
Di rumah sakit...
Nea sudah sekitar satu jam duduk di bangku yang di sediakan oleh rumah sakit. Bangku itu berada di depan pintu ruangan khusus.
"Sayang?" Tiba-tiba sebuah suara membuyarkan lamunannya.
Nea menatap lurus ke depan, ternyata suara itu milik sang suami yang telah menyelesaikan urusannya dengan isterinya yang lain.
"Ayo kita pulang," ajak Lewis sembari ia meraih tangan Nea.
"Apa Haruka baik-baik saja?" tanya Nea masih merasa cemas.
"Di sini banyak tenaga kesehatan, kau tidak perlu merasa khawatir berlebihan, kita pulang saja dulu, aku rindu sekali dengan Jacob, ah...sedang apa dia?" jawab Lewis yang tak mau ambil pusing masalah Haruka.
"Iya, tapi tetap saja, ehm...kau harus meminta bantuan orangmu untuk menjaga ruangan khusus ini, aku takut ada yang tidak suka dengan Haruka dan ingin berbuat buruk padanya," saran Nea mengingat tadi ia mencurigai seorang misterius yang datang ke rumah sakit itu dan berdiri di depan ruang khusus.
Lewis merangkul pundak Nea, dia berkata jika selama ada dia, Nea dan Haruka akan aman. Dia setuju untuk menyuruh orangnya menjaga Haruka di rumah sakit itu. Nea berterimakasih kepada sang suami.
Mereka berdua berjalan bersama menuju tempat parkir rumah sakit. Setelah sampai di sana, keduanya naik mobil untuk bergegas pulang ke rumah.
Sepanjang perjalanan menuju rumah, mereka berdua membicarakan tentang langkah selanjutnya untuk mencari orang yang meneror Nea.
"Aku akan meminta detektif sewaan untuk mencari tahu hal itu, kau tenang saja. Harusnya hari ini aku akan datang ke kantornya, tetapi aku terlalu rindu dengan si bungsu," jelas Lewis sembari fokus menyetir.
"Iya, aku juga merasa rindu padanya, seharian ini kita berada di luar, tapi aneh, ibu mertua tidak meneleponku sama sekali, semoga Jack tidak rewel," Harap Nea, dia sudah beberapa kali mengirim pesan singkat, bahkan menelepon nomor telepon sang ibu mertua, tapi tidak di jawab.
"Dia adalah si bungsu yang cerdas sama seperti kakaknya Hiro," Lewis tiba-tiba merasa sedih saat mengenang anaknya, Hiro yang ia kira telah tewas.
"Sayang, anak kita telah berada di sisi Tuhan yang maha esa, dia akan menjadi malaikat. Kau tidak usah mengkhawatirkannya lagi," Nea mengusap pundak Lewis lembut, ia mencoba menenangkan sang suami.
"Aku rindu Hiro," ucap Lewis, raut wajahnya sangat sendu, dia terlihat sedang bersedih.
__ADS_1
"Kapan-kapan kita ke makam Hiro, lebih baik pulang dulu," pinta Nea dengan tersenyum kepadanya.
Lewis mengangguk, setelah beberapa menit kemudian, mereka berdua sampai di mansion utama. Lewis memarkirkan mobilnya di garasi. Keduanya keluar dari mobil bersama-sama.
"Akhirnya sampai rumah juga, kau mandi dulu sayang, nanti aku siapkan air hangatnya," ucap Nea. Dia segera masuk ke dalam lebih dulu, sedangkan Lewis mengekor di belakangnya.
Keduanya di sambut oleh si bungsu. Dalam gendongan pengasuh, Jacob tersenyum bahagia saat melihat kedua orang tuanya telah kembali, Nea mengatakan kepada Jacob jika mereka akan segera kembali, karena akan membersihkan diri terlebih dahulu.
Jacob seperti mengetahui ucapan mommynya, si kecil tidak mempermasalahkan hal itu, dia lebih fokus dengan mainan yang ada di tangannya, yaitu sebuah robot. Nea dan Lewis memanfaatkan kesempatan ini dengan segera masuk ke dalam kamar mereka.
Sesampainya di kamar utama, Nea melangkahkan kedua kakinya menuju kamar mandi untuk menyiapkan air hangat, sedangkan Lewis berada di dekat ranjang melepaskan jasnya, melonggarkan dasi dan kemejanya, membuka kancing baju, kini dia telah bertelanjang dada. Tubuh indah pria itu terlihat jelas di depan cermin. Setelah selesai menyiapkan air hangat, ia memanggil sang suami.
Lewis menghampiri Nea yang berada di depan pintu kamar mandi, "Kau sedang apa?" tanya Nea yang terpesona dengan tubuh atletis sang suami. Sudah sangat lama ia tidak menikmati pemandangan indah ini.
"Kau bisa lihat bukan? aku sedang melepas baju dan celanaku," goda sang suami, ia mendekati Nea yang sejak awal kepergok tak mampu berkutik kala menatap dada bidang dan perut sispack Lewis.
Sang suami menghampiri Nea yang sedang kikuk, "Apa kau terpesona dengan wajah tampanku dan tubuh indahku?" Lewis masih terus menggoda Nea.
Lewis lebih mendekati sang isteri, kini Nea terhimpit di antara tembok dan tubuh kekar sang suami. Lewis meraih kedua tangan Nea dan mengunci dengan kedua tangannya kemudian menempelkan ke tembok, kini Nea tak mampu bergerak. Lewis melewati batasannya, bibirnya kini telah menempel di bibir Nea, ia belum melakukan apapun tapi Nea sudah memejamkan matanya.
"Buka matamu sayang, jangan takut, aku suamimu," pinta Lewis, ia mencoba memprovokasi Nea, bibirnya kini telah bertaut dengan milik sang isteri, namun Nea tidak kunjung membalasnya. Entah sejak kapan mereka terakhir melakukannya, sampai Nea merasa kebingungan dan kaku dalam membalas serangan dari Lewis.
"Apa yang kau lakukan? mengapa diam saja? apa kau lupa caranya berciuman?" Lewis melepaskan tautan bibir itu dan mencium kening Nea.
"Maaf sayang, aku belum siap," Nea masih merasa ada yang aneh dengan apa yang terjadi di antara mereka berdua.
"Oke, lebih baik aku mandi dulu," Lewis mengalah, setelah apa yang terjadi, ia merasa menjadi pria paling jahat jika memaksa sang isteri untuk menuruti ucapannya.
Pria itu melepaskan genggaman tangannya, kini ia segera masuk ke dalam kamar mandi.
Saat sang suami pergi, ia merasa menjadi wanita paling malu sedunia, mereka sudah memiliki tiga orang anak, tetapi masih merasa canggung.
__ADS_1
"Hatiku ingin segera memberikan sepenuh hatiku, tetapi tubuhku terasa berat untuk menerima setiap sentuhan Lewis, huft! tak apa, nanti setelah ini aku akan mencobanya lagi," ucap Nea yang masih berada di depan pintu kamar mandinya.
Saat ia hendak melangkahkan kakinya, sang suami memanggilnya. Alhasil Nea harus segera masuk ke dalam kamar mandi untuk menanyakan apa yang sang suami keluhkan.
"Ada apa suamiku?" tanya Nea yang kini berada di samping bathup, ia tak berkedip saat menatap sang suami yang terlihat semakin tampan dengan rambut basahnya.
"Bantu aku mencuci rambutku," pinta Lewis dengan santainya.
"A-pa?" Nea terkejut mendengar permintaan Lewis.
"Apa? cepatlah kemari sebelum aku keluar dari bathup ini, kau akan lebih malu lagi jika aku melakukannya," Lewis benar-benar menjadi dirinya sendiri, dia kembali menjadi Lewis yang dulu.
"Oh, oke, baiklah!" Nea mendekati sang suami yang sedang asik bermain air sembari menuggu Nea yang menghampirinya.
Setelah jaraknya semakin dekat, Nea terkejut saat tubuhnya di tarik oleh Lewis ke dalam bathup.
"Lewis, apa yang kau lakukan?" tanya Nea dengan mata membulat sempurna. Ia tidak menyangka, setelah sekian lama bersama, Lewis kembali jahil seperti dulu.
Lewis tidak memperdulikan hal itu, dia justru mendekatkan wajahnya ke arah wajah sang isteri, posisi Nea kembali terpojok.
"Kau adalah milikku," Lewis segera menyergap bibir merekah sang isteri dan menenggelamkannya di mulutnya.
Nea mencoba memberontak karena ini kali pertamanya Lewis begitu berani. Tapi saat Lewis menurunkan tempo pertautannya, Nea berusaha untuk mengimbangi sang suami. Airmatanya tiba-tiba menetes, Lewis menghentikan aksinya.
"Ada apa sayang?" tanya sang suami khawatir, ia langsung memeluk Nea.
"Akhirnya aku menemukanmu lagi, aku bahagia," Nea merasa menjadi isteri seutuhnya karena selama ini dia dan Lewis jarang sekali bermesraan di akibatkan kesibukan masing-masing.
"Aku akan menjadi suamimu seutuhnya seperti dulu, saat pertama kali aku mengucap janji pernikahan," Lewis membelai rambut sang isteri lembut.
'Semua sudah berbeda sayang, kini kau telah memiliki isteri yang lain, itu faktanya, tidak akan ada yang kembali, karena semuanya menjadi sama di mataku, aku akan mencoba menjadi isteri yang terbaik selagi aku mampu,' batin Nea berkecamuk, namun dia tetep berpikir realistis.
__ADS_1