
"Ne, ibu mau bicara dengan Lewis," pinta nyonya Wijaya yang sangat ingin mengatakan banyak hal kepada sang menantu.
"Baiklah ibu, sayangku, kau ikut ibu. Barang-barang ini biar aku yang membereskan," Nea mengambil barang-barang dari tangan Lewis dan segera memasukkannya ke dalam kamarnya. Sedangkan ibu menitipkan Jacob kepada seorang pelayan.
Sementara itu, nyonya Wijaya dan Lewis berjalan menuju taman belakang rumah megah itu. Mereka berdua duduk berdampingan di bangku taman yang tersedia.
"Lewis, ibu hanya ingin mengingatkan jika kau harus lebih menyayangi Nea. Dia adalah anak ibu yang sangat baik dan setia. Jangan hanya Haruka saja prioritasmu," tegur nyonya Wijaya. Dia tidak ingin, anak gadis satu-satunya mengalami rasa sakit yang sama setelah kembali kepada Lewis.
"Aku memahami rasa khawatir ibu. Tapi aku memilki cara sendiri untuk membahagiakan Nea atau Haruka. Aku juga harus adil kepada keduanya, aku adalah pria bodoh jika harus meninggalkan Nea, karena dia adalah kekuatanku menghadapi kejahatan Peter dan kelicikan Haruka. Meskipun kini Hiro sudah tiada, harusnya tidak ada yang bisa menahanku untuk menceraikan Haruka. Tapi demi alasan kemanusiaan, aku akan tetap menjaga Haruka sampai dia sembuh. Anak yang ia kandung juga akan ku akui sebagai anakku, walau dia adalah darah daging Peter," jelas Lewis memberikan pengertian kepada nyonya Wijaya.
"Jika memang seperti itu rencanamu, ibu tidak akan keberatan. Berikan hal yang terbaik untuk kedua isterimu, ibu akan tetap menerimamu sebagai menantu jika kau tetap menghargai ketulusan Nea, berjanji tidak akan menyakitinya lagi," Harapan nyonya Wijaya kepada Lewis.
"Ibu, maafkan aku! aku telah membuatmu kecewa. Bagaimanapun juga, luka yang aku torehkan untuk Nea tak akan termaafkan sampai kapanpun, tetapi percayalah ibu, aku sudah menyadari kesalahanku dan sedang memperbaikinya," Lewis bersimpuh kepada sang ibu mertuanya.
"Ibu sudah memaafkanmu. Sekarang mulailah hidup dengan damai bersama Nea dan Haruka. Bahagiakan kedua istrimu jangan sampai menyakiti mereka kembali," Nyonya Wijaya memeluk erat tubuh Lewis, mereka berdua menangis bersama dalam kebahagiaan.
"Terima kasih atas maaf yang telah ibu berikan kepadaku. Aku akan berusaha menjadi suami yang baik untuk kedua istriku, dan daddy yang baik untuk anak-anakku kelak. Tanpa doa ibu apalah aku. Dukung selalu aku ibu," pinta Lewis dalam tangisnya.
Nea yang tidak sengaja melihat pemandangan hari ini, ikut meneteskan air matanya. Segala kekhawatirannya tentang kesetiaan Lewis kepadanya sirna sudah. Kebahagiaan abadi akan segera dimulai, Nea merasa lega, semua perjuangannya kini menjadi sebuah kado termanis untuk rumah tangganya. Nea berjalan perlahan menghampiri kedua orang itu.
"Wah! ibu telah membuat suamiku menangis," ucap Nea yang juga menyeka air matanya.
"Kau juga? mengapa kau ikut menangis? kau pasti menguping ya?" Lewis merangkul ibu mertuanya. Hubungan antara ibu mertua dan anak menantu kini menjadi semakin rukun.
Keyakinan dari nyonya Wijaya kepada Lewis yang dulu sempat goyah, kini kembali menguat karena ia melihat keseriusan dari Lewis dalam membahagiakan anaknya serta ketiga cucunya.
"Oh ya, ibu bilang Myka ada disini? dimana dia bu?" tanya Nea yang heran karena sosok Myka yang sedari tadi tidak ia lihat.
"Dia baru saja selesai mandi sepertinya. Nea, ibu punya rahasia penting tentang Myka. Dia bertemu dengan cinta pertamanya si Jonathan," ucap nyonya Wijaya memberitahukan kabar baik tentang kisah lama yang akan terulang kembali antara Jonathan dan Myka.
__ADS_1
"Astaga! si Jonathan yang ia kenal dari nomor ponsel itu ya?" tanya Nea yang teringat akan orang yang sempat dekat dengan Myka di masa lalu.
"Tepat sekali Nea, Jonathan yang itu, tetapi sayangnya Myka sepertinya sudah menyerah," jelas nyonya Wijaya yang melihat raut wajah Myka saat membicarakan tentang Jonathan terlihat tidak bersemangat.
"Kalian berdua sedang membicarakan apa? dalam sekejap kau melupakan aku Nea. Kau juga ibu mertua, sedari tadi memujiku tetapi setelah ada si Jonathan itu, ibu melupakan aku, bagaimana ini? aku mendapatkan saingan," gerutu Lewis sambil melibatkan tangan di dada.
"Hahaha apalah kau ini Lewis! si Jonathan itu belum pernah datang ke sini. Dia berhubungan dengan Myka juga sudah lama sekali," jelas nyonya Wijaya menghibur sang menantu yang sepertinya sangat cemburu dengan Jonathan.
"Tapi tetap saja! aku sangat cemburu, ternyata ada pria lain yang kalian bicarakan selain aku," Lewis kembali menggerutu seperti anak kecil.
"Hahaha suamimu ini seperti bocah Nea," Nyonya Wijaya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Lewis yang tidak semakin dewasa justru menjadi semakin kekanak-kanakan.
"Lewis kau tenang saja, ibu tidak akan pernah melupakanmu karena kau adalah anak menantu pertama bagi ibu," ucap ibu menghibur Lewis.
"Ibu sangat baik hati, terima kasih ibu. Oh ya, ayah dimana? aku sudah membuat janji untuk bertemu hari ini karena ada pekerjaan yang harus aku bahas dengan ayah mertua," ucap Lewis yang memastikan bahwa sang ayah mertua ada di rumah.
Lewis menuruti ucapan sang ibu mertua, dia segera menelepon sang ayah mertua tetapi nomor yang ia hubungi ternyata sedang tidak aktif, ia mengirimkan pesan kepada ayah mertuanya melalui email. Sembari menunggu balasan email dari ayah mertuanya, Lewis, ibu mertua dan Nea masuk kedalam rumah megah itu. mereka bertiga segera menuju ruang tamu yang telah disulap oleh nyonya Wijaya sebagai taman kanak-kanak.
"Mommy, Fea suka disini, Fea sekolah di kota ini saja ya? kan kalau pulang sekolah bisa main di rumah nenek," Wajah polos Fea menarik baju Nea dan memohon agar permintaannya segera dikabulkan.
Neo berjongkok dan memegang pundak putrinya, "Nak, di mansion daddy juga banyak sekali mainan, untuk pindah sekolah memerlukan banyak persyaratan, apalagi nenek dan kakek sudah tidak muda lagi, mereka akan kelelahan jika Fea mengajak bermain setiap hari," ucap Nea menasehati Fea.
Raut wajah Fea sepertinya kecewa tetapi saat dijelaskan oleh mommynya, dia mulai mengerti. Fea kembali bermain dengan Fany juga adik bungsunya Jacob.
"Nea, kau adalah ibu yang terbaik. Kau memberikan penjelasan yang tepat kepada anakmu sehingga Fea mudah mengerti perkataanmu," ucap nyonya Wijaya yang bangga dengan Nea.
"Fea lebih kritis daripada Fany ibu, dia selalu bertanya banyak hal yang sekiranya membuat dia penasaran," jelas Nea yang memberikan pengertian tentang sifat Fea.
"Bagus Nea, kau harus selalu memberikan pengertian kepada kedua anakmu karena mereka masih kecil dan belum paham tentang apa yang ada di sekitarnya. Mereka juga belum memahami apa arti keinginan dan kebutuhan," ucap nyonya Wijaya mengingatkan.
__ADS_1
Lewis merasa senang karena sosok Nea mampu memberikan hal positif kepada si kembar. Saat terjadi perbincangan yang menyenangkan antara Lewis, ibu mertua serta Nea, tiba-tiba muncul gadis cantik dari balik pintu kamarnya.
"Asyik sekali kalian bertiga? sedang membicarakan aku ya?" Dia adalah Mykaila, adik sepupu dari Nea.
"Kau sudah dewasa Myka! mana pasanganmu? aku dengar kau telah memiliki cinta pertama?" goda Lewis yang membuat wajah Myka bersemu merah.
"Bagaimana bisa aku tidak tahu jika kau memiliki pria yang bernama Jonathan," ucap Lewis masih dengan menggoda Myka.
"Aku malas membahasnya kak, biarkanlah saja dia menjadi cinta pertamaku saja, karena aku dengannya hanya beberapa kali bertemu setelah itu dia menghilang," Myka sudah kecewa dengan sifat Jonathan yang tidak jelas.
Lewis menasehati Myka agar dia memilih pria yang ia cintai. Jika memang Jonathan jodoh Myka, Lewis berharap gadis itu akan mempertahankan hubungannya sampai jenjang pernikahan. Tetapi Myka tidak berharap sejauh itu, setelah ia membayar ganti rugi atas body mobil yang rusak akibat ulahnya, ia akan menghindar dari Jonathan.
"Apa kau bertemu dengannya hari ini?" tanya Lewis penasaran.
"Iya kakak, aku bertemu dengannya secara tidak sengaja dan aku merusak body mobilnya," ucap Myka menjelaskan.
"Berarti kalian berjodoh," ucap Lewis sembari mencubit kedua pipi Myka.
Lewis tiada henti menggoda Myka sehingga membuat nyonya Wijaya kesal.
"Lewis biarkan saja dia! janganlah kau ganggu dia," ucap nyonya Wijaya.
"Dia lucu sekali ibu mertua, jadi aku gemas," jelaslah Lewis yang masih saja menggoda Myka meskipun dia sudah beranjak dewasa.
Ibu mertua mengatakan dia ingin segera ke dapur karena akan membuat hidangan spesial untuk Lewis dan Nea.
Saat Nea ingin membantu ibunya, nyonya Wijaya mencegahnya karena dia ingin memberikan hadiah atas kembalinya Lewis menjadi suami yang bertanggung jawab. Nea sangat terharu, dia memeluk ibunya sangat erat.
Myka juga merasa bahagia karena kini Nea dan Lewis menjadi pasangan yang serasi serta kembali menjadi pasangan yang sangat ia idolakan sejak awal pernikahan mereka.
__ADS_1