Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)

Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)
Misteri kepergian nyonya Patricia


__ADS_3

Nyonya Patricia terlihat rapi dengan make up minimalis dan stelan baju kantor yang rapi. Ia berjalan menuju garasi mobil, segera saja dia masuk ke dalamnya. Setelah itu, dia menghidupkan mesin mobilnya, nyonya Patricia melaju dengan kecepatan normal. Perlahan mobilnya menjauh dari mansion utama, di tengah perjalanan, nyonya Patricia mendapatkan telepon dari orang kepercayaannya.


"Kau sudah menemukannya Mark?" tanya nyonya Patricia serius.


"Belum nyonya, dia selalu berpindah tempat," jelas Mark.


"Cari lagi, setelah ini temui aku di cafe biasa, kita susun rencana untuk segera melenyapkan pria itu, aku merasa dia akan menuntut balas atas kematian ibunya," ucap nyonya Patricia mengingatkan.


"Baik nyonya," jawab sang anak buah.


Nyonya Patricia teringat akan kisah masa lalunya bersama sang suami yang dahulu sangat bahagia namun harus tercemar saat kedatangan seorang wanita yang sang suami kenalkan kepadanya, alih-alih ingin berkata jujur, justu nyonya Patricia marah besar. Ia meminta cerai kepada tuan Hans, namun tuan Hans tidak mengabulkannya. Dua tahun setelah kejadian itu, nyonya Patricia selalu berselisih paham dengan sang suami. Ada banyak masalah yang timbul akibat orang ketiga di dalam rumah tangganya membuat nyonya Patricia naik pitam, dia mengancam jika tuan Hans tidak segera menceraikan isteri yang lain,ia akan melenyapkan wanita itu.


Tuan Hans Smith segera membawa pergi nyonya Nilam yang menjadi isteri keduanya itu menuju apartemen di luar kota, meskipun begitu, nyonya Patricia tidak tinggal diam, dia mencari nyonya Nilam ke seluruh penjuru kota tapi dia belum mendapat apa yang di inginkan. Hingga pada suatu hari, sekertaris tuan Hans yang menjadi mata-mata, mengabarkan jika selingkuhan sang suami ada di luar kota.


Nyonya Patricia segera menemui nyonya Nilam tanpa sepengetahuan sang suami, pada akhirnya peristiwa bunuh diri itu terjadi.


"Nilam dan anaknya sama-sama merepotkan," gerutu nyonya Patricia.


Tak terasa akhirnya sampai juga di cafe LongLast, tempat favoritnya untuk bertemu klien dan Mark.


Ia memarkirkan mobilnya dan segera turun, ia melihat ada Mark yang melambaikan tangan ke arahnya. Segera saja nyonya Patricia menghampirinya.


"Kau sudah lama Mark?" tanya nyonya Patricia yang kini duduk di hadapan Mark.


"Baru saja nyonya, kali ini, tugas apa yang harus aku lakukan?" ucap Mark bersemangat.


"Tetap cari Peter, dia adalah halangan, lenyapkan saja jika itu bisa membuatnya tidak mengganggu keluargaku lagi," pinta nyonya Patricia sembari menatap dua dua minuman berada di meja.


"Kau yang memesan?" tanya nyonya Patricia terkejut.


"Iya, seperti biasa, nyonya suka minum lemon tea," jawab Mark, pria malang yang sempat menjadi korban perdagangan manusia, tetapi berhasil selamat karena bantuan nyonya Patricia. Usianya baru menginjak dua puluh lima tahun, tetapi dia sudah lulus S1 jurusan ekonomi dan bisnis. Kini Mark bekerja di salah satu perusahaan swasta ternama di kota itu. Nyonya Patricia mengganti nama Davish menjadi Mark untuk menyamarkan identitasnya karena masih banyak orang yang mengincar dirinya karena dia adalah saksi kunci peristiwa pembunuhan seluruh anggota keluarganya. Tidak mudah untuk nyonya Patricia membantu Mark menjadi pria dengan hidup normal seperti sekarang ini, namun dia tetap berusaha menjaga Mark seperti anaknya sendiri. Oleh karena itu, Mark sangat patuh dengan nyonya Patricia.

__ADS_1


"Mark, kau jadilah anak yang baik, suatu saat nanti, aku akan membantumu keluar dari masalahmu," jelas nyonya Patricia.


"Terimakasih nyonya, sejak awal kau sangat baik, sampai sekarang kau juga masih sama. Aku akan segera menemukan Peter dan menghabisinya," ucap Mark, ia sangat bersemangat. Dia tidak akan membiarkan seorangpun menghancurkan keluarga nyonya Patricia.


...* * *...


Di mansion utama...


Nea dan Lewis telah selesai mandi bersama, mereka berdua terlihat saling melempar senyuman.


"Aku bantu memakai bajumu," ucap Nea yang masih mengenakan handuk, tapi saat dia ingin membantu, tangannya justru di genggam oleh Lewis, ia mencium tangan sang isteri.


"Kau masih marah padaku?" tanya Lewis dengan terus memprovokasi Nea.


"Tidak sayang," jawab Nea, dia melewati begitu saja tubuh kekar sang suami.


Lewis mencegat langkah sang isteri, ia menarik tubuh itu dan menjatuhkannya di atas tempat tidur.


Pria tampan tersebut menghimpit tubuh Nea hingga dada bidang sang suami menempel di tubuhnya, Nea merasakan debaran jantung sang suami.


"Sayang, apa kau lupa? kau berkata ingin bertemu Jacob karena rindu, mengapa kau justru merayuku?" Nea mencoba mencari alasan yang tepat.


"Sambil menyelam minum air, aku merasa tergoda olehmu sayang, diamlah dan nikmati saja," jelas Lewis. Pria itu mulai menjelajahi wajah serta leher sang isteri. Tapi saat dia ingin melakukan hal yang lebih, tiba-tiba terdengar suara orang mengetuk pintu.


"Siapa?" tanya Nea yang segera beranjak dari ranjang tersebut.


"Pengasuh nyonya, ada paket untuk nyonya Patricia," pekik sang pengasuh dari balik pintu.


"Ya, kau tanda tangani saja, katakan itu perintah ibu mertua," ucap Nea memberikan opsi terbaik.


"Baik nyonya," Suara pengasuh tiba-tiba menghilang.

__ADS_1


"Sial!"umpat sang suami yang merasa terganggu dengan sang pengasuh.


"Sudahlah sayang, kau segera selesaikan mengenakan baju itu, aku akan mengenakan baju juga," Nea menatap ada rasa kecewa di wajah Lewis.


Lewis menjadi pendiam untuk beberapa saat, Nea mencoba mengalihkan perhatian dengan membicarakan tentang acara pentas seni di sekolah si kembar.


"Kau datang ya? Fea, Fany pasti senang saat mereka tampil dan kita bisa menyaksikannya," ucap Nea yang sudah memakai stelan baju rumahan dengan rapi.


"Baik, kebetulan aku juga sedang ingin istirahat di rumah," Lewis masih terlihat marah.


"Hm, kau marah?" tanya Nea mencoba mendekati tubuh sang suami.


"Beri aku satu sentuhan hangatmu," Lewis sangat to the point.


Nea tak mau masalah sepele ini berlarut-larut, ia langsung mendaratkan ciuman di bibir sang suami. Meskipun terasa masih kaku, Nea merasa lega karena sang suami mulai menampakkan aura bahagia.


"Sedikit kaku, tapi bolehlah," ledek Lewis, ia mengecup kening sang isteri dan memintanya segera menemui baby Jacob.


Nea menganggukkan kepalanya dan segera keluar dari kamarnya. Saat Lewis selesai mengenakan bajunya, ponsel miliknya berdering, ia mengambil ponsel yang ada di dalam celana kantornya yang Lewis letakkan di atas ranjang.


Setelah tahu siapa yang menelepon, dia segera menanyakan banyak hal.


"Kabar baik apa yang ingin kau sampaikan?" tanya Lewis.


"Nyonya Patricia berselingkuh tuan, dia menemui seorang pria muda di salah satu cafe terbaik di kota ini, cafe LongLast," jelas sang penelepon.


"Apa kau tidak salah lihat?" tanya Lewis memastikan.


"Aku sudah lebih dulu berada di cafe ini, tiba-tiba secara tidak sengaja, aku melihat nyonya Patricia," jawab sang penelepon.


"Kau selidiki pria itu, jika benar dia adalah simpanan ibuku, segera ringkus dan bawa ke kantorku," perintah Lewis tegas.

__ADS_1


"Baik tuan!" jawab sang penelepon.


'Ibu pergi ke cafe bersama seorang pria muda, tidak bisa di biarkan," batin Lewis bergejolak, dia merasa jika sang ibu sedang bermain di belakang sang ayah.


__ADS_2