Berbagi Cinta : Hati Diduakan Yang Tersakiti

Berbagi Cinta : Hati Diduakan Yang Tersakiti
Bab 30.


__ADS_3

Arman dan Hadijah segera ke rumah sakit setelah menerima kabar dari Nina. Lukas pun ikut serta. Mereka semua hendak tahu bagaimana keadaan Iva. Saat sudah sampai, mereka melihat Nina yang nampak cemas duduk di kursi panjang yang tersedia di rumah sakit tersebut, dan Ikang menemani di sampingnya.


Saat Nina melihat orang tuanya datang, Nina langsung memeluk Hadijah Putri Ibunya. Nina menangis tersedu-sedu, membuat yang melihat jadi semakin cemas. Mereka semua menunggui Iva di luar ruang operasi.


Waktu pun terus berjalan dan tak terasa terdengar suara bayi yang sedang menangis. Seorang suster keluar dan membawa seorang bayi mungil dalam gendongannya


“Selamat, bayinya perempuan.” Ucap si suster.


Sontak saja semua berdiri dan melihat si bayi kecil. Mereka melihat malaikat kecil yang terpejam matanya terlihat sedang tidur.


“Cucuku....” Arman dan Hadijah berucap bersamaan.


“Ponakan....” ucap Lukas  dan Nina.


“Imutnya....” kali ini Ikang yang berkata.


Suster tersenyum.


“Saya bawa dahulu bayinya ya untuk di bersihkan dan di berikan pakaian bayi. Permisi kalau begitu.” Suster pamitan dan pergi setelah berucap. Ia menggendong bayi dengan memakai selimut sementara.


Usai suster keluar membawa si bayi, dokter pun keluar dari ruangan operasi. Semuanya yang melihat langsung mendekati si dokter.


“Bagaimana putri saya, dok?” tanya Arman mulai tak sabar.


“Anakku Iva baik-baik saja kan dokter.” Hadijah juga mulai tak sabar dan bertanya. Namun dokter tertunduk dan semua yang melihat sangatlah cemas.


“Maafkan saya, saya sudah berusaha semaksimal mungkin. Pasien terus mengalami pendarahan, saya sudah menghentikan pendarahannya namun takdir berkata lain. Pasien telah meninggal dunia dan hanya si bayi yang selamat. Maaf, semoga bapak dan ibu dapat tabah menerimanya.” Dokter menunduk dan yang mendengar seakan tak bisa bernafas.


“Tidak!!! anakku Iva!!!” jerit Hadijah Putri kemudian. Ia bersedih hati mendengar berita putrinya telah meninggal dunia. Arman memeluk istrinya yang histeris menangis.


Sedangkan Nina sudah meraung-raung menangis di dekat Ikang. Lukas pun bersedih mendengar kematian adiknya. Semua serasa terpukul dengan berita yang mereka dengar. Mereka merasa ini sangat tak adil bagi hidup Iva, kenapa nasib malang yang terus dialaminya. Semuanya menangis pilu.


Esoknya.


Arman segera mengurus semua admistrasi rumah sakit dan seluruh biayanya. Hasil penjualan sepeda motor dan rumah yang semula di tempati Iva, kini sudah dijual. Dan uangnya di pakai untuk biaya persalinan Iva dan seluruh biaya rumah sakit.


Kemudian mereka pulang ke kampung memboyong mayatnya Iva. Bayi mungil pun dalam gendongan Nina terus didekapnya sambil menatap ponakannya tersebut.


“Sungguh malang nasibmu sayang, baru dilahirkan ke dunia ini sudah di tinggal Ibumu sayang. Kau tak sempat mengenal Iva Ibu kandungmu. Tante akan menjagamu sayang.” Nina mengecup puncak kepala keponakannya sambil menangis haru.


Di kampung langsung di urus mayatnya Iva dan kemudian di makamkan di tempat penguburan makam umum yang ada di kampungnya. Dan diadakan juga tiga hari tiga malam baca doa atau tahlilan untuk Iva yang sudah almarhum kemudian di sambut hari ke 7, ke 25 dan hari ke 40 nantinya. Begitulah biasanya di kampung dilakukan.


Anaknya Iva pun diberi nama oleh Arman, yaitu Devita Syahputri.


Beberapa bulan kemudian pun berlalu, Hadi dan Lita pun menunggu kelahiran anak mereka berdua. Lita melahirkan seorang bayi laki-laki yang tampan kemudian di beri nama Arga Syahputra Gupta Wijaya (Arga). Lita dan Hadi sungguh bahagia dengan kelahiran putra mereka. Mereka menyambut sang bayi dengan suka cita. Begitu juga seluruh keluarga Hadi, Papanya , Mamanya dan adiknya ikut menyambut dan mengucapkan selamat. Begitu juga Papa dan Mamanya Lita juga bahagia dengan cucu pertama mereka serta mengucapkan selamat juga. Mereka semua bahagia.


Waktu terus berlalu dan berganti tahun demi tahun.

__ADS_1


Sudah bertahun-tahun. Devita sudah berumur 7 tahun sekarang. Devita anaknya Iva telah tumbuh dengan baik dan di penuhi kasih sayang dari kakek dan neneknya serta tante dan pamannya. Devita sangat manis dan cantik. Ia juga pintar di sekolahnya, kebanggaan kakeknya.


Namun Devita heran, kenapa ia tak seperti teman-temannya yang lain punya ayah dan ibu, keluarga yang lengkap. Kakek dan neneknya tak pernah cerita apa pun, bahkan tante Nina dan paman Lukas juga tak mengatakan apa pun. Suatu siang saat Devita sudah pulang sekolah, Devita mencari tante Nina.


Saat ini tantenya sudah menikah dan sudah punya bayi kecil perempuan yang bernama Helen Lestari mengikuti nama tante Nina yaitu Nina Lestari. Sudah menikah cukup lama dan barulah Nina punya bayi kecilnya. Tentu hal ini membuat keluarga kecil Nina bahagia. Suaminya Nina, Ikang saat ini telah ikut bekerja di kantor kelurahan. Lumayanlah gaji pegawainya mencukupi keluarga kecilnya Nina dan Ikang. Namun saat ini mereka masih serumah dengan orang tuanya Nina. Jadi sebelumnya Nina juga ikut bantu Hadijah Putri merawat dan membesarkan Devita. Namun sekarang sudah tak bisa karena Nina sudah punya bayi kecil. Lagian masih ada neneknya yang memberikan kasih sayang yang full untuk Devita.


Devita masuk ke kamar tantenya. Nina sedang menidurkan bayinya.


“Tante....” sapa Devita.


“Eh Dek....” Nina menoleh ke Devita. Devita biasa di panggil Dek atau Dedek di rumah tersebut bahkan kawan kawannya juga ikut memanggil begitu.


“Helen udah bobok?”


“Udah. Baru aja. Kenapa?”


“Dedek mau ngomong sama tante boleh?”


“Iya. Boleh dong.”


Nina dan Devita pun keluar dari kamar Nina kemudian berjalan menuju ruang tengah. Keduanya duduk bersama. Nina melihat ke arah Devita.


“Kenapa Dek?” Nina menatap lembut dan mengusap lembut rambut Devita.


“Tante, Mama dan Papa Dedek dimana ya?”


“Dek, kok tumben nanya? Biasanya gak pernah nanya?” tanya neneknya Devita.


“Dedek heran aja. Teman-teman punya ayah dan ibu, kok Devita cuma punya kakek, nenek, tante Nina dan Paman Lukas. Eh ada Paman Ikang dan dek Helen juga.”


Nina menatap Ibunya. Hadijah menghela nafas panjang.


“Buk, Nina rasa sudah waktunya Devita tahu semuanya.” Nina berujar.


“Tapi Nin, Devita masih kecil dan belum paham apa pun.”


“Buk ... Devita pasti bisa paham sedikit demi sedikit."


Nina dan Hadijah melihat ke arah Devita.


Akhirnya Hadijah Putri menceritakan pada Devita tentang nama Mamanya bernama Iva Syarifa. Iva sudah lama meninggal sewaktu Devita sudah dilahirkan. Jadi setelah melahirkan Devita barulah Iva meninggal. Wajah Devita berubah menjadi sedih. Kini ia tahu kenapa tak punya Mama. Lalu dimana Papanya?


“Kalau Papa Dedek gimana Nek?” Devita menatap penuh harap ke Hadijah Putri. Namun wajah Nina nampak kesal.


“Sudah meninggal juga Dek.” Ucap Nina ketus. Sampai sekarang Nina masih gak terima apa saja yang telah di alami Iva akibat Hadi dan Mamanya Hadi yang jahat itu. Belakangan setelah Iva di makamkan barulah Nina dan seluruh keluarga tahu kalau Jihan sempat melakukan sesuatu sebelum Iva di larikan ke rumah sakit. Dalam hati Nina selalu mengutuk Hadi dan keluarganya itu.


Hadijah Putri menatap Nina.

__ADS_1


“Nin, gak boleh gitu.”


Devita kebingungan. Jadi ayah dan ibunya sudah meninggal keduanya ya? pantaslah ia tak punya ayah dan ibu.


“Gak Dek, Papamu masih hidup tapi gak disini.” Hadijah bingung bagaimana mengatakannya.


“Hidup? Gak disini?” Devita makin tak mengerti.


“Buk, harusnya bilang mati aja. Toh Hadi gak pernah datangi anaknya sendiri. Tak merawatnya, kasi nafkah ke anaknya saja gak ada. Dedek selama ini kita yang rawat dan kita juga yang besarkan.” Nina panas hati rasanya.


“Nin....!!!” Arman baru saja tiba. Ia marah dengan sikap Nina. Nina terdiam melihat ayahnya ada di rumah. Ternyata ayahnya baru pulang.


Arman menatap Nina dan Hadijah bergantian. Ia lalu mengajak Devita ke dalam ruangannya. Devita menurut. Di dalam ruangan kakeknya, Arman menceritakan seperlunya saja pada Devita. Ia tak mau cucunya tersulut dendam dan amarah pada Papanya sendiri. Cukup sudah semuanya. Arman menjelaskan kalau Iva Mamanya Devita sudah meninggal dan Ayahnya Devita yaitu Hadi ada di kota, masih hidup. Cukup seperlunya saja yang di katakan Arman. Ia harap Devita dapat mengerti.


Malam harinya Devita masih saja tak puas dengan jawaban yang ia dengar, Devita kembali datang ke kamar tantenya. Padahal sudah jam 9 malam lewat, sudah waktunya anak-anak tidur. Namun Devita malah kembali mencari Nina.


“Tante ... Devita mau tanya lagi boleh?”


Nina yang awalnya hendak tidur tak jadi. Di lihatnya Ikang dan bayinya sudah bobok. Nina pun ikut Devita dan duduk di ruangan kamarnya Devita. Devita yang membawanya.


“Kenapa belum tidur sayang?”


“Mau tanya tentang Papa? Dedek mau tahu tentang Papa dan Mama.”


Nina pun merasa tak perlu lagi menutupinya, akhirnya ia ceritakan semuanya yang ia tahu ke Devita. Devita memang masih kecil namun ia bersedih mendengar kisah kedua orang tuanya. Bahkan timbul kebencian pada diri Devita untuk Papanya.


“Jadi Papa dan keluarganya jahat sama Mamanya Dedek ya?” Devita mulai terisak.


Hati Nina terenyuh sakit melihat Devita terisak, ia memeluk Devita dengan erat.


Bersambung....


Huhuhu ... dek, Papamu memang jahat apalagi nenek Jihan mu itu juga jahat. Semoga Devita dapat menerima semua kenyataan tersebut.


Maaf ya kakak pembaca semuanya, kalau gak sesuai ekspektasi para pembaca semua. Namun seperti yang Author katakan sebelumnya kalau ini sudah sesuai dengan yang sudah di acc di pusat jadi gak bisa di ubah lagi alurnya ya. Dan mengikuti/berdasarkan kisah nyatanya juga. Semoga para pembaca dapat mengerti dan tetap mendukung karya ini sampai tamat, makasih ya semuanya.


Tapi tenang saja, Jihan dan Hadi tetap dapat balasannya kok.


Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.


Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.


Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D


Kasi komen yang positif ya kak. Dan hindari perkataan yang kasar di komen karena sama pihak Noveltoon biasanya bisa di kenak sensor sistem :D soalnya Author lihat ada komentar yang agak gimana gitu mau saya jelasin atau lihat klik untuk baca tapi ya gitu gak bisa, ternyata sama sistem Noveltoon tidak dibolehkan komentar seperti itu dan di blok oleh sistem mereka. So say something yang positif ya kakak :D😘😘


Like sebanyaknya ya kak dan Vote juga sebanyaknya. Mari dukung karya ini kak. Makasih kakak :D 🤗😍🥰😘

__ADS_1


__ADS_2