Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)

Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)
Kebersamaan keluarga


__ADS_3

Setelah kembalinya Hiro, keluarga Nea dan Lewis mengadakan syukuran yang hanya dihadiri oleh anggota keluarga saja. Mereka berkumpul di mansion utama milik Lewis. Acara makin semarak saat ada badut yang datang untuk menghibur anak-anak. Nea dan Lewis melihat kebahagiaan di wajah semua orang yang berada di sana.


Hiro adalah anak kesayangan keluarga Lewis dan Nea, seperti si bungsu Jacob. Tapi ada sesuatu yang kurang dari acara itu. Ketidakhadiran Haruka adalah penyebabnya.


"Suamiku, harusnya ibu kandung dari Hiro ada bersama kita disini," ucap Nea yang merasa sedih saat menatap wajah Hiro, meskipun dia terlihat bahagia, tetapi hatinya pasti sangat merindukan Haruka.


"Jika tidak ada halangan, besok kita kesana ya, masalahnya hari ini kita sedang ada acara," jawab Lewis yang membelai rambut Nea dengan penuh kasih.


Saat wajah Nea menjadi sendu, si kembar mengajak sang mommy untuk menari bersama badut.


"Ayo mom, kita menari," rengek Fea.


"Iya mom, itu adik Hiro juga tertawa saat menari bersama nenek," tunjuk Fany ke arah nyonya Wijaya yang sedang bahagia menggendong sang cucu.


Nea mendapatkan kekuatan saat melihat anaknya tersenyum bahagia. Entah hantu apa yang membuatnya murung saat sang putera bahagia. Nea, si kembar dan Myka menari bersama-sama, dia harus menunjukkan jika mampu meredam rasa khawatirnya tentang hal yang belum pasti.


Saat sedang sendiri, muncul nyonya Patricia yang mendekatinya.


"Keluarga kita telah aman, kau berhasil menjebloskan Peter rumah tahanan," ucap nyonya Patricia merasa bangga dengan pencapaian anaknya.


"Siapa pria muda itu?" tanya Lewis. Mata Lewis melirik ke arah sang ibu yang juga menatap matanya.


"Apa maksudmu?" tanya sang ibu.


"Pria muda yang bersama ibu waktu di cafe, apa itu kekasihmu?" Lewis semakin memperjelas maksud hatinya.


"Dia bukan siapa-siapa, hanya bocah yang ibu pungut, kau tidak perlu merisaukan hal itu, lebih baik kau urus rumah tanggamu. Lihatlah betapa cantiknya anak dan isterimu, Hiro sudah kembali. Semuanya kembali normal," jelas nyonya Patricia.


"Tapi tetap saja, aku curiga jika ibu bermain di belakang ayah," sindir Lewis.


"Haha, bukannya terbalik?" tanya nyonya Patricia.


"Aku harap, ibu mengatakan hal yang sebenarnya," ucap Lewis yang melangkah meninggalkan sang ibu, ia segera menghampiri anak dan isterinya yang sedang menari dengan badut sewaan.


Sementara itu, nyonya Patricia belum terima jika Peter hanya di penjara beberapa tahun saja. Dia masih ingin membuat pria itu menderita.


"Jika saja Lewis tidak menghalangi rencanaku," ucap nyonya Patricia.


Suasana riuh syukuran yang di penuhi lagu bertema kegembiraan, membuat nyonya Patricia hanyut di dalamnya. Wanita itu berjalan mendekati Hiro.


"Sayang, ikut nenek ya?" ucap nyonya Patricia.

__ADS_1


Kini Hiro bersama nyonya Patricia, dia terlihat bahagia bersama dua nenek sekaligus.


"Akhirnya kebahagiaan ini, kita rasakan nyonya Patricia," ucap nyonya Wijaya.


"Iya, harusnya memang dari dulu, kita bahagia nyonya. Kadang cobaan dalam kehidupan yang pelik ini mampu memberikan akhir yang baik untuk kita," jawab nyonya Patricia.


Hiro tiba-tiba menangis, tak di sangka ia melihat wajah Nea dan ingin di gendong ibu tirinya itu.


"Nea, dia mau ikut kau," jelas nyonya Patricia.


"O... sayang, Hiro sayang. Hiro kangen mommy Nea ya? Hiro sudah besar, jangan menangis ya? jadi anak laki-laki yang luar biasa," ucap Nea kepada Hiro.


"Ne, apa kau ingin menemui Haruka?" tanya nyonya Patricia.


"Iya ibu, tapi suamiku bilang, besok saja," jawab Nea sembari bermain dengan Hiro.


"Ibu kasihan dengannya, bagaimana bisa, dia wanita jahat tetapi sangat mengenaskan? semoga saat dia sembuh, penyakit jahatnya tidak kumat lagi," ucap nyonya Patricia.


"Iya ibu, jika hal itu terjadi, pasti aku tidak akan tinggal diam. Saat pertama kali dia datang ke rumah, semuanya sudah hancur. Jadi, tidak ada alasan untukku membiarkan dia berbuat sesukanya. Tapi bukan berarti aku akan meninggalkannya, jika ibu dan Lewis setuju, aku yang akan merawatnya," Permintaan di luar nalar Nea kembali terucap.


"Kau jangan terlalu baik dengannya, dia itu ular, mampu membuatmu mati secara tiba-tiba dengan bisanya. Biarkan pihak rumah sakit yang merawatnya," Nyonya Patricia tidak terlalu setuju jika Nea merawat Haruka di rumah.


"Demi Hiro," ucap Nea.


"Tapi Haruka ibu kandungnya," jelas Nea.


"Terserah kau saja, kau adalah ibu yang bijak, aku percaya dengan apa yang kau putuskan," jawab nyonya Patricia.


Saat semua kebahagiaan ini hadir, seseorang baru saja menelepon Lewis, kondisi Haruka kini mengkhawatirkan. Lewis merahasiakan ini dari semua anggota keluarga. Dia tidak ingin, kebahagiaan ini akan terhenti dengan kabar mengejutkan ini.


"Ne, kau jaga anak-anak, ada tamu di kantorku. Dia klienku dari luar kota," pamit Lewis yang harus berbohong.


"Baiklah, kau berhati-hatilah," jawab Nea.


Sebelum pergi, dia mencium anak-anak dan isterinya.


Lewis bergegas menuju garasi mobilnya, segera ia mengendarai salah satu koleksi mobil mewah. Setelah menghidupkan mesin mobilnya, perlahan tapi pasti, mobil mewahnya melaju dengan cepat meninggalkan mansion mewahnya.


"Bagaimana bisa, di saat seperti ini ada saja masalah," ucap Lewis heran.


Beberapa menit kemudian, mobilnya telah berhenti di area tempat parkir pasien.

__ADS_1


"Semoga belum terlambat," Lewis turun dari mobil, setelah itu, ia berjalan terburu-buru menuju ruang khusus yang Lewis siapkan untuk Haruka.


Tap...tap...tap...


Langkahnya begitu yakin, dia merasakan kepanikan itu saat mulai mendekati ruang khusus pasien. Sesampainya di depan ruang khusus, Lewis di persilakan masuk oleh seorang suster.


KLEK!


Saat pintu itu terbuka, sosok Haruka langsung menghampirinya.


"Dimana anakku? dimana dia? mana mungkin dia sudah mati? dia masih hidup," Haruka meracau sembari menarik baju Lewis, pandangan matanya nanar, penuh penderitaan. Kondisi rambutnya acak-acakan. Dia merasa hancur saat mengingat kematian anaknya.


"Anak kita baik-baik saja," Lewis mencium kening Haruka. Pelukan hangat yang sang suami berikan, mampu membuat Haruka lebih baik, meskipun dia masih bicara tiada hentinya.


"Anakku," Sesekali airmata itu jatuh membasahi pipi Haruka, dia tidak bisa menahan diri jika harus kehilangan anaknya.


"Anak kita aman, dia baik-baik saja Haruka," ucap Lewis menghiburnya.


Satu jam berlalu, Haruka kini lebih terkendali.


"Dok, dia kenapa?" tanya Lewis kepada seorang dokter yang sedari tadi mendampinginya menenangkan Haruka.


"Memory masa lalunya perlahan mulai kembali, salah satunya adalah kematian anaknya, dia merasa sangat bersalah karena tidak merawat Hiro. Bahkan ingatan tentang pria bernama Peter juga ada," jawab sang dokter.


"Tapi kandungannya baik-baik saja kan dok?" tanya Lewis khawatir.


"Baik, tadi dokter kandungan nyonya Haruka sudah mengeceknya," jawab sang dokter.


"Syukurlah kalau begitu," jawab Lewis lega.


NB :


Hay teman-teman reader setia Berbagi Cinta : Strong Woman (Nea)!


Bagaimana nih kisah mbak Nea sama akang Lewis? cukup menguras emosi belum?


Kalau belum, nanti othor akan belajar "menguras" emosi🤭🤭🤭...


Semoga teman-teman selalu sehat dan sukses ya gaes...


Jumpa di episode selanjutnya...

__ADS_1


Terima kasih...


#Bersambung...


__ADS_2