Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)

Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)
Menjadi pria sejati


__ADS_3

Setelah mendengarkan perkataan Nea, Lewis mulai menyadari satu hal jika dia memang harus benar-benar membagi cinta antara Nea dan Haruka secara adil. Dia tidak boleh hanya condong kepada satu pihak saja. Atas saran Nea, hari itu juga ia menemui Haruka untuk meminta maaf, Nea siap untuk menggantikan pekerjaan sang suami yang sedang butuh dukungan penuh darinya itu.


Lewis keluar dari ruang kerjanya menuju kamar utama, dia mengetuk pintu itu, cukup lama ia menunggu,


KLEK


Pintu kamar utama itu akhirnya terbuka, dia melihat sosok Haruka dengan mata yang sembab. Lewis meminta izin untuk masuk kedalam. Dia ingin bicara dengan Haruka.


"Haru, aku minta maaf atas semua sikap kasarku selama ini," ucap Lewis sambil berlutut di hadapan sang isteri.


"Sudahlah suamiku, aku telah memaafkanmu, tidak perlu berlutut," jawab Haruka.


"Setelah ini, kau juga akan mendapatkan hak yang sama seperti Nea," tukas Lewis, ia bangkit dari posisi bersimpuhnya.


Keduanya berpelukan, terlihat kedamaian di wajah Lewis yang kini telah menjadi suami sepenuhnya untuk Haruka.


Ketulusan hati yang coba Lewis bangun ternyata tidak serta merta membuat Haruka luluh, justru wanita itu semakin ingin menghancurkan Lewis dan Nea.


"Mengapa kau diam saja sayang?" tanya Lewis mesra.


"Aku hanya bahagia, kau telah kembali menjadi Lewis yang dahulu aku kenal," jawab Haruka penuh kepalsuan.


Lewis melepaskan pelukannya dan meminta Haruka beristirahat. Wanita itu mengiyakan permintaan sang suami.


"Aku kembali ke ruang kerja dulu sayang, masih banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan, kau baik-baik di sini," pamit Lewis.


"Baik sayang, semoga perusahaanmu segera membaik, maaf aku tidak bisa berkontribusi apapun," ucap Haruka.


"Bukan masalah besar, jaga anak kita, kau hanya boleh berpikir tentang anak kita saja, kau mengerti?" pinta Lewis.


"Iya sayang, pergilah, aku tidak apa-apa," jawab Haruka.


Sebelum pergi, Lewis mencium kening Haruka dan membisikkan kata cinta di telinga sang isteri.


Haruka tersentak, memori lima tahun yang lalu kembali tergiang dalam ingatannya, tentang hubungan percintaannya dengan Lewis yang teramat indah itu, namun bayangan hitam tentang Lewis yang meninggalkannya dan menikah dengan Nea membuatnya mendidih, dia kembali ke titik awal pembalasan dendamnya.


Perlahan tapi pasti, Lewis telah keluar dari kamar utama.


"Umpan telah tertelan oleh musuh, kehancuran keluarga Lewis terpampang nyata, anakku, kau akan mendapatkan hakmu sepenuhnya, ayahmu memang Lewis, tetapi dia bukan ayah yang baik untukmu, akan ku buat dia menyesali sikapnya yang tidak bertanggung jawab itu," ucap Haruka sembari mengelus perutnya.


...* * *...

__ADS_1


Di ruang kerja...


Lewis masuk ke dalam ruang kerjanya, Nea terlihat sangat serius dengan pekerjaannya,


"Sayang?" tanya Lewis, ia melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang isteri.


"Suamiku! kau mengagetkanku saja," jawab Nea, menoleh ke arah wajah Lewis yang kini sedang memeluknya itu.


"Kau sudah selesai sayang?" tanya Lewis.


"Iya, sebentar lagi," jawab Nea.


"Kau tidak perlu susah payah membantuku, kau istirahatlah," ucap Lewis.


"Kau akan lelah, biarkan aku membantu," pinta Nea.


"Sayang, aku adalah suamimu, kau telah banyak membantuku dan menyadarkanku atas segala kesalahan yang telah ku perbuat, sekarang giliranku untuk memikul tugas sebagai kepala rumah tangga," jelas Lewis.


Dia melepas pelukan itu dan menyuruh sang isteri duduk di atas sofa yang berada di sebelah meja kerja sang suami.


Lewis mengambil alih tugas sang isteri, dia mulai menjalankan perannya kembali sebagai kepala rumah tangga yang harus menghandle segala urusan di dalam perusahaannya.


"Sayang, terima kasih karena kau telah menjadi suami dan daddy terbaik, love you," ucap Nea.


Dia memandang wajah Lewis yang berkharisma itu tanpa berkedip.


"Love you too sayang, aku juga berterimakasih, kau telah melapangkan dadamu untuk menerima kenyataan pahit ini," jelas Lewis.


Sang suami juga membalas memandang Nea yang kembali terkagum-kagum dengan sikap pria sejati yang beberapa telah hilang dari diri sang suami.


"Tidak ada hal pahit di dalam hidup, semua ini hanya cobaan dari yang maha kuasa, sebagai manusia, kita hanya bisa pasrah," ucap Nea.


Beberapa menit kemudian, Lewis telah selesai mengerjakan semua berkas perusahaan dan besok adalah waktu dimana ia dan sang isteri mulai mengeksekusi rencana yang telah di susun rapi itu.


"Sayang, aku ingin menemui Haruka," ucap Nea.


"Dia sedang beristirahat sayang, nanti saja setelah dua atau tiga jam, dia merasa sedih karena sikapku, tapi aku sudah meminta maaf padanya," jelas Lewis.


"Baguslah kalau begitu," tukas Nea.


Tiba-tiba ponsel Nea berdering, ia mengambil ponsel ia letakkan di meja Lewis. Di melihat di dalam layar ponselnya, ada nomor tidak di kenal menghubunginya. Nea menjawab panggilan itu.

__ADS_1


"Halo, ini siapa ya?" tanya Nea.


"Ini aku, apa kau juga melupakan suaraku?" ucap sang penelpon.


"Aku benar-benar tidak tahu siapa kau, tolong jelaskan segera," jawab Nea.


"Aku Robin, sahabatmu," tukas sang penelpon.


"Oh kau, ada apa kau tiba-tiba menghubungiku?" tanya Nea.


"Kabarnya kau telah menikah, mengapa tidak mengundangku?" jawab Robin.


"Aku sudah mencoba segala cara mencarimu tetapi tak kunjung menemukanmu, nomor rumahmu yang biasanya juga tidak aktif," jelas Nea.


"Ya, tapi setidaknya kau bisa kirim surat padaku," ucap Robin.


Lewis mulai jengah dengan sikap teman Nea yang terlalu menyudutkan sang isteri itu, Lewis menutup berkas dan berhenti mengerjakan tugasnya, dia beranjak dari tempat duduknya, segera saja Lewis duduk di samping Nea, dia meminta ponsel Nea.


"Aku masih mencintaimu, mengapa kau menikahi pria lain? harusnya aku hanya bersamaku," ucap Robin.


"Maaf tuan, saya adalah suami Nea, nama saya Lewis, mohon jangan mengganggu kehidupan rumah tangga kami," jawab Lewis.


"Oh, jadi kau pria hebat pilihan Nea itu, hey tuan Lewis! aku lebih segalanya darimu, jangan harap kau mampu melewatiku, dengan mudah, aku mampu menghancurkanmu, lihat saja nanti!"


Tutt...tutt...tutt


Robin menutup panggilan teleponnya, Lewis mengembalikan ponsel sang isteri.


"Jika dia masih menelponmu, bilang saja padaku, ku rasa sahabatmu itu bukan teman yang baik," ucap Lewis.


"Robin banyak berubah setelah mengatakan cinta padaku, aku merasa dia mengartikan lain sikap peduliku di masa lalu, aku menganggapnya sebatas teman karib, tidak lebih," jelas Nea.


"Tak hanya Robin, masih banyak pria yang mengincarmu," goda Lewis.


"Aku tak semenarik itu, mereka hanya berlebihan, sudahlah aku tidak ingin membahas Robin atau pria yang kau sangka menyukaiku itu," jawab Nea.


"Terima kasih sayang, kau mau menerimaku dengan segala kekuranganku," ucap Lewis.


"Sama-sama sayang, aku masih belajar menjadi isteri yang berbakti padamu, aku juga tak luput dari kesalahan," jawab Nea.


Lewis kembali mempererat pelukannya, dia sangat beruntung memiliki isteri luar biasa seperti Nea.

__ADS_1


__ADS_2