Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)

Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)
Pembalasan Leo


__ADS_3

Leo alias Peter memang pandai menyembunyikan Hiro. Nea dan Lewis terkecoh dengan berita seorang balita yang tewas tenggelam di tengah laut saat sebuah kapal karam akibat kelebihan beban. Baju yang di temukan oleh penyelam adalah milik Hiro. Nea dan Lewis sangat terpukul. Dendam masa lalu membuat Hiro menjadi korban.


Hari ini adalah satu bulan kepergian Hiro. Banyak yang berspekulasi jika Hiro masih hidup. Bisa saja ada orang yang menolongnya ataupun sebagainya. Namun keluarga Hans Smith tidak ingin berharap lebih. Mereka hanya bisa mendoakan jika Hiro agar tenang di alam sana.


Keluarga Lewis masih berselimut duka meskipun Hiro telah berpulang tepat tiga puluh hari yang lalu. Apalagi keadaan Haruka yang sangatlah memprihatinkan. Dia terganggu jiwanya saat mengetahui Hiro telah tewas, dia menjadi pribadi yang mudah sekali marah. Namun saat diam, dia hanya akan berkomunikasi dengan bahasa tubuh.


Hari ini Nea ingin menjenguk Haruka di jeruji besi. Saat mereka bertemu di bilik yang bersekat kaca dengan masing-masing tangan menempelkan ganggang telepon di telinganya untuk saling berkomunikasi. Nea menatap sendu wajah Haruka yang menjadi lebih kurus dan terkesan tak terurus.


Nea mencoba mengajak Haruka berbicara, namun wanita itu hanya diam. Nea tetap menguatkan Haruka agar tetap tabah menghadapi cobaan hidup.


"Kau akan baik-baik saja Haruka," ucap Nea memberikan energi positif kepada wanita di depannya agar tetap semangat menjalani kehidupan. Namun wanita yang ia ajak bicara hanya diam membisu. Pandangannya hanya menuju satu titik dan terkesan kosong serta di selimuti rasa kesepian.


Waktu menjenguk tahanan telah usai, Nea harus mematuhi peraturan. Haruka perlahan di tuntun oleh petugas sel wanita menuju jeruji besi kembali.


Nea beranjak dari tempat duduknya dan bertanya kepada seorang sipir tentang keadaan Haruka selama satu bulan ini.


"Selain diam, dia hanya akan marah dan menyakiti dirinya sendiri," jelas sang sipir yang selalu memantau gerak-gerik setiap tahanan wanita yang selalu membuat keributan.


"Apa Haruka mengatakan sesuai saat dia marah?" tanya Nea yang mulai mencari tahu penyebab kemarahan Haruka.


"Tidak nyonya," jawab sang sipir.


"Jika terjadi apapun dengan dirinya, tolong hubungi aku," ucap Nea sembari meninggalkan kartu nama.


"Baik nyonya," jawab sang sipir yang menerima kartu nama itu dan menyimpannya di saku bajunya.


Nea berjalan keluar menuju tempat parkir, saat dia ingin masuk ke dalam mobil, dia melihat sosok pria berbaju hitam yang baru saja masuk ke dalam rutan. Saat dia ingin menyusul pria itu, ada telepon dari Lewis yang mengatakan jika Fea jatuh dari sepeda, dia tidak mau di obati tanpa ada mommy Nea di sampingnya. Dengan terpaksa Nea membiarkan kecurigaannya mengambang, dia lebih mementingkan Fea. Dia segera pergi dengan mobilnya pulang ke mansion utama.

__ADS_1


...* * *...


Di sebuah kamar yang megah, seorang pria sedang menidurkan balita di box bayi. Dia menatap wajah polos balita di depannya dengan intens.


Tok...tok...tok...


Pintu kamar megah itu di ketuk dari luar, sang pria mempersilakan masuk orang yang mengetuk pintu tersebut.


"Bos, Haruka sudah gila," Lapor sang anak buah.


"Bagus, dia sudah seharusnya gila. Akan lebih pantas lagi jika dia dan anaknya mati secara perlahan," ucap pria itu dengan mata memerah penuh kebencian.


"Tapi ada seorang wanita yang selalu menjenguknya, sepertinya dia orang baik, dia selalu mengajak Haruka mengobrol meskipun si gila diam saja," jawab anak buah pria itu.


Pria itu diam sejenak, ia mengalihkan pandangannya ke arah balita yang sedang terlelap di box bayi.


"Bukanya dia anak Haruka?" Sang anak buah heran saat mengetahui jika baby yang ia culik satu bulan lalu itu bukan anak Haruka.


"Yang ada di perut Haruka adalah anak yang akan kau habisi, dia telah mengkhianati aku, dia bilang tidak akan pernah kembali kepada Lewis tapi dia meminta pertolongan darinya, usahaku membawa pergi Haruka sia-sia saja," Raut wajah sang pria terlihat sangat marah.


"Bos, tahan emosimu, jika kau marah-marah, bayi itu akan terbangun. Kau sudah bersusah payah menidurkannya tadi," ucap sang anak buah mengingatkan.


"Kau diamlah! aku tahu apa yang harus di lakukan dan tidak, keluar dari kamarku!" Sang bos mengusir anak buahnya.


Sang anak buah yang merasa terpojok, memilih untuk menuruti perintah sang bos.


Setelah anak buahnya pergi, dia menjatuhkan tubuhnya di atas kursi kerjanya. Sang bos memijat alisnya pelan, dia merasa pusing dengan semua hal di dalam hidupnya yang terasa sulit untuk di gapai.

__ADS_1


'Aku hanya ingin hidup bersama Haruka, apakah Tuhan begitu marah padaku karena sifat burukku? aku harus terjebak dengan bayi laki-laki milik keluarga yang sangat aku benci, setelah ini aku harus melakukan sesuatu yang akan membuat balas dendamku menjadi nyata,' batin sang pria sembari menelepon seseorang menggunakan ponselnya.


"Brian, kau buat identitas palsu untuk bayi laki-laki," pinta sang pria kepada temannya di sambungan telepon.


"Baik bos, dalam 2x24jam, semua beres," jawab Brian, tangan kanan sang bos.


"Bagus, aku juga minta tolong padamu, bawa dua pelayan ke rumahku, selama dua minggu ini aku akan pergi ke luar negeri untuk bertemu seseorang," jelas sang bos.


"Baik bos," jawab Brian.


Sang bos meninggalkan bayi malang itu sendirian di dalam kamar megahnya, tetapi langkahnya terhenti saat suara bayi mencegahnya.


"Sial! mengapa dia menangis lagi," umpat Peter yang harus berbalik dan menghampiri sang bayi.


Bayi itu meminta di gendong oleh sang bos, mau tidak mau, penjahat itu harus melakukan apa yang di minta oleh bayi. Saat berada di gendongannya, bayi itu tenang dan memejamkan mata kembali.


Sang bos memindahkan bayi di dalam box kembali. Ia merasa kembali menjadi dokter saat melihat bayi di depannya begitu mudah dekat dengannya.


"Jika kau bukan anak Lewis dan Nea, sudah ku habisi sejak awal. Aku punya rencana bagus untukmu nak, panggil aku ayah dan mari hancurkan kedua orang tuamu," ucap sang pria penuh senyum kemenangan.


Dia merasa menjadi orang yang sangat kuat, tidak ada yang mampu menghalanginya untuk menuntut balas atas kematian sang ibu yang di manipulasi oleh ayah Lewis.


"Tunggu saja ibu, aku akan menghancurkan keluarga tua bangka itu sampai anak cucunya kelak," Peter meninggalkan kamarnya dengan perlahan agar bayi itu tidak terbangun lagi.


Pria itu berjalan menuju sebuah ruang baca, di sana terpajang lukisan yang menggambarkan si pria bersama wanita cantik nan anggun yang berada di sampingnya.


Ingatan sang pria berlari ke tahun dimana dirinya hidup bahagia bersama ibu dan ayahnya. Namun saat kedatangan seorang wanita menemui sang ibu di apartemen miliknya, sang ibu menjadi lebih pendiam. Sampai pada hari kelam itu, pria tersebut menemukan sang ibu telah tewas gantung diri di kamarnya.

__ADS_1


"Aku Jonatan Peter, tidak akan mati sebelum semua orang yang menyakiti ibuku tewas mengenaskan," ucap sang pria yang ternyata adalah dokter Leo alias Peter.


__ADS_2