Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)

Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)
Kebenaran tentang Mykaila


__ADS_3

Mykaila pulang ke rumah bibinya karena kedua orang tuanya sedang berada di luar kota, ia memarkirkan motornya di depan halaman rumah sang bibi.


"Astaga! Mi!" Sang bibi berlari mendekati Mika yang berbaju kotor serta serta body motor yang di pakainya juga tergores.


"Kak Nea mana? aku ingin bertemu," ucap Mika.


"Nea masih sibuk dengan isteri kedua Lewis yang gila itu, bibi tidak habis pikir dengan Nea, dia masih saja mempertahankan rumah tangga, bahkan mau merawat Haruka," Sesal nyonya Wijaya yang memberikan restu kepada Lewis untuk menikahi sang putri.


"Kak Le sudah berubah bukan? masa lalu biarlah berlalu, oh ya...tadi aku bertemu Jo, pria misterius yang ku kenal lewat sambungan telepon waktu SMA dulu bi," ucap Mika dengan senyum merekah.


"Aku marah padanya, tapi ya sudahlah! oh...kau masih mencintainya?" tanya bibi Wijaya.


"Tidak tahu bibi, aku lelah menunggunya terlalu lama, aku tidak ingin berharap lebih. Setelah liburan usai, aku akan kembali ke Australia lagi," Mika berjalan gontai menuju teras, ia duduk di kursi kayu yang ada di sana.


Sang bibi mengekor langkah Mika, ia juga duduk di kursi yang berada di samping Mika.


"Mika, kau jangan menyerah dengan keadaan, dia adalah pria yang baik meskipun aku belum pernah melihatnya," jelas nyonya Wijaya.


"Aku malas membahasnya, lebih baik aku mandi saja, tubuhku kotor, penuh lumpur," ucap Mika sembari beranjak dari tempat duduknya.


Ia masuk ke dalam rumah sang bibi, nyonya Wijaya masih duduk di tempatnya, ia terlihat menelepon seseorang.


"Nea? adikmu sudah pulang, dia ingin bertemu denganmu," ucap sang ibu.


"Aku pulang besok saja ya?" jawab Nea dengan nada ragu.


"Apa suamimu berulah lagi?" tanya sang ibu.


"Bukan itu, aku hanya lelah ibu, tidak apa-apa kan? sampaikan salamku kepada Mika," tukas Nea.


"Dari nada suaramu, terdengar lemah dan tidak bersemangat? kau sakit?" tanya sang ibu khawatir.


"Tidak ibu, aku hanya lelah, maaf ya? aku mau istirahat dulu," jawab Nea.


"Oke sayang, jaga kesehatan ya?" pinta sang ibu.


"Iya ibu," jawab Nea.


Sang ibu menutup panggilan teleponnya. Ia merasa curiga jika ada masalah dengan Nea. Dia segera menelepon tuan Hans.


"Halo tuan? kau ada dimana?" tanya nyonya Wijaya.


"Ohya, ada apa besan?" ucap tuan Hans.

__ADS_1


"Anakku terdengar murung di telepon, apakah ada masalah serius di rumahmu?" tanya nyonya Wijaya.


"Tidak ada besan, ehm...nanti coba aku akan interogasi mereka berdua," jawab tuan Hans.


"Oke, terima kasih untuk bantuannya," tukas nyonya Wijaya.


"Sama-sama," jawab tuan Hans.


Nyonya Wijaya menutup panggilan telepon itu dan segera masuk ke dalam rumah.


Kantor L.H.S skincare...


Tuan Hans langsung menghubungi Lewis, ia ingin membicarakan keluhan dari nyonya Wijaya.


"Lewis? kau dimana?" tanya tuan Hans.


"Ada di rumah, kenapa?" ucap Lewis.


"Apa kau dan Nea ada masalah?" tanya tuan Hans kembali.


"Tidak ada," jawab Lewis.


"Tadi ibunya Nea menelepon, dia bilang Nea murung saat di telepon oleh besan, bisa kau jelaskan?" tanya tuan Hans meminta penjelasan.


"Ada orang yang ingin menghancurkanku ayah, Nea memikirkan itu," jawab Lewis.


"Mungkin saja ayah, aku juga sedang mencari tahu," jelas Lewis.


"Dia pandai bersembunyi," ucap tuan Hans.


"Dia juga darah dagingmu bukan? kau juga bersembunyi dari ibu untuk bertemu dengannya," jelas Lewis ketus.


"Le, bersikap sopanlah!" pinta sang ayah.


Tut...Tut...Tut..


"Sial! anak itu!" Tuan Hans kesal, Lewis terlalu berani mengatakan semua itu padanya.


"Kau dan Peter adalah kakak beradik, cobalah mengerti!" Tuan Hans mengacak rambutnya kasar.


Kesalahannya tak termaafkan oleh anak dan isterinya.


"Ini semua salah ayah, kau dan Peter harus bermusuhan, sedangkan Patricia harus menjadi kriminal saat berusaha mempertahankan hubungannya," Pandangan tuan Hans terasa kosong, dia tak memiliki daya apapun untuk bertindak, selain menemukan Peter dan meminta maaf.

__ADS_1


...* * *...


Tuan Hans beranjak dari tempat duduknya, dia ingin pergi ke suatu tempat yang setidaknya mampu menenangkan hatinya.


Ia keluar dari ruangannya, di depan ruang presiden direktur ada lift.


Ting!


Saat pintu lift terbuka, ia masuk ke dalamnya, tuan Hans memencet tombol nomor satu karena dia akan turun ke lantai dasar.


Ting!


Pintu lift terbuka, ia keluar dari lift itu, langkah kakinya di percepat, seperti ingin segera sampai di tempat penting yang ada di pikirannya.


Setelah sampai di parkiran, dia segera masuk ke dalamnya dan segera melaju meninggalkan kantornya.


Beberapa menit kemudian, ia sampai di sebuah pemakaman dan segera menghentikan mobilnya.


"Ini adalah tempat yang kau bilang, sebelum kau tiada, kau mengirimkan pesan padaku ingin ke tempat ini, tempat istirahat ternyaman bagimu, maaf Nilam! aku yang salah," Tuan Hans meletakan kepala di stir kemudinya, dia terlihat sangat frustasi.


"Hans," Suara yang sangat familiar, ia menoleh ke arah asal suara, ada sosok yang sangat di rindukannya.


"Nilam?" ucap tuan Hans terkejut.


"Iya ini aku, kau kenapa?" tanya sosok itu.


"Aku menyesal telah meninggalkanmu dulu, maaf! jika aku di sana, Patricia mungkin tidak akan..." kata-katanya terhenti saat sosok itu tersenyum dan berkata," Jangan menyesali apapun yang terjadi, ini sudah takdir kita. Rangkul Peter, bawa dia bersamamu,"


"Tapi Nilam?" ujar tuan Hans ragu.


"Aku berdoa kepada Tuhan agar Peter segera sadar dan memaafkan kesalahanmu," jawab sosok itu yang semakin lama menghilang.


"Nilam!" pekik tuan Hans seraya bangun dari stir mobil yang sedari tadi ia gunakan untuk bantalan kepalanya.


"Astaga! apa tadi itu Nilam?" Tuan Hans masih belum mempercayai tentang apa yang baru saja ia alami.


Tuan Hans turun dari mobil, langkah kakinya perlahan menuju batu nisan yang berjejer di depannya. Ia menuju satu gundukan tanah dengan batu nisan tertulis nama Nilam.


Ia memeluk pusara itu, tuan Hans menangis sejadinya, ia meminta maaf kepada Nilam.


"Nilam, maafkan aku! aku yang salah, aku tidak pantas hidup, Nilam! hiduplah! kau tidak boleh mati, aku sangat merindukanmu!" Tuan Hans meluapkan segalanya di pusara Nilam, almarhumah isterinya yang telah meninggal beberapa puluh tahun yang lalu.


Saat tuan Hans puas meluapkan segalanya, dia baru menyadari jika ada satu bucket bunga di atas pusara Nilam.

__ADS_1


"Pemakaman ini hanya aku dan Peter yang tahu, apa mungkin? ini dia yang baru saja meletakannya di sini?" ucap tuan Hans menduga-duga.


"Nilam, sepertinya anak kita merindukanmu, dia meninggalkan jejak bunga ini, kau sudah memberikan petunjuk! terimakasih Nilam!" Tuan Hans kembali memeluk gundukan tanah itu dengan tersenyum.


__ADS_2