
Hari-hari kembali di lewati Devita dengan riang. Hatinya berangsur-angsur kembali membaik. Ia bermain bersama teman-temannya dengan suka cita. Tawa gembira menghiasi wajahnya Devita. Wajahnya Devita pun mirip sekali dengan Iva sewaktu kecil. Dari mata, hidung, bibir, dan seluruhnya sangat mirip Iva. Seakan Devita adalah Iva kecil atau Iva junior.
Devita pulang sore hari setelah puas bermain dengan temannya. Baru saja sampai rumah, Devita dikagetkan oleh tamu jauh. Sebuah mobil mewah terparkir di halaman luas rumah neneknya. Devita bingung siapa yang datang. Tapi dia tetap masuk. Baru saja masuk, Arman memanggil Devita.
“Dek ... sini dekat kakek.” Kakeknya meminta Devita duduk di dekatnya. Devita melihat ada seorang anak kecil laki-laki sedang memandang Devita dan seorang wanita dewasa. Mereka kelihatannya bukanlah dari kampungnya. Devita menuruti kakeknya dan ikut duduk di sebelah Arman.
“Dek, ini Tante Lita dan ini anaknya.” Arman memperkenalkan diri Lita dan anaknya.
“Devita Syahputri. Biasa dipanggil Devita atau Dedek.” Devita memperkenalkan dirinya dengan sopan.
“Tante Verlita Maheswari Gupta. Biasa di panggil Lita. Ini anak tante, namanya Arga Syahputra Gupta Wijaya. Panggil saja Arga.” Lita menyebutkan dan memperkenalkan dirinya dan anaknya.
“Ayo salam cium tangan, Dek.” Perintah Arman pada cucunya. Devita mengangguk.
Devita lalu mencium tangan Lita dengan sopan. Kemudian Lita juga menyuruh Arga mencium tangannya Devita.
“Arga, salim dulu sayang sama kak Devita ya.” pinta Lita pada anaknya.
“Iya Ma.” Arga walaupun masih berumur 6 tahun 9 bulan tapi sangat patuh pada Mamanya. Walaupun biasanya dia tahunya main saja.
Arga mencium tangan Devita dan Arman sekalian. Kemudian semuanya kembali duduk. Devita bingung dengan apa sebenarnya ini. Dia tak tahu apa pun Tapi Devita diam saja dan menurut pada kakeknya.
“Maaf kalau menganggu waktu Pak Arman dan Devita. Boleh gak Devita datang menjenguk Hadi. Hadi sakit keras dan sudah di bawa berobat tapi tak ada satu obat pun yang dapat menyembuhkannya. Bahkan beberapa waktu yang lalu, Hadi seakan seperti orang gila. Empat tahun lalu Hadi seperti orang gila dan itu berlanjut selama dua tahun. Dan dua tahun kemudiannya, Hadi malah sakit aneh. Gak sembuh-sembuh hingga kini. Setiap malam menyebut nama Iva dan anaknya.” Lita mulai menangis.
Arman kini mulai mengerti. Saat Lita baru datang, pas kebetulan Devita sampai pulang dari main juga. Begitu Devita sudah di dekatnya, barulah Arman tahu maksud kedatangan Lita.
“Jadi maksud nak Lita, mau bertemu Iva dan anaknya begitu? Tapi apa nak Lita sudah tahu kalau Iva sudah lama meninggal.” Arman memandang wanita yang ada di hadapannya. Lita berumur tak jauh seperti Nina dan Lukas. Jadi seperti anak saja baginya karena seumuran anaknya.
“Aku tahu Pak. Hadi pernah mengatakannya. Tapi aku ingin meminta anaknya Iva untuk menemui Hadi. Mana tahu jika Hadi bertemu anaknya akan membuat Hadi sembuh.”
Arman memandang ke arah Devita.
“Devita adalah anaknya Iva.” ucap Arman sambil mengelus rambutnya Devita dengan lembut.
Lita memandangi wajah Devita. Bisa terlihat jelas kalau Devita mirip Ibunya.
“Dek, mau temui Papanya Dedek gak?” Arman bertanya kepada cucunya. Devita melihat sang kakek dan segera menggeleng. Lita yang melihat langsung sedih.
__ADS_1
“Kenapa?” Arman bertanya.
“Gak mau jumpa Ayah. Ayah jahat ninggalin bundanya Dedek.” Devita menyebutkan Iva dengan sebutan Bunda.
Anak kecil dan polos tersebut pun bangkit dan berdiri dari tempat duduknya. Lalu berlari masuk kamarnya. Kamar Devita sekarang adalah kamar Iva dahulu. Devita masuk kamar dan menguncinya.
Arman hanya bisa menghela napas panjang.
“Maafkan Dedek ya, nak Lita. Dia perlu waktu. Aku akan mencoba membujuknya.”
“Makasih Pak. Ini nomer hape Lita. Jika bisa tolong sangat ya pak untuk buat Devita mau temui Papanya. Lita pikir, jika Hadi bertemu anaknya Iva maka akan bisa menyembuhkannya. Tolong sekali ya Pak.” Lita memohon terus kepada Arman. Lita berharap agar Hadi bisa sembuh secepatnya.
“Baiklah. Akan aku coba. Oh iya di minum dahulu ya minuman tehnya.” Teh sudah tersaji oleh buk Hadijah Putri yang baru membuatkan barusan. Lita menyerahkan kartu namanya yang ada nomer hapenya dan Arman menerimanya. Lita dan Arga pun meminum tehnya.
Setelah cukup lama, Lita pun pamitan pada Hadijah Putri dan Arman. Lita pulang naik mobil mewahnya bersama Arga. Ada seorang supir yang menemaninya selama perjalanan.
Malam harinya setelah makan malam, Arman mengajak Devita duduk bersama di teras rumah. Keduanya berbincang yang ringan-ringan saja awalnya. Setelah agak cukup lama, barulah Arman ke titik perbincangan.
“Dek, kakek kan sudah ceritakan tentang Ayah dan bundanya Dedek, kok tadi sore ngomong gitu sama tante Lita?”
Devita menunduk. Ia menggenggam bajunya dengan erat.
“Dek, dari mana Devita tahu semua itu?”
“Tante Nina yang sudah cerita dan kasih tahu.”
“Tapi ayah Dedek tetap ayahnya Dedek.”
“Gak ... Dedek gak mau punya ayah yang jahat.” Devita mulai tersulut amarah.
“Dek, Dedek gak boleh kayak gitu. Bagaimana pun Hadi adalah ayah kandungmu. Kau tak bisa menolaknya, Dek. Dedek harus hormat pada orang tua. Lagian kakek tak suka jika cucu kakek punya dendam begitu. Lupakan ya cucuku.” Arman tak mau cucunya mendendam begitu.
“Tapi ayah jahat, Kek. Bahkan Bunda di abaikan dan Dedek juga di abaikan oleh ayah. Selama ini ayah gak pernah juga cari Dedek.”
“Asal Dedek tahu, waktu Bunda Dedek meninggal, Hadi Papanya Dedek datang.” Arman mencoba mengingatnya.
Saat itu, Iva baru saja sampai di rumah duka. Hadi datang dari jauh hanya demi melihat Iva. Usai pulang dari pesta, Mamanya Hadi bercerita kalau dia melihat Iva di pesta. Hadi pun kemudian teringat Iva. Hadi bermaksud menemui Iva. Tapi Jihan melarang dengan mengatakan kalau dia telah meminta Iva menjauh dari hidup Lita dan Hadi bahkan dengan pongah Jihan berkata kalau ia sempat menjambak Iva dan mendorong Iva.
__ADS_1
Hadi tentu saja marah pada mamanya. Iva saat ini pasti sudah hamil besar. Bagaimana pula Mamanya bersikap kasar pada Iva. Karena itulah esoknya Hadi langsung ke kampung hendak melihat Iva. Tapi Hadi begitu kaget karena ternyata Iva telah meninggal.
Hadi bahkan hendak meminta menemui Iva untuk terakhir kali sebelum di kuburkan. Namun Nina yang masih punya amarah besar mengusir Hadi.
“Pergi!!! Pergi kau dari sini. Tak sudi aku melihat mu. Semoga kau mendapatkan karma Hadi!!!” Nina berteriak dan mengutuk Hadi. Ia tak peduli kalau banyak orang yang sedang melayat. Nina marah besar dengan kematian Iva. Ia lampiaskan semuanya saat melihat Hadi.
“Maaf Kak. Bolehkah Hadi melihat jenazah Iva.” Hadi memohon.
“Pergi kau!!! Gara-gara kau dan keluargamu maka Iva jadi seperti ini sekarang. Kau sudah melukainya. Lahir dan batinnya Iva tersakiti oleh kau Hadi dan Mamamu yang bejat itu. Pergi kau!!” Nina kembali mengusirnya. Hadijah Putri dan Arman mencoba menenangkan Nina. Lukas pun meminta Hadi pergi saja. Semua yang melihat sangatlah kaget.
Hadi pun tak punya kesempatan menemui Iva walaupun itu terakhir kali. Bahkan sampai Iva di makamkan, Hadi tak dapat datang mendekati makam Iva. Hadi menatap dari kejauhan. Hadi sangat menyesal. Hadi berjanji ingin memberikan kebahagian di pernikahannya pada Iva, tapi malah penderitaan yang ada. Hadi menangis dari jauh memandang makam Iva.
“Jadi begitu Dek, bukan tak datang tapi tante Nina mu yang sangat marah itu melarangnya. Bahkan paman Lukas mu juga marah pada Papanya Dedek. Waktu Dedek baru umur 3 tahun pun kembali ayahnya Dedek datang, tapi penampilannya agak kurang waras seh. Kakek pikir salah lihat ternyata memang Hadi. Dia ijin ke makam bundanya Dedek. Dan mau ketemu Dedek tapi kembali tante Nina mu tak mengijinkan.”
Arman menghela napas panjang.
“Kemudian Hadi datang lagi tapi mendapatkan penolakan dan di usir oleh paman dan tante Nina mu lagi, Dek. Padahal papamu mau bertemu denganmu. Kakek sudah mengatakan untuk biarkan saja ayah dan anak bertemu. Tapi Nina dan Lukas masih marah pada Hadi. Kakek dan nenek juga marah dan bahkan sakit hati karena anak kami Iva telah menderita dan meninggal kemudian. Tapi itu semua tak akan membuat Iva kembali ke dunia ini. Jadi kakek dan nenek berusaha tetap tabah dan ikhlas. Hanya Tantemu dan Pamanmu yang belum bisa memaafkan Hadi sampai sekarang. Kebetulan Lukas sedang tugas keluar kota dan Nina sedang ke rumah mertuanya bersama anak serta suaminya, mereka menginap disana. Jadi Dedek mau tidak kita datangi Papanya Dedek?” Arman memandang ke arah cucunya yang kemudian terdiam mendengarkan cerita kakeknya.
“Apa Dedek gak mau tahu seperti apa Papanya Dedek? Sesama manusia itu tak baik mendendam dan harus saling memaafkan ya *** ....” Arman berusaha membuat Devita memahaminya dan mau memaafkan Ayah kandungnya sendiri.
“Kek, ayo kita temui Papa Dedek esok.” Ajak Devita.
“Baik. Kalau begitu esok pagi kita berangkat ke kota ya.” Arman tersenyum.
Devita mengiyakan karena dia penasaran pada sosok papa kandungnya. Seperti apa wajah papa kandungnya. Dan mau tahu juga Devita, sakit apa yang di derita oleh papanya tersebut.
Bersambung....
Benarkah Devita akan memaafkan Papa kandungnya? Sakit aneh apa yang di derita oleh Hadi ya? Kita lihat saja bab selanjutnya nanti ya.
Klik Like, Vote, Favorit dan Komennya ya Kak reader semua.
Sertakan juga kasi dukungan dan hadiahnya ya. Kasi juga bintang/rate 5 ya kak.
Thanks. Love you all. :) :D No plagiat ya :D
Kasi komen yang positif ya kak. Dan hindari perkataan yang kasar di komen karena sama pihak Noveltoon biasanya bisa di kenak sensor sistem :D soalnya Author lihat ada komentar yang agak gimana gitu mau saya jelasin atau lihat klik untuk baca tapi ya gitu gak bisa, ternyata sama sistem Noveltoon tidak dibolehkan komentar seperti itu dan di blok oleh sistem mereka. So say something yang positif ya kakak :D
__ADS_1
Kasi komen yang positif ya kak :D
Like sebanyaknya ya kak dan Vote juga sebanyaknya. Mari dukung karya ini kak. Makasih kakak :D