
“Loh, Kenapa rupanya? Kok pindah?” Hadi menatap Iva dengan pandangan heran.
“Ayah Iva di kampung tadi nelepon, bilang sebaiknya kita pindah rumah saja. Tak baik jika kita terus di rumah Mama dan Papa. Kita kan sudah berumah tangga Mas, jadi sebaiknya kita tinggal terpisah. Ayah Iva bilang mau membelikan rumah untuk kita Mas.” Iva memandang wajah Hadi. Hadi tengah berpikir dengan apa yang di katakan Iva.
“Memang sebaiknya kita terpisah seh Iva, tapi kalau Mas kerja dan Iva sendirian di rumah apa gak apa. Nanti Iva kesepian kalau sendirian di rumah.” Hadi memandangi wajah istrinya yang nampak sedikit pucat. Entah kenapa belakangan ini Iva terlihat pucat. Dan sekarang pun Hadi melihat wajah istrinya. Apa Iva tak bahagia ya? ucap Hadi dalam hatinya.
“Gak apa Mas, Iva malah senang kita berumah sendiri dan gak numpang terus, Mas.” Iva berharap Hadi menyetujui permintaannya ini.
“Baiklah. Mas Hadi pikirkan dan bicarakan pada Mama dan Papa dahulu ya.”
“Iya Mas.”
Hadi pun keluar kamar dan mengajak Iva bersamanya, mereka makan malam bersama. Jika ada Hadi maka Iva bisa makan dan tidur di tempat yang layak.
Usai makan malam, kebetulan Papanya Hadi ada di rumah juga. Andika baru selesai pulang dan selesai mandi. Ia pun kemudian makan di layani Jihan. Usai makan, Andika dan Jihan duduk di sofa keluarga sambil menonton Tv. Hadi dan Iva pun ikut bergabung. Dan Hadi menggunakan kesempatan ini untuk berbicara kepada Mama dan Papanya.
“Pa ... Ma ... Hadi dan Iva ingin menyampaikan sesuatu.” Hadi memandang ke arah kedua orang tuanya.
“Apa yang mau kalian bicarakan?” Andika pun mengalihkan wajahnya memandang ke arah Iva dan Hadi yang duduk di sofa sebelah mereka juga. Hanya Jihan yang nampak tak peduli, ia sibuk dengan menonton TV saja.
“Iva dan Hadi berniat pindah rumah saja, kami mau tinggal di tempat lain. Jadi Hadi bermaksud ijin dengan Papa dan Mama.” ucap Hadi kepada Papanya. Seketika Jihan melirik ke arah Hadi dan Iva.
“Sial. Ngomong apa si Iva sialan ini. Jangan-jangan ngadu yang enggak-enggak dia sama Hadi” keluh Jihan dalam hatinya yang tak diucapkannya hanya melirik ke arah Iva dengan tajam. Iva merasakan tatapan tajam Mama mertuanya. Iva pun menundukkan kepalanya.
Andika menghela nafas panjang.
“Yakin kalian mau pindahan. Kenapa sekarang malah mau pindah? Apa ada sesuatu yang terjadi?” Andika adalah orang yang baik. Ia sayang pada keluarganya dan mantunya. Andika merasa pasti ada sesuatu.
Iva semakin menundukkan kepalanya, Hadi bisa melihat tingkah Iva yang agak lain emang. Andika dan Niken sama-sama baik, mereka peduli pada Iva serta sayang pada Iva yang sudah di anggap keluarga sendiri. Beda dengan Jihan yang hanya sayang Iva sewaktu Iva bisa kasi dia uang, setelah tak bisa di manfaatkan lagi maka Jihan tak peduli lagi pada Iva. Sikapnya langsung berubah.
“Yakin Pa.” Jawab Iva. Kini Iva yang berkata di hadapan Papa mertuanya.
Andika kembali menghela nafas panjang.
“Baiklah. Jika itu sudah keputusan kalian maka Papa ijinkan.” Andika mengijinkan. Seketika Iva langsung memandang ke arah Papa mertuanya dan Iva terlihat senang. Seutas senyum lembut terukir di wajahnya Iva. Hadi dan Iva mengucapkan terima kasih pada Andika.
__ADS_1
“Makasih Pa....” ucap Hadi dan Iva bersamaan.
“Lalu kalian akan tinggal dimana?”
“Ayah Iva sudah hendak membelikan rumah untuk kami Pa. Rencananya dalam waktu dua atau tiga hari ini kami bisa pindah.” Iva mengatakan dengan lemah lembut.
“Loh, Pak Arman yang membelikan. Kenapa kalian tak minta Papa belikan saja, Iva?” Andika heran.
“Gak usah Pa. Ayah sudah hendak membelikan. Dan gak jauh dari kota ini juga kok Pa rumahnya.” Iva tak mau meminta banyak hal pada Papa mertuanya tersebut.
“Baiklah. Dan Hadi, mulai sekarang harus bertanggung jawab untuk Iva dan rumah tangga kalian ya. Paham kan, Hadi?”
“Iya Pa.” Jawab Hadi.
Usai perbincangan yang lumayan panjang lebar akhirnya sudah ada kesepakatan, Iva merasa lega sekarang. Sekitar jam 10 malam semuanya masuk ke kamarnya masing-masing dan tidur.
Esoknya.
Seperti biasa Hadi pergi kerja dan Andika juga kerja. Hanya Iva di rumah bersama Jihan. Bik Inem sampai sekarang belum kembali dari kampungnya. Setelah selesai semua kerjaan , Iva pun langsung ke warung buk Betty. Di sana lah Iva bantu-bantu buk Betty sekalian cari uang untuk simpanannya dan jaga-jaga saja. Hadi memang kadang memberikan uang juga ke dirinya. Saat pulang dari nyetir bus, sebagian di kasi ke Iva dan Iva simpan dengan baik. Jadi uang dari Hadi di simpannya dan uang yang Iva hasilkan dari buk Betty yang digunakannya jika perlu. Ia harus berhemat dan menabung. Tak mungkin ia meminta pada mertuanya kan.
Baru saja Iva sampai rumah, ternyata Niken pun baru pulang kuliah. Kuliah Niken sebentar lagi akan selesai, ia pun aktif membantu Papanya di kantor Papanya. Niken dan Iva bersamaan masuk ke dalam rumah.
“Kak Iva baru pulang?” tanya Niken dengan halus.
“Iya.” Iva tersenyum.
Kini keduanya sudah di dalam rumah. Niken mengajak Iva duduk di sofa ruang tamu.
“Niken dengar dari Papa kalau kakak dan Mas Hadi mau pindah rumah ya kak?”
“Iya.”
“Pasti karena Mama ya Kak. Maafkan Mama ya Kak.” Niken meminta maaf. Ia selalu merasa bersalah akibat perbuatan Mamanya kepada Iva.
“Sudah tak usah di bahas ya.” Iva tersenyum. Niken tahu kalau Iva adalah wanita yang baik. Entah kenapa Mamanya sangatlah jahat pada Iva. Sungguh malang nasib Iva.
__ADS_1
Saat Niken dan Iva sedang berbincang di sofa tamu, Jihan datang mendekat.
“Enak sekali ya santai begitu. Mentang-mentang mau pindah rumah begitu, jadi gak ngurus pekerjaan rumah ya?” Jihan melotot pada Iva.
“Bukan begitu Ma. Semua kerjaan rumah tadi pagi sudah Iva kerjakan Ma. Dari subuh Iva sudah masak, nyuci piring dan baju. Sudah nyapu dan ngepel juga Ma.” Iva menjawab namun tak berani menatap mertuanya.
“Masak lagi dong. Ini sudah siang. Sekalian kau masak untuk menu makan malam. Oh iya halaman juga di bersihkan semuanya.” Perintah Jihan.
“Baik Ma.” Iva hanya bisa menurut.
“Ma, stop perlakukan kak Iva seperti pembantu Ma. Kak Iva ini anggota keluarga kita, istrinya Mas Hadi.” Niken sekarang buka suara. Namun Iva berusaha menahan Niken. Ia tak mau Niken dan mertuanya ribut kembali yang nantinya bisa saja Niken di tampar kembali. Jadi Iva berbisik kepada Niken untuk jangan berdebat dengan Jihan mertuanya.
“Sudah Niken. Jangan.” Bisik Iva ke Niken.
Niken hanya melihat ke arah Iva. Sedangkan Jihan malah hendak marah.
“Iva itu tak pernah ku anggap anggota keluarga. Dia hanya pembantu bagi ku, bahkan lebih rendah dari babu. Maka itu semua kerjaan ku suruh Iva dan ku perlakukan sesuka ku. Dan kau Niken jangan membantah karena aku Mamamu. Satu lagi kau Iva, jangan kau hasut anak-anak ku.” Jihan berpikir kalau Iva hanya menghasut Hadi dan Niken.
“Gak Ma, Iva gak pernah berniat seperti itu.”
“Diam kau dasar babu....!!!” sebuah tamparan keras mendarat ke wajahnya Iva. Jihan yang menamparnya.
“Mama....!!!” suara Niken berseru dan bersamaan dengan suara Hadi beserta Andika yang menyebutkan kata “ Mama....!!!” juga. Rupanya Andika dan Hadi pulang bersama dan menyaksikan Jihan yang memperlakukan Iva dengan tidak baik.
Bersambung....
Nah, sudah ketahuan semua orang nih kedok perlakuan Jihan ke Iva.
Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.
Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.
Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D
Oh iya ada kisah yang gak kalah seru loh kak jika di ikuti. Yuk mampir terus kasi love dan favoritnya, serta kan like dan komentar nya plus rate 5 dan gift nya ya kak. Cek di bawah ini ya kaka 😍 Makasih semua nya 🥰😍😘
__ADS_1