
"Mas, makan ya?"
Purnama menggeleng. Tangan kanannya menggenggam tangan kiri Bulan. Bibirnya berkerut-kerut. Manik matanya menyorot mata Bulan dengan tajam. Bulan hanya meneguk ludah dengan gugup.
Bulan menghela nafas panjang sambil mengerjapkan matanya. "Gak apa-apa, Mas," ujar Bulan membuat Purnama mengangguk pelan.
Kenyataan pahit yang baru mereka dapat. Benturan keras pada organ reproduksi Purnama menimbulkan infeksi. Dokter menyatakan bahwa Purnama terkena infeksi pada saluran kemih. Hal itu menyebabkan Purnama akan susah mendapatkan keturunan.
Kali ini Purnama yang akan berjuang agar Bulan tetap bersamanya. Bukan Bulan lagi yang harus berjuang mati-matian, tetapi Purnama yang harus berjuang agar Bulan tidak meninggalkannya meski sudah jelas bahwa Bulan itu setia. Yang Purnama pikirkan saat ini, bagaimana jika Bulan ingin punya keturunan dan memutuskan untuk menikah lagi? Hanya itu yang membuatnya menjadi manja.
Tangan Purnama terulur mengacak-acak rambut Bulan yang terurai. Bulan hanya tersenyum menahan pedih pada matanya. Genangan air mata itu ia sembunyikan namun Purnama dengan jelas melihat itu.
Tangan kokoh Purnama membelai pipi Bulan dengan lembut. Ingus Bulan hampir jatuh itu segera ia tahan hingga menciptakan bunyi menjijikkan. Namun, Purnama malah tertawa.
"Bulan jorok, ih," pekik Purnama dengan suara mengejek.
"Itu ada tisu." Purnama menunjuk sekotak tisu yang berada di sofa. Dengan cepat Bulan meraih tisu itu dan mengelap hidungnya.
. . .
Setelah satu minggu berada di rumah sakit yang hanya disuguhkan dengan orang aroma obat, pemandangan putih ditambah orang-orang yang berlarian. Sangat membuat panas mata.
Bulan membantu tubuh Purnama untuk merebah di kasur. Kamar yang sama. Namun dengan aroma bunga yang berbeda dari sebelumnya.
"Bulan, pengharum ruangannya kamu ganti, ya?" tanya Purnama menebak. Bulan mengangguk.
"Kenapa? Mas gak suka?" tanya Bulan balik saat Purnama sudah berada di atas kasur.
__ADS_1
"Baunya enak." Bulan menghela nafas lega, Purnama setuju dengan pendapatnya.
Keduanya saling melempar senyum. Purnama sedari tadi menggenggam tangan Bulan. Mereka tidak melakukan apapun, hanya duduk dan tersenyum. Purnama merasakan rindu pada Bulan sebab dua minggu berpisah dan saat dipertemukan malah dalam keadaan seperti ini. Sangat menyedihkan.
"Hidup Mas menyedihkan, ya," ujarnya membuat Bulan menaikkan alisnya.
"Kenapa?"
"Mungkin ini karma buat Mas." Kepalanya menunduk. "Karena udah beberapa kali sakiti Bulan."
Tangan halus Bulan terulur membelai rambut Purnama. Tangannya ia tumpangkan pada kepala Purnama. Purnama mendongak menatap Bulan dengan melas.
"Mas gak menyedihkan, kok. Mas adalah pria paling beruntung karena dapat wanita secantik aku..." pekik Bulan membuat Purnama melayangkan satu sentilan pada dahi Bulan.
"Dasar, besar kepala," ucap Purnama mengejek.
Suara ribut dari luar terdengar, entah apa itu.
"Saya mau ketemu Mas Purnama." Suara teriakan wanita dari luar yang terus terdengar membuat Bulan berdiri.
Brak
Pintu itu ia banting. Sosok wanita dengan wajah penuh emosi menganggu pemandangan. Sebuah senyuman terukir di bibirnya kala melihat Purnama.
"Mas Purnama..." panggilnya mendekati Purnama. Tanpa permisi ia agresif memeluk Purnama dengan erat. Tidak segan Purnama mendorong tubuh itu hingga menjauh.
"Mas, aku senang kamu sudah sembuh," serunya. Ular betina itu membuat Bulan dan Mama Sinta yang tadi menghalangi menganga.
__ADS_1
Purnama memalingkan wajahnya dengan malas. "Mau apa kamu?!" tanya Purnama dengan ketus.
"Mas, kamu lupa?"
Pertanyaan yang dilontarkan Helen membuat alis Purnama saling bertaut. "Mas...kamu lupa? Aku hamil, Mas." Senyum kegirangan terukir di wajahnya.
Mata Purnama melebar. Bulan hampir pingsan, bibirnya sedikit terbuka. Sedangkan Mama Sinta memegangi dadanya dengan tangan kanan dan tangan kirinya menumpang pada pundak Bulan.
"Kamu bohong, Helen. Gak mungkin, kamu itu pintar dalam membuat kebohongan tapi aku lebih pintar untuk tidak percaya dengan kata-kata kamu." Purnama menekankan kata-katanya. Matanya memanas melihat Helen yang pura-pura melas.
"Aku punya bukti," ucap Helen dengan sinis. Tangannya merogoh tas lalu mengeluarkan handphone.
Sebuah vidio terputar membuat Purnama menganga tidak percaya. Bagaimana bisa itu terjadi?
Helen beralih menunjukkan vidio itu pada Bulan. Bulan mematung, dia diam seribu bahasa.
"Yah, sekarang tidak ada yang bisa mengelak."
"Aku akan tinggal di sini lagi karena aku hamil anak Mas Purnama." Senyum miring ia ukir. Helen tertawa puas. Lalu ia melenggang pergi memasuki kamar sebelah yang dulunya adalah kamarnya dan sekarang kamar itu akan menjadi miliknya lagi.
Satu vidio berdurasi 15 detik membuat semuanya diam membisu karena tidak bisa mengelak akan kebenaran yang sepertinya berasal dari rekaman CCTV. Dimana Purnama yang mendorong Helen ke kasur dan Helen yang berusaha mengelak namun kalah dari Purnama, dengan agresif Purnama membuka kancing bajunya bertepatan saat dia berdiri di hadapan Helen.
Sebuah Bukti yang membuat Bulan kembali tersakiti. Purnama lemas di kasur, tidak berdaya. Meski Purnama kini dinyatakan susah untuk mendapatkan keturunan namun nyatanya kejadian itu terjadi satu minggu yang lalu sebelum Purnama mengalami kecelakaan.
"Bulan, Mas gak-"
"Gak apa-apa kok, Mas. Helen kan Istri Mas." Jawaban lembut dari Bulan yang Purnama dapatkan. Lagi-lagi Purnama menyakiti perasaannya.
__ADS_1
Entah sudah berapa kali, meski masih bisa dihitung jumlahnya tetap saja itu sebuah hal besar yang kecil jumlahnya namun marak sakitnya.