
Sejak kapan Raka terus bersenandung? Bulan sampai lupa. Anak itu tidak henti untuk bernyanyi, Areum saja berhenti bernyanyi setelah latihan kemarin.
"Kubuka album biru ...." Raka kembali bersenandung saat hendak pergi mandi.
"Penuh debu dan usang."
"Ku pandangi semua gambar diri."
"Kecil bersih belum ternoda ...."
Bulan hanya diam dan mendengarkan sambil sesekali mendengus. "Raka cita-citanya jadi apa, sih?!" gumam Bulan.
"Raka cita-citanya mau jadi polisi, Bunda," jawab anak itu dari dalam kamar mandi. Pendengarannya sangat tajam.
"Polisi dangdut, iya?"
"Polisi tidur, Bunda. Enak tidur terus."
Bulan menggeleng pelan. Bulan sendiri jadi bingung, padahal dulu dia tidak ngidam apapun.
"Ayah mana, Bunda?" tanya Raka sambil mengancingkan kemejanya.
"Masih di kantor." Bulan merapikan gaun yang melekat di tubuh Areum.
"Ayah gak ikut ya, Bunda?" ucap Areum.
"Ikut, kok. Pasti Ayah ikut, tenang, saja!"
Raka mengambil handphone Bulan yang berada di kasur, lalu ia sodorkan pada Bulan. "Bunda, telpon Ayah!" pintanya.
Bulan mengambil handphonenya itu. Dia berdiri, lalu mencoba menghubungi Purnama.
Purnama dan Tegar sedang mengumpulkan semua pegawainya. Purnama mendengar handphonenya berbunyi.
"Iya, Sayang?"
"Mas, kamu datang ke acara anak-anak, kan?"
"Aku ... gak bisa janji."
Raut wajah Raka dan Areum berubah seketika. Kedua anak itu duduk di kasur dengan kecewa.
"Mas, di sana ada Tegar, kan? Kamu bisa percayakan itu sama Tegar, saja."
"Oke." Bulan mengakhiri obrolannya dengan kesal. Dia berjalan mendekati kedua anaknya.
"Hey, gak boleh sedih! Kan masih ada Bunda. Kalian gak senang?"
Raka dan Areum mendongak. "Kita senang, kok," ucap keduanya bersamaan.
"Ayo berangkat, Bunda," ajak Raka.
"Eits! Rambutnya Areum masih belum rapi." Bulan menggendong anak perempuannya itu menuju kursi yang menghadap kaca.
. . .
"Lebih baik Pak Purnama menghadiri acara Raka dan Areum. Ini semua biar saya yang handel."
"Oke, saya serahkan semuanya sama kamu." Purnama menepuk-nepuk pundak Tegar.
Purnama melenggang pergi meninggalkan kantornya. Tegar melanjutkan pekerjaannya. Tegar memeriksa semua bawahan Purnama itu.
"Helen sama Ares gak masuk?" tanya Tegar.
"Mereka berdua sering gak masuk," jawab Rio.
__ADS_1
"Aku curiga sama mereka berdua." Tegar merubah tatapannya menjadi sinis.
. . .
Raka dan Areum sudah berdiri di atas panggung yang sudah dihiasi dengan lampu berwarna warni. Bulan dan Mama Sinta sudah duduk di kursi penonton.
"Areum, Ayah beneran gak datang, ya?" Raka sedikit sedih, semangat berkurang.
"Iya," jawab Areum lirih. Dia juga sedih, mamanya tidak datang, dan ayahnya tidak datang. Namun, masih ada bunda Bulan itu lebih dari cukup baginya. "Ayo, jangan buat Bunda Bulan kecewa." Semangatnya kembali berkobar.
"Oke." Terukir senyum lebar di wajah Raka. Anak lelaki itu maju selangkah. "Semoga lagu ini menghibur para Bunda dan tamu undangan ...."
Lampu di panggung mati, lalu kembali hidup menyorot Raka dan Areum. Keduanya berdiri berdampingan. Saling menatap sejenak. Raka menarik napas panjang, lalu dihembuskan.
"Kubuka album biru ...."
"Penuh debu dan usang ...."
"Ku pandangi ... semua gambar diri."
"Kecil bersih, belum ternoda ...."
"Pikirku pun melayang."
"Dahulu penuh kasih."
"Teringat semua cerita orang."
"Tentang riwayatku ...."
Raka sangat menghayati di setiap kata yang ia ucapkan. Ini bukan sekadar lagu, tetapi ungkapan apa yang dilakukan seorang ibu.
"Ka ... ta mereka ... diriku ... selalu dimanja ..."
Ayahnya datang membuat senyum lebar kembali terukir di wajahnya. Purnama duduk di samping Bulan sambil melambaikan tangan pada kedua anaknya.
"Oh ... Bunda, ada dan tiada dirimu kan selalu ada di ... dalam hatiku ...."
Semua orang yang duduk, kini mereka berdiri dan bertepuk tangan. Raka dan Areum menunduk dengan hormat. Suara teriakan penonton memenuhi ruangan.
. . .
"Tolong! Ini ada pencuri di rumah. Ibuk lagi sembunyi di dapur."
"Iya, Buk. Saya ke sana sekarang."
Bu Irma ketakutan. Dia bersembunyi di samping kulkas sambil memeluk kakinya sendiri. Tubuh bu Irma bergetar. "Haduh, apes banget hari ini. Di rumah gak ada orang," gumam Bu Irma.
Tiga puluh menit kemudian Tegar sampai dan masuk ke dapur melewati pintu belakang. Tegar langsung menghampiri Bu Irma yang sudah menggigil.
"Buk, mereka di mana?" tanya Tegar.
"Kenapa tadi Bu Irma gak panggil saya?!" gerutu pak satpam.
"Saya gak berani keluar, kalau mereka tahu, bagaimana?"
"Tapi mereka masih ada di dalam kan, Bu?" tanya Tegar memastikan. Raut wajahnya terlihat lebih dari kata serius.
Bu Irma mengangguk. "Masih, kok. Ada dua orang, pakai baju hitam. Yang satu rambutnya panjang." Bu Irma mencoba mengatakan apa yang ia ingat sebelumnya.
"Pak Satpam, anda kok tidak tahu?" Tegar beralih menatap pak satpam.
"Tadi mereka lewat pintu belakang, Nak," sahut Bu Irma.
"Oke, saya gak bisa sendirian karena bela diri saya masih belum. Saya akan mengubungi Pak Purnama dulu."
__ADS_1
Purnama menggendong Raka. Mereka berjalan menuju tempat parkir. Raja sejak tadi tidak berhenti berbicara. Bermacam hal yang dibicarakan olehnya.
"Raka tadi sedih sama Areum. Raka pikir, Ayah beneran gak datang." Bibirnya berkerut.
"Iya, maaf. Tadi Ayah memang mau gak datang tapi Ayah juga mau lihat anak Ayah."
"Keren gak, Yah?" Kali ini Areum yang bertanya.
"Keren banget. Deep voice Raka keren, napas Areum panjang banget tadi."
Mereka semua sudah masuk ke dalam mobil. Purnama bersiap untuk menancapkan gas kendaraanya.
Trining Trining
Purnama meraih handphone yang berada di hadapannya. Matanya melebar saat mendengar suara dari panggilan itu. Dengan segara, mobil itu ia gas dengan kecepatan tinggi.
"Pegangan!" ucap Purnama.
"Kenapa, Mas?" tanya Bulan bingung. Dia tidak mendapat jawaban dari suaminya.
Purnama kembali mengambil handphonenya. "Tegar, kamu hubungi polisi, sekarang!"
"Polisi? Kenapa, Mas?!"
"Ada pencurian di rumah."
"Apa?!" Mereka kaget serentak.
"Bunda, Raka takut," rengeknya memeluk Bulan.
"Piala kamu bagus," pekik Areum membuat Raka kembali berbinar.
"Iya, bagusan punyaku dari pada punya kamu, Areum."
"Pialanya sama."
"Tapi tetap bagusan punyaku."
. . .
Saat sampai, Purnama langsung turun dari mobil.
"Kalian tunggu di sini, saja! Oke?!" Purnama melenggang pergi. Dia berlari memasuki rumah.
Purnama masuk dari pintu belakang. "Sudah hubungi polisi?"
"Sudah, kok," jawab Tegar.
Polisi itu pun datang dengan sirenenya.
Dua penjahat yang sedang beraksi di kamar Purnama itu mendengar bunyi itu. Mereka gelagapan.
"Kita ketahuan?" ucap yang berambut panjang.
"Lewat jendela," sarkas yang satunya.
Mereka berdua membuka kendala kamar Purnama. Para polisi yang beranggotakan tiga orang itu membuka pintu kamar dan melihat dua orang yang melompat dari jendela.
"Hey!" Polisi itu ikut melompat dari jendela.
Pencuri itu sangat nekat, padahal kamar Purnama berada di lantai dua. Cukup tinggi.
Dua pencuri itu lari terbirit-birit. Hingga yang berambut panjang menyebrang dan di hantam mobil dari timur membuat semua orang menganga.
"Mama," gumam Areum dari dalam mobil.
__ADS_1