
Haruka sangat tersayat hatinya, dia merasa di permainkan di rumah megah itu. Selain Lewis dan Nea, tidak ada yang perduli dengannya dan janin yang di kandungnya. Secara sembunyi-sembunyi, Haruka pergi dari rumah itu, dia memaksa seorang sopir untuk mengantarnya ke sebuah pemakaman di saat semua orang sedang sibuk dengan urusan masing-masing.
Ketika sang sopir kembali, Haruka memintanya untuk tidak mengatakan kepada siapapun tentang keberadaannya, jika sampai sang sopir buka suara, dia akan kehilangan pekerjaannya.
"Baik nyonya baru, aku akan tutup mulut," ucap sang sopir yang meninggalkan Haruka di sebuah pemakaman tua.
Dia berjalan melewati gundukan tanah yang terpasang batu nisan di atasnya, ada yang terurus juga banyak yang terbengkalai, seperti makam sang ayah yang sudah dua tahun ini berada di makam tua itu, karena sebelumnya, Reiko enggan memakamkan jasad ayah Haruka di Jepang, dia mengatakan memakamkan jasad orang tua tidak berguna itu hanyalah membuang-buang uang dan waktu.
Hidup Haruka teramat menyedihkan, sampai dia memiliki keluarga 'pun, tidak ada yang berubah dari dirinya.
Saat dia menangis di pusara sang ayah, tepukan tangan di pundaknya membuat Haruka terkejut, seketika dia menoleh.
"Lewis?" pekik Haruka terkejut.
"Iya, apa kau terkejut?" tanya Lewis yang kini berada di sampingnya dan menaburkan bunga di pusara ayah mertuanya.
"Bagaimana bisa kau tahu aku di sini?" tanya Haruka.
"Aku memperhatikanmu begitu sedih, aku bertanya kepada ibumu tentang ini, dia mengatakan jika kau akan ke makam ayahmu saat bersedih," jawab Lewis.
"Cih! wanita menyebalkan itu," ucap Haruka kesal.
"Jangan salahkan ibumu, aku yang memintanya. Seperti biasa, harus ada imbalannya, aku tahu dia orang yang menyebalkan dan licik, tapi tetap saja aku memberinya uang," jawab Lewis.
"Kau memang pria yang baik, sayang bukan hanya aku di hatimu," ucap Haruka lirih, dia menundukkan kepalanya, raut wajah sedih menggelayutinya.
Lewis memeluk tubuh Haruka, dia mengatakan jika Haruka dan Nea adalah dua orang yang sangat ia cintai, mungkin terasa aneh, tapi perasaan Lewis jujur mengatakannya.
"Kita akan hidup bersama dalam satu keluarga yang bahagia, tetaplah menjadi manis dan penyayang seperti Haruka sebelumnya, kau mengerti sayang?" pinta Lewis.
Haruka menunjukkan senyum palsu penuh misteri, saat Lewis mulai mempercayainya lagi, sifat rakusnya mengatakan jika hanya dia yang boleh mencintai Lewis. Dia merasa Nea adalah penghalang.
Setelah selesai mengunjungi makam ayah Haruka, Lewis mengandeng tangan Haruka dan mengajaknya pergi dari pemakaman itu.
Di dalam mobil...
__ADS_1
"Sayang, aku ingin pergi berlibur, apa kau mau?' tanya Haruka.
"Lebih baik kau ikut aku pergi ke suatu tempat,"
Lewis mengikatkan sabuk pengaman untuk sang isteri, Haruka merasa terkesan, dia mengecup pipi sang suami, Lewis tersenyum dan menatap wajahnya sesaat, Haruka merasa pria tampan di sampingnya ini memang sudah kembali seperti Lewis yang dulu ia kenal.
Namun, harapan itu pupus saat Lewis menelpon Nea, kata-kata Lewis kepada Nea justru lebih terdengar mesra dan intim, berbeda saat berbicara dengannya.
"Honey, kau sudah siapkan berkas untuk tuan Hutomo? sore nanti kami akan bertemu," ucap Lewis pada Nea di panggilan telepon.
"Sudah suamiku," jawab Nea.
"Honey, sudah dulu ya? aku ingin pergi bersama Haruka," ucap Lewis.
"Ya, kau berhati-hatilah, jangan lupa untuk memberi kabar dimanapun kau berada," pinta Nea.
"Baik, kau baik-baik di sana," jawab Lewis.
"Ya," tukas Nea.
...* * *...
Di mansion utama...
Nea terbayang wajah Lewis dan Haruka tertawa bersama, dia merasa bahagia, karena usahanya untuk membuat Lewis bersikap baik kepada Haruka berhasil. Tapi ada rasa sesak yang coba ia tahan, sambil terus meyakinkan diri apa yang ia lakukan adalah benar.
Si kembar masih berlarian kesana kemari, Nea mencoba meraih tangan mereka agar mau mengikuti perintahnya untuk segera mandi dan pergi ke sekolah, namun Nea merasa pandangannya kabur, semua yang ia lihat semakin lama semakin gelap, dan...
BRUK..
Nea ambruk, kedua putri kembarnya menghampiri sang mommy yang terbaring tak berdaya di atas lantai ruang keluarga, si kembar memanggil sang mommy dengan suara tangis tanpa tahu apa yang terjadi pada mommy mereka.
Nyonya Patricia yang sedang berada di dapur tersentak saat mendengar suara tangis dua cucu kembarnya. Dia berlari menuju suara itu berasal.
Saat berada di ruang keluarga, nyonya Patricia terkejut saat melihat sang menantu terbaring tak berdaya di lantai, sang ibu mertua kemudian memanggil para pelayan untuk membantunya memindahkan tubuh Nea ke atas sofa.
__ADS_1
Semua orang merasa khawatir dengan keadaan Nea, nyonya Patricia menelpon dokter Hanum untuk datang ke mansion utama.
Beberapa menit kemudian...
Dokter Hanum telah datang, dia langsung memeriksa Nea, ia mengatakan hal yang mengejutkan jika Nea sedang hamil anak ketiganya, semua anggota keluarga sangat bahagia, berkah di keluarga Nea semakin bertambah.
Sang dokter menyarankan agar Nea menjaga kesehatan, jangan banyak pikiran, jangan terlalu banyak beraktivitas karena kondisi janin masih lemah.
Beberapa menit kemudian, Nea tersadar, sang ibu mertua mengatakan jika sang menantu sedang hamil, Nea merasa bahagia karena akan ada anggota keluarga baru yang akan meramaikan keluarga besar Hans Smith.
"Kau harus segera menelpon suamimu, beri kabar bahagia ini," pinta sang ibu mertua.
"Nanti saja kalau dia sudah kembali, aku tidak ingin mengganggunya," jawab Nea.
Setelah itu, dokter Hanum memberikan resep obat khusus ibu hamil untuk mengurangi rasa pusing yang Nea alami. Pemeriksaan telah usai, sang dokter kembali ke Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Saat kebahagiaan menyelimuti keluarga Lewis, ada satu orang yang tidak menyukai berita ini, dia adalah Meylan, wanita yang sedang berdiri di pojok ruangan. Mata jahatnya sungguh menyeramkan, dia tidak ingin ada anak lain yang lahir selain anak dari Haruka, karena akan sangat sulit baginya untuk menguasai harta benda keluarga Lewis jika Nea memiliki anak lagi.
"Lihat saja, dalam waktu seminggu, anak itu akan ku lenyapkan," ucap Meylan dengan wajah sinis.
Meylan berbalik dan ingin kembali menuju kamarnya, namun di cegah oleh salah satu pelayan.
"Nyonya, apa kau sedang menguping?" tanya sang pelayan.
"Mana ada? aku sedang mencari putriku, dia tadi ingin ke dapur dan aku ingin menyusulnya," jawab Meylan kikuk.
"Jika ingin ke dapur harusnya kau sudah pergi dari sini, bukan tetap berdiri dan menggerutu," ucap sang pelayan.
"Minggir! kau hanya pelayan tetapi sikapmu sok menjadi majikan!" jawab Meylan.
Dia mendorong tubuh sang pelayan, meskipun tidak sampai terjatuh, tapi cukup membuat sang pelayan kehilangan keseimbangan.
"Astaga, ibunya nyonya baru kuat sekali, mungkin saja dia seorang atlet angkat besi saat masa mudanya," terka sang pelayan yang juga pergi ke dapur untuk meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda.
...* * *...
__ADS_1