
Setelah hak Lewis terpenuhi, keduanya melakukan sesi pembersihan diri bersama. Setelah sekian lama berumah tangga, baru kali ini pasangan suami-istri itu melakukannya. Entah berapa lama momen indah itu terlupa begitu saja.
"Setelah ini, aku akan mengajakmu pergi ke taman hiburan," ucap Lewis yang kini telah mengenakan handuk kimono. Tak beda jauh dengan sang suami, Nea pun mengenakan handuk yang serupa dengan Lewis.
Lewis memperlakukan Nea dengan sangat manis, saat keluar dari kamar mandi, Lewis tiba-tiba mengendong tubuh sang isteri.
"Turunkan aku sayang," pinta sang isteri.
"Iya, tapi setelah kau menciumku," jawab Lewis.
Cup..
Ne mencium pipi Lewis, namun pria itu tak kunjung menuruti ucapannya.
"Hey? apa kau berbohong? aku sudah menciummu, tetapi kau tidak menurunkan aku? curang sekali," gerutu Nea.
"Cium di sini," Lewis merapatkan bibirnya.
"Kau mau aku menciummu di sana?" tanya Nea.
Lewis mengangguk.
"Baiklah, turunkan aku dulu," pinta Nea.
Saat Lewis menurunkan Nea, bukannya mencium Lewis, justru Nea masuk ke dalam ruang baju. Lewis terlihat sangat kesal.
"Curang kau sayang, bagaimana bisa kau kabur saat aku belum menciumku? awas saja, nanti malam, kau akan kelelahan lebih dari sebelumnya," sebuah ancaman dari Lewis mampu menggoyahkan keyakinan Nea untuk mengerjai Lewis.
Perlahan ia membuka pintu, Lewis langsung masuk ke dalam ruang baju. Ia menggenggam erat tangan sang isteri dan perlahan mendorong tubuh sang isteri hingga terhimpit antara tembok dan tubuh sang suami.
"Mau bermain-main denganku rupanya, baiklah! akan ku ladeni," Lewis langsung menyergap bibir Nea, memakannya habis tanpa sisa.
Nea tidak mampu menahan sentuhan lembut itu, dia ingin menolak, tetapi tubuhnya diam saja.
"Bagaimana? ini sudah cukup?" Lewis melepaskan sentuhan bibir itu.
"Kau bilang ingin mengajakku jalan-jalan?" ucap Nea manja sembari menyentuh bibir sang suami.
"Ganti bajumu, kita akan pergi setelah ini," jawab Lewis.
__ADS_1
"Kita ganti baju bersama?" ajak Nea.
"Kau nakal sekarang," ucap Lewis sembari membelai rambut sang isteri.
Kedua memisahkan diri, mereka berdua mulai memilah baju masing-masing, setelah mendapatkan baju yang sesuai, keduanya masuk ke dalam ruang ganti.
Beberapa menit kemudian, keduanya telah siap.
"Kau seperti anak muda mengenakan kaos dan celana jeans serta jaket denim, sepatu kets warna putih yang kau kenakan oke juga," ucap Lewis.
"Aku ingin mencoba gaya baru," jelas Nea.
Nea menatap penampilan sang suami di cermin.
"Kau juga seperti anak muda, mengenakan celana katun warna coklat serta kaos warna putih, mengenakan kacamata hitam keren juga, apalagi sepatumu itu, ketampananmu semakin paripurna sayang," puji sang suami.
"Haha, aku hanya mengimbangi isteriku saja, tiap hari kau hanya melihatku memakai baju kerja, siang dan malam tanpa jeda, ini saatnya aku bergaya sayang," jawab sang suami membela diri.
"Baiklah! lebih baik kita segera pergi," ajak Nea.
"Ayo," jawab Lewis.
Setelah Lewis berada di luar gerbang, Nea menutup kembali pintu gerbang tersebut.
Kini Nea berada di dalam mobil sang suami, mereka berdua bergegas pergi menuju tempat hiburan yang akan membuat hari mereka menyenangkan.
"Sudah lama tidak seperti ini sayang, terlalu banyak masalah di dalam hidup kita. Kita sampai lupa menyenangkan diri sendiri, bahkan hubungan ini menjadi semakin hampa," ucap Nea.
"Maka dari itu, aku sangat ingin pergi berdua denganmu karena untuk menyatukan hati kita yang dulu terpisah, aku senang kau mau menuruti ucapanku. Kita bisa membuat adik untuk Jacob," bisik Lewis.
"Kau mulai lagi sayang," jawab Nea dengan wajah merah merona, dia membayangkan betapa bahagianya saat mereka berdua menghabiskan tiap detik dengan merasakan kenyamanan yang masih terasa hingga kini.
"Mumpung masih di sini, kita harus pandai memanfaatkan waktu, di saat seperti ini, wajib untuk kita rajin berusaha untuk segera mendapatkan momongan lagi," jawab Lewis antuasias.
"Iya aku, tahu. Sayang! itu ada permen kapas, aku mau itu," rengek Nea.
"Astaga, kau seperti bayi saja. Sebentar, kita parkir dulu, oke?" pinta Lewis yang segera mencari tempat parkir yang berada di samping para penjual permen kapas.
Lewis dan Nea keluar dari mobil, mereka berdua memesan dua permen kapas dengan bentuk beruang dan panda. Sang penjual pandai sekali membuat olahan permen kapas menjadi bentuk unik dan menarik.
__ADS_1
"Lewis, dulu waktu aku masih SMA, teman-temanku memberiku kado kue dengan hiasan permen kapas, ruang kelas penuh permen kapas, sepeda motorku yang jaman dulu, juga di hiasi dengan permen kapas. Aku senang sekali, mereka sangatlah perhatian kepadaku," jelas Nea sambil mencomot satu persatu permen kapas dan memasukkannya ke dalam mulutnya.
"Termasuk Robin?" tanya Lewis yang membuat Nea tersedak.
Lewis segera mengambilkan air mineral di dalam mobil. Ia membuka penutup botolnya dan menyodorkannya kepada Nea.
"Leganya, terimakasih suamiku," ucap sang isteri seraya mengembalikan botol air mineral kepada Lewis.
"Robin? ada di SMA mu?" tanya Lewis mengulangi pertanyaan yang sama.
"Tentu saja ada , dia temanku waktu kecil. Hey? apa kau cemburu dengannya?" jawab Nea curiga.
"Tentu saja," jawab Lewis datar.
"Aku tidak pernah melihat siapapun selain dirimu, tenanglah!" tukas Nea. Ia segera menghabiskan permen kapasnya, karena permen kapas sang suami belum juga di sentuh, Nea merebutnya.
"Untukku saja," jawab Nea yang merasa Lewis akan membuang permen kapas itu karena kesal saat mendengar nama Robin.
Lewis tersenyum karena kembali melihat sisi Nea yang kekanak-kanakan, sang suami merasa Nea lebih imut saat ini daripada dulu. Apalagi hubungan mereka yang semakin membaik, membuatnya semakin ingin membahagiakan isteri tercintanya itu.
"Bersihkan bibirmu, banyak sekali bekas permen kapas," Lewis meraih bibir Nea dan mengusap lembut bibir yang terdapat bekas permen kapas.
"So sweet," ucap Nea.
"Habiskan cepat, kita akan pergi ke suatu tempat yang indah," pinta Lewis.
"Kau bilang ingin ke taman hiburan?" Nea merasa sang suami cepat sekali berubah pikiran.
"Ikut saja," jelas Lewis yang lebih dulu berjalan menuju mobilnya. Sedangkan Nea membayar permen kapas dengan uangnya sendiri.
Nea mengekor langkah Lewis, ia segera masuk ke dalam mobil.
"Kau suka pegunungan bukan? kita pergi ke sana," Lewis ingin membahagiakan sang isteri.
Untuk pertama kalinya, Nea dan Lewis akan mendatangi tempat pertama kali jadian.
"Apa tempat itu masih ada?" tanya Nea. Dia mengelap bibirnya yang penuh permen kapas menggunakan tisu yang sudah di siapkan Lewis dia atas dashboard mobil.
"Aku telah membelinya dan mengelolanya, aku akan memberikan kepadamu sebagai hadiah anniversary pernikahan ke 6 kita," jelas Lewis.
__ADS_1