Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang

Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang
Kejahatan Helen


__ADS_3

Matahari siang mulai berani, sinar nya menyelinap ke dalam rumah. Namun, burung justru menikmati nya dengan bernyanyi. Daun-daun bergerak riang hingga ada yang berjatuhan. Di sebuah jendela, Bulan merasakan panas yang menusuk ke dalam jiwa nya. Rasa ingin menendang wanita itu.


Bulan melangkah menuju pintu untuk menyambut kedatangan madu nya bersama suami nya. Bulan mencium punggung tangan Purnama. Tidak segan, Purnama meninggalkan satu kecupan di dahi Bulan membuat Sangat madu cemburu. Bukan nya memberi sapaan yang indah, tetapi Helen langsung memberi perintah pada Bulan.


"Bulan, aku mau minum jus," kata Helen.


Bulan mengerutkan dahi nya. "Ambil di dapur, ada buah alpukat," jawab Bulan.


Helen menatap Purnama dengan wajah memelas. Purnama menghela nafas, lalu memegang kedua pundak Bulan. Bulan tahu pasti Purnama akan menyuruh nya.


"Bulan...buat-"


Purnama belum selesai berbicara tapi Bulan sudah melangkah pergi, tentu saja ke dapur untuk membuat jus untuk madunya yang tidak tahu diri.


Bulan melakukannya dengan baik, meski tidak ikhlas yang penting jadi.


"Bulan..." panggil Mama Sinta yang memasuki dapur.


"Iya, Ma?" jawab Bulan.


Gadis kecil menyerobot masuk, Bila yang baru datang ikut-ikutan. "Loh? Kak Bulan kan gak suka alpukat," katanya.


"Iya," ucap Bulan.


"Terus? Buatin Mama Sinta?" tanya Bila penasaran.


Bulan menggeleng. "Buat Helen," katanya membuat Mama Sinta dan Bila saling menatap.


"Kenapa Kakak yang buat?! Kenapa dia enggak buat sendiri?!" gerutu Bila.


"Iya, dia kok suruh kamu. Kamu juga kenapa mau?!" kata Mama Sinta emosi.


Bulan menuangkan jus hijau itu ke dalam gelas. "Mas Purnama yang suruh," seru Bulan membuat kedua perempuan itu bungkam.


"Kurang ajar Si Purnama," gerutu Mama Sinta.


"Udah, gak apa-apa, kok," kata Bulan dengan mudah.


Bulan menaiki tangga untuk ke kamar Helen. Kamar Bulan adalah kamar yang dulu ditempati mereka berdua, sedangkan kamar Helen berada tepat di samping kamar Bulan. Tentu saja ada jadwal kapan Purnama akan tidur dengan Bulan dan kapan akan tidur dengan Helen.


"Mas, nanti antar aku periksa, ya." Bulan menghentikan langkah Purnama yang tengah menuruni tangga.


"Kamu pergi sendiri, ya," jawab Purnama dan itu adalah penolakan secara halus.


"Kamu gak mau antar aku?" ucap Bulan lirih.


Purnama menangkup kedua pipi Bulan. Sedangkan Bulan mengalungkan tangan nya di leher Purnama.

__ADS_1


"Banyak berkas yang harus aku selesaikan hari ini." Bulan menghembuskan nafas panjang.


"Kalau besok?" tanya Bulan dengan semangat.


Lagi-lagi jawaban Purnama adalah gelengan kepala. "Besok ada meeting, Sayang."


Bulan mempoutkan bibirnya lalu melepas kalungan tangan dari tubuh Purnama. Bulan menunduk menahan sesak di hati. Kakinya kembali melangkah menaiki tangga dengan susah payah.


Purnama tidak menyusul Bulan, justru dia tidak merasa iba pada Bulan.


Beberapa detik Bulan masih bersandar pada pintu, kakinya terseret menuju kasur empuk berukuran besar. Merebahkan diri untuk meringankan beban. Tangannya terulur menarik selimut. Kini seluruh tubuhnya tertutupi kain tebal itu, hanya kepalanya saja yang terlihat.


"Semenjak menikah dengan Helen, Mas Purnama enggak perhatikan aku. Kian aku sadar bahwa aku hanya dijadikan cadangan ketika yang diprioritaskan tidak ada. Nyatanya aku adalah nomor dua, dan maduku adalah yang pertama."


"Bolehkah aku mengulang waktu untuk tidak menganggap diriku adalah hidupnya? Jika saja hanya ada aku, pasti aku adalah wanita yang paling beruntung."


Begitu mendalami ucapannya, Bulan mencoba mengangkat tubuhnya untuk berdiri. Bulan harus semangat karena sekarang ada jiwa lain di dalam tubuhnya.


"Semangat, ya, Sayang," gumam Bulan seraya mengelus perutnya.


"Diantar maupun tidak, aku akan tetap berangkat."


Bulan melangkah ke luar kamar setelah mengambil dompet yang berada di meja nakas.


"Bila," panggil Bulan membuka pintu kamar Adiknya. Namun, dia tidak menemukan pucuk hidung gadis itu. Bulan memutuskan untuk masuk.


"Bila..."


"Bila..."


Bulan celingak-celinguk untuk memastikan, dan tidak juga menemukan Bila. Akhirnya Bulan memutuskan untuk pergi saja.


Tanpa Bulan sadari, ada sepasang mata yang mengintai dari lantai atas. Siapa lagi kalau bukan Helen.


Teriknya matahari membuat keringatnya menetes. Bersyukur masih ada bayangan pohon yang membuat jalanan menjadi sedikit teduh. Halte bus itu sepi padahal Bulan ingin menaiki bus.


Biasanya pakai mobil tapi mobil itu rusak lagi dan harus dibawa ke rumah sakit. Jadi Bulan memutuskan untuk jalan kaki saja, sekalian untuk olahraga.


"Kemana bus ini?! Biasanya masih ada," gerutunya seraya menepis keringat dari dahinya.


Bulan menyipitkan matanya ketika melihat sepertinya ada ojek di jalan sebrang sana. Bulan pun berdiri. Melihat kanan-kiri untuk menyebrang. Melihat jalanan sepi, Bulan pun melangkah.


Brush


Kejadiannya sangat cepat. Hanya dalam hitungan detik, Bulan terserempet mobil hingga terjatuh. Tubuhnya ambruk ke aspal. Mobil putih yang menabrak segera melaju dengan kecepatan tinggi karena ada warga yang melihat dan langsung menghampiri tubuh korban.


Gelap. Sepertinya ada kunang-kunang yang mengitari kepalanya. Atap yang terbuat dari kayu yang Bulan lihat. Bulan mengedarkan pandangannya sambil memegangi kepalanya. Sedikit meringis menahan pusing yang bergejolak membakar energi.

__ADS_1


"Nak?" Suara seorang wanita yang Bulan dengar dari sampingnya.


Bulan melihat wanita itu dengan pandangannya yang masih buram.


"Nak..." panggilnya sekali lagi untuk memastikan.


Bulan mencoba dengan sekuat tenaga untuk mendudukkan tubuhnya. Pandangannya kini menjadi jelas. "Buk?"


Ibu itu tersenyum simpul melihat Bulan dengan iba. "Kamu tadi terserempet mobil," ujar Ibu itu.


Bulan menunduk. "Saya masih mau di sini, boleh?" tanya Bulan dengan suara lirih.


Ibu itu tersenyum lebar. "Boleh, kok, Nak."


Bulan lega, akhirnya ia bisa pergi meski hanya sebentar. "Ibu..."


"Ibu Irma," ucap Ibu itu.


"Bulan," balas Bulan.


Melenggang melewati pintu, lalu duduk di sofa. Tangan kanannya memutar-mutar kunci mobil. Menghembuskan nafas panjang sebelum membuat senyum miring di wajahnya.


"Puas sekali. Pasti sudah mati, jika belum setidaknya dia akan keguguran," gumamnya.


"Helen Sayang..." panggil Purnama dari belakang membuatnya terkejut.


Tubuhnya sontak berdiri, tak lupa meletakkan kunci mobil itu di meja. Purnama menghampiri Helen lalu memeluk tubuhnya.


Dilihat dari caraku menabraknya tadi, sudah pasti keguguran. -Helen


Purnama melepaskan pelukannya. Kedua tangannya ia lipat di depan dada. "Sayang, kamu lihat Bulan tidak?" tanya Purnama.


Helen membulatkan matanya sambil tersenyum gugup. "E-enggak lihat," jawabnya.


"Iya, tadi dia bilang mau periksa," ucap Purnama.


"Oh, aku, sih, enggak lihat dari tadi. Terakhir waktu dia antar jus tadi."


"Oh, ya sudah. Temani aku-"


"Mandi?" sarkas Helen. Belum juga selesai bicara tapi diputus begitu saja.


Purnama terkekeh seraya mengusap rambut Helen dengan lembut. "Temani selesaikan berkas."


Helen membeku. "Oh."


Keduanya pun melangkah menaiki tangga.

__ADS_1


Bulan berdiri diambang pintu, menatap pepohonan mangga yang berada di depan halaman rumah Bu Irma. "Helen pasti senang. Kurang baik apa, sih aku," katanya sambil tersenyum.


__ADS_2