah ke arah Jihan. Jihan takut-takut menatap suaminya itu.


“Masuk ke kamar sekarang juga. Ikut aku.” Perintah Andika pada Jihan. Jihan pun menuruti suaminya itu. Masuklah mereka berdua ke dalam kamar. Sepertinya Andika hendak memarahi Jihan namun tidak di depan anak-anaknya.


Sedangkan Hadi segera menoleh ke Iva. Ia langsung memeluk Iva.


“Maafkan Mamaku ya sayang. Maafkan.” Bisik Hadi ke Iva. Iva hanya menganggukkan kepalanya.


“Kita pergi sekarang saja dari rumah ini. Tak perlu lagi berlama-lama. Jadi inikah kenapa kau minta pindah sayang?” Hadi menatap kedua bola mata Iva yang sekarang basah terkena tetesan air mata.


Iva tak menjawab, Hadi akhirnya membawa Iva masuk ke dalam kamar mereka. Niken hanya bisa menatap iba pada kakak iparnya itu.


Di dalam kamar, Hadi segera membereskan semua pakaian mereka dan memasukan ke dalam koper pakaian. Iva menatap suaminya dengan kening berkerut.


“Mas, kita mau kemana?”


“Pindah Iva. Bukankah ini yang sudah kita rencanakan. Tak perlu menunggu dua atau tiga hari. Hari ini juga kita pindahnya.” Hadi masih sibuk mengemasi pakaian mereka. Iva pun membantu suaminya.


Di dalam kamar Andika dan Jihan kini saling menatap. Ia tak sangka istrinya sungguh keterlaluan. Sampai hati memperlakukan menantu sendiri sebagai babu. Di kamar tersebut Andika menceramahi Jihan dengan panjang lebar dan marah serta kesal pada Jihan. Jihan hanya diam saja menerima teguran dan amarah suaminya. Walau Cuma marah dengan ucapan tapi cukup membuat hati Jihan dongkol. Dan semua ini selalu di anggap Jihan sebagai kesalahan Iva. Membuat Jihan semakin tak suka saja pada Iva. Usai marah pada Jihan, Andika keluar dari kamar dan menemui Niken. Andika ingin tahu semua cerita dari putrinya itu.


Andika berharap istrinya bakal merenungkan semua yang ia ucapkan. Namun di hati Jihan malah hanya ada kebencian saja pada Iva.


Hadi dan Iva sudah selesai berkemas, Andika dan Niken duduk di sofa ruang tamu melihat ke arah Hadi dan Iva. Hadi dan Iva melangkah ke arah Papanya dan Niken. Andika dan Niken pun berdiri.


“Pa ... Niken, kami mau pamitan. Kami pindahannya hari ini saja.” Ucap Hadi ke Papa dan Adiknya.


“Iva dan Mas Hadi pergi ya Pa ... Niken.” Iva juga pamitan.


Andika menghela nafas panjangnya.

__ADS_1


“Baiklah. Hati-hatilah kalian ya. Jika ada apa pun kasi tahu ke Papa ya.” Andika mengijinkannya.


Iva dan Hadi pun menganggukkan kepalanya.


“kak Iva dan Mas Hadi jaga diri baik-baik ya. kalau ada waktu main ke rumah ya.” Niken memeluk Iva dan Hadi bergantian. Iva dan Hadi pun menganggukkan kepalanya.


“Maafkan Mama kalian ya. Papa sudah menegurnya. Dan Papa berharap Iva bisa maafkan Mama mertuamu ya. Maafkan keluarga Papa.” Andika merasa bersalah.


“Gak apa-apa Pa.” Iva memeluk Papa mertuanya. Andika mulai meneteskan air matanya. Iva pun menangis. Niken pun sama. Dan Hadi hanya menunduk, karena ia sebagai suami telah tak dapat menjaga atau pun tak dapat melindungi istrinya. Ia tak membahagiakan Iva seperti janjinya dahulu. Iva malah menderita.


Usai berpelukan dan pamitan, pergilah Iva dan Hadi. Andika dan Niken menatap kepergian Iva dan Hadi.


Hadi dan Iva pergi dengan taksi online yang sudah dipesan oleh Hadi sewaktu berkemas tadi. Sekarang mereka bingung hendak kemana tujuannya. Di dalam taksi Hadi memeluk Iva. Iva menatap suaminya.


“Mas, boleh Iva pinjam hapenya Mas?” Iva menatap suaminya yang nampak sedih terlukis di wajahnya.


Hadi melepaskan pelukannya, ia merogoh sakunya dan memberikan hapenya ke Iva. Iva menerima dan menelepon nomer rumahnya di kampung.


Yang menerima telepon kebetulan adalah Ayahnya Iva. Iva menceritakan yang telah terjadi dan menanyakan kepada Ayahnya apakah rumahnya sudah ada apa belum. Kebetulan saja, Arman telah selesai melakukan pembelian rumah untuk Iva. Jadi Arman segera memberitahukan kepada Iva alamat rumahnya dan sekalian memberikan nomer hape yang bertanggung jawab pada pembelian rumah tersebut. Semuanya sudah di urus rupanya. Rumah sudah dibeli dengan lunas dan Iva tinggal menempatinya saja.


Sampailah di sebuah kompleks perumahan. Iva dan Hadi menelepon nomer yang diberikan Ayah Iva sebelumnya. Setelah di telepon syukur saja orangnya pas kebetulan sedang tak jauh dimana Iva dan Hadi berada. Ketemulah mereka. Namanya Pak Roger. Pak Roger pun segera membawa Iva dan Hadi menuju rumah mereka.


Sampailah Hadi dan Iva di rumah baru mereka. Walaupun bukan bangunan baru namun bagi Iva dan Hadi ini adalah awal baru bagi mereka berdua. Usai mengantar Iva dan Hadi, Pak Roger pun pamitan. Hadi dan Iva masuk ke dalam rumah mereka. Dan mulai menyusun semua pakaiannya di dalam lemari pakaian.


Rumahnya sudah lengkap dengan isi perabotnya. Jadi Iva dan Hadi tak perlu lagi membeli apa pun. Kini Hadi dan Iva bisa lega dan menjalani kehidupan rumah tangganya sendiri tanpa campur tangan siapapun. Itulah harapannya. Berharap bahagia.


Hari demi hari pun terlewati. Iva dan Hadi bahagia sekali dengan tempat tinggalnya yang baru. Setiap hari Iva melakukan pekerjaan rumah dengan suka cita sebagai istri. Sedangkan Hadi menarik bus setiap harinya. Pagi sarapan bareng dengan Iva. Kemudian pergi narik bus. Lalu melakukan pekerjaan ibu rumah tangga. Kemudian siangnya Iva mengantarkan makan siang ke Hadi menunggu di terminal bus yang tak jauh dari rumahnya. Setelah itu balik ke rumah melakukan rutinitas ibu rumah tangga kembali dan masak menu makan malam. Malam menunggu Hadi pulang, makan malam bersama. Kemudian istirahat bersama di malam hari tidur di ranjang. Begitulah setiap harinya.


Bahkan Hadi menyiapkan hari ulang tahun pernikahan mereka dengan makan bakso bersama lalu pergi nonton mengenang masa pacaran dahulu, saat Hadi ngajak jalan-jalan terus mereka makan bakso di rumah makan sederhana lanjut nonton. Hari yang membahagiakan mereka kenang kembali di ulang tahun pernikahan mereka yang pertama ini.


Hari pun terus berlanjut. Dua bulan kemudian. Di siang hari, saat Iva sedang di rumah sambil melipat pakaian dan baru selesai masak, Iva kedatangan tamu yang tak di duga. Sebuah ketukan pintu terdengar.


Iva membuka pintu rumahnya dan terlihat lah Jihan Mama mertuanya.


“Mama....” Iva kaget mama mertuanya datang tanpa kabar. Iva memang bilang pada Niken dan Papa Andika dimana rumah mereka sekarang namun tak menduga Mama Jihan bakal ke rumahnya. Ada apa ya?

__ADS_1


“Mama di biarkan menunggu terus kah Iva?” Ucap Jihan masih ada nada ketusnya.


“Oh iya. Masuk Ma.”


Jihan pun masuk dan duduk di kursi. Iva pun duduk di dekat Jihan.


Jihan melihat ke sekeliling. Ia memperhatikan rumah anak dan mantunya sekarang ini. Lumayan juga tempatnya. Walau bukan bangunan baru tapi lumayan.


“Ada apa Ma?” Iva heran dengan kedatangan mertuanya ini. Seingatnya kalau mertuanya ini dan dirinya tak lah akur.


“Mau berkunjung apa tak boleh.”


“Boleh Ma. Tahu dari mana Iva dan Mas Hadi tinggal disini?”


“Dari Papa Andika.” Sebenarnya Jihan mendengar Niken dan Andika berbincang. Ia hanya curi dengar.


“Oh ... Mama mau minum apa?”


“Teh saja. Oh iya Mama mau ke kamar mandi. Dimana kamar mandi mu?”


“Di dekat dapur Ma. Ayo Ma.”


Iva pun mengajak Jihan masuk ke dapur. Jihan masuk ke dapur dan langsung ke kamar mandi sedangkan Iva membuatkan teh.


Di dalam kamar mandi, Jihan malah menaburkan sesuatu ke dalam bak air mandinya. Entah apa itu namun setelah itu Jihan seakan membaca sebuah bacaan sambil menaburkan sesuatu ke dalam wadah bak air mandi.


Bersambung....


Apalagi lah ulah si Jihan ini? Gak ada habisnya ... saksikan kelanjutannya lagi ya kak :D


Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.


Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.


Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D

__ADS_1


__ADS_2