
Malam ini, Bulan menyikat giginya, lalu membasuh wajahnya. Mengelap wajahnya yang basah dengan handuk. Menaiki ranjang dengan kasur yang empuk. Selimut yang hangat, ia tarik hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Memejamkan mata dengan perlahan, memasuki alam mimpi, semoga saja mimpi indah.
"Bulan..." bisik Purnama dari belakang membuat Bulan terbangun.
Bulan segera berbalik badan, dan wajah Purnama sudah berada tepat di depan wajahnya.
"Mas ngapain di sini?! Nanti Helen cariin Mas, loh." Purnama menggeleng, seraya menarik Bulan ke dalam pelukannya.
"Mas maunya sama kamu." Bisikan Purnama di telinga Bulan membuat jantungnya berdebar. Nyaman, rasanya sudah lama tidak seperti ini. Bulan pun menenggelamkan wajahnya pada dada bidang Purnama untuk mencari kenyamanan.
Luka yang sering ku dapat, sudah terobati dengan rasa sayang yang kamu berikan. -Bulan
"Mas, sudah tidur?" gumam Bulan.
"Kenapa?" tanya Purnama.
"Besok, antar aku periksa, ya," ucap Bulan lirih.
Purnama tersenyum, lalu mengangkat wajah Bulan membuat Bulan mendongak menatap Purnama. "Iya, Sayang."
"Sangking bahagianya aku, sampai gak tau mau pasang muka yang mana," celetuk Bulan.
Purnama terkekeh. "Yang cantik senyum manis saja, Bulan," kata Purnama.
Bulan malu, wajahnya kembali ia sembunyikan. "Tidur!" sentak Bulan.
"Kamu yang mulai, loh."
"Iya, iya."
Purnama memeluk Bulan dengan erat, sedangkan Bulan merasakan kenyamanan dari suaminya.
Pernikahan yang terlaksana tanpa cinta, sekarang bertahan karena cinta, meski tidak semulus rumah tangga pada umumnya. Terlalu banyak drama yang disebabkan oleh orang ketiga. Jika orang ketiga itu pergi, maka hubungan tanpa masalah akan terjalin sekaligus berakhirnya cerita yang dibuat oleh sang penulis.
Pagi hari tidak bisa berjalan semulus itu, adanya orang ketiga membuat keadaan menjadi runyam. Pasalnya Helen yang baru datang dan marah-marah. Tidak membantu untuk masak ataupun pekerjaan rumah tangga lainnya, dia hanya marah dan marah serta menyalahkan orang lain.
Purnama tengah duduk di kursi sembari menikmati masakan yang dibuat oleh Bu Irma dan Bulan. Bulan tengah menyiapkan sarapan untuk Mama Sinta. Helen datang dan berteriak dari atas memanggil nama Purnama. Lalu menuruni tangga dengan langkah yang cepat.
Tidak tahu keadaan, Helen memeluk Purnama dari belakang, seperti koala yang bergelantungan pada pohon. "Mas kok gak ada di kamar!" gerutunya.
"Mas tidur di kamar Bulan, ya?!"
Helen duduk di kursi yang ada di sebelah Purnama. "Pasti Bulan yang minta ya."
"Mas tega tinggalin aku!" tegur Helen dengan wajah kesal.
Tatapannya pada Purnama beralih pada makanan yang ada di depan meja. "Wah..." Manik matanya berbinar melihat banyak makanan.
__ADS_1
"Bulan, ambilkan ayam itu! Aku suka ayam," katanya. Bukankah itu tadi perintah? Siapa dia bermain memerintah?!
"Ambil sendiri dong, Helen," pekik Purnama.
Helen menggeleng dua kali. "Tangan ku gak sampai," ucapnya seraya mengulur tangannya.
Bulan menatap Helen dengan tajam. Lalu membawa sepiring penuh berisi ayam pada Helen.
"Punya kaki kok gak berguna," celetuk Mama Sinta.
Helen memiringkan kepalanya seraya melihat Mama Sinta dengan tatapan mengejek. "Mama juga, tuh. Punya tangan sama kaki kok gak digunakan," balasnya.
"Oh, kamu berani sama saya?!"
"Kamu siapa, ha?! Saya bisa usir kamu." Mama Sinta mengancam, itu bukan sekedar ancaman tapi lebih dari itu. Jika saja tidak ada Purnama, mungkin Mama Sinta sudah membuang Helen jauh-jauh.
"Loh? Ini rumah Mas Purnama, jadi-"
Mama Sinta menyambar dengan cepat, memotong ucapan Helen. "Hey! Siapa bilang ini rumah Purnama? Ini rumah saya, sertifikatnya juga nama saya."
"Kamu hanya sebagai Istri kedua tidak punya hak apapun! Istri pertama yang lebih unggul daripada benalu seperti kamu!"
"Jangan mentang-mentang kamu sama saya! Bahkan detik ini pun saya bisa usir kamu, buang ke laut sekalian!"
Helen membeku, diam di tempat. Helen melirik ke arah Purnama yang hanya fokus pada makanannya. "Mas," lirih Helen tak di gubris oleh Purnama.
"Apa?! Kamu mau mengadu sama Purnama, iya?! Purnama yang ada di sini dan sudah melihat semuanya saja diam. Karena apa? Karena dia tahu, dia sadar! Gak kayak kamu, gak tahu diri!"
Senyap, setelah suara Mama Sinta yang menggema, sekarang sunyi. Hanya ada suara alat makan Purnama yang bertabrakan.
Purnama berdiri, lalu mengelus rambut Bulan dengan lembut. "Nanti jangan lupa!" seru Purnama membuat Bulan mengangguk.
Helen hanya terpaku, Purnama cuek padanya. "Mas..." panggil Helen.
Langkah Purnama terhenti. Purnama berbalik. "Kamu juga sarapan!"
Helen kembali duduk dibarengi dengan helaan nafas beratnya. Kian Helen menatap Bulan dengan tajam. "Apa?! Kamu senang, iya?!" tegurnya padahal Bulan melihat Helen dengan iba.
Bulan menggeleng pelan, lalu melangkah ke dapur. Bulan menghampiri Bu Irma yang sedang mencuci piring.
"Mau Bulan bantu, Bu?" tanya Bulan.
"Enggak usah, Nak," ucap Bu Irma.
Bulan menghela nafas panjang, lalu duduk di kursi. Kepalanya ia sandarkan di meja. "Ck, bosen banget," pekik Bulan membuat Bu Irma menoleh.
"Mau main?" tawar Bu Irma.
Bulan mendongak menatap Bu Irma yang masih di tempat yang sama. "Main apa, Bu?"
__ADS_1
"Petak umpet?"
Bulan terkekeh. "Bulan sudah besar... Bu Irma saja yang main, sama Helen, tuh," pekik Bulan.
"Walah, yang ada berantem kalau main sama Helen," celetuk Bu Irma di barengi tawa.
Saat sedang tertawa saja tidak bisa tenang sedikitpun jika ada Helen. Wanita itu terus saja muncul di mana pun.
"Bulan!" bentak Helen.
Bulan menatap kedatangan Helen dengan malas.
"Kamu kan yang semalam ajak Mas Purnama tidur sama kamu?!"
Bulan membulatkan matanya. "Mas Purnama sendiri yang tiba-tiba datang dan peluk aku," ucap Bulan sengaja untuk membuat Helen cemburu.
"Bohong! Kamu pasti yang goda Mas Purnama."
Bulan merotasikan bola matanya. "Mau bukti?"
"Gak butuh!" pekik Helen lalu melangkah pergi.
Entah apa yang dipikirkan wanita itu.
Sudah malam, tetapi Purnama belum pulang. Padahal kemarin sudah sepakat akan mengantar Bulan periksa.
"Padahal aku sudah buat janji sama Dokter tadi sore," gumam Bulan termenung di meja makan.
"Mas Purnama enggak bisa tepati janji, ih!"
"Nak Bulan," panggil Bu Irma dari belakang Bulan.
"Ibu mau pulang," ucap Bu Irma.
"Anak ibu sudah datang?" tanya Bulan.
"Sudah. Oh iya, ibu mau bungkus makanan yang tadi boleh enggak?"
"Boleh, dong. Dibawa semua juga gak papa."
"Kalau begitu ibu ke dapur dulu, ya."
"Bulan mau temuin anak Bu Irma, boleh?" Bu Irma mengangguk.
Bu Irma melangkah ke dapur, sedangkan Bulan pergi menuju luar rumah.
Pria bertubuh tinggi dengan jaket hitam yang di kenakan berdiri di samping kolam renang.
Bulan melihat dari jauh. "Anaknya Bu Irma?" pekik Bulan membuat pria itu menoleh.
__ADS_1
"Loh?" Kedua mata Bulan membulat ketika melihat pria yang ia kenal itu ternyata adalah anak Bu Irma.