Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)

Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)
Menjaga Haruka


__ADS_3

Malam hari telah tiba, namun Lewis tak kunjung memberikan kabar. Nea menunggu sang suami di depan mansion.


"Kemana dia? sudah selarut ini, masih belum kembali," Nea merasa khawatir dengan keadaan Lewis.


Hawa dingin malam ini merasuk ke dalam tulang, namun Nea tidak menghiraukan rasa itu. Menurutnya, yang terpenting saat ini adalah sang suami.


"Nea?" sapa nyonya Patricia.


"Oh, ibu, ada apa? Jacob dan Hiro terbangun?" tanya Nea.


"Tidak, mereka sudah terbang jauh dengan mimpi masing-masing, tak beda jauh dengan si kembar, mereka juga sudah terlelap tidur," jawab nyonya Patricia yang kini berdiri di samping Nea.


"Syukurlah kalau begitu," jawabnya yang menatap lurus ke arah pintu gerbang.


"Ne, Lewis mungkin kerja lembur, biasanya jika dia terlambat pulang, alasaannya pasti itu," ucap nyonya Patricia menenangkan Nea.


Sang ibu mertua mengajak Nea masuk ke dalam mansion, namun wanita itu tetap keras kepala, Nea masih ingin menunggu sang sang suami kembali.


Nyonya Patricia tidak bisa melakukan apapun selain membiarkan Nea.


Beberapa menit setelah nyonya Patricia meninggalkan Nea, ponsel miliknya berdering. Raut wajahnya nampak bahagia saat melihat layar ponselnya, di sana tertera nama suamiku, Nea langsung menjawab panggilan itu.


"Kau dimana? kenapa tidak memberi kabar?" Nea merasa khawatir dengan sang suami.


"Sayang, maaf, aku sedang berada di rumah sakit. Bukannya aku mau berbohong padamu, tetapi aku harus melakukannya, aku tidak ingin membuat acara syukuran menjadi acara bersedih saat mengetahui Haruka mengamuk," jawab Lewis memberikan penjelasan.


"Astaga! bagaimana keadaannya sekarang? apa dia sudah stabil?" tanya Nea panik.


"Tenang isteriku, semuanya sudah terkendali, kau tidak perlu mengkhawatirkannya. Hm, apa kau tidak mengkhawatirkanku?" goda Lewis.


"Haha, anak kita sudah empat, masih saja sok anak muda," jawab Nea tersipu malu.


"Jawab saja sayang," ucap Lewis.


"Iya, tentu saja. Kau adalah suamiku, mana mungkin aku tidak mengkhawatirkanmu," jawab Nea.

__ADS_1


"Hanya itu? oh ya, sudah lama kita tidak berkencan, aku akan menjemputmu setelah ini, kita bersama menjaga Haruka, bagaimana?" Lewis merasa hubungannya dengan Nea menjadi hambar saat kehadiran Haruka, dia ingin sekali menghabiskan waktu hanya dengan sang isteri.


"Apa kau tidak waras? bagaimana dengan anak-anak?" tanya Nea.


"Kan ada ibuku, di rumah juga banyak pelayan serta pengasuh, kau mau kan?" jawab Lewis.


"Apa kau lupa? Jacob selalu mencariku saat bangun tidur?" Nea tidak mengerti dengan sikap Lewis yang kekanak-kanakan itu.


"Haha, aku kan sedang bercanda, janganlah kau marah," pinta Lewis.


Tiba-tiba keduanya terdiam, Nea merasa canggung, ada rasa rindu di dalam dadanya. Nea tidak bisa mengungkapkannya. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi dalam rumah tangganya, membuatnya lupa jika dia juga memiliki hak untuk mencintai dan dicintai. Nea merasa sangat bahagia ketika Lewis masih memperhatikannya.


Harusnya Nea marah saat mengetahui bahwa orang yang akan menjadi istri pertama Lewis adalah Haruka. Tetapi apa yang wanita lakukan? Nea tetap ikhlas menerima Haruka meskipun wanita itu licik. Dia sakit seperti ini, Nea ingin sekali menjenguk bahkan merawatnya.


Nea memposisikan dirinya dan Haruka sama-sama seorang wanita yang tertipu oleh kelembutan Lewis.


Setelah beberapa menit terdiam, Lewis mulai membuka pembicaraan.


"Nea? sayang?" Lewis memanggil sang istri dengan penuh kasih sayang.


"Kau tidur dulu, aku akan berjaga di sini. Baik-baik disana ya sayang?" ucap sang suami.


"Iya, aku akan menemanimu. Tetapi aku masuk dulu ke kamar," jelas Nea.


"Ke kamar? kamu dimana sayang sekarang?" tanya Lewis.


"Aku sedang di depan mansion, menunggu kepulanganmu," jawab Nea.


"Ya Tuhan, kau menungguku pulang?" tukas Lewis terkejut.


"Iya, aku khawatir padamu," jawab Nea lembut.


"Huft! ingin rasanya memeluk dan menciummu sayang, aku sangat mencintaimu," Lewis mengungkapkan kasih sayangnya kepada Nea. sang isteri selalu membuatnya terharu.


"Aku juga sangat mencintaimu," Nea mencoba sebisa mungkin tetap menjaga perasaan sang suami. Meskipun dalam hatinya ingin sekali sang suami pulang. Lewis baru saja mengalami banyak hal, biasanya sang suami akan berkeluh kesah padanya. Tetapi kali ini keadaannya berbeda, mereka hanya mampu saling menyapa melalui sambungan telepon.

__ADS_1


"Kau sudah masuk kamar?" tanya Lewis yang masih on di sambungan telepon.


"Sudah sayang, sekarang aku ada di kamarku, anak-anak sudah tidur, mereka lelap sekali," jawab Nea yang melihat raut wajah ke-4 putera-puterinya yang sangat damai dan tentram.


"Kita tambah satu lagi ya?" goda Lewis.


"Haruka sudah hamil, cukup dia saja dulu. Bisa kita bicarakan nanti," jawab Nea.


"Kita akan bermesraan lagi, dan aku sangat senang," Setelah sekian lama, ia baru mampu mengatakan hal ini kepada sang isteri. Lewis adalah tipe pria yang sangat menyukai anak-anak.


Di silsilah keluarganya, tidak ada orang tua yang memiliki lebih dari 2 orang anak. Mereka semua melakukan program, jadi semuanya telah tertata. Tetapi berbeda untuk Lewis, dia ingin memiliki banyak anak dari Nea. Harusnya dia sudah memiliki 6 anak, tetapi karena banyak masalah, keduanya juga sering berbeda pendapat dan salah paham, membuat Lewis lebih mengalah. Tetapi karena ada kesempatan, dia ingin sekali mengungkapkan keinginan hatinya.


Nea duduk di atas sofa, sembari memandangi Fea dan Fany yang tidur di ranjang miliknya.


"Sayang, aku sedang menatap wajah si kembar, jika dilihat-lihat, mereka mirip sekali denganmu," ucap Nea.


"Sudah kubilang memang aku adalah pria tampan yang menghasilkan keturunan yang luar biasa, anakku akan jadi tampan dan cantik," jawab Lewis percaya diri.


"Haha, dasar kau ini," jawab Nea.


"Nea kita butuh liburan, setelah Haruka tenang, mari kita pergi berdua saja ya? kita buat adiknya Jacob," ucap Lewis terus terang.


"Kau ini masih seperti anak muda saja, mana bisa seperti itu? mungkin jika Jacob sudah berumur lebih dari 1 tahun, kita bisa berlibur berdua," jelas Nea.


Tidak terasa, perbincangan itu sudah melewati 1 jam 20 menit, Nea berpamitan ingin beristirahat. Namun Lewis mencegahnya, sang suami ingin Nea menemaninya sampai pagi.


"Lewis pekerjaanku masih banyak besok, aku lelah sekali. Bisakah kau mengizinkanku untuk tidur?" Nea terus saja menguap hingga ia tak mampu membendung rasa kantuknya.


"Baiklah, hati-hati di sana, jaga diri baik-baik. By the way, posisimu sekarang ada di mana?" tanya Nea penasaran.


"Aku menginap di asrama dokter magang yang ada di dekat rumah sakit itu, kebetulan ada temanku di sini," jawab Lewis.


"Haha, apa kau tidak malu berbicara mesra dengan isterimu sedangkan ada dokter di sebelahmu?" tanya Nea tidak habis pikir dengan tingkah Lewis.


"Tidak, mereka ikut bahagia karena akhirnya isteriku yang satu ini bisa tertawa lepas saat berbicara denganku," jawab Lewis bersemangat.

__ADS_1


__ADS_2