
"Sial!" Kim memukul stir mobil mewahnya, ia merasa kesal saat Lewis menghina dirinya di hadapan wanita yang sangat ia dambakan itu.
Kim mengambil ponsel di saku celananya, ia segera menelepon sekretarisnya.
"Frans? kau dimana?" tanya Kim kepada sang sekretaris.
"Ada di kantor pak, ada apa?" tanya sang sekretaris.
"Cari tahu informasi lengkap mengenai siapa suami Nea Wijaya dan status keluarganya," perintah Kim.
"Baik bos, tunggu dua jam, aku akan segera melaporkan hasilnya," jelas Frans.
"Oke, lakukan dengan benar," jawab sang bos dengan menutup panggilan ponselnya.
Setelah menelepon Frans, Kim membuang ponselnya begitu di dashboard mobilnya.
"Pria brengsek!" Kim meluapkan emosinya yang terpendam. Dia mengingat segala perjuangannya dalam mendapatkan Nea, dia harus meninggalkan perjodohan dengan gadis pilihan kedua orang tuanya dan kembali ke kota kelahirannya. Tapi nyatanya harapan hanyalah tinggal harapan, wanita yang sangat ingin ia miliki telah menjadi milik orang lain.
Kim menghidupkan mesin mobilnya dan secepat kilat meninggalkan tempat itu.
Sementara Kim sedang sakit hati, justru Nea dan Lewis sebaliknya.
Pasangan suami isteri itu menjadi lebih harmonis dengan adanya tempat wisata yang Lewis kelola.
"Kita pulang jam berapa? aku sudah merindukan anak-anak," ucap Nea.
Wanita itu merasa sedih jika harus jauh dari ke empat anak-anaknya.
"Ibu sudah memastikan jika kondisi mereka baik-baik saja. Sudah sayang, tidak perlu memikirkan hal itu. Aku sudah mencoba menghubungi ibuku, tapi dia bilang jangan menelepon, nikmati liburanmu, " jawab Lewis dengan meniru gaya bicara nyonya Patricia.
"Haha, ya aku percaya. Kita kembali ke villa saja," pinta Nea, namun Lewis tak menggubris permintaan sang isteri.
"Kita keliling lagi," ajak sang suami yang akan menunjukkan hal luar biasa lainnya yang tengah ia kerjakan bersama anak buahnya.
"Terserah kau saja," jawab Nea malas.
"Cuci tangan dulu," ajak sang suami yang beranjak dari tempat duduknya menuju sebuah wastafel yang berada di area rest area. Nea mengekor langkah Lewis. Setelah mencuci tangan, keduanya berkeliling tempat itu.
Lewis menatap wajah Nea yang malas, sang suami menggendong sang isteri.
"Hey? apa ini suamiku? turunkan aku cepat, aku bisa berjalan sendiri," berontak sang isteri saat tubuhnya berada di gendongan sang suami.
"Kau kesal padaku karena aku memaksamu ikut berkeliling bukan? kita pulang saja," Lewis mengendong sang isteri sampai di parkiran. Lewis membuka mobilnya, segera saja dia menurunkan sang isteri di jok depan.
__ADS_1
"Kita pulang," ucap Lewis yang langsung berjalan memutar menuju kursi kemudi.
"Maaf sayang, aku hanya rindu anak-anak," Nea merasa bersalah karena membuat suaminya kesal.
"Aku tahu perasaanmu, kita kembali ke villa saja, kita telepon anak-anak di sana," pinta sang suami.
Nea mengangguk.
Sang suami menghidupkan mesin mobil, Lewis mengendarai mobil miliknya menuju villa tempatnya menginap bersama sang isteri.
Di dalam mobil...
"Sayang, aku curiga jika Kim akan merencanakan sesuatu," Lewis menaruh rasa curiga kepada Kim, sosok pria misterius yang mereka temui di rest area.
"Aku lupa dengan sosoknya, tapi aku pernah melihatnya dulu di kampus," jelas Nea. Dia mengingat-ingat sosok Kim yang cukup familiar.
"Apa dia kakak tingkatmu dulu? dia mengatakan itu sebelum pergi," Lewis mencoba berdiskusi dengan Lewis masalah Kim.
Nea membuka memori di kala masa kuliah, saat dia teringat akan pria yang pernah memberinya satu bucket bunga mawar merah, Nea menemukan nama Kim di memorinya.
"Dia pria yang mengejarku waktu kuliah, ya memang dia, Kim adalah anak tuan Gavin. Pria terkaya nomor dua di dunia. Saat kuliah dulu, dia cukup berani mendekatiku secara terang-terangan." Nea membuka kenangan lama itu, membuat Lewis sedikit panas hati.
"Oh," ucap Lewis.
Sang suami enggan menanggapi ucapan sang isteri, dia hanya mengangguk sejak awal Nea bercerita.
Mereka berdua terdiam sesaat, tapi di saat keheningan menyelimuti kedua orang itu, ponsel Lewis berdering.
Kali ini Nea yang membantu menjawab panggilan itu.
"Private Number sayang," ucap Nea.
"Jawab saja," pinta Lewis.
"Halo, siapa ini?" Nea mencoba memastikan siapa yang kurang kerjaan menelepon sang suami.
"Hay Nea sayang? syukurlah jika itu kau," Suara sang penelepon terdengar tidak asing.
"Siapa kau?" tanya Nea.
"Pemuja rahasiamu," jawab sang penelepon.
Tutt...tutt...
__ADS_1
Nea segera menutup panggilan suara itu, dia rasa tidak berguna menanggapi sang penelepon tidak jelas. Ia menyerahkan ponsel itu kepada Lewis kembali.
"Dia pria iseng sayang, banyak gaya dia, jadi aku tutup saja panggilan telepon darinya," jawab Nea kesal.
"Oh, ya sudah! terserah kau saja," tukas Lewis.
Beberapa menit kemudian...
Mobil Lewis telah berada di depan villa, saat Nea turun dari mobil dan akan membuka gerbang, dia terkejut saat melihat ada banyak bunga mawar merah di sana.
"Astaga, bunga mawarnya banyak sekali," ujar Nea terkejut.
Nea kembali menghampiri sang suami dan memberitahu hal aneh ini.
Saat sang isteri meminta Lewis turun dari mobil, dia juga terkejut saat ada banyak bucket bunga mawar di depan villa miliknya.
"Apa maksud semua ini?" Lewis heran dengan orang yang mengirimkan banyak bucket bunga ke villanya.
"Apa ini ulah Kim?" tanya Nea mengira-ngira.
"Aku akan menyelidikinya, tetapi sebelumnya, lebih baik kita menyingkirkan bucket bunga ini agar mobilku bisa masuk ke dalam," Lewis segera memungut bucket bunga yang banyak itu, ia segera membuangnya ke dalam tong sampah.
Nea juga membantu Lewis, tapi saat tersisa satu bucket yang lebih besar dari yang lain, Nea segera meraih bucket itu dan mendapati ada secarik kertas yang terlipat di dalamnya.
"Sayang, kau lihat ini?" Nea menyerahkan secarik kertas itu kepada Lewis.
Sang suami membuka lipatan kertas itu.
'Nea, aku harap kau menyukainya. Aku tidak akan memaksamu, tetapi kau harus tahu jika aku mencintaimu,'
Love Kim
Lewis geram saat mengetahui sang pengirim bunga adalah Kim, dia segera menyobek secarik kertas itu.
'Dia terang-terangan sekali, bolehlah! aku akan meladeninya,' batin Lewis berkecamuk.
"Siapa sayang? mengapa kau menyobek kertas itu? apa yang tertulis di sana?" tanya Nea yang penasaran dengan isi dari secarik kertas tadi.
"Bukan apa-apa sayang, ini hanya kerjaan pria tidak waras, lebih baik kau masuk ke dalam. Aku akan menyusul setelah memasukkan mobilku ke garasi," perintah Lewis.
"Baiklah," jawab sang isteri yang segera mematuhi perintah Lewis.
Lewis masuk kembali ke dalam mobilnya, setelah duduk di kursi kemudi, dia meraih ponsel yang ia letakkan di dashboard mobilnya.
__ADS_1
Lewis terlihat sedang menelepon seseorang.
"Cari tahu tentang Kim, segera!" perintah Lewis kepada detektif sewaannya.