
Di Rest Area...
Saat keduanya berada di rest area, Nea takjub dengan design interiornya karena jauh berbeda dengan rest area di tempat lain.
"Rest areanya sangat unik dan berbeda dari tempat lain sayang," ucap Nea sembari menghamburkan pandangan matanya ke segala arah.
"Iya, kau duduklah. Aku akan memesan makanan untukmu," pinta sang suami yang berjalan menuju meja penjual makanan.
Nea duduk di antara beberapa kursi yang berada di sisi kanan dan kirinya.
Tanpa Nea duga, tiba-tiba ada seorang pria tampan memakai kemeja putih dengan rambut rapi, duduk di depannya.
"Hallo?" sapa sang pria asing, gigi putih dan senyum manisnya terpampang jelas.
Nea merasa tidak mengenal pria itu, kemudian dia beranjak dari tempat duduknya.
"Anda bernama Nea Wijaya?" tanya sang pria asing sok kenal.
Nea tidak menggubris pertanyaan pria tadi, seperti tidak ada rasa putus asa, pria itu masih saja mengganggu Nea.
Kini sang pria berdiri tepat di depannya.
"Perkenalkan nama saya Kim, kakak tingkatmu di kampus dulu," Sang pria asing memperkenalkan jati dirinya, namun Nea masih tidak mau menanggapi si pria tadi karena dia merasa wanita bersuami dan baginya, tidak pantas seorang wanita bersuami berbicara dengan lawan jenis tanpa sepengetahuan sang suaminya.
Lewis sudah siap dengan pesanannya, dia membawa nampan yang berisi dua menu makan siang. Tapi saat dia menghampiri Nea, ia melihat sang isteri sedang di hadang oleh seorang pria.
"Bung! bisa kau jangan ganggu dia?" Lewis menepuk pundak sang pria. Pria bernama Kim itu menoleh," Kau siapa?" tanya Kim sembari menatap tajam wajah Lewis.
"Suami dari wanita yang kau goda itu," sindir Lewis.
"Apa benar itu suamimu?" tanya Kim. Pria itu menatap wajah Nea, berharap jawaban tidak yang akan keluar dari mulut wanita pujaan hatinya itu.
"Iya, dia suamiku,"
Deg!
Kim serasa di sambar petir di siang bolong, dia sudah memendam perasaan mendalam kepada Nea sejak kuliah dulu, namun sekian lama tidak bertemu, dia mendapati sang pujaan hati telah memiliki seorang suami.
__ADS_1
"Oh,"
Kim hanya mampu berkata seadaanya saat mengetahui fakta yang sebenarnya mengenai Nea Wijaya.
"Kalau kau sudah mengetahui dia isteriku, apa masih pantas kau menghalangi jalanku?"
Lewis menyingkirkan tubuh Kim dengan satu hempasan tangan. Dia melewati tubuh Kim tanpa menoleh kepadanya.
Kim seperti pria bodoh yang berdiri terpaku di sana.
'Sial! setahuku Nea hanya dekat dengan Robin, saat Robin pergi ke New York, aku memang sempat kehilangan jejaknya. Tapi tak ku sangka dia sudah bersuami. Sial! sungguh sial! padahal aku sudah siapkan restoran terbaik untuk acara makan malamku dengan Nea,' batin Kim bergemuruh, hatinya hancur berkeping-keping.
Nea dan Lewis duduk saling berhadapan di meja yang sama. Lewis masih penasaran dengan pria sok keren yang tadi menggoda sang isteri. Ia menatap Kim tanpa berkedip.
"Sayang? apa yang kau lihat?"
Nea mengayunkan tangan tepat di wajah sang suami agar dia tersadar, namun usahanya gagal.
"Suamiku?" pekik Nea.
Suara Nea dengan nada yang cukup tinggi mampu membuyarkan lamunannya.
"Kau bisa berteriak juga?" ledek Lewis.
Nea memalingkan wajahnya kearah lain, dia kesal dengan Lewis.
"Haha, maaf sayang? hm... bukannya aku yang harusnya marah? kau sepertinya begitu mengenal pria itu, apa dia temanmu?"
Lewis sedari tadi memperhatikan Nea, dia mengetahui jika Nea tidak bicara apapun dengan si pria. Lewis hanya ingin menggoda Nea saja.
"Sudahlah! kau makan saja ini, maafkan aku, aku hanya tidak suka kau di ganggu olehnya," pinta sang suami yang kini menyodorkan sesuap nasi dan lauk langsung dari tangan Lewis sendiri.
Nea menatap wajah Lewis," Apa kau percaya jika aku tidak menggapainya?" Mata Nea menyorot mata Lewis yang kini juga menatapnya.
"Jika kau mengatakan tidak, berarti itu tidak terjadi. Aku percaya kepadamu! aku akan menyuapimu, kau pasti lapar 'kan?" tanya Lewis, masih dengan menyodorkan sesuap nasi dan lauk di tangannya. Saat Nea membuka mulut, satu suapan dari tangan sang suami ludes di lahap oleh Nea.
Sang suami senang karena Nea tidak marah lagi, namun dia masih penasaran dengan sosok Kim yang menurutnya akan menjadi ancaman.
"Bagaimana sayang? enak?" tanya Lewis.
__ADS_1
Lewis sangat telaten menyuapi Nea. Pria itu begitu menyayangi Nea, kenangan buruk di masa lalu, Lewis mencoba menghapusnya. Dia akan mencintai Nea sepenuh hatinya.
"Enak, tapi aku bisa makan sendiri," jawab Nea yang ingin menikmati menu makan siangnya.
Lewis dan Nea sangat menikmati hidangan yang di sajikan oleh salah satu penjual di rest area, meskipun hanya sepiring nasi putih hangat, ayam bakar, sambal, lalapan dan segelas teh hangat, mampu membuatnya terkesan karena rasanya yang tidak kalah dengan restoran yang ada di hotel berbintang.
"Lewis, terimakasih telah membawaku ke tempat ini. Aku sangat senang, bisa menikmati hawa sejuk pegunungan dengan hamparan bunga lily yang indah."
Nea mengagumi tempat itu dengan segala pesonanya. Sang suami melakukan tindakan yang benar dengan membeli dan mengelola tempat itu menjadi tempat pariwisata karena memang daerah di sana sangat potensial untuk di jadikan salah satu destinasi liburan akhir pekan, khususnya untuk rombongan keluarga besar.
"Iya sayang, sama-sama. Ini juga untuk membahagiakanmu. Kau harus lebih banyak mendapatkan asupan udara segar supaya tidak penat saat menjadi ibu rumah tangga. Selama ini pekerjaanmu hanya di rumah, mengurus anak. Aku hanya ingin saat akhir pekan tiba, kita bisa datang kemari, menikmati panorama yang di suguhkan di tempat ini," jelas Lewis dengan perasaan bahagia yang membuncah.
"Sayang, kau sangat baik."
Nea menggenggam tangan Lewis erat, dia semakin mencintai sang suami yang lebih perhatian kepadanya.
"Ini semua untukmu."
Lewis mencium punggung tangan Nea dengan mesra, tatapan hangat dari sang suami mampu melelehkan hatinya.
Kebersamaan Lewis dan Nea yang terlihat harmonis, tidak serta merta membuat hubungan mereka berdua akan aman dari pengganggu.
Kim yang sedari tadi menyaksikan betapa romantisnya pasangan itu, merasa panas dalam.
"Harusnya aku yang menggenggam tangan Nea, bukan pria itu," ucap Kim.
Kakak tingkat Nea di kampus itu belum benar-benar menyerah, dia masih ingin memiliki Nea seutuhnya.
"Kita lihat saja, uangku bisa melakukan apa untuk menghancurkan pria brengsek itu,"
Kim menatap pemandangan menyedihkan itu dengan senyum liciknya, dia mengakhiri bertindak bodoh dengan hanya menonton pasangan Nea dan Lewis yang sedang memadu kasih. Kim memilih untuk segera pergi dari rest area yang di penuhi kepahitan karena mengetahui kenyataan jika Nea telah menjadi milik orang lain.
"Untuk selanjutnya, Nea adalah tujuan utamaku kembali!"
NB :
ILUSTRASI REST AREA :
Gambar tersebut merupakan rest area Banjaratma berada di ruas jalan Tol Pejagan - Pemalang tepatnya di KM 260 B, desa Cipugur, Banjaratma, Kec. Bulakamba, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah
__ADS_1
Sumber :
https://www.google.com/amp/s/www.kompasiana.com/amp/afandi1904/60baf1dad541df4127324772/rest-area-banjaratma-wisata-sejarah-di-tengah-jalan-tol