
“Beneran kangen kakak. Syukurlah. Jadi esok kakak akan menjenguk mu. Jangan lupa di jamu ya kedatangan kakak.” Ucap Nina yang membuat Iva menjadi terkejut bukan main.
Iva terdiam seketika. Ia bingung harus bagaimana. Di satu sisi Iva senang kalau kakaknya datang menjenguknya. Namun di lain hal lagi Iva tak mau kalau kakaknya tahu apa yang tengah terjadi di sini. Bisa-bisa perang nanti. Iva harus menyembunyikannya.
Nina merasa belum ada jawaban dan Iva diam saja, ia segera menanyai Iva.
“Iva, kau dengar kakak kan?”
“Iya kak.”
“Ya udah, sampai esok ya.”
“Iya kak.”
Telepon pun terputus. Iva kembali meletakan telepon rumah. Iva menghela nafas panjang. Iva harus berusaha agar bisa menutupinya. Ia tak mau ada keributan. Iva kembali mengerjakan pekerjaan rumah dan bersiap ke warung buk betty segera.
Esok harinya.
Nina beneran datang dan membawa buah tangan juga. Saat sampai, rumah begitu sunyi. Nina di sambut oleh Iva sendirian. Nina dan Iva berpelukan dan melepaskan rindu. Setelah itu Iva mengajak kakaknya duduk di ruang tamu. Iva menghidangkan teh dan beberapa roti biskuit. Iva dan Nina saling bercerita dan melepaskan kerinduan. Banyak hal yang mereka cerita kan.
Nina merasa kalau Iva terlihat kurusan. Nina juga melihat kalau Iva sedikit kelelahan dan lesu. Wajahnya pun terlihat agak pucat. Nina pun menanyakannya.
“Iva, kau sakit kah?”
“Enggak kok kak. Cuma capek aja kali.”
“Capek apaan? Emangnya ngapain?” Nina bertanya heran.
“Hehehe ... jadi ibu rumah tangga lah kak. Makanya kakak kapan lagi?”
“Tunggu saja tanggal mainnya dah. Tapi beneran kau tak apa Iva?”
“Iya kak. Iva baik aja.” Iva berusaha bersikap biasa saja. Karena Kak Nina ini sangatlah teliti dan detail banget bahkan punya daya firasat yang kuat jadi Iva harus bersikap senatural mungkin. Jangan sampai kakaknya curiga.
Jihan melewati Nina dan Iva. Nina tersenyum ramah.
“Buk apa kabar?” Nina berusaha bersikap ramah dan hendak mencium tangannya Jihan.
Jihan hanya menampilkan senyuman palsunya. Mereka bersalaman. Kemudian Nina memberikan oleh-oleh buah tangannya. Jihan menerima dengan senyuman. Kemudian Jihan melihat ke arah Iva.
“Iva, jangan lupa masak ya.” tatap tajam Jihan dan Iva mengangguk.
Jihan pun melangkah dan masuk ke arah kamar dengan oleh-oleh yang Nina bawa tadi. Kini tinggallah Nina dan Iva kembali.
“Kak, Iva ke dapur ya mau masak dahulu.”
“Iya. Kakak temani ya.”
“Iya kak.”
Keduanya pun ke arah dapur. Dan Iva pun mulai menyiapkan semua bahan untuk memasak. Nina pun ikut membantu. Sebenarnya Iva melarang kakaknya membantu, karena menurut Iva kakaknya saat ini adalah tamu jadi seharusnya tak perlu membantunya. Namun Nina tetap ingin membantu.
Semua masakan pun telah selesai di masak. Saat sudah selesai, mama mertua Iva datang menghampiri.
“Udah siap Iva.”
__ADS_1
“Udah Ma.”
“Hem. Bagus.” Jihan mengambil semua masakan yang sudah di masak Iva kemudian di kuncinya di lemari makan. Yang kuncinya dia simpan. Sedangkan Iva membawa kak Nina nya keluar, ia pun pamitan sama Jihan. Setelah pamitan Iva dan Nina melangkah keluar rumah.
Nina heran dengan yang barusan di lihatnya. Ia mau bertanya, namun Iva terlihat ingin membawanya ke tempat lain. Awalnya ia kira setelah selesai masak maka akan makan bersama, namun ternyata tidak. Kini malah Iva membawanya keluar rumah. Entah kemana.
Sampailah mereka berdua di sebuah warung. Iva tersenyum ramah ke buk Betty. Buk Betty pun tersenyum.
“Buk, Iva datang sama kakak hari ini, seperti yang Iva ceritakan semalam. Mau di ajak makan di sini. Masakan Buk kan enak sekali hehe....” Iva membawa Nina duduk di sebelahnya.
“Oh ini kakaknya ya . Gak masalah. Mau makan apa?” Buk Betty tersenyum ramah.
“Apa aja boleh kok.” Nina tak banyak permintaan tentang makanan yang di tawarkan.
“Buk pesan dua lontongnya masih ada gak. Makan sini ya buk.” Iva berkata pada buk Betty. Betty pun mulai menyiapkan. Bahkan Iva ikut membantu. Nina semakin heran melihat tingkah Iva.
Dua piring berisi lontong lengkap dengan telornya pun dihidangkan. Dan dua gelas air minum.
Iva dan Nina menyantap makanannya. Nina sesekali melirik ke arah Iva yang nampak lahap makannya. Seakan lama menahan laparnya. Dan sekarang dengan lahap memakannya. Usai selesai makan. Keduanya pun minum air putih yang ada di gelasnya.
Kini mereka sedang bercerita dan bersenda gurau. Saat sedang bercerita buk Betty malah keceplosan ngomong tentang mertuanya Iva.
“Wah, si Jihan itu istrinya Pak Andika mah cerewetnya minta ampun. Galak dan pelit sekali. Gak ada bagusnya. Satu kompleks ini sih tahu banget semuanya. Kasian Iva yang jadi mantunya.” Ucap Buk Betty.
Nina mengerutkan keningnya. Ia melihat Iva yang terlihat kikuk dan hanya bisa tersenyum. Jadi mertua iva galak ya? dan pelit? Lalu gimana nasib Iva selama ini? Keluh hati Nina.
Setelah puas bercerita. Iva pamitan dengan Buk Betty, ia pun membayar makanan mereka berdua tadi, namun Buk Betty bilang tak usah. Tapi Iva bersikeras untuk membayar. Buk Betty pun menerimanya.
Iva pamitan pada Buk Betty dan Nina juga pamitan. Nina dan Iva kembali ke rumah mertua Iva. Sebelumnya Iva sudah ijin pada Buk Betty kalau hari ini Iva tak bisa bantu di warung. Dan Buk Betty mengijinkan.
“Iva, tadi kan kau masak kok makanannya di kunci? Terus kenapa kita gak makan di sini aja kok malah di luar rumah? Lalu yang dibilang buk Betty tadi bagaimana?”
“Kak, itu....” Iva jadi bingung. Ah, ternyata susah sekali berbohong. Iva tak pandai bersandiwara.
“Ada yang kau tutupi Iva?” Nina semakin menyelidik.
“Gak kak. Semua baik saja hehehe....”
“Tapi Iva....”
Belum selesai Nina berbicara kemudian seseorang masuk dan mencuri perhatian Iva dan Nina.
Ternyata yang masuk adalah Niken. Ia baru saja pulang. Niken masuk dan bersalaman dengan Nina dan Iva. Niken tersenyum manis. Dan begitu juga Nina. Keduanya saling berkenalan dan bercerita. Sampai waktu pun berlalu, Niken pamit mau masuk ke kamarnya. Ia mau mandi karena sore sudah.
Nina dan Iva kini berdua kembali.
“Iva, di rumah cuma kalian saja kah? Suami mu kemana?” Nina bertanya.
“Mas Hadi sekarang nyetir bus kak. Kalau pulang tengah malam kak. Dan pergi pas subuh. Jadi jarang di rumah. Kadang gak pulang kak. Kalau Papa Andika sibuk di kantornya sendiri. Malam baru pulang setelah jam makan malam. Kadang sore pulang namun sering malam. Niken kuliah kadang bantu Papa Andika. Di rumah Mama Jihan dan aku saja. Ada pembantu Bi Inem tapi hari ini sedang ijin pulang kampung.” Iva menjelaskan.
“Oh ... jadi sering kau dan mertuamu Buk Jihan di rumah ya.”
“Iya kak.”
Nina melihat jam. Sudah jam 5 sore. Tak tahunya banyak juga waktu yang sudah berlalu. Nina pun pamitan pulang. Iva mengantarkan sampai di depan. Setelah di lihatnya kak Nina menjauh pergi, Iva kembali masuk ke dalam rumah.
__ADS_1
Nina pulang dengan angkot. Dan nanti naik Bus pulang ke kampung. Sampai terminal di dekat kampung lanjut lagi naik angkot ke rumahnya atau naik ojek ke arah rumahnya. Berganti-ganti kendaraan baru sampai ke kampungnya.
Saat di depan pinggir jalan, Nina menoleh ternyata tasnya tertinggal. Kan dompet, uang dan hape di situ semua. Kini Nina punya hape, walau hape jadul merk nokia 3315.
Nina pun memutuskan kembali lagi ke rumah mertua Iva.
Di rumah, di lihat Jihan kalau Nina sudah pergi. Ia segera menghampiri Iva.
"Wah enaknya bisa bersantai ria, cepat kerjakan semua kerjaan rumah!"
“Iva kan sudah masak Ma. Nyapu dan ngepel juga sudah tadi pagi Ma.”
“Cuci baju dan cuci piring gih sana. Jangan lupa baju kotor dipisah dengan yang bagus. Rapikan. Di seterika lalu simpan di lemari pakaian dengan rapi.”
“Iya Ma.”
Iva segera berlari mengerjakan semuanya. Namun baru saja Iva hendak mencuci piring. Jihan kembali berteriak. Ia memangil Iva. Iva terkejut dan sebuah piring pun terlepas dan pecah. Jihan pun mendatangi dapur. Ia pun langsung marah-marah.
“Apa ini Iva. Kok piring di pecahkan hah!!!” Jihan terlihat marah.
“Maaf Ma. Gak sengaja. Tadi kaget Mama teriaki.”
“Alasan saja kau ini. Mama tadi manggil kau tahu. Kenapa ini baju kesayangan Mama bisa seperti ini Iva. Kok luntur gini. Kan jelek jadinya.”
“Maaf Ma. Iva lupa semalam pisahkan pakaian warna dan tidak. Akhirnya jadi begitu Ma.”
“Kau banyak alasan saja. Ini lagi pecahin piring. Jangan sembarangan ya di rumah ku kau tahu hah!!!" Jihan terlihat marah-marah. Ia mengambil gagang sapu dan memukulkannya ke Iva. Iva berkali-kali minta ampun pada mertuanya tersebut.
Namun Jihan tak perduli. Ia kesal karena piring pecah dan baju kesayangannya malah jadi kena luntur padahal ia beli mahal-mahal.
Iva kesakitan merasakan pukulan yang ia terima. Niken mendengar suara Iva segera berlari menolong Iva.
“Ma, hentikan Ma. Kak Iva ini keluarga kita juga Ma.” Niken menghentikan Mamanya. Ia merebut gagang sapu tersebut dan melempar ke sembarangan tempat.
Iva menangis meringkuk di bawah lantai. Niken segera memeluk Iva. Dan membantunya berdiri. Jihan benar-benar marah. Ia berkata-kata kasar dan mengumpat ke arah Iva. Semua caci maki diucapkannya. Ia sudah gelap mata.
“Ma, sudah Ma. kasian Kak Iva.” Niken pun meminta Mamanya berhenti.
Iva masih menangis.
“Ampun Ma. Maafkan Iva.” Ucap Iva disertai isak tangisnya.
“Dasar wanita kampung gak tahu diri.” Jihan sudah hendak menampar Iva namun sebuah suara melarang.
“Hentikan....” Ucap Nina melarang Jihan menampar adiknya. Nina sudah melihat dan mendengar semuanya. Jihan pun tak jadi menampar. Jihan, Iva dan Niken melihat ke arah Nina.
Bersambung....
So sad. Kasian betul kau Iva di siksa sama mertuamu yang jahat.
Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.
Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.
Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D
__ADS_1