
Karena Elin melihat Iva tak menjawab, si kecil yang tak mengerti tersebut kembali bertanya.
“Papanya udah mati ya tante....” ucap Elin yang sangat polos tersebut.
Kembali Iva terdiam mematung. Ia melihat ke arah Elin.
“Kenapa Elin bilang gitu sayang?” Iva kembali menarik lembut Elin berjalan bersisian dengannya.
“Kata Mama, kalau gak ada Ayahnya atau Ibunya artinya udah mati tante. Tante cuma sendirian Elin lihat.”
“Bukan mati sayang, meninggal yang betul.” Iva memperbaiki bahasa Elin yang masih kecil polos tersebut.
“Oh iya tante. Jadi kemana suami tante? Papa dedek bayinya sudah meninggal ya tan....” Elin kembali berucap. Iva hanya tersenyum kecut di hadapan Elin. Tak mungkin ia berkata kalau suaminya dengan istri lainnya. Akhirnya Iva hanya bisa tersenyum tipis.
Tepat setelah berjalan-jalan agak jauh, di dekat mereka ada sebuah kedai kecil. Iva pun segera mengalihkan topik yang di tanyakan oleh Elin.
“Elin mau jajan gak? Biar tante belikan ya. Itu ada kedai kecil di depan kita. Mau?” Iva mengajak Elin.
Elin pun berbinar matanya melihat ke arah kedai jajanan. Ia suka jajan dan di tawari jajan tentu saja suka.
“Mau tante.”
Iva tersenyum dan membawa Elin ke arah kedai tersebut. Di sanalah mereka membeli jajanan. Iva menanyakan pada Elin hendak membeli jajan apa saja. Elin pun sibuk memilih jajanannya.
“Mau ini, ini, ini dan ini....” Jawab Elin.
Iva tersenyum karena banyaknya jajanan yang dipilihnya. Dan akhirnya Elin memilih satu plastik besar yang berisi jajanan semua. Iva terkekeh. Ia sampai berpikir, mungkin nanti kalau anaknya sudah lahir maka akan seperti Elin tingkah lucunya. Imut dan manis pula.
“Nanti anakku laki-laki apa perempuan ya....” gumam Iva sendirian.
Iva selama hamil memang gak pernah cek ke dokter atau kemana pun. Karena ia merasa sehat saja dan kehamilannya baik-baik saja, maka Iva tak pernah cek up. Iva dan Elin sudah membayar semua jajanannya, kini keduanya kembali hendak berjalan-jalan berdua lagi sekalian kembali ke rumah Iva.
Baru saja beberapa langkah, Fendi datang mendekat dan menyapa.
“Iva....” sapa Fendi.
“Eh Fendi ... dari mana dan mau kemana?” Iva melihat ke Fendi sambil menggandeng Elin di sampingnya.
“Dari rumah mau jalan-jalan eh ketemu Iva, siapa nih gadis cilik yang manis ini?” Fendi menoleh ke Elin.
“Elin Om. Eh Om siapa? Suami tante Iva ya?” Elin terlalu polos dan asal ceplos saja.
Iva menggaruk tengkuknya yang tak gatal, ia sampai bingung kenapa pula Elin berkata hal tersebut.
“Hahaha ... Om mau aja sih. Tapi tante Iva mau gak ya?” Fendi menggoda melirik ke arah Iva. Iva menjadi malu.
Elin melihat ke arah Iva dan Fendi bergantian.
“Om Papa dari dedek bayi dalam perut tante Iva gak? Tante Iva gak ada suaminya. Om aja jadi suami dan Papa dari dedek bayi.” Elin asal ceplos.
Baik Iva dan Fendi sama-sama terkekeh sambil tersenyum.
“Maaf ya Fen, anak kecil gak ngerti apa pun.” Iva berkata ke arah Fendi.
“Gak masalah kok Iva. Kalau iya pun malah bagus kan. Sesuai harapanku hehehe.” Fendi malah tergelak.
Elin jadi senyum-senyum melihat kedua orang dewasa tersebut.
“Cie ... cie ... cinta cintaan nih ya Om dan Tante. Hehehe. Om suka sama Tante Iva.”
“Hahaha ... iya. Suka banget malahan. Tinggal nunggu tante Iva nerima Om aja.” Fendi mengedipkan matanya pada Iva. Iva malah memukul pundak Fendi dan Fendi tertawa gelak.
Ah, suasana bahagia yang saat ini terjadi antara Iva, Fendi dan Elin. Tahu-tahunya, Fendi pun ikut berjalan bersisian dengan Iva dan Elin. Mereka berbincang dan bersenda gurau bersama-sama.
Tak terasa sampailah di depan rumah Iva. Elin sudah dipanggil Ikang. Mereka hendak pulang. Elin pun pamitan pada Iva dan Fendi. Iva memberikan kantong plastik jajanannya. Sekalian Iva memberikan uang jajan kembali.
“Untuk Elin yang imut dan manis. Di terima ya sayang.” Iva memberikan uang 20 ribu ke tangan Elin.
“Makasih tante.” Elin menerima dengan senang hati. Setelah pamitan pada Iva dan Fendi, Elin langsung berlari ke arah Ikang. Kemudian mereka pamitan pada Nina. Pulanglah Ikang dan Elin dengan sepeda motor milik Ikang. Keduanya telah pergi pulang kembali ke kampungnya.
__ADS_1
Nina sekilas menatap ke arah Iva dan Fendi dan tersenyum sambil mengangguk ke Fendi. Fendi membalas mengangguk juga. Kemudian Nina masuk ke dalam rumah. Kini hanya tinggal Iva dan Fendi.
“Duduk dulu Fen.” Iva mengajak Fendi duduk bersama di teras rumahnya. Fendi mengangguk dan mengikuti Iva. Di lihatnya tak ada siapa pun di sana maka ke situlah mereka duduk berdua. Iva duduk di kursi yang lain yang berjarak dengan tempat duduk Fendi.
“Iva siapin minum dulu ya.”
“Gak usah. Aku bentar aja kok.”
Iva yang hendak berdiri pun jadi tak jadi. Ia kembali duduk. Iva dan Fendi saling menatap dalam kediaman. Iva bingung hendak bagaimana berbicara. Semenjak Iva tahu perasaan Fendi padanya, Ia jadi bingung hendak bagaimana. Sedangkan Fendi terus berharap pada Iva. Walaupun ia tak tahu apa yang terjadi dengan rumah tangga Iva. Tapi yang jelas pasti rumah tangga Iva sedang bermasalah, kalau tidak buat apa begitu lama tinggal di rumah orang tuanya yang dikampung ini.
“Iva....” panggil Fendi.
“Iya.”
“Mau jalan-jalan bersama lagi gak?” Fendi masih terus melakukan pendekatan. Walau ia tahu Iva sudah bersuami dan sedang hamil namun Fendi tak peduli kan hal tersebut. Berbeda dengan Iva, ia merasa kurang nyaman takut digosipkan oleh tetangga. Tahulah mulut tetangga lebih tajam dari pada pisau silet.
“Maaf Fen. Aku gak bisa.”
“Ayolah. Kita gak berdua aja kok.” Bujuk Fendi.
Iva mengerutkan keningnya.
“Dengan siapa saja?” Tanya Iva.
“Dengan keluarga mu juga.”
“Hah? Keluargaku? Maksudnya?”
“Bu Hadijah, Pak Arman, Kak Nina dan Bang Lukas. Ayo, mau ya Iva.” Fendi tak ada habisnya membujuk. Demi agar bisa mendekati Iva, Fendi sengaja mengatakan mengajak seluruh anggota keluarga Iva.
Iva terdiam berpikir sejenak. Jadi kayak piknik atau kumpul keluarga aja ya. Kalau begitu maka tak akan timbul gosip kayaknya ya. Begitulah pikir Iva dalam pikirannya. Iva kembali menoleh ke Fendi. Ia melihat kesungguhan di kedua bola mata Fendi yang jernih tersebut.
Iva menghela nafas.
“Baiklah. Tapi ku tanya dahulu ya, takutnya mereka gak bisa. Tapi kapan perginya?”
“Esok dong di hari minggu. Oke.” Fendi mengacungkan jempolnya dan Iva pun menganggukkan kepalanya.
Malam harinya Iva menanyakan tentang ajakan Fendi kepada keluarganya saat mereka sudah selesai makan malam dan pas sedang bersantai di ruangan keluarga. Ayah dan Ibu gak masalah, sedangkan Nina nampak antusias sekali, ia setuju saja. Dan Lukas, ia punya rencana lain katanya. Akhirnya mereka sepakat dan setuju. Maka yang pergi adalah Iva, Nina, Ibu dan Ayah tanpa Lukas. Karena Lukas punya kegiatannya sendiri.
Hari minggu pun telah tiba. Dimana Fendi datang di pagi hari saat jam 7 pagi hendak menjemput Iva dan keluarganya untuk jalan-jalan dengan menaiki mobilnya. Fendi datang dengan sebuah mobil hitam yang mewah. Ia berkata telah meminjam mobil tersebut.
Namun karena sang ayah tiba-tiba gak enak badan, akhirnya ayah gak jadi ikut dan ibu hendak merawat serta menemani ayah di rumah. Karena Lukas punya rencana lain, jadi Nina dan Iva lah yang ikut pergi, mereka tak enak menolak lagi karena Fendi sudah datang menjemput pakai mobil pula.
Pergilah Iva dan Nina bersama Fendi dengan mobilnya setelah pamitan dengan ayah dan ibu.
“Kita mau kemana Fen?” tanya Iva.
“Ke taman hiburan, kebun binatang dan ke mall aja.” Ucap Fendi.
“Wah, banyak tuh. Sekalian aja ke kolam renang yuk.” Ajak Nina.
“Enggak lah kak, Iva gak bisa berenang juga.” keluh Iva.
Fendi dan Nina tertawa.
“Andai bang Ikang bisa ikut pasti kita jadi double date hahaha.” Nina asal ceplos.
“Hussstt. Gak ada kata ngedate ya kak.” Iva mengingatkan sang kakak.
Nina hanya tersenyum kecut.
“Ya udah ajak aja Kak.” Fendi berucap sambil menyetir mobilnya.
“Gak bisa. Kita udah terlanjur pergi dan lagian bang Ikang udah punya kegiatan lain kayaknya. Kecuali kita kasi tahu dari tadi malam, mungkin masih sempat. Tapi udahlah. Yang penting kita happy time bersama hehehe.” Nina tak mungkin mengajak Ikang tiba-tiba.
Fendi menganggukkan kepalanya. Perjalanan cukup jauh. Karena mereka menuju ke arah kota. Fendi berhenti di dekat warung pinggir jalan membelikan sarapan untuk tiga orang. Tadi ia tak sempat sarapan, akhirnya membeli di jalan. Nina dan Iva sudah sarapan sebenarnya, namun karena Fendi sudah belikan akhirnya mereka ikut makan bersama. Mereka kembali melanjutkan perjalanannya.
Setelah dua jam menuju kota akhirnya sampai juga di tempat tujuan.
__ADS_1
Tujuan pertama pergi ke kebun binatang. Mereka sangatlah senang melihat begitu banyak binatang yang ada di dalam kebun binatang tersebut. Ada monyet, gorila, lutung, macan, burung, buaya, harimau, singa, ular, kijang, rusa dan lain-lain. Beberapa foto pun di ambil untuk mengabdikan momen saat ini. Iva dan Nina tersenyum bahagia. Fendi senang melihat senyuman manis milik Iva.
Kemudian mereka pergi ke taman hiburan dimana ada wahana bermain dengan aneka permainan yang ada. Karena Iva sedang hamil jadi ia tak berani naik apa pun yang menurutnya sangat ekstrem. Sebagai gantinya Iva melihat Nina dan Fendi yang bermain. Iva hanya duduk melihat. Sekalian ia bisa istirahat. Ibu hamil cepat lelahnya.
Puas dengan bermain di wahana, mereka lanjut pergi ke mall yang ada di pusat kota. Ke sanalah Fendi membawa Nina dan Iva. Maksud hati sekalian makan siang dan belanja. Namun Nina mengajak menonton bioskop. Di lantai paling atas ada bioskopnya. Ke sanalah mereka pergi. Akhirnya ketiganya menonton bioskop. Hampir dua jam lamanya mereka menonton bioskop ada film action plus romance jadi mereka menonton itu. Setelah dua jam maka selesailah menontonnya.
Fendi mengajak makan bersama karena sudah lewat jam makan siang mereka. Mereka masuk ke sebuah tempat yang cukup baik dan bagus. Bahkan Fendi memilihkan semua makanan enak serta malah untuk mereka bertiga dipesankan. Mereka pun makan dengan senang hati. Usai makan Fendi membayarnya kemudian membawa Nina dan Iva berkeliling mall.
Nina berbisik ke Iva.
“Iva ... sepertinya hari ini kita full jalan-jalan ya. Udah gitu semuanya dibayarin Fendi loh.” Ucap Nina berbisik ke adiknya.
“Iya kak. Iva jadi gak enak hati.”
“Kayaknya Fendi gak masalah kok Iva. Banyak duit kayaknya dia. Kerjanya apa Iva?” Nina penasaran. Karena sudah banyak uang yang dihabiskan dan semuanya di bayarin oleh Fendi.
“Gak tahu.” Iva menggeleng.
Fendi melihat ke arah Iva dan Nina. Ia lalu menyapa keduanya yang asik berbisik.
“Kalian berdua sedang bicara apa?” Fendi tersenyum. Kedua wanita tersebut tersenyum.
“Selanjutnya gimana Fen? Mau kemana?” tanya Nina.
“Pulang aja yuk. Iva udah lelah seharian kita udah kesana kemari.” Iva memang sudah hendak pulang.
“Nanti ya, kita keliling mall ini aja dulu. Lihat-lihat ada barang bagus gak yang mau dibeli. Pilih aja. Sekalian kita cari oleh-oleh untuk orang di rumah. Ayah dan ibu.” Ucap Fendi.
“Gak usah Fen, kita pulang aja. Udah banyak habis uangmu loh. Gak enak aku.” Ucap Iva tak enak hati.
“Gak apa lah dek. Mumpung. Yuk.” Nina malah girang dan mengajak Iva memilih beberapa barang yang dilihatnya bagus. Saat di toko pakaian Iva, Nina dan Fendi ternyata bertemu Lita dan Hadi.
Hari ini Hadi sengaja libur narik sewa bus, karena mau temenin Lita mencari baju hamil lagi. Perut Lita mulai membesar jadi ia pelu membeli pakaian hamil sekaligus mencari pakaian bayi. Saat sedang memilih tak sangka mereka malah melihat Iva, Nina dan Fendi juga.
“Iva....” sebut Hadi. Lita pun jadi menoleh ke Iva.
Iva pun sama kagetnya.
“Mas Hadi....!!!” Iva sama terkejutnya dengan Nina dan Fendi yang melihat ke arah Hadi dan Lita. Bahkan Fendi melihat ke arah Hadi dengan tajam yang di peluk lengannya oleh wanita di sampingnya yang sedang mulai membuncit perutnya sepertinya hamil. Dalam pikiran Fendi, siapa wanita itu nampaknya sedang hamil?
Bersambung....
Pertemuan yang tak terduga ... eak eak eak. 😅
Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.
Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.
Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D
Halo kakak pembaca semuanya, kembali Author mau mempromosikan karya seorang teman yang ceritanya bagus banget deh. Mampir ya kak dan love favoritkan ya kak, Klik like dan komen serta kasi giftnya ya kak, jangan lupa mampir ke karya di bawah ini ya kak. :D
Makasih ya kakak semua nya 🙏🥰😍😘🤗
__ADS_1