
“Tidak!!! Kakek!!!” Jerit Devita dan meraung-raung. Devita menangis dan semua temannya melihat ke arah Devita.
Devita menangis dengan menjerit-jerit memanggil nama Kakeknya. “ Kek Arman. Kakek ... huhuhu.” Devita menangis keras. Semua yang melihat pun merasa kasian tapi tak berani mendekat karena Devita menjerit-jerit memanggil kakeknya.
Seorang teman baiknya yang di kenal Devita mendekat dan memeluk Devita.
“Sabar Dek, sabar.” Ucapnya sambil memeluk Devita. Devita menangis semakin menjadi-jadi. Lukas hanya bisa mengelus rambut Devita dan juga mengatakan sabar.
Lukas tahu kalau Devita dan kakeknya sangatlah dekat. Bagi Devita kalau Arman adalah sosok Ayah. Jadi karena itu Devita sangat kehilangan Arman saat tahu kalau Arman meninggal. Sesak rasanya di dadanya. Lukas pun membawa Devita agar segera berkemas. Devita dengan lemas berusaha berdiri dan temannya membantu memapahnya. Devita pun berkemas dan pulang ikut Lukas kembali ke kampung.
Sampai di kampung. Devita langsung menghambur ke jenazah kakeknya. Dia kembali menangis. Semua yang hadir pun ikut menangis. Mereka semua merasakan kesedihannya Devita.
Hari itu juga dimulai proses pemakaman Arman. Devita membaca kitab suci di dekat jenazah kakeknya. Dengan deraian air mata dia terus mengaji. Matanya Devita sudah bengkak karena terlalu banyak menangis bahkan sekarang wajahnya sudah sembab.
Siang hari sebelum waktu solat zuhur, Arman segera di makamkan. Begitu banyak orang yang mengantar jenazahnya Arman ke liang kubur. Beliau orang baik dan suka menolong maka begitu banyak yang datang melayat dan banyak yang mengantar ke kuburnya.
Di kuburan kakeknya, kembali Devita menangis tapi dilarang meraung. Katanya tak boleh. Selama tiga hari tiga malam di adakan acara kenduri baca doa untuk almarhum. Begitulah hingga nanti sampai ke 40 hari. Sama seperti kematian Iva waktu itu.
Devita tak bisa ijin lama-lama, diam pun kembali ke asrama setelah pamitan dengan neneknya, tante Nina, dan paman Lukas. Nina sudah punya rumah sendiri, dia tinggal bersama anak dan suaminya. Lukas semenjak menikah sudah berumah sendiri dengan istri dan anaknya. Hadijah Putri akhirnya tinggal sendiri di rumahnya. Sedangkan Devita melanjutkan pendidikannya.
Beberapa tahun kemudian Devita pun telah menyelesaikan sekolahnya. Dia telah magang kerja di sebuah rumah sakit menjadi perawat. Sesekali pulang menjenguk neneknya. Neneknya pun semakin tua dan terkadang sakit-sakitan. Tapi masih bisa bertahan di usianya yang sudah tua.
Saat ini Devita telah bekerja tetap di sebuah rumah sakit. Setiap bulan dia mendapatkan gajinya. Sesekali dia memberikan uang pada neneknya. Walau sebenarnya warisan sang kakek sangatlah banyak dan cukup untuk biaya hidup Hadijah Putri tapi sesekali Devita memberikan sebagian gajinya pada neneknya.
“Nek, suka sama martabaknya?” Devita sedang menginap karena kali ini dia sedang balik pulang ke kampung.
“Suka cucuku.” Hadijah Putri tersenyum ke cucunya.
Saat ini Dedek sedang menjalan kasih asmara dengan seorang pemuda. Dulu pemuda tersebut adalah seniornya. Mereka sama-sama perawat kini. Dan satu tempat kerjaan pula. Pemuda tersebut bernama Bimo Senjaya. Bimo pemuda keturunan jawa yang baik dan ramah. Sudah beberapa tahun ini Devita dan Bimo berpacaran. Bahkan Bimo sering menemani Devita ke rumah neneknya. Keduanya sangat bahagia. Neneknya pun tersenyum melihat kebahagian Bimo dan Devita. Neneknya pun sudah mengenal Bimo karena Devita sering membawanya ke kampung. Lukas dan Nina pun sudah kenal.
“Yank, untukku mana martabaknya.” Bimo duduk di dekat Hadijah Putri dan Devita.
“Ini Bang, Bang malu lah panggil Yank depan nenek.”
“Lah ... gak apa kali. Ya kan Nek, biar mesra. Hehehe.”
“Hahaha ....” Hadijah hanya tertawa renyah.
“Yang penting kalian berdua bahagia dan ingat ya selalu jaga diri baik-baik.”
__ADS_1
“Iya Nek.” Ucap Devita dan Bimo bersamaan.
Namun namanya tetangga ya ada aja mulut yang pedas-pedas. Suka gosip dan berkata lainnya. Devita digosipi saat bersama Bimo. Hal ini pun berlangsung cukup lama. Hingga sampai ke telinga Lukas dan Nina. Nina dan Lukas pun datang menemui Hadijah suatu waktu dan bilang hendak menikahkan saja Devita dan Bimo agar tak jadi bahan gosip oleh para tetangga di kampung.
“Buk, nanti kalau Devita dan Bimo datang lagi jangan di kasi terus berduaan.” Nina mulai pembicaraan.
“Lah kenapa? Kau dulu juga begitu dengan Ikang.”
“Beda buk, cara pacaran mereka itu beda dengan Nina dulu. Devita dan Bimo itu terlalu lengket. Bahkan panggil Yank segala gitu di depan orang. Gak enak Buk dijadikan bahan gosip orang di kampung. Kita ini kan di kampung Buk.” Nina menjelaskan.
“Iya Buk. Benar kata Nina, sebaiknya kalau Bimo dan Devita datang lagi nanti kita katakan saja ke Bimo mau serius sama Devita atau hanya main pacaran saja.” Lukas pun menambahkan. Mereka tak suka jika nama keluarga mereka atau anggota sanak saudara keluarga mereka digosipkan yang tidak-tidak. Walaupun hal tersebut tak benar. Tapi tetap saja, namanya tukang gosip maka akan berlebih ucapannya.
Nina dan Lukas ingin mengantisipasi hal tersebut.
Maka di kunjungan Bimo dan Devita berikutnya mereka pun di panggil keduanya. Di hadapan Hadijah, Nina, dan Lukas kedua orang tersebut di tanya-tanya.
“Dek ... Bim ... kalian ini serius atau mau main-main? Kalau emang mau serius sebaiknya menikah saja. Kalau cuma pacaran saja terus, nanti jadi bahan gosip tetangga. Soalnya Paman udah banyak dengar hal yang tidak-tidak di ucapkan.” Lukas mengatakan di depan Bimo dan Devita.
Devita dan Bimo saling pandang serta menunduk.
“Dijawab Dek, Bim?” Nina mulai tak sabar.
“Bimo ... gimana kau mau serius atau main-main aja kah?” Lukas kembali bertanya.
“Serius Paman.” Bimo akhirnya menjawab.
“Kalau serius cepat suruh kedua orang tuamu melamar Devita kemari ya.”
“Baik Paman.”
Devita dan Bimo sebenarnya belum mau menikah tapi karena desakan tante dan pamannya maka akhirnya Bimo dan Devita akhirnya memutuskan untuk menikah. Padahal usia mereka masih terlalu muda bagi mereka berdua.
Usai pertemuan dengan keluarga Devita. Seminggu kemudian keluarga Bimo beneran datang melamar ke rumah yang ada di kampung. Banyak makanan dan semuanya disiapkan dan dihidangkan. Beberapa tamu di undang di acara lamaran tersebut. Kedua belah pihak keluarga pun saling bertemu.
Bimo datang memakai kemeja batik jawanya. Dia datang bersama keluarganya. Banyak parcel yang dibawa untuk acara lamaran tersebut sekalian di ikat cincin. Devita di kamar sedang dirias. Kali ini Devita di rias sangat cantik. Dia menjelma menjadi putri cinderella saja mengenakan pakaian gamis berwarna merah menyala dan di dandan cantik. Ia memakai mahkota di atas kepalanya. Layaknya putri raja saja di negeri dongeng. Cantik sekali.
Helena, putri dari Nina masuk ke kamar Devita.
“Dek ....” Helena memanggil Devita dengan sebutan Dek. Karena Helena anak tantenya maka di panggil kakak.
__ADS_1
“Iya Kak.” Devita baru saja selesai di rias.
“Para rombongan Bimo udah datang tuh. Nanti kalau udah dipanggil keluar ya.”
“Iya Kak.” Devita tersenyum bahagia.
“Wih ... cantik banget ya Dek hari ini.” Goda Helena.
“Iya dong kak hehehe. Dedek gitu loh. Biasanya juga cakep kok, hari ini semakin cakep ya kan hehehe.” Devita tersenyum serta terkekeh.
“Hehe ... iya iya. Eh Papamu udah dikabarin kan Dek? Dikasi tahu loh ....” Helena mengingatkan.
“Kak, Dedek jarang komunikasi dengan Papa. Udahlah biar saja.”
“Tetap harus kau kabarin.”
“Udah sebelumnya tapi gak ada balasan. Waktu itu udah pernah Dedek chat.”
“Di telpon lah.”
“Iya-iya.” Devita sebenarnya agak malas. Tapi karena ayah kandungnya, benar juga kalau gak hadir rasanya gak baik. Akhirnya Devita menelepon Papanya tersebut.
Tut ... tut ... tut. Panggilan tak terjawab.
Bersambung....
Alhamdulillah Author udah kembali sehat. Author usahakan segera menamatkan cerita kisah ini ya kak :D
Pak Arman meninggal, sedih Author nulis kisahnya, karena sama sedihnya saat nulis kisah kematian Iva. Di kedua adegan ini Author sampai nangis nulisnya. Hiks. 😭
Kita lihat saja bab selanjutnya nanti ya.
Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.
Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.
Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D
Kasi komen yang positif ya kak :D
__ADS_1
Like sebanyaknya ya kak dan Vote juga sebanyaknya. Mari dukung karya ini kak. Makasih kakak :D 🤗🥰