
Sebulan lamanya Haruka di tahan di lapas khusus wanita. Hari ini dia di pindah ke rumah sakit jiwa karena dia menderita penyakit gangguan mental, dia sering berteriak-teriak dan kadang tertawa saat sendirian. Lewis dan Nea merasa iba dengan keadaan Haruka yang seperti ini. Pasangan suami isteri itu menemani Haruka dari lapas sampai ke rumah sakit jiwa. Di sana Lewis berbicara dengan seorang dokter spesialis gangguan mental bernama Firanda, dokter menjelaskan jika Haruka depresi dan memilki rasa takut berlebih terhadap suatu hal, karena selama ini dia memendam segalanya sendiri, kehilangan anak kandungnya juga mempengaruhi kondisi mentalnya, alhasil semua masalah menumpuk menjadikan dirinya stres. Dokter menyarankan agar Lewis sebagai suaminya senantiasa mendampingi dan mengajak bicara Haruka.
"Terima kasih dok atas informasinya, saya akan lebih hati-hati menjaga isteri saya," ucap Lewis yang beranjak dari tempat duduknya.
"Sama-sama tuan, kau memiliki dua isteri dengan latar belakang berbeda, semoga kau bisa menjadi pria yang kuat," Sang dokter menyemangati Lewis.
Suami Nea itu tersenyum, ia merasa lebih bersemangat lagi.
Setelah bersalaman dengan dokter, ia keluar dari ruangan itu dan mendapati sang isteri sedang berdiri depannya," Bagaimana keadaan Haruka?" Raut wajah khawatir menyelimuti wajah cantik Nea.
"Dia baik-baik saja, kau tenanglah," Lewis membelai wajah Nea dan segera memeluk tubuhnya.
"Sayang, aku baru saja mendapatkan panggilan misterius, dia mengatakan tidak akan melepaskan aku dan Haruka, sebelum kami mati," ucap Nea, ia sangat cemas akan hal ini.
Lewis melepaskan pelukannya," Sial! aku kecolongan lagi, pasti ini ulah Peter, dia akan terus menghantui keluargaku," ucap Lewis yang geram dengan ulah Peter.
"Sayang, lebih baik kau selidiki masalah ini, cepat atau lambat, dia akan muncul kembali, entah apa yang akan dia perbuat setelah ini," saran Nea, dia merasa Peter bukan pria yang mudah.
"Aku akan menemui temanku di kota selatan, tapi sebelumnya aku antar kau pulang," tukas Lewis, ia dan sang isteri berjalan menuju tempat parkir mobil.
Tapi sebelum pulang, Nea meminta Lewis untuk menemui Haruka, setidaknya jika ada sang suami, Haruka bisa sedikit terhibur. Lewis setuju, dia berjalan menuju ruangan khusus yang di pesan olehnya untuk ruang rawat Haruka selama berada di rumah sakit itu.
Di balik jendela, Nea dan Lewis menatap Haruka yang sedang duduk di atas ranjang, dia bersama seorang suster. Nea mengetuk pintu ruangan itu, tidak berapa lama kemudian, pintu itu terbuka.
"Anda tuan Lewis?" tanya sang suster.
"Iya sus, ada apa?" jawab Lewis heran.
"Nyonya Haruka menyebutkan nama anda berulang kali, saya rasa, dia ingin bertemu dengan anda," jelas sang suster yang mempersilakan Lewis masuk. Nea yang memahami kondisi ini tetap menunggu di depan pintu.
Di dalam ruangan khusus...
__ADS_1
"Nyonya, ini ada tuan Lewis," Suster mengantar Lewis menuju tempat tidur sang isteri, namun Haruka hanya menatap kosong ke arah depan, Lewis mendekatinya, saat Lewis duduk di sebelah Haruka dan menggenggam tangannya, sang wanita menoleh ke arah wajah Lewis. Ia langsung menangis, dia meluapkan segalanya kepada sang suami tanpa sepatah katapun, hanya lewat air mata, ia mampu mengungkapkannya.
"Kau tenanglah, ada aku di sini," Lewis memeluk erat Haruka.
Wanita itu masih terus menangis, namun Lewis dengan lemah lembut menenangkannya.
"Kau jangan takut, aku adalah suamimu, tak apa. Luapkan saja segalanya," Lewis mengusap punggung Haruka lembut. Ia merasa sedih melihat kondisi salah satu isterinya ini.
"Tuan sangat baik, jika ini isteri anda, wanita yang ada di luar itu siapa?" tanya sang suster penasaran.
"Dia juga isteriku, aku memiliki dua isteri, apa kau keberatan dengan statusku ini?" Lewis menatap wajah sang suster lekat.
"Oh, maaf tuan. Aku tidak bermaksud apapun," jawab sang suster salah tingkah.
"Tolong kau keluar sebentar, aku ingin berbicara hal penting kepada Haruka," pinta Lewis.
"Baiklah," Sang suster berbalik, dia menuju pintu keluar.
"Tidak masalah sus," jawab Nea dengan senyum termanisnya.
Suster tidak menyangka jika wanita di depannya ini mampu menahan cemburu," Maaf nyonya, apa aku isteri tuan Lewis?" tanya sang suster.
"Iya sus, ada apa?" jawab Nea penasaran.
"Tuan Lewis pria yang baik, dia sangat mencintai kedua isterinya dengan sepenuh hati," puji sang suster.
Nea masih tersenyum mendengar ucapan sang suster meski hatinya terasa getir mengingat kembali kejadian di masa lampau.
"Nyonya?" Suara sang suster membuyarkan lamunannya.
Nea mengatakan kepada suster jika dia ingin pergi ke toilet, sang suster mengantar Nea.
__ADS_1
Sementara itu, setelah Nea dan suster pergi, ada dua pria yang tidak di kenal berjalan menuju ruangan khusus itu, salah satu dari dua orang itu terlihat menelepon seseorang.
"Bos! wanita gila itu sedang bersama seorang pria, aku menduga itu suaminya," ucap pria misterius.
"Pantau terus, jangan sampai lolos, aku ingin segera membawa Haruka bersamaku dan menyiksanya," perintah sang bos.
"Baik bos," jawab sang pria misterius.
Sang pria misterius menyimpan ponselnya di dalam saku celananya, saat ia masih memantau Haruka dan Lewis, Nea dan sang suster kembali.
Keduanya salah tingkah dan berjalan pergi, Nea yang curiga dengan dua orang asing itu berusaha mengejarnya, namun dia kehilangan jejak.
"Ada apa nyonya?" tanya suster yang melihat Nea seperti sedang mengamati sesuatu.
"Tidak ada apa-apa sus," Nea berusaha menutupi apa yang baru saja ia lihat.
"Kalau begitu, lebih baik anda ikut masuk, saya masih harus memeriksa tekanan darahnya," ucap sang suster.
"Tidak sus, aku di sini saja," ucap Nea yang tidak ingin mengganggu kebersamaan suaminya dengan Haruka.
Sang suster masuk ke dalam, dia senang karena Haruka bisa tenang, dia sudah tidur di pelukan sang suami.
"Anda hebat tuan," bisik sang suster.
Lewis tersenyum sambil melepaskan diri dari Haruka yang memeluknya, namun Haruka tak mau melepas pelukan itu, alhasil Lewis harus menemani Haruka untuk beberapa saat lagi.
Sambil memeriksa tekanan darah Haruka, sang suster memuji Nea. Dia menganggap Nea adalah isteri yang pengertian.
"Dia isteri terbaik dan wanita hebat yang pernah aku temui, dia sangat baik," ucap Lewis memuji isterinya sendiri.
"Jika isteri anda baik, mengapa anda memiliki dua isteri? itu sama saja dengan menduakan nyonya Nea," Sang suster merasa jika ada kesalahan di rumah tangga Nea dan Lewis.
__ADS_1
"Ada banyak hal yang tidak perlu di jelaskan sus, semua sudah terjadi, aku hanya mampu memperbaiki sikap dan sifatku agar lebih memprioritaskan keluarga daripada segalanya," ucap Lewis. Dia membelai rambut Haruka yang tidur di pelukannya.