
Di meja makan...
Nyonya Wijaya, Lewis, Nea, Myka dan si kembar duduk bersama di satu meja makan. Mereka terlihat sangat akrab. Si kembar duduk berdampingan bersama Myka, mereka terlihat sangat akrab meskipun sudah lama tidak bertemu. Nea masih memikirkan tentang Peter yang menjadi masa lalu Myka. Dia khawatir jika Lewis keceplosan menceritakan tentang Peter kepada ibunya.
Situasi di meja makan terasa hening, hanya suara gesekan piring dan sendok yang terdengar. Sesekali juga terdengar suara rengekan Fea yang ingin disuapi oleh Myka, tapi karena Fany juga ingin disuapi, mereka saling berebutan. Nea mencoba menengahi, dia bangkit dari kursinya dan mengajak Fany untuk makan bersamanya. Untung saja Fany tidak menolak, akhirnya keributan pun berhasil diredam.
"Myka bagaimana kabar Jo?" tanya nyonya Wijaya.
"Aku tidak tahu bibi, karena aku tidak menghubunginya. mungkin saja nanti malam aku akan menanyakannya, karena aku ingin mengganti rugi body mobilnya yang rusak," jawab mika.
"Oh baguslah semoga hubunganmu dengan dia menjadi baik lagi," ucapnya Wijaya berharap.
Nea dan Lewis saling bertatapan, mereka berdua khawatir dengan hubungan antara Jo dan Myka. jika semakin lama didiamkan, akan sangat menghawatirkan. Tetapi dia tidak bisa memutuskannya sepihak, dia harus berdiskusi dulu dengan Lewis.
Saat keduanya dalam kebingungan, Lewis mendapatkan panggilan dari detektifnya. Ia segera pamit menuju kamarnya dengan alasan sudah kenyang dan masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan. Semuanya tidak curiga dengan alasan Lewis, semua orang mengizinkan Lewis pergi terlebih dahulu.
Sesampainya di kamar...
Lewis mengunci kamarnya dan segera menjawab panggilan telepon sang detektif.
"Bagaimana? apa kau berhasil menemukan Peter?" tanya Lewis yang tidak sabar mendengar jawaban sang detektif.
"Dia tinggal di sebuah rumah mewah bos, alamatnya nanti aku kirimkan," jawab sang detektif.
"Bagus, untuk kali ini, jangan berharap untuk lepas dariku, Peter!" ucap Lewis.
Dia mematikan panggilan itu, kemudian memeriksa isi dari pesan singkat. Saat pesan singkat itu telah terbaca, ia tersenyum karena alamat itu berada di kota ini.
__ADS_1
"Kau akan segera kami ringkus, membusuklah di penjara! Peter!" ucap Lewis dengan senyum bahagia.
Dia menunda rencana membahas kerjasama perusahaannya dengan perusahaan sang ayah mertua. Dia dan detektif sewaan akan pergi menuju alamat tempat tinggal Peter.
Setelah menyiapkan segalanya, Lewis membuka pintu sedari tadi ia kunci. Saat ingin berjalan menuju garasi mobil, langkahnya terhenti karena sang ibu mertua menegurnya.
"Kau mau ke mana Lewis?" tanya sang ibu mertua.
"Iya suamiku, kau mau kemana? buru-buru sekali," ucap Nea yang heran.
"Ada sedikit masalah Di kantor, jadi aku harus segera menyelesaikannya," jawab l yang langsung mengambil langkah seribu agar tidak diintrogasi terlalu jauh oleh ibu mertua dan istrinya.
'Ada apa dengan suamiku, mengapa dia berbeda? Aku harap semuanya baik-baik saja,' batin Nea.
Nea yang merasa aneh dengan sikap Lewis, mencoba untuk berpositif thinking. Dia percaya dengan apa yang dilakukan oleh suaminya.
"Maaf sayang, mommy tadi sedang berbicara penting dengan daddy, ayo sekarang buka mulutmu lebar-lebar! pesawat tempur akan masuk ke dalam mulutmu... hitung sampai 3... satu...dua...tiga...nyam, nyam. Pesawat tempur telah mendarat sempurna!" Nea menghibur sang puteri dengan cara menyuapinya dengan cara yang unik.
"Enak mommy," jawab Fea senang.
"Mommy! suapi aku! aku juga mau, suapi aku dengan pesawat tempur!" pinta Fany.
Ibu Nea merasa bahagia karena kedua cucunya tumbuh sehat dan ceria. Namun kebahagiaan itu berbanding terbalik dengan apa yang dirasakan oleh Myka. Gadis itu merasa gelisah Sejak pertama kali berada di meja makan. Seperti ada sesuatu yang mengganjal di hatinya yang membuat dirinya begitu lesu dan sendu.
Nea mengetahui kesulitan dari Myka, dia mencoba menghiburnya.
"Ayo Myka! kita pergi ke mall bersama si kembar, sudah lama kita tidak pergi ke sana bersama," saya mencoba mengalihkan perhatian Myka yang iya tahu hanya memikirkan Peter.
__ADS_1
"Iya Myka, kau harus jalan-jalan dulu sebelum kembali ke Australia, besok lagi belum tentu kau bisa bertemu dengan si kembar dan Nea, Kau mau kan menuruti permintaan bibi?" ucap sang bibi.
Karena dipaksa oleh Nea dan nyonya Wijaya, akhirnya Myka mau juga berjalan-jalan bersama Nia dan kedua anaknya.
"Kita langsung berangkat saja tidak perlu berdandan," Myka sembari beranjak dari tempat duduknya.
"Baiklah," jawab Nea yang segera membersihkan sisa makanan yang ada di bibir Fea.
Si kembar telah selesai makan, mereka berangkat menuju mall diantar oleh seorang sopir pribadi keluarga Wijaya.
Sebelum benar-benar pergi, berpamitan kepada ibunya. Sang ibu mengizinkan, dia mengatakan kepadanya untuk berhati-hati. harus menjaga anak-anaknya dengan baik, jangan sampai teledor, itu hanya di mall.
Nea mengangguk, mereka berempat sudah masuk ke dalam mobil. sang sopir pribadi segera menghidupkan mesin dan melajukan kendaraannya dengan perlahan. Beberapa menit berlalu, mobil itu telah menjauh dari rumah mewah Nea.
Myka masih terlihat murung, yang membelai rambut Myka dengan lembut, ia berkata, "Kau jangan memikirkan Peter lagi jika tidak menginginkannya. Kau adalah wanita yang baik dan sangat cantik. Masih banyak pria diluar sana yang mencintaimu lebih tulus dari Peter," mea mencoba menghibur adik sepupunya.
"Iya kak, semoga saja aku bisa melupakannya dengan segera. Aku merasa sesak di dada saat harus mengenang segalanya tentang Peter," jawab Myka dengan berlinang air mata
'**P**esona Peter memang tidak bisa diragukan lagi, dia adalah pria yang menyebalkan tapi juga seorang pemain cinta. Tidak salah jika Haruka tertipu olehnya, tetapi untung saja, Haruka tidak terjerumus terlalu dalam meskipun dia menjadi incaran Peter. Dia sekarang lebih aman karena berada disisiku dan Lewis. Terlebih lagi, dia berada di rumah sakit, di sana ada orang-orang suruhan Lewis yang akan siaga 24 jam menunggunya,' batin Nea.
Nea segera memeluk tubuh Myka, dalam dekapannya, Myka menangis sejadinya.
"Lupakan saja segalanya, menangislah sepuas yang kau mau, jika itu mampu melegakan hatimu. Setelah kau berhenti menangis, lupakan Peter. buat hidupmu lebih bersemangat dan berguna. aku akan membantumu melupakannya," ucap Nea sembari mengusap rambut Myka pelan.
"Terima kasih kak, kau selalu ada saat aku sedih dan di saat aku membutuhkanmu. Maafkan aku yang selalu merepotkanmu," jawab Myka masih dengan isak tangis.
"Aku merasa senang kau repotkan, tidak perlu sungkan. Kita kan satu keluarga, berhentilah mengharapkan sesuatu yang belum tentu bisa kau dapatkan," Nea berhasil membujuk Myka. Gadis itu kini merasa lebih tenang.
__ADS_1