
Pagi hari yang penuh dengan kabut, suasana meja makan terasa hambar meskipun tidak ada yang beda dengan menu sarapan setiap harinya. Untung saja semua berjalan seperti seharusnya, jadi Nea dan Lewis bisa bersikap normal. Nyonya Patricia dan tuan Hans juga tidak mempermasalahkan ketidakhadiran Haruka, Meylan dan Amaya di meja makan. Nenek dari si kembar itu tidak ambil pusing karena Nea saja tidak merasa kesal sedikitpun meski hatinya tersakiti, dia harus berusaha menerima Haruka serta keluarganya.
...(Meja makan)...
...(Menu sarapan oat untuk Lewis dan kedua orang tuanya)...
...(Menu sarapan sehat untuk Nea)...
...(Menu sarapan oat untuk Fea dan Fany)...
Setelah selesai sarapan, Lewis segera berpamitan kepada kedua orang tuanya dan sang isteri, si kembar juga berpamitan untuk berangkat sekolah.
Nea merapikan seragam si kembar dan memberinya bekal makan siang.
...(Bekal bento untuk si kembar)...
Tak lupa Nea mengalungkan dua botol berisi air putih di leher kedua anak kembarnya itu.
Nea mengantar si kembar dan suaminya sampai di pintu gerbang mansion, setelah itu, pintu gerbang tertutup secara otomatis.
"Huft, semua berjalan seperti semula, awal yang bagus," ucap Nea sembari melangkahkan kakinya masuk kembali ke mansion utama.
Setelah masuk ke dalam, dia segera menuju dapur untuk mencuci piring dan beres-beres. Salah satu pelayannya mengatakan jika dia mendengar Meylan sakitnya kambuh, kepala pelayan Liem telah memberikan resep agar rasa sakitnya bisa berkurang, tetapi sampai pagi ini, Meylan masih mengeluh kesakitan.
"Pagi ini mereka tidak keluar kamar, untung saja nyonya Patricia tidak marah, dia kan lebih suka sarapan bersama satu keluarga, bagaimanapun juga, nyonya Meylan dan Amaya adalah anggota keluarga besar tuan Hans," jelas sang pelayan bernama Jen.
Jen adalah pelayan termuda di keluarga Hans Smith, dia bekerja di mansion megah itu untuk membiayai kuliahnya yang sebentar lagi akan selesai.
Setelah tugas di dapur usai, Nea membuatkan sup ayam untuk kedua anggota baru di keluarga Hans Smith itu.
"Biarkan saya yang membuat supnya, nyonya tinggal menunggu saja," pinta Jen.
"Tidak perlu, kita harus memberikan kesan baik kepada mereka, Lewis terlalu kasar kemarin, aku juga harus menjenguk Haruka, entah bagaimana perasaannya setelah Lewis berkata kasar padanya," ucap Nea.
"Saya telah mengurus nyonya baru, dia sudah mendapatkan paket sarapan sehat pagi ini," jawab Jen.
"Terima kasih Jen kau telah melaksanakan tugasmu dengan baik, oh ya supnya telah siap, aku ke kamar tamu dulu," pamit Nea.
"Baik nyonya," jawab Jen.
Nea berjalan menuju kamar tamu dan mengetuk pintunya, tetapi tak kunjung ada respon.
"Apa mereka masih tidur?" ucap Nea.
Tapi saat dia berbalik, terlihat Haruka keluar dari dalam kamar tamu dengan berlinang air mata.
"Hiks...hiks...hiks...," ucap Haruka.
"Kenapa kau menangis?" tanya Nea sembari mengusap air matanya.
"Ibu jahat, dia tidak mau tahu, aku kan sedang hamil, mengapa harus menjaganya juga?" keluh Haruka.
__ADS_1
"Ibumu sakit apa?" tanya Nea lembut.
"Ibu sudah sakit-sakitan sejak dulu, tetapi dia selalu marah padaku, di saat aku sedang hamil, dia juga membuatku seperti pembantu," ucap Haruka sedih.
"Jika hanya masalah itu, kau tidak perlu khawatir, Jen akan menjaga ibumu," jelas Nea.
"Apakah itu benar kak Nea? kau sungguh baik," tukas Haruka.
Haruka menangis tersedu-sedu sembari menutup wajah dengan kedua tangannya. Nea merasa iba, dia memintanya untuk kembali beristirahat, Haruka mengiyakan perintah Nea dan segera masuk ke dalam kamar utama.
Setelah Haruka pergi, Nea masuk ke dalam kamar tamu, terlihat Meylan sedang terbaring lemah di atas ranjang. Amaya dengan setia menjaga ibunya.
"Nyonya Meylan, saya buatkan sup ayam untuk anda dan Amaya," ucap Nea.
Amaya menerima nampan berisi dua mangkuk sup dan dua gelas air putih itu.
"Terima kasih kak Nea, kau baik sekali," ucap Amaya yang kagum dengan perangai baiknya.
Nea dan Amaya terlihat sangat akrab, mereka berdua terlibat percakapan yang lumayan serius. Amaya mengatakan jika dia sangat sedih karena tidak mampu melanjutkan ke universitas padahal nilai ujian akhirnya sangat bagus. Nea bersimpati dengan Amaya, wanita itu akan segera membicarakan tentang pendidikannya kepada Lewis. Adik sambung Haruka itu sangat bahagia.
"Ehmm," Suara deheman sang ibu membuat wajah Amaya seketika berubah, dia teringat akan tujuan utamanya datang ke rumah Lewis.
"Ada apa nyonya? apa kau lapar?" tanya Nea.
"Aku haus, Amaya, air putih itu, ambilkan untukku," perintah sang ibu.
Amaya segera menyodorkan segelas air putih kepada Meylan. Sang ibu hanya meminum seteguk saja, ia memberikan gelas berisi air kepada sang anak. Nea mengajak Meylan mengobrol, tetapi dia malas.
"Maaf nyonya muda, aku sedang ingin istirahat, terimakasih untuk sop ayamnya," ucap Meylan.
"Oh, baiklah, selamat beristirahat ya? cepat sembuh nyonya," jelas Nea yang segera keluar dari kamar tamu.
"Wanita licik itu berusaha mengelabui nyonya muda, sejak kapan dia pandai berakting menangis seperti tadi?" ucap Meylan emosi dengan tingkah sang anak sambung.
"Dari dulu memang dia seperti itu bu, selalu menindas kita mentang-mentang dia yang bisa bekerja," timpal Amaya.
"Aku ingin bekerjasama dengan Haruka, tetapi akan sangat beresiko, dia wanita ular, bisanya sangat mematikan. Pria setampan Lewis bisa bertekuk lutut padanya waktu itu, masih menyisakan misteri, padahal Nea adalah wanita yang sempurna," ucap Meylan.
"Apa aku tidak salah dengar? ibu memuji kak Nea?" tanya Amaya.
"Aku tidak memuji, dia memang baik, hanya saja aku tidak menyukainya," jawab Meylan.
Amaya tersenyum melihat ekspresi wajah ibunya yang terlihat malu karena ketahuan memuji Nea.
"Apapun yang ibu katakan, jangan pernah berbohong kepadaku, aku tahu jika ibu lebih berharap kak Nea yang jadi anak ibu, daripada aku atau kak Haruka," tukas Amaya.
Meylan lebih memilih diam, ia berbaring di atas ranjang super mewah itu dengan posisi membelakangi Amaya.
"Bu, janganlah marah, nanti ibu benar-benar sakit bagaimana?" ucap Amaya.
"Diamlah, aku memang sakit, apa kau kira aku berpura-pura? aku sakit kepala karena Haruka, dia sangat susah di kendalikan, terpaksa ibu harus melawannya, mansion ini harus menjadi milik kita," ucap Meylan dengan penuh percaya diri.
"Tapi ibu 'kan tidak sakit, itu hanya tipuan?" tanya Amaya.
"Di depan orang lain, aku akan sakit tapi setelah itu aku akan sembuh," jawab Meylan.
"Terserah ibu sajalah! oh iya bu, tadi kau dengar tidak? kak Nea mau mengirimku ke universitas, aku akan menjadi gadis kaya raya saat kuliah di universitas pilihannya, akan banyak pria berduit di sana, jika salah satu dari mereka menjadi kekasihku, wah bisa naik satu tingkat level hidupku," tukas Amaya antusias.
'Cih, sombong sekali!" ucap sang ibu.
"Aku kan orang kaya sekarang! sombong juga tidak masalah!" jawab Amaya.
__ADS_1
...* * *...
Siang harinya...
Di ruang kerja Nea...
...(Ruang kerja)...
Nea terlihat sedang mengecek berkas kerjasama perusahaan milik sang suami, masih banyak pekerjaan Lewis yang menumpuk, Nea membantu sang suami menyelesaikan tugas itu.
Dia teringat akan curahan hati Amaya yang ingin berkuliah itu, Nea segera menelpon Lewis di saat jam makan siang, dia membicarakan tentang kuliah Amaya, Lewis tidak ingin berdebat dengan sang isteri, jadi dia mengizinkan Amaya kuliah di kampus bergengsi tempat Nea menuntut ilmu dulu. Lewis akan segera mengurus syarat agar Amaya bisa kuliah disana.
"Siang ini, kau bawa Amaya ke kampus X, dia sudah mulai mengikuti kegiatan perkuliahan dua jam lagi, lengkapi berkas identitas dirinya, suruh Amaya membawa data diri," pinta Lewis.
"Baik suamiku, kau sangat baik," jawab Nea.
"Aku belajar darimu arti sebuah keikhlasan," tukas Nea.
"Hidup memang harus begitu, sabar dan ikhlas dalam menghadapi setiap cobaan," jelas Nea.
Lewis menutup panggilan teleponnya, Nea yang sedang berada di meja kerjanya, segera beranjak dan perlahan keluar dari ruangan itu, saat membuka pintu, secara tidak kebetulan, Amaya sudah berada di depan ruangannya.
"Kau mengagetkanku saja, ada apa Amaya?" tanya Nea.
"Aku ingin bertanya kembali tentang tawaran kak Nea yang ingin aku kuliah," jawab Amaya.
"Oh soal itu, Lewis sudah mendaftarkanmu menjadi mahasiswi di sana, segera bawa berkas data diri, kita langsung ke universitas sekarang juga, nanti kau tunggu aku di depan mansion karena aku akan mengantarmu ke sana, kau bersiaplah!" pinta Nea.
"Baik kak," ucap Amaya.
Lima belas menit kemudian...
Nea berpamitan kepada ibu dan ayah mertuanya, dia mengatakan ingin membawa Amaya ke universitas. Nyonya Patricia mengizinkan, dia percaya kepada Nea, apapun yang di lakukannya pasti sudah di pertimbangkan terlebih dahulu. Pamit selesai, selanjutnya adalah mengantar Amaya ke kampus menggunakan mobil pribadinya.
Sesampainya di universitas...
...(Universitas ternama)...
Nea dan Amaya menuju parking area,
Setelah selesai memarkir mobilnya, Nea dan Amaya menuju gedung megah itu. Wanita itu menuju ruang administrasi untuk melengkapi berkas, di sana dia bertemu dengan teman masa kuliahnya, Nayla.
"Suatu kebanggaan jika nyonya Lewis datang kemari," ucap Nayla yang sedang mengerjakan tugasnya.
"Kau bisa saja, oh ya, ada adikku ingin berkuliah di sini, Lewis sudah mengabari tentang hal ini kan?" tanya Nea.
"Iya, tapi aku baru tahu kau memiliki adik, Lewis mengatakan jika adikmu pandai," jawab Nayla.
"Benar, dia memang pandai, namanya Amaya, saudara jauhku," ucap Nea beralasan.
"Oh oke, mana kelengkapan berkasnya?" tanya Nayla.
Amaya menyerahkan berkas itu, beberapa menit kemudian, setelah semua berkas lengkap, Amaya sudah bisa menuntut ilmu di universitas ternama ini.
'Sekarang aku menjadi orang kaya, banyak uang dan berkuliah di universitas ternama,' batin Amaya.
__ADS_1