
Lewis menempuh jarak yang cukup jauh untuk menjangkau tempat indah yang ingin ia tunjukkan kepada sang isteri. Di sepanjang perjalanan, mereka berdua di suguhi oleh deretan pegunungan indah memanjakan mata.
"Sayang, tempat ini sangat berbeda dengan yang dulu, sudah semakin bagus," Nea memandangi sisi kiri pemandangan yang sangat menakjubkan itu.
"Ini adalah tempat yang aku bilang tadi, dulunya jalanan ini rusak. Tetapi karena sudah aku ambil alih kepemilikan tempat ini, jadi aku buat semenarik mungkin," ucap Lewis bangga karena mampu merubah tempat kenangan dengan Nea menjadi lebih bagus dari sebelumnya.
"Kau hebat sayang, harusnya kau tambah kebun bunga lily di sini, pasti bagus," Nea memberikan saran untuk sang suami.
"Bagus juga, tetapi aku sudah memiliki kebun lain di tempat ini," ucap Lewis membuat sang isteri penasaran.
"Apa itu? kebun bunga? atau buah?" Nea memandang wajah Lewis, berharap sang suami memberikan jawabannya.
"Kau kenapa? tatapanmu seperti anak kecil," Lewis melirik ke arah wajah Nea yang tiba-tiba mengerucutkan bibirnya.
"Kenapa kau seperti itu? mau di cium?" tanya Lewis menggoda Nea.
"Haha, aku ini sedang berakting seperti Fea saat meminta sesuatu kepadamu, dia akan berekspresi sama sepertiku saat ini," jawab Nea beralasan.
"Kalau Fea pasti langsung aku penuhi, tapi kau? ada banyak arti dari mengerucutnya bibirmu, bisa jadi ingin cium, menggodaku, atau sengaja sok manis agar di goda," Lewis mengerjai Nea membuat sang isteri kesal.
"Suamiku, selera humormu buruk, cobalah kau jawab pertanyaanku dengan benar," pinta Nea.
Nea duduk bersandar dengan melipat kedua tangannya di dada.
“Haha, jangan marah, aku kan hanya bercanda. Ehm, oke, akan ku jawab pertanyaanmu. Aku sudah memiliki dua hektar kebun bunga Lily kesukaanmu,” ucap Lewis sembari tersenyum manis, dia yakin jika sang isteri akan menyukainya. Tetapi dugaan sang suami salah, Nea justru hanya diam kemudian memalingkan wajahnya.
“Lihat sekarang siapa yang marah?” tanya Lewis yang segera memarkirkan mobilnya di sebuah tempat parkir luas yang terlihat masih dalam tahap penyempurnaan.
"Ayo!" ajak sang suami.
"Kemana?" Nea akhirnya menjawab pertanyaan sang suami.
"Haha, kau dari dulu kalau ku ajak jalan-jalan langsung gerak cepat, lupa ya kalau sedang marah?" Lewis menggandeng tangan Nea dan mencubit mesra hidung Nea.
"Lewis, hentikan, ada banyak orang di sini," Nea melihat beberapa orang melihat ke arah mereka dengan senyum geli.
__ADS_1
"Biarkan saja sayang, hanya ada beberapa orang saja. Apa perlu aku gendong?" Lewis sudah siap dengan posisi mengendong Nea.
"Astaga! apa yang kau lakukan, cepat jalan Lewis! kau membuatku malu!" Nea menutupi wajah dengan kedua tangannya.
Lewis tersenyum melihat tingkah sang isteri.
"Kau cantik Nea, mengapa wajah itu harus kau tutupi? ayo kita jalan, mana tanganmu?" ucap Lewis sembari menjulurkan tangan kanannya ke arah Nea.
Nea mengintip dari sela jari-jari tangannya, ia menatap tangan kanan Lewis yang menjulur ke arahnya. Nea membuka kedua tangan yang sedari tadi ia gunakan untuk menutup wajahnya, dengan sigap, Nea menggenggam tangan sang suami.
"Nah, ini baru benar," ucap Lewis dengan senyum yang mengembang.
Lewis dan Nea saling bergandengan tangan satu sama lain. Perasaan keduanya di penuhi rasa bahagia.
"Nah, ini baru benar sayang," sambung Lewis sambil mempererat genggaman tangannya.
"Kau mau bawa aku kemana?" tanya Nea penasaran.
"Nanti kau juga akan tahu," Lewis masih menyembunyikan tentang taman bunga Lily yang sudah ia tanam bersama para pegawainya.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua sampai di tempat yang Lewis janjikan. Seketika pandangan Nea tertuju kepada hamparan luas bunga Lily dengan berbagai warna.
"Suamiku, ini indah sekali. Kau yang menanamnya?" Nea sangat terpesona dengan keindahan bunga lily di depannya.
"Aku dan para pegawai, bagaimana? kau suka?" Lewis mengulangi pertanyaannya karena belum mendapatkan jawaban yang memuaskan.
"Iya sayang, aku sangat menyukainya, terima kasih sayang," Nea mencium pipi Lewis.
Sang suami terkejut dengan apa yang di lakukan Nea padanya.
"Kau nakal sayang," ucap Lewis yang merasa Nea lebih berani darinya.
"Kalau di sini kan hanya ada kita berdua, jadi bolehlah nakal," jawab Nea membela diri.
__ADS_1
"Haha, dasar ya! kalau wanita itu memang selalu benar dan tidak mau kalah," Lewis merasa Nea lebih romantis dari sebelumnya.
"Dari zaman nenek moyang mungkin sudah seperti itu sayang" Sang isteri menyadarkan kepalanya di bahu kiri Lewis sembari melingkarkan kedua tangannya di tangan kiri Lewis.
"Jangan bawa nenek moyang, nanti kakek moyang iri," canda Lewis.
"Haha, kakek moyang? ya bagus juga candaanmu," jawab Nea merasa jika selera humor Lewis semakin bagus.
Di bawah langit yang biru serta hamparan bunga Lily bermacam warna warni, pasangan suami isteri mengingat saat pertama kali datang ke tempat itu.
"Lewis, dulu tempat ini hanya padang rumput yang luas, di sana ada sebuah rumah pohon yang di buat untuk melihat pemandangan kota dari atas," tunjuk Nea ke arah tempat yang dulu ada pohon besar yang terdapat rumah pohon di atasnya.
"Maaf sayang, aku sudah mengubah padang rumput dan rumah pohon menjadi taman bunga, karena menurutku, rumah pohon itu sudah terlalu tua, bahaya jika masih di gunakan," jawab Lewis yang berharap idenya mengelola padang rumput menjadi taman bunga lily mampu menghidupkan sektor pariwisata di kota itu, terutama penduduk sekitar yang akan menikmati hasilnya.
"Tidak masalah Lewis, jika mengubah tempat ini menjadikan lebih baik, bukan sesuatu yang salah sayang, justru ini adalah sebuah kemajuan," jelas Nea yang mendukung keputusan sang suami.
"Syukurlah jika kau mendukungku," jawab Lewis yang meraih tubuh Nea dalam pelukannya.
"Tetaplah di sisiku," sambung Lewis sembari mencium pucuk kepala Nea.
Kebersamaan masa lalu yang Nea rasakan menjadi semakin indah kala sang suami sudah berubah lebih dewasa. Sikapnya yang dulu humoris, kembali muncul seiring berjalannya waktu.
Meskipun ada Haruka di antara pernikahan Lewis dan Nea, tidak akan mengurangi kemesraan keduanya. Bukan Nea egois, tetapi dia hanya mengikuti apapun yang sang suami inginkan.
"Sayang?" ucap Lewis sembari membelai rambut Nea lembut.
"Hm," jawab Nea.
"Lepaskan pelukanmu, kita pulang ya? apa kau lupa kita berada di tempat umum?" tanya Lewis yang menyadari mulai banyak orang di sana.
Nea mendengar suara riuh para pengunjung yang mulai memadati tempat itu. Saat dia melepas pelukannya, betapa malunya Nea saat banyak pasang mata menatap dirinya.
"Lewis mengapa kita tidak membeli makanan saja di rest area," ucap Nea yang mengalihkan rasa malunya kepada hal lain.
"Haha, kau lapar kalau sedang malu ya?" goda Lewis.
__ADS_1
"Ayolah, aku tidak mau mereka melihatku dengan pandangan aneh seperti itu," bisik Nea sembari menarik lengan Lewis agar segera bergegas pergi dari tempat itu.
"Baiklah, lets go!" Akhirnya Lewis menuruti permintaan sang isteri. Mereka berdua berjalan beriringan menuju rest area.