Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)

Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)
Kegelisahan Nea


__ADS_3

Di mansion utama...


Nea masih merasa khawatir tentang orang yang membuat Fea mengetahui kata pelakor. Dia mondar-mandir saat memikirkan hal ini, membuat Lewis heran di buatnya.


"Sayang? kau kenapa?" tanya Lewis yang sedang mengerjakan pekerjaannya di meja kerjanya.


"Aku khawatir jika Fea dan Fany mendapatkan hal yang lebih buruk dari tadi, aku sampai hilang akal!" Nea benar-benar merasa jika dirinya butuh beberapa bodyguard untuk mengawasi Fea dan Fany.


"Besok, aku akan meminta orangku untuk menjaga anak-anak kita," ucap sang suami sembari tetap menatap layar laptop.


"Huft! semoga orangmu bisa menjaga si kembar, Lewis, kau bisa tidak antar aku ke rumah ibu bersama ketiga anakku, sudah lama aku tidak mengunjungi ibuku," pinta Nea.


"Iya, pasti mereka bisa. Setelah pekerjaanku selesai, aku akan mengantarmu," jawab Lewis.


Nea segera mempersiapkan segala keperluan anak-anaknya, namun Lewis mencegah sang isteri.


"Sudah ku siapkan di mobil, aku tadi meminta seorang pelayan untuk menyiapkan segala keperluan anak-anak selama di rumah ibumu," Lewis bergerak cepat karena mendapatkan telepon dari ayahnya tentang kegelisahan Nea, dia harus membuat mood Nea membaik agar sang mertua tidak terlalu berpikir aneh-aneh tentang kehidupan keluarganya.


"Kau sangat baik suamiku, kalau begitu aku mandi dulu saja," ucap Nea.


"Baiklah, aku akan segera selesai," jawab Lewis.


Lewis memijat kepalanya, ia merasa pusing dengan perusahaan yang semakin lama semakin menurun pendapatannya. Selain sepi konsumen, perusahaan miliknya memiliki banyak saingan, rival terberatnya adalah perusahaan milik tuan Wijaya, ayah kandung Nea. Mana mungkin bisa melawan perusahaan yang sudah berdiri hampir setengah abad lebih, di bandingkan dengan perusahaannya yang baru sepuluh tahun berdiri.


"Harus bicara dengan ayah mertua tentang hal ini," ucap Lewis.


Pria itu menutup laptopnya, ia segera menyiapkan berkas perusahaannya, setelah siap, dia menelepon sang ayah mertua.


"Ayah? apa kau sibuk?" tanya Lewis.


"Tidak Lewis, apa kau ada perlu denganku?" ucap tuan Wijaya.


"Ayah, perusahaanku butuh bantuanmu, apa kau bisa membicarakan ini sekarang?" tanya Lewis berharap sang ayah mertua bisa membantunya.


"Aku sudah tahu dari awal minggu, aku hanya menunggu kau datang padaku karena Nea tidak suka aku membantumu," jawab tuan Wijaya.


"Maaf ayah, aku bener membutuhkan bantuanmu," ucap Lewis.

__ADS_1


"Tenanglah menantuku, aku akan membantumu, kau menginap di rumahku, kita bicarakan tentang hal ini," jelas tuan Wijaya.


"Iya ayah, rencananya aku, Nea dan anak-anak akan menginap di sana, tunggu kami datang," ucap Lewis.


"Oke, ayah tunggu," jawab tuan Wijaya.


Lewis menutup panggilan itu, saat dia ingin masuk ke kamar mandi, ia melihat Nea dengan tubuh berbalut handuk. Jantung Lewis berdegup kencang.


"Kau sudah selesai?" tanya Nea sembari mengeringkan rambut dengan handuknya.


"Oh, iya, aku..." Lewis merasa salah tingkah saat melihat kemolekan tubuh sang isteri.


"Dia kenapa? bukannya dia sudah melihat semuanya? masih saja salah tingkah, pria yang lucu," ucap Nea yang merasa sang suami terlalu berlebihan.


Sambil terus mengeringkan rambutnya, ia memilih baju untuknya dan suaminya. Ia segera mengenakan baju itu, ia berdandan sebentar dan melihat anak-anaknya.


Nea mencari si kembar di kamarnya, tapi saat dia memeriksanya, tidak ada seorangpun di sana.


"Mungkin ada di ruang keluarga," ucap Nea yang melangkahkan kakinya menuju ruang keluarga.


Benar saja, mereka bertiga telah siap, baby Jacob berada di gendongan sang pengasuh.


Fea dan Fany bersorak sorai karena sudah lama tidak mengunjungi nenek Wijaya.


Beberapa menit kemudian, muncul Lewis yang telah siap untuk pergi. Ia mengandeng kedua anaknya, sedangkan Nea mengekor di belakang bersama Jacob.


Mereka berjalan bersama menuju garasi, setelah sampai di sana, Lewis meminta anak dan istrinya ke dalam mobil mewah yang sudah siap dengan segala perlengkapan anak dan isterinya.


Lewis duduk di jok depan bersama Fea dan Fany bersama mommy Nea serta Jacob di jok belakang.


Suami Nea menghidupkan mesin kendaraan mobilnya, ia segera mengemudikan mobilnya menuju rumah kedua orang tua Nea.


Perlahan, mobil Lewis telah keluar dari kawasan mansion keluarganya yang mewah itu.


Di sepanjang perjalanan, kedua anaknya excited di ajak ke rumah neneknya yang berada di luar kota tersebut.


"Mom, di rumah nenek ada tempat bermain, Fea suka," ucap Fany polos.

__ADS_1


"Iya sayang, bermainlah sepuasmu nak, tetapi hati-hati ya?" pinta Nea lembut.


"Baik mom!" jawab Fany.


Setelah beberapa jam kemudian, mereka telah sampai di depan pintu gerbang rumah nenek Wijaya.


Tak di sangka, sang nenek telah menunggu mereka di teras. Mendengar suara mesin mobil, nyonya Wijaya sendiri yang membuka gerbang itu.


Mobil Lewis kini berada di halaman rumah mewah Nea.


Fany dan Fea langsung turun dari mobil itu, mereka berteriak memanggil nama sang nenek.


"Nenek sangat rindu kalian! ayo ikut nenek, di dalam ada banyak mainan," ucap nyonya Wijaya tanpa menghiraukan yang lainnya. Ia mengajak keduanya masuk ke dalam rumah.


"Ibumu bahkan lupa kita ada di sini," gerutu Lewis.


"Iya, beliau terlalu bahagia, si kembar adalah cucu pertama, pastilah sangat di manja," jawab Nea sembari tersenyum.


"Aku masuk dulu suamiku, nanti biar pelayan yang mengambil semua perlengkapan yang tadi kita bawa," jelas Nea.


"Aku yang akan membawanya," ucap Lewis. Pria itu tidak sungkan menenteng barang-barang milik anak dan isterinya.


Nea merasa Lewis telah banyak berubah, namun dia tetap waspada. Pengalaman mengajarkannya, jika mencintai seseorang dengan sepenuh hati itu memang baik, tapi hati yang terbiasa bahagia, kadang lupa jika dalam setiap kehidupan ada namanya cobaan. Entah berupa apapun itu, di masa lalu, ia di coba dengan pengkhianatan serta perceraian. Sampai detik ini, semua itu masih terasa sakit, namun dia tetap optimis akan ada kebahagiaan untuk keluarga kecilnya.


"Ne? Nea? ayo kita masuk ke dalam? apa yang kau pikirkan?" tanya Lewis yang melihat sang isteri hanya diam seperti patung.


Mendengar suara sang suami, dia tersadar dan segera mengekor langkah Lewis.


Di dalam rumah...


"Astaga! apa ini ibu?" Saat Nea masuk ke dalam rumah, ia terkejut ruang tamu di sulap menjadi tempat bermain oleh sang ibu.


"Haha, bagus tidak? kemarin aku membayar orang untuk menjadikan ruang tamu sebagai taman kanak-kanak," jelas nyonya Wijaya dengan tawanya yang bersemangat.


Nyonya Wijaya beranjak dari tempat duduknya kemudian mendekati Nea.


"Maaf ibu lupa jika ada kalian serta si tampan Jacob," Nyonya Wijaya mengantikan Nea mengendong Jacob.

__ADS_1


"Ibu memang selalu begitu, aku yang tampan ini sampai tak nampak," canda Lewis.


Nea dan nyonya Wijaya tersenyum saat mendengar candaan lawas suami Nea. Sudah lama Lewis tak seakrab ini dengan sang ibu mertua.


__ADS_2