
Di dalam perusahaan Lewis, santer terdengar pernikahan keduanya dengan Haruka. Banyak orang yang mencoba mengkonfirmasi hal ini, karena kabar tersebut terlalu mengganggu, Lewis akhirnya mengadakan konferensi pers di kantornya di hadiri oleh media, dan para koleganya. Pertanyaan yang mereka ajukan, semua hampir sama, Lewis dengan tegas menjawab jika kabar itu memang benar adanya. Saat salah satu wartawan bertanya tentang alasan Lewis yang menikah lagi, pria itu dengan jujur mengakui kesalahannya yang telah menduakan cinta sang isteri, wanita yang di nikahinya adalah mantan kekasihnya dulu. Media tersentak, banyak orang yang menyayangkan peristiwa ini terjadi, tetapi mau bagaimana lagi? nasi telah menjadi bubur. Imbas dari kejujurannya adalah, saham perusahaannya semakin hari semakin turun, para kolega kabur, dia meminjam uang kepada bank untuk menutup biaya operasional kantornya. Sudah seminggu ini Lewis lembur dalam bekerja karena banyak orang kepercayaannya yang resign, dia merasa tidak berdaya.
Saat dia sedang meratapi nasibnya, tiba-tiba Nea menelpon dirinya.
"Suamiku, aku melihat di televisi jika kau telah melakukan konfrensi pres tentang pernikahanmu dengan Haruka, apa itu benar?" tanya Nea.
"Iya, maaf Nea, semua ini salahku," jawab Lewis.
"Berita ini baru saja aku dengar, mengapa kau tidak mengatakan apapun padaku?" tanya Nea.
"Biarkan saja, ini karma untukku karena mengkhianati isteriku," jawab Lewis.
"Awak media begitu kejam padamu, beritanya terlalu di lebih-lebihkan, pantas saja selama ini kau kerja lembur, Setelah sampai di mansion, kita bicarakan lagi hal ini," ucap Nea.
"Apa kau masih mau mempertahankan perusahaan yang sedang di ambang kebangkrutan ini?" tanya Lewis ragu.
"Sebelum semuanya benar-benar berakhir, kita coba dulu, kedua orang tuamu sedang berada di rumah nenek yang berada di luar kota, usahakan saat mereka kembali, tidak ada hal semacam ini terjadi," jelas Nea.
"Baiklah, dua puluh menit lagi aku kembali," tukas Lewis.
Lewis memasukkan ponsel di saku celananya, dengan terburu-buru, dia bangkit dari tempat duduknya sembari meraih tas kerjanya.
Saat Lewis keluar dari ruangannya, salah satu karyawannya mengatakan jika ada demo di luar, dia merasa terpojok. Tetapi dia harus menghadapi serangan dari sekitar 200 pekerja yang harus di PHK olehnya imbas dari pernikahannya dengan Haruka yang membuat perusahaannya jatuh dari persaingan bisnis.
...(Perusahaan Lewis)...
Dengan gagah Lewis menemui pendemo bersama seorang sekretarisnya, banyak orang yang menghujat, melemparinya dengan telur dan tomat busuk. Tetapi dia tetap tenang.
"Maaf untuk segala kesalahan saya, tapi saya mohon jangan membuat keadaan menjadi lebih parah lagi, saya akan memberikan pesangon yang layak untuk para karyawan, jika dalam satu bulan perusahaan ini tidak bisa bangkit, saya siap menutup perusahaan ini, terimakasih," ucap Lewis dengan gentlenya.
Dia menerobos para karyawan yang masih menatapnya dengan sinis dan penuh kebencian. Suara orang bersahut-sahutan menjelek-jelekkan namanya. Para karyawan yang menggunakan banyak spanduk untuk memprotes kebijakan perusahaan Lewis yang dinilai sepihak itu, tetapi kekecewaan itu berakhir saat sekretaris Lewis datang dan mendata 200 orang tersebut, atas usulan dari Lewis, semua pendemo masing-masing mendapatkan pesangon 15juta perorangnya, mereka senang karena bisa mendapatkan pesangon yang layak, bukan hanya tiba-tiba berhenti bekerja dan semuanya telah selesai.
Lewis telah berhasil menjauh dari para pendemo yang mulai tenang itu. Setelah sampai di parking area, dia segera masuk ke dalam mobil dan segera pulang ke mansion utama.
__ADS_1
...(Parking area)...
Di sepanjang perjalanan menuju ke mansion, Lewis menyadari banyak hal, dia mulai merenungkan kesalahannya, dia merasa jika bisnis dan keluarga harus berjalan beriringan. Tidak boleh diantara keduanya yang lebih unggul.
"Hidupku menjadi kacau karena pernikahan keduaku, aku merasa jika Tuhan sedang memberikan cinta kasihnya padaku," tukas Lewis sembari fokus dalam menyetir.
Setelah menempuh perjalanan selama dua puluh menit, akhirnya sampailah dia di mansion utama, di depan pintu gerbang, Nea sudah berdiri menunggu kepulangannya. Mobil Lewis berjalan pelan menuju tempat Nea berdiri saat ini, bau busuk yang berasal dari tomat serta telur busuk itu kembali tercium, Nea secara refleks menutup hidung dengan kedua tangannya.
"Ne, siapkan baju dan air hangat, setelah ini aku akan mandi di kamarmu," pinta Lewis.
"Baiklah, tetapi mengapa kau bau sekali suamiku?" tanya Nea yang masih menutup hidungnya.
"Nanti aku jelaskan," jawab Lewis.
Lewis memarkirkan mobilnya kemudian turun dari mobil mewahnya, pria itu tidak langsung masuk ke dalam mansion melewati pintu depan, tetapi dia lewat pintu belakang.
Dia langsung menuju kamar Nea lewat dapur, untung saja tidak ada yang memergokinya melepas sepatu dan menentengnya di tangannya.
KLEK
Pintu kamar Nea terbuka, tak di sangka saat pintu terbuka, bukannya ada Nea, tetapi justru di licik Haruka yang sedang duduk di atas ranjang sedang menonton televisi.
"Hoek...hoek," Haruka langsung mual saat Lewis masuk ke dalam kamar Nea.
"Dia mengejekku atau bagaimana? aku datang langsung mual," gerutu Lewis.
"Haru, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Lewis.
"Kak Nea yang memintaku datang, dia bilang ingin menyampaikan sesuatu yang penting, tetapi justru kau yang datang, kau bau sekali Lewis," ledek Haruka.
"Aku tidak percaya," ucap Lewis.
Dia melewati Haruka dan langsung masuk ke dalam kamar mandi.
__ADS_1
...(Kamar mandi)...
Saat dia masuk ke dalam, Nea telah selesai mempersiapkan air hangat untuk sang suami.
"Kau mau mandi bersamaku?" goda Lewis.
"Bukan saatnya untuk bercanda, segera bersihkan tubuhmu, baju ganti dan handukmu sudah ku persiapan di dalam," tukas Nea.
"Oke, terima kasih sayang," jawab Lewis.
Nea hanya mengangguk dan pergi begitu saja.
Sepuluh menit kemudian...
Kini Haruka, Nea dan Lewis telah berkumpul, mereka mulai membahas masa depan perusahaan Lewis. Mereka duduk di satu ranjang yang sama.
"Aku akan membantumu suamiku," ucap Haruka.
"Kau sedang hamil, jangan berpikir terlalu keras," pinta Lewis.
"Tapi aku adalah mantan sekretarismu, kau juga lulusan terbaik di kampusku, aku lebih tahu seluk beluk perusahaanmu," tukas Haruka.
"Ini bukan masalah berhak atau tidak berhak, ini mengenai masa depan perusahaan," jelas Nea.
"Lalu, apa yang akan kak Nea lakukan?" tanya Haruka.
"Aku yang akan membantumu suamiku, aku sudah terbiasa mengalami hal kritis seperti yang kau alami, kita bisa bekerjasama membuat perusahaan bangkit kembali," jawab Nea.
"Kau memang cerdas isteriku," puji Lewis.
"Ehm," Haruka berdehem.
"Iya, kau juga cantik," ucap Lewis.
Nea meminta berkas perusahaan Lewis, dia mulai mempelajarinya, setelah beberapa menit membacanya, dia memahami dan segera mengeksekusinya.
"Haru, kau di sini dulu ya? aku pinjam suamimu sebentar, kami ingin membahas masalah perusahaan," pamit Nea.
__ADS_1
"Dia suamimu juga kak, kau juga berhak atasnya, aku di sini saja tidak masalah," jawab Haru dengan senyum palsunya.