
Di kantor L.H.S skincare...
Tuan Hans Smith sangat gelisah akhir-akhir ini dengan telepon misterius yang mengatakan jika sang penelepon adalah anak dari wanita yang pernah tuan Hans cintai, yaitu nyonya Nilam.
"Nilam, bukannya aku tidak mau mencari tahu sebab kematianmu, tapi aku hanya ingin kau segera di semayamkan. Aku tidak mau kau tersiksa sampai akhir hayatmu. Jika ada yang harus tiada, orang itu adalah aku," Tuan Hans merasa bersalah tentang kejadian di masa lalu yang membuatnya harus bermusuhan dengan anak kandungnya sendiri bernama Peter yang tidak pernah ia duga sebelumnya jika Peter adalah Leo, sahabat terbaik Lewis.
"Maafkan ayah, anak-anakku, karena ayah, kalian harus menderita," Tuan Hans menangis, ia meratapi apa yang terjadi di keluarganya.
Dengan tekad yang bulat, dia ingin menemui Peter. Dia mencoba menelepon kembali nomor misterius itu, namun nomor tersebut sudah tidak aktif. Kemudian dia meminta seorang detektif sewaan untuk mencari Peter. Ia menghubungi orang tersebut dan menceritakan segalanya, sang detektif memahami kesulitan tuan Hans, ia akan segera menemukan keberadaan Peter atau Leo.
Hati tuan Hans merasa lega, pada akhirnya dia akan mengatakan segalanya kepada Peter, tentang kesalahpahaman yang terjadi diantara mereka berdua.
Tuan Hans kembali mengerjakan tugasnya, ia membuka banyak berkas yang belum sempat ia periksa. Di sana ia menemukan file tentang perusahaan yang baru saja berkembang, dia melihat ada nama Nilam. Ia terkejut, tuan Hans menghubungi detektif sewaannya untuk segera datang ke alamat yang baru saja ia katakan.
'Nilam, kau lupa jika aku masih ingat namamu. Peter, ayah datang,' batin tuan Hans.
Tuan Hans beranjak dari tempat duduknya, ia berjalan keluar dari ruangan presiden direktur menuju lift yang berjarak tidak jauh dari ruangannya. Saat lift itu terbuka, hanya ada dirinya di dalam sana. Ia memencet tombol nomor satu karena dia akan turun ke lantai dasar.
Setelah beberapa menit kemudian, pintu lift terbuka, tuan Hans mempercepat langkahnya untuk menuju tempat parkir mobil.
Sesampainya di sana, ia segera menaiki mobil mewah miliknya dan bergegas menuju kantor Nilam. Di tengah perjalanan, tuan Hans mendapatkan panggilan telepon dari sang detektif sewaan.
"Tuan, lebih baik anda jangan kemari, situasi sedang genting," saran sang detektif.
"Ada apa memangnya?" tanya tuan Hans heran.
"Sedang ada demo besar-besaran di sini, pemilik perusahaan melakukan tindak pidana korupsi namun kabur dan tidak mau bertanggung jawab," jawab sang detektif.
"Sial! jadi dia kabur? cari lagi! kau harus segera menemukannya," tukas tuan Hans menahan emosi.
Tuan Hans kembali lagi ke kantor. Ia harus lebih bersabar karena jalan untuk bertemu anak kandungnya tidak semudah yang ia bayangkan. "Peter, kau dimana nak?" Raut wajah tuan Hans terlihat sendu.
__ADS_1
...* * *...
Di rumah mewah Peter...
Peter terlihat sedang bermain dengan Hiro, dia sangat menyayangi anak kecil itu. Meskipun di dalam hatinya masih tersimpan dendam terhadap Lewis dan Nea.
"Kau adalah anakku sekarang, namamu adalah Fransiskus Julio," ucap Peter bangga.
Julio alias Hiro tersenyum saat Peter memanggilnya dengan nama Julio. Ia merasa menjadi ayah dari bayi di depannya.
"Panggil aku ayah," Peter memegang tangan Julio yang menyentuh hidungnya.
Karena belum bisa bicara, Julio hanya bisa tersenyum dan bermain dengan wajah ayah angkatnya.
Di saat Peter merasa bahagia karena menemukan sesuatu yang membuatnya memiliki alasan untuk hidup, tiba-tiba saja ponsel di saku celananya berdering. Ia menjawab panggilan itu, " Ada kabar baik apa?" tanya Peter sembari bermain dengan Julio.
"Nea masih berada di luar ruangan bos, kita apakan dia?" tanya sang penelepon.
"Apakah aku harus terus memantau mereka?" tanya sang penelepon yang ternyata anak buah Peter.
"Pantau terus, awasi gerak-gerik mereka, laporkan padaku jika ada hal yang mencurigakan," ucap Peter tegas.
"Baik bos!" jawab sang anak buah.
Peter menitipkan Julio kepada pengasuh yang baru sehari bekerja di sana karena dia akan pergi ke suatu tempat.
"Julio, ayah pergi dulu ya? patuh dengan pengasuh," pamit Peter dengan senyum manisnya.
Seperti memahami ucapan Peter, Julio kemudian bermain dengan mainannya bersama sang pengasuh. Peter senang karena anak angkatnya itu sangat patuh meskipun masih bayi.
"Nona pengasuh, jaga anakku baik-baik, jangan biarkan dia memakan hal yang berbahaya, berikan dia susu tepat pada waktunya," Peter memberikan pesan kepada sang pengasuh sebelum pergi.
__ADS_1
Sang pengasuh mengangguk, sang bos kemudian keluar dari kamar itu. Dia berjalan menuju tempat parkir mobil mewahnya yang berada di samping rumahnya. Peter terlihat menaiki salah satu koleksi mobil mewahnya.
'Ibu, aku akan menjengukmu, hari ini adalah hari spesial untuk ibu,' batin Peter.
Ia segera menghidupkan mesin mobilnya dan bergegas menuju suatu tempat. Beberapa menit kemudian, dia berhenti di depan sebuah toko bunga langganannya. Penjualnya adalah seorang wanita paruh baya.
"Nak Peter!" pekik sang penjual langsung menghampiri sang bos yang baru saja turun dari mobilnya.
Penjual bunga itu memeluk tubuh Peter, ia sangat rindu dengan Peter karena dua tahun terakhir, sang mantan dokter jarang mengunjunginya.
"Kau kemana saja? apa kau melupakan ibumu dan aku?" ucap sang wanita paruh baya dengan terus memeluk tubuh Peter.
"Tidak, dua tahun terakhir ini aku sedang sibuk nyonya, maafkan aku," jawab Peter dengan membalas pelukan penjual bunga.
"Peter, kemarin aku melihat seorang wanita yang mirip seperti Mikayla," ucap sang wanita, ia melepaskan pelukannya.
"Mika? cinta pertamaku?" Peter terkejut saat mengetahui Mikayla datang ke toko bunga itu.
"Iya, dia bersama dua anak kecil yang berwajah sama, aku menduga Mika sudah berkeluarga Peter," tukas sang wanita menduga-duga.
"Terakhir kali, Mika menetap di Australia, aku tidak percaya jika dia ada di kota ini," jawab Peter yakin.
"Semoga saja, oh iya, aku baru saja membeli bunga mawar merah kesukaan ibumu, kau ambil saja. Ini gratis," Sang penjual menyerahkan bucket bunga mawar merah kepada Peter.
"Aku akan tetep membayar," Saat Peter mengambil dompet di saku celananya, sang wanita mencegahnya.
"Anggap saja ini sebagai ucapan terimakasih kepada nyonya Nilam yang telah berbaik hati memberikan toko bunga ini padaku, kau bebas mengambil berapapun bucket bunga sesuai keinginanmu," ucap sang wanita sembari mengusap airmata yang mengalir dari sudut matanya.
Peter sangat terharu dengan apa yang di lakukan oleh ibu penjual bunga," Kelak kau ikutlah tinggal bersamaku, aku akan merawatmu nyonya,"
Air mata sang penjual bunga mengalir semakin deras, dia sangat beruntung bisa mengenal Peter.
__ADS_1