Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)

Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)
Bersama anak-anak


__ADS_3

Nea sedang berada di ruang keluarga saat suaminya masih di dalam kamar. Ia langsung mengendong Jacob di pelukannya.


"Maafkan mommy sayang, baru bisa memelukmu," Nea menatap mata Jacob dan menimbangnya.


"Dia sudah minum susu belum nona pengasuh?" tanya Nea masih bermain dengan sang putra.


"Sudah nyonya, oh iya ini paket yang di tunjukan oleh nyonya Patricia," Sang pengasuh menyerahkan amplop coklat kepada Nea, karena paket itu milik sang ibu mertua, Nea tidak berani melihat tanpa seizin nyonya Patricia.


"Sayang? apa itu?" Lewis tiba-tiba muncul dan menanyakan tentang amplop coklat yang ia pegang.


"Oh, ini adalah paket yang tadi nona pengasuh bilang," Nea menyerahkan paket itu kepada Lewis.


Lewis penasaran dengan isinya, saat dia ingin membuka amplop itu, Nea mencegah sang suami.


"Itu milk ibu sayang, jangan sembarangan membukanya," pinta Nea yang khawatir.


"Ibu mertuamu adalah ibu kandungku, sedangkan aku adalah anaknya, tidak ada masalah misal aku membuka paket ini," Lewis membuka amplop coklat tersebut tanpa ragu.


Saat Lewis membuka amplop coklat itu, dia terkejut saat melihat isinya.


"Apa ini? foto?" Lewis melihat foto sepasang suami isteri dengan seorang anak laki-laki berdiri di tengahnya. Saat ia mengamati dengan seksama, ternyata sosok pria di foto itu adalah ayahnya sendiri.


"Peter!" Lewis geram.


"Ada apa sayang?" tanya Nea yang heran melihat ekspresi wajah sang suami yang merah padam.


"Hanya ada sedikit masalah, sayang, daddy ke kamar dulu ya?" pamit Lewis kepada Jacob seraya mencium kening si kecil.


Jacob berada di gendongan Nea tetapi si kecil seperti ingin ikut daddynya.


"O...mau ikut daddy ya? ayo kita main," Lewis kini telah mengendong Jacob.


Nea merasa bahagia saat melihat kebersamaan Lewis dan si bungsu. Pada akhirnya, apapun kesalahan sang suami, Nea harus menerima kembali sang suami pelan-pelan demi anak-anaknya.


"Jacob, ciluk ba?" Nea dan Lewis bermain bersama si kecil. Setelah itu muncul si kembar yang baru saja pulang dari pusat bermain bersama pengasuh.


"Mommy!" pekik Fea dan Fany yang langsung memeluk tubuh Nea dari arah dan kiri badannya.


"Wah, anak-anak mommy yang cantik dan pintar, bagaimana tadi bermainnya? apakah menyenangkan?" tanya Nea sangat antusias.


"Menyenangkan mommy, tapi Fea kesal, teman Fea bilang daddy Lewis menikah dengan pelakor, padahal daddy menikah dengan mommy Nea bukan mommy pelakor," wajah polos Fea kesal.


"Nak, besok lagi kalau ada yang bilang seperti itu, Fea tidak perlu dengarkan, biarkan saja," hibur Nea.


"Tapi pelakor itu apa mom?" tanya Fea.


"Kalau Fea sudah dewasa, nanti mom jelaskan, lebih baik anak-anak mom mandi dulu, oke?" pinta Nea.

__ADS_1


"Baik mom," Kedua anak Nea pergi ke kamar mereka untuk mandi, di temani oleh sang pengasuh.


Nea mendekati Lewis," Kita perlu bicara," pinta Nea.


"Oh ya," Lewis memberikan baby Jacob kepada pengasuh, kemudian dia berjalan mendekati Nea.


"Kita bicara di kamar saja," pinta Nea sembari berjalan menuju kamarnya.


Sesampainya di kamar, Nea membahas apa informasi yang anaknya dapatkan.


"Fea bilang kau menikahi pelakor," ucap Nea.


"Astaga, apa ini Nea? siapa yang mengatakan hal itu?" Lewis terkejut dengan apa yang ia dengar.


"Semua orang tahu siapa kau, mereka yang tidak suka pasti akan membuat masalah," jelas Nea.


"Semakin banyak hal janggal, aku tahu apa yang harus aku lakukan," Lewis segera menelepon detektif sewaannya.


Ia mengambil ponsel di saku celananya dan segera membuat panggilan ke nomor sang detektif. Untuk beberapa saat, ia terhubung dengan nomor ponsel sang detektif.


"Halo tuan? ada apa?" tanya sang detektif.


"Cari tahu siapa saja orang tua wali yang satu kelas dengan Fea dan Fany," pinta Lewis.


"Siap bos! dalam 1x24, aku akan mengabarimu," jawab sang detektif.


"Isteriku, semuanya akan baik-baik saja, kau tidak perlu risau," ucap Lewis sembari memeluk tubuh Nea.


"Semoga saja," jawab Nea yang masih belum tenang.


...* * *...


Di pemakaman...


Selesai menjenguk sang ibu, Peter bangkit dari posisi jongkoknya untuk segera menuju mobil. Tapi getaran ponsel di saku celananya, menghentikan langkahnya. Ia berhenti sejenak dan menjawab panggilan itu.


"Ada apa? sudah kau lakukan apa yang ku minta?" tanya Peter kepada sang penelepon.


"Sudah tuan, anakku sudah melakukan tugasnya dengan baik," jawab sang penelepon.


"Kirim nomor rekeningmu, aku akan mentransfer uang 50 juta sebagai imbalannya," tukas Peter.


"Baik tuan," Sang penelepon mematikan panggilan telepon itu dan segera mengirim pesan berupa nomor rekening miliknya.


Peter segera mentransfer uang tersebut saat mendapatkan nomor rekening sang penelepon.


"Lewis...Lewis, keluargamu akan hancur!" ucap Peter dengan senyum menyeringai.

__ADS_1


Peter kembali melanjutkan perjalanannya menuju mobilnya yang di parkirkan di area pemakaman.


Setelah sampai di tempat parkir, Peter masuk ke dalam mobilnya dan segera meninggalkan pemakaman itu.


Di dalam mobil....


"Anakku sedang apa ya? aku tidak menyangka bisa jatuh hati dengan anak itu," Peter tersenyum saat membayangkan wajah anak angkatnya.


Ia melakukan panggilan telepon kepada pengasuh anaknya.


"Halo nona pengasuh? anakku sedang apa?" tanya Peter.


"Sedang tidur tuan," jawab sang pengasuh.


"Apakah dia minum susu dengan benar? apakah tidurnya nyanyak?" Peter sangat perhatian dan menyayangi anak angkatnya itu.


"Iya tuan, dia minum susu dengan baik, tanpa rewel. Putra tuan baby yang penurut," jelas sang pengasuh.


"Oke, setelah ini aku akan pulang, kau siapkan air hangat untukku," pinta Peter.


"Baik tuan," jawab sang pengasuh.


Peter semakin mempercepat laju mobilnya karena dia sudah terlalu rindu untuk bertemu sang putra.


Namun ia terkejut saat mendapati mobilnya di serempet oleh seorang pemotor, jelas saja dia marah. Peter membuka jendela mobilnya, kemudian memaki orang yang telah membuat mobilnya lecet.


"He! bodoh! apa kau tidak punya mata?" Peter terlihat sangat marah.


"Maaf tuan, saya tidak sengaja..." Saat orang yang menyerempet mobilnya itu menatap wajahnya, jantung Peter seperti berhenti berdetak.


"Mykaila?" ucap Peter.


"Jonathan?" tukas Mykaila.


Ternyata orang yang membuat mobilnya lecet adalah Mykaila, cinta pertamanya. Dia menatap Mika lama sekali.


"Jo? apa kau sakit? maaf aku merusak mobilmu," ucap Mika merasa bersalah.


"Aku tidak sakit, tak apa Mi, ehm...mau ku antar pulang?" jawab Peter memberikan penawaran.


"Terimakasih Jo, aku bisa pulang sendiri, oh ya, nomormu masih yang lama?" tanya Mika.


"Masih, ada apa?" ucap Peter.


"Kirim nomor rekeningmu, aku akan ganti rugi kerusakan mobilmu, maaf aku buru-buru," Mika berlalu begitu saja, membuat Peter gelisah.


"Dia datang lagi dan kini akan ku kejar cinta pertamaku, sampai dia benar-benar jadi milikku," ucap Peter dengan tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2