Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)

Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)
Tinggal satu atap


__ADS_3

Sore harinya...


Sebelum pernikahan usai, Nea meminta seorang fotografer untuk mengabadikan momen kebersamaan keluarga besar sang suami dan Haruka. Awalnya Lewis menolaknya, tetapi atas bujukan sang ibu, pria itu mau menuruti permintaan Nea.


Dengan senyum yang terkesan di paksakan, Lewis memeluk erat Haruka, si kembar juga berfoto dengan ibu keduanya itu. Di dalam bingkai foto, kebersamaan keluarga besar Lewis dan Haruka terlihat begitu indah, tak terlihat mata jahat yang semula nyata adanya.


Setelah sesi foto bersama usai, Nea menelpon nyonya Lenny untuk datang ke mansion.


"Bisakah kau datang ke mansion nyonya?" tanya Nea di sambungan telepon.


"Bisa Ne, sepuluh menit lagi, aku akan datang," ucap nyonya Lenny.


Sambil menunggu sang sahabat hadir, ia membantu para pelayan merapikan ruang tamu yang di ubah jadi panggung pernikahan itu.


"Nyonya, berisitirahatlah, biar kami yang merapikannya," tegur Liem.


"Aku sudah biasa mengerjakannya, kau istirahat dulu saja, aku tahu kau kerja sampai pagi kan? aku akan membantumu," jelas Nea.


"Aku yang akan membantu nyonya," ucap Liem.


Saat Nea sedang sibuk bersih-bersih bersama pelayan, Meylan dan Amaya ikut-ikutan membantu Nea.


"Kami bantu ya?" pinta Amaya.


"Baiklah jika tidak merepotkan," jawab Nea.


"Tidak sama sekali," ucap Meylan.


Meylan dan Amaya sedang berusaha untuk mengambil hati Nea, tetapi karena Nea sekarang lebih berhati-hati bergaul dengan orang, dia menjadi lebih waspada.


"Tidak perlu merebut hatiku jika ingin tinggal di sini, tinggal saja, ibu mertuaku tidak akan melarangnya," celetuk Nea.


"Oh, tidak sama sekali, bukan itu...," jawab Meylan kikuk.


Dia beralasan ingin ke kamar mandi dulu bersama Amaya, karena tidak tahu letak kamar mandi yang ada di mansion itu, Nea meminta salah satu pelayannya untuk mengantar anggota keluarga Haruka itu.


Sesampainya di kamar tamu, pelayan meminta keduanya masuk ke dalam. Alangkah terkejutnya Meylan dan Amaya saat melihat dekorasi super mewah yang ada di depannya ini.


"Ini istana bu! kamar tamunya saja luar biasa megah, apalagi kamar mandinya?" ucap Amaya kagum.



...(Kamar tamu)...


"Ini adalah kamar kalian saat tinggal di rumah ini, nyonya muda yang memilih warna dan dekorasinya, semoga nyonya besan menyukainya," ucap sang pelayan.

__ADS_1


"Wah...nyonya muda memiliki selera yang bagus," celetuk Meylan.


"Dia belajar banyak hal, jadi tahu segalanya, jika nyonya baru menjadi pendamping tuan muda, harus banyak belajar dari nyonya Nea," ucap pelayan.


"Oh, tentu saja, aku akan mengatakan semua itu pada Haruka," jelas Meylan.


"Aku masih banyak pekerjaan, lebih baik anda istirahat saja, jika butuh aku panggil saja lewat telepon rumah, di atas nakas sudah ada nomor ponsel saya," ucap sang pelayan.


"Baiklah," jawab Meylan.


Setelah sang pelayan pergi, Meylan dan Amaya langsung masuk ke dalam kamar mandi.



...(Kamar mandi)...


"Ibu, mewah sekali!" puji Amaya.


"Jangan kampungan ya? ibu dulu juga sering masuk kamar mandi seperti ini," ucap Meylan.


"Dimana itu ibu? mengapa aku belum pernah?" tanya Amaya.


"Di rumah ayahmu yang ada di Jepang, kita sudah terlahir kaya, tetapi karena ibu si gila itu merebut ayahmu, kita jatuh miskin," jawab Meylan.


"Kapan itu ibu?" tanya Amaya.


"Mengapa kak Haruka di berikan kepada ibu?" tanya Amaya.


"Dia hanya ingin harta ayahmu, tidak butuh darah dagingnya, ibu memang kejam, tapi ibu masih memiliki belas kasihan," jawab Meylan.


"Apa nyonya Reiko masih hidup?" tanya Amaya.


"Mengapa kau banyak bertanya? lebih baik kau beristirahat," jawab Meylan yang enggan menjelaskan tentang Reiko lebih lanjut.


Amaya menuruti permintaan sang ibu, saat adik dari Haruka itu mulai memejamkan matanya, Meylan keluar dari dalam kamar tamu, dia ingin menemui Haruka.


"Wanita menyebalkan itu dimana," ucap Meylan sembari mencari keberadaan Haruka.


Saat dia sampai di ruang keluarga, dia mendengar Lewis dan Nea sedang membicarakan tentang Haruka yang akan tinggal di mansion utama atau tidak.


"Nea, aku tidak setuju jika Haruka tinggal bersama kita," tukas Lewis.


"Suamiku, dia sedang hamil anakmu, kau harus menjaganya," pinta Nea.


"Bisa kan dia tinggal di mansion yang lain, aku tidak suka satu atap dengannya, dia itu licik," jelas Lewis.

__ADS_1


"Kita tidak akan tahu jika dia licik atau tidak dari ucapanmu yang penuh kebohongan itu," ucap Nea.


"Nea, percayalah padaku, keluarga Haruka itu racun, jangan mudah terpengaruh oleh sikap baik dan manis mereka," jawab Lewis.


"Stop! jangan terus berdebat, dia akan tinggal di sini, ayah ibumu juga sudah mengizinkan, kita harus pikirkan anak dalam kandungannya," jelas Nea.


"Terserah kau saja," tukas Lewis yang memilih pergi dari hadapan Nea.


Meylan yang mengetahui Lewis dan Nea bertengkar, langsung berjingkrak, dia merasa bahagia karena bisa membuat pasangan itu terus berdebat dan akhirnya berpisah.


'Awal yang bagus!' batin Meylan.


Saat dia berbalik, dia tidak menyangka jika ada nyonya Patricia di belakangnya.


"Kenapa kau berjingkrak?" tanya nyonya Patricia.


"Oh itu, itu nyonya...," jawab Meylan kikuk.


"Jika kau ingin menghancurkan keluargaku, jangan harap akan berhasil! tinggallah di sini dengan baik, jangan banyak tingkah," tegur nyonya Patricia.


"Baik nyonya, saya hanya...," Belum sempat Meylan melanjutkan ucapannya, nyoya Patricia sudah pergi.


'Huft! hampir saja ketahuan kalau sedang menguping,' batin Meylan lega.


Ibu sambung Haruka lebih memilih kembali ke kamar tamu karena dia khawatir akan semakin di curigai oleh nyonya Patricia, dia harus lebih berhati-hati dalam bertindak jika ingin berhasil menguasai harta keluarga Hans Smith.


...* * *...


Kamar pengantin...


Haruka duduk di atas ranjang sambil menunggu sang suami datang padanya, sudah satu jam lamanya dia menunggu, akhirnya Lewis datang.


"Suamiku," panggil Haruka.


"Tidak perlu sok manis di depanku," ucap Lewis.


"Kau adalah suamiku sekarang, jika aku bersikap manis, itu adalah hal yang bagus?" jawab Haruka.


"Cih! kau itu racun! hentikan sandiwaramu, setelah anakmu lahir, aku akan menceraikanmu," tukas Lewis.


"Silahkan! isterimu yang bodoh itu pasti akan mencegahku, kau lihat saja nanti," jawab Haruka.


"Wanita iblis, aku menyesal telah mengenalmu, kau berpura-pura baik di depan seluruh anggota keluargaku, tapi nyatanya apa? kau wanita busuk!" ucap Lewis penuh amarah.


"Terserah apa katamu, selama ada anak dalam kandunganku, kau tidak akan pernah bisa menyakiti atau mengusirku, kau akan melawan isterimu sendiri jika masih nekat melakukannya!" jelas Haruka.

__ADS_1


Lewis tidak menggubris ucapan Haruka, dia segera mengambil bantal dan tidur di sofa. Haruka semakin gencar memprovokasi Lewis agar membenci sang isteri, namun Lewis lebih memilih memejamkan mata dan bermimpi yang indah.


__ADS_2