Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)

Berbagi Cinta : STRONG WOMAN (NEA)
Ternyata aku salah menilaimu


__ADS_3

Sore itu langit begitu gelap, gumpalan awan hitam masih betah berada di atas sana. Meskipun begitu, rintikan hujan tak jua jauh ke bumi. Di dalam sebuah kamar mewah, ada seorang wanita dengan wajah sendu menatap lurus keluar jendela, dia seperti sedang menunggu kepulangan seseorang.


"Suamiku, mengapa kau tidak memberiku kabar?" ucap wanita bernama Nea itu yang masih betah berdiri di depan jendela sejak dua jam yang lalu karena dia bosan jika harus merebahkan tubuhnya terlalu lama di atas ranjang.


Sang suami tak kunjung memberinya kabar, entah karena apa. Nea menjadi sangat khawatir, dia mencoba menelpon sang suami. Tetapi tak juga ada jawaban. Kali ini, Nea benar-benar merasa sendiri dan kesepian.


Nea mencoba untuk menerima keadaan ini, tidak ingin menyesali atau mengutuk seseorang karena kisah cintanya yang harus di bagi itu.


Tanpa Nea sadari, sang suami telah berada di belakangnya, Lewis langsung melingkarkan kedua tangannya di pinggang sang isteri.


"Astaga!" pekik Nea.


Saat Nea menoleh, ia langsung menatap wajah sang suami yang kini sedang memeluk mesra tubuhnya.


"Honey? apa yang sedang kau lakukan di sini?" tanya Lewis lembut.


"Menunggumu sayang," jawab Nea.


"Maaf honey, aku tidak bisa mengabarimu, ponselku mati karena aku lupa mencharge tadi malam, apa kau marah?" tanya Lewis berbisik di telinga Nea.


Rasa ini sangat aneh, dia tiba-tiba merinding seluruh badan saat bibir sang suami mengecup tengkuknya.


Ini kali pertama Nea merasakan hal ini, entah karena apa, dia juga tidak mengerti.


"Honey, kau lebih sensitif dari sebelumnya," goda sang suami.


"Aku hamil," jawab Nea.


Seketika mata Lewis terbelalak, dia melepaskan pelukan itu dan langsung mencium perut yang isteri yang masih rata itu.


Pria itu merasa sangat bahagia, dia tidak menyangka akan mendapatkan rejeki lagi.


"Beribu-ribu syukur kepada Tuhan, aku memiliki dua isteri yang akan memberikanku keturunan," Lewis tiada henti mengucapkan syukur pada sang pencinta.


Setelah Nea mengatakan kabar kehamilan dirinya kepada sang suami, Lewis menjadi lebih perhatian dan selalu ingin dekat dengan Nea. Tidak seperti kehamilan sebelumnya, Lewis begitu sibuk dengan urusan pekerjaan.


Nea merasa sikap Lewis sudah mulai dewasa dalam menyikapi sifat Haruka yang berbeda dengannya, ini terbukti dengan dirinya yang seharian ini menemani Haruka pergi memeriksakan kandungannya, serta mengajaknya jalan-jalan.


"Kau harus sering-sering mengajaknya pergi keluar, dia juga isterimu, bahagiakan dia," pinta Nea.


"Pasti honey, aku akan membahagiakan kalian berdua," ucap Lewis.


Lewis meminta Nea beristirahat, sang isteri menuruti permintaan suaminya. Setelah Nea naik ke atas ranjang dan merebahkan tubuhnya di sana, tak di sangka, Lewis tiba-tiba melepas sepatu serta jasnya. Sang suami dengan santainya merebahkan tubuh kekarnya di samping Nea, dia ingin menemani sang isteri yang sedang mengandung anaknya itu.

__ADS_1


"Honey, aku ingin memelukmu dan anak kita sampai pagi menjelang, malam ini aku tidur bersamamu ya?" tanya sang suami dengan penuh kasih agar mendapatkan izin dari Nea.


"Malam ini kau bersama Haruka, temani dia, aku tidak mau dia iri padaku, karena saat hamil, seorang wanita akan lebih peka," jelas Nea.


"Tapi sayang? aku ingin bersamamu," rengek Lewis.


"Lama-lama kau seperti si kembar, ahli dalam merengek," ledek Nea.


"Aku akan bilang kepada Haruka. Apalagi Haruka sudah aku ajak pergi bersamaku seharian ini, jadi tidak ada salahnya aku menemanimu malam ini," ucap Lewis masih terus memeluk sang isteri tanpa ada keinginan untuk melepasnya.


"Tidak ada yang salah, tapi menghindari kesalahpahaman," pinta Nea.


"Oke, aku turuti semua keinginanmu, tapi izinkan aku untuk di sini sebentar saja," jawab Lewis penuh harap.


"Baik sayang," tukas Nea.


...* * *...


Di meja makan, saat makan malam...


"Dimana Nea?" tanya sang ibu.


"Ada di kamarnya bu," jawab Lewis.


"Nea baik-baik saja, setelah ini, aku akan membawakan makan malam untuknya," tukas Lewis dengan penuh semangat.


"Bagus Nak, kau harus lebih perhatian kepada isterimu saat hamil," Ibu mertua menatap tajam ke arah Haruka yang terlihat murung karena Lewis terlihat lebih peduli pada Nea.


"Tentu saja, sebagai suami harus menjaga dua isteriku yang sedang mengandung anakku, bukan begitu Haruka?" Lewis menggenggam tangan Haruka dan mencoba menghiburnya.


Haruka merasa bahagia karena Lewis membelanya di depan semua anggota keluarga, Amaya dan Meylan acuh, mereka muak melihat drama saat makan malam ini.


"Sayang, aku antar ke kamarmu ya?" Lewis beranjak dari tempat duduknya, tangannya menggenggam jemari Haruka.


"Jangan terlalu memanjakan istrimu Lewis, biarkan dia berjalan sendiri," Ibu mertua sangat ketus, dia terlalu kentara menyatakan pendapat pribadinya yang terkesan membenci Haruka.


"Tidak perlu sayang, aku bisa berjalan sendiri," Haruka melepaskan genggaman tangan Lewis. Lewis masih merayu Haruka agar mau di antar ke ke kamar olehnya, tetapi Haruka sudah terlanjur sakit hati, wanita itu segera meninggalkan meja makan karena merasa sangat terhina dengan ucapan sang ibu mertua.


Lewis merasa jika Haruka marah, saat ingin menyusul sang isteri, kedua anaknya merengek ingin pergi ke kamar untuk bertemu adik dan mommynya.


Lewis meminta pelayan menyiapkan makanan sehat untuk Nea, setelah itu, Lewis akan mengantarkan menu makan malam sehat kepada Nea.


Amaya dan Meylan mengekor langkah Haruka dan mencoba menenangkannya.

__ADS_1


"Sudahlah, tidak perlu kau pikirkan ucapan ibu mertuamu, setelah ini, mari aku bantu balas dendam," ucap Meylan berbisik.


Tidak seperti sebelumnya, Haruka tidak memperdulikan ucapan sang ibu karena rasa hancur dan hampa yang ia rasakan karena menjadi isteri yang tersingkirkan.


Dia berjalan lebih cepat dari Amaya dan Meylan, kedua anggota keluarganya itu merasa heran dengan perubahan sikap Haruka yang tidak bermulut pedas lagi.


"Ibu, kita harus segera mengingatkan kakak tentang tujuan awal datang kemari, kalau dia terlalu terbawa perasaan, gagal rencana kita menjadi orang kaya," celetuk Amaya.


"Kau bisa diam tidak gadis kecil? setidaknya pelankan suaramu, di sini banyak agen rahasia yang siap menangkap basah, jika kita tidak berhati-hati dalam bersikap," Meylan menarik telinga Amaya agar jera dan tidak mengulangi kesalahannya.


...* * *...


Di kamar Nea...


Lewis membawa nampan berisi menu makan malam sehat untuk ibu hamil dan segelas susu, dia masuk ke dalam kamar Nea bersama kedua buah hatinya.


Lewis duduk di samping ranjang dan meletakkan nampan itu di atas meja di samping ranjang.


"Mommy!" pekik Fea dan Fany yang langsung memeluk tubuh sang mommy.


"Maafkan kami mom, Fea dan Fany janji akan berangkat sekolah tepat waktu dan selalu menjaga adik bayi," ucap kedua anak kembarnya yang memeluk di sisi kanan dan kiri tubuhnya.


"Terima kasih , malaikatku! kalian anak yang baik dan rajin, adik bayi pasti akan menyukai dan menyayangi kalian," Nea mempererat pelukannya, dia merasa bahagia karena di saat sedang hamil anak ketiga, kedua anak dan sang suami ada di sampingnya.


"Sayang, kau makan dulu ya?" pinta Lewis.


"Iya," jawab Nea.


Kedua anak kembarnya juga ingin menyuapi sang mommy, Lewis mengizinkankannya.


Di sela makan malamnya di dalam kamar, Nea bertanya bagaimana keadaan Haruka, Lewis mengatakan jika Haruka terlihat bersedih.


"Honey, aku mau bicara dengan Haruka sebentar, setelah itu, aku akan kembali," ucap Lewis.


"Baik sayang," jawab Nea.


"Fea dan Fany, jaga mommy ya? daddy keluar sebentar," pamit Lewis.


"Siap dad," tukas keduanya serentak.


Nea merasa terharu saat melihat sikap Lewis yang berusaha adil kepadanya dan Haruka. Tanpa ia sadari, air mata lolos dari sudut matanya.


'Lewis, tetaplah seperti ini, tidak ada wanita manapun di dunia ini yang sanggup berbagi cinta, tetapi saat kau berusaha adil kepada kami berdua, semuanya akan berjalan dengan baik dan manis,' batin Nea.

__ADS_1


__ADS_2