
Sejak Lewis memperlakukan kedua isterinya dengan baik, keberuntungan bertubi-tubi menghampirinya. Sebagai contoh adalah nasib perusahaan miliknya semakin lama semakin moncer saja, L.H.S skincare telah melewati masa krisisnya. Selain itu, kedua mertuanya sudah mulai memahaminya, sikap kedua orang tua Lewis kepada Haruka mungkin tidak sebaik Nea, tetapi lebih baik dari sebelumnya. Ada banyak kejutan di dalam hidup Lewis dan keluarga setelah Nea hamil, ini adalah berkah dari sang maha kuasa.
Hari ini adalah jadwalnya Lewis bersama Nea. Setelah sarapan selesai, Lewis mengajak Nea mengantar kedua anaknya berangkat ke sekolah. Saat Nea memandang wajah Haruka, nampak raut tidak suka, Nea mengatakan jika dia sedang tidak ingin pergi kemana-mana. Lewis memaksa karena kemarin waktunya sudah habis bersama Haruka, dia ingin sekali pergi bersama Nea hari ini.
Karena sang suami setengah memaksa, akhirnya Nea menyetujui permintaan suaminya. Nea, Lewis dan kedua anaknya berpamitan dengan ibu dan ayah Lewis. Haruka yang tidak menyukai pemandangan ini, segera melarikan diri. Nea menatap Haruka yang perlahan pergi dari meja makan itu, dia merasa jika ada yang tidak beres dengannya.
"Honey? apa yang kau lihat? ayo kita pergi," Lewis mengajak Nea untuk segera pergi karena khawatir si kembar akan telat berangkat sekolah.
"Oh, iya. Maaf, aku sedang memikirkan banyak hal," jawab Nea, dia kemudian mengekor langkah Lewis yang sudah berjalan menuju pintu utama bersama si kembar.
Mobil telah siap, mereka berempat masuk ke dalam mobil. Kali ini Lewis yang menyetir karena dia ingin menikmati waktu bersama isteri dan kedua anaknya. Tak lama setelah itu, mobil mewah Lewis melaju perlahan meninggalkan mansion utama.
Di dalam mobil...
Fea duduk di jok depan bersama Lewis dan Fany bersama Nea di jok belakang. Terlihat raut bahagia di wajah si kembar.
"Daddy harusnya lebih sering bersama kami, mengantar kami berangkat sekolah, mengajak kami makan di restoran, bermain di taman hiburan," ucap Fea mengungkapkan pendapatnya.
"Iya, benar kata Fea, Fany juga memiliki keinginan yang sama dengan Fea dad," timpal Fany yang juga ingin bersama daddy setiap saat.
"Baiklah, untuk hari ini daddy akan libur untuk menemani Fea dan Fany seharian ini, apa kalian senang?" tanya Lewis.
"Ye...,daddy memang the best!" ucap Fea, dia langsung memeluk dan mencium pipi daddy yang ada di sampingnya itu.
"Iya sayang, i love you too," jawab Lewis.
"Daddy hanya love dengan Fea? daddy jahat," gerutu Fany.
"Tidak sayang, daddy love Fany juga," rayu Lewis.
Lewis melihat dari spion tengah mobil, dia melihat sang isteri sedang gelisah melihat ke arah luar jendela.
"Isteriku? apa yang kau pikirkan? ada yang sesuatu yang mengganggumu?" tanya Lewis khawatir.
"Oh, tidak ada sayang, hanya saja aku sedikit pening," jelas Nea.
"Mommy, nanti kita akan jalan-jalan, mommy tidak perlu merasa pening, Fea dan Fany janji tidak nakal, oke?" pinta Fany sembari memeluk tubuh sang mommy.
"Anak mommy memang sangat perhatian, mommy tidak apa-apa, nanti kita jalan-jalan bersama," jawab Nea.
__ADS_1
"Hore...jalan-jalan," sorak si kembar bahagia.
Beberapa menit kemudian...
Mobil Lewis telah terparkir di depan sekolah si kembar. Ke empat orang itu keluar dari mobil mewah sang daddy, kini si kembar harus berpisah dengan kedua orang tuanya karena waktu belajar segera di mulai.
"Mommy, daddy, kami sekolah dulu," pamit Fea.
"Baik sayang, belajar yang giat ya? fighting!" ucap Nea sambil mencium kening kedua anaknya.
Lewis juga tak mau kalah, dia juga ingin memberikan kesan yang baik sebelum kedua anaknya pergi belajar.
"Daddy punya hadiah untuk kalian," ucap Lewis.
"Apa itu dad?" tanya Fea.
"Buku dongeng putri impian, ini khusus daddy pesan dari penulisnya langsung, apa kalian menyukainya?" tanya Lewis.
Dia memberikan dua buku dongeng yang sangat di Inginkan si kembar, keduanya menerimanya dengan senyum yang merekah.
"Sayang daddy," ucap si kembar serentak.
Kedua anaknya menyuruh sang daddy berjongkok agar bisa mencium pipi kanan dan kiri daddynya.
"Kau sangat perhatian kepada mereka," ucap Nea yang menatap si kembar yang perlahan lenyap dari pandangan matanya.
"Dia anakku, apa yang harus aku ragukan, perhatian ini sudah sepantasnya mereka dapatkan, " jawab Lewis.
"Mengapa kau libur bekerja? apa semua baik?" tanya Nea.
"Semua baik sayang, yang tidak baik-baik saja ku rasa dirimu," celetuk Lewis sembari menatap wajah sang isteri yang berdiri di depannya.
"Setelah sekian lama kita tidak bisa menghabiskan waktu bersama, pada akhirnya kesempatan itu hadir, harusnya kau merasakan kebahagiaan yang sama sepertiku," jelas Nea penuh misteri.
"Kau pasti sedih karena kemarin aku tidak bisa menemanimu periksa ke dokter," ucap Lewis merasa bersalah.
"Aku hanya berpikir ada yang aneh dengan Haruka, dia lebih sering diam dan menyendiri, apa dia pernah mengatakan padamu jika ada masalah yang ia hadapi?" tanya Nea.
"Tidak, dia tidak mengatakan apapun kepadaku, lagi pula saat ini adalah jadwalku bersama denganmu, jangan biarkan kebersamaan ini hambar karena Haruka," jawab Lewis.
__ADS_1
Nea terdiam, dia masih saja memikirkan sikap angkuh dan dingin Haruka yang beberapa hari ini di tunjukan olehnya.
Lewis ingin sang isteri tidak terlalu memikirkan hal yang buruk, dia meminta Nea masuk ke dalam mobil karena sang suami akan membawanya periksa kandungan ke rumah dokter Hanum.
...* * *...
Di kamar utama...
Haruka berjalan mondar-mandir dengan ponsel di tangannya, sudah satu bulan yang lalu dia menyelidiki Robin yang ternyata adalah pria yang pernah ada di hidup Nea. Dia menunggu pesan balasan dari pria itu karena ingin mengajaknya bekerjasama.
Ponsel Haruka berdering, dia menatap nomor ponsel yang ada di layar, setelah tahu yang menelponnya adalah Robin. Wanita itu langsung menjawab panggilan itu.
"Akhirnya, kau menghubungiku juga," ucap Haruka lega.
"Siapa kau? tiba-tiba mengirim pesan tidak jelas," jawab Robin ketus.
"Kau tidak perlu tahu siapa aku, aku hanya ingin kau membantuku menjauhkan Lewis dan Nea," pinta Haruka.
"Siapapun kau, aku tidak butuh bantuanmu, aku bisa melakukannya dengan caraku sendiri," tukas Robin.
Robin langsung menutup panggilan telepon itu, Haruka kesal. Kartu As Nea yang sangat penting menghilang begitu saja.
Haruka memutar otak, dia hanya menemukan nama Meylan dan Amaya saat memikirkan cara untuk membuat Lewis berpisah dengan Nea.
"Mau tidak mau, aku harus meminta tolong kepada ibu dan adikku," ucap Haruka.
Dia menelpon sang ibu yang sedang berada di luar kota.
"Kapan ibu dan adik pulang?" tanya Nea.
"Nanti malam, ada apa tiba-tiba menelponku?" ucap Meylan heran.
"Aku butuh bantuanmu," jelas Haruka.
Haruka menjelaskan akar permasalahannya, setelah sang ibu memahaminya. Dia mau membantu Haruka asal ada imbalan berupa uang senilai 100 juta. Haruka terhenyak, uang sebanyak itu, dia tidak memilikinya.
"Apa kau tidak waras?" ucap Haruka kesal.
"Imbalan besar untuk pekerjaan yang besar, jika setuju aku akan membantu, jika tidak, lakukanlah sendiri," jawab sang ibu.
__ADS_1
"Terserah kau saja, aku setuju bekerjasama denganmu, yang penting Lewis hanya akan menjadi milikku," jelas Haruka.
Wanita itu menutup panggilan ponselnya, dengan senyum menyeringai, dia berkata," Kalian tidak pantas untuk bahagia, sebentar lagi aku akan menjadi satu-satunya nyonya muda di mansion ini,"