
Siang yang terik membuat udara menjadi panas. Bulan pergi ke dapur untuk mengambil minuman dingin. Yang tidak ia inginkan datang.
"Bulan, potongin apel ini, dong," kata Helen seenak jidat.
Bulan tidak menggubrisnya, meneguk air dingin di gelas dengan lega. Sejuk rasanya. Helen merasa kesal karena tidak didengarkan oleh Bulan. Helen pun berjalan mendekat dengan pisau di tangan kanan dan apel di tangan kiri.
Bulan membulatkan matanya melihat Helen yang menodongkan pisau pada perut Bulan.
"Kupas, potong!" katanya dengan menyeringai.
Bulan meneguk ludahnya dengan keras. Pasrah, dia pun mengambil benda itu dari tangan Helen. Lalu mendudukkan tubuhnya di kursi dan mulai mengupas apelnya. sedangkan Helen duduk di kursi sambil memakan anggur.
Bu Irma datang dan menyapa Bulan dengan senyum.
"Orang miskin, ngapain kamu disini?!" ucap Helen tanpa rasa sedikit pun.
Bu Irma hanya menghela nafas. "Saya mau masak," jawab Bu Irma. Sepertinya Bu Irma sudah mulai terbiasa selama seminggu ini.
"Masak cumi, saja!" Siapa dia sok memerintah.
"Di sini enggak ada cumi," kata Bu Irma seraya mengambil wajan dan meletakkan di atas kompor.
"Beli, lah."
"Gak ada yang suka cumi di sini," sarkas Bulan.
"Loh? Kan saya yang minta jadi saya yang makan. Kalau kamu gak suka ya gak usah ikut makan."
Bulan geram, dia mengigit bibir bawahnya. Tangannya terasa gatal ingin melemparkan batu pada wanita itu.
Sudah, cukup sudah. Bulan lelah, dia memutuskan untuk melanjutkan mengupas apelnya.
Sret
Pisau itu melukai jari telunjuk Bulan membuat darah merah menetes. Suaminya yang melihat segera menghampiri.
"Bulan, kamu gak apa-apa?" tanya Purnama panik.
Bulan hanya merintih. Purnama mengelap tangan Bulan dengan jasnya. "Di kasih obat merah, ya," kata Purnama membuat Bulan mengangguk lalu duduk.
Purnama mengambil sekotak obat yang terletak di meja yang berada di pojok ruangan. Meneteskan obat merah pada luka Bulan lalu membalutnya dengan plester.
Purnama mencium jari Bulan yang terluka seraya berkata "Jangan sakiti Bulan!" Itu membuat Bulan terkekeh.
Helen hanya diam membeku, iri, kesal pada Bulan. "Mas, kok kamu pulang gak hubungin aku, sih!" gerutu Helen.
"Lupa, aku udah hubungin Bulan, kok," ucap Purnama sambil menatap Bulan yang tersenyum.
__ADS_1
"Kenapa kamu kupas apel sendiri? Kan ada Bu Irma," tegur Purnama.
"Bu Irma kan lagi masak," jawab Bulan.
"Ya sudah, ini kamu makan." Bulan sontak menolak dengan menghentikan tangan Purnama yang mau menyuapinya. "Loh? Kenapa?"
"Gigi aku lagi sakit, Mas. Tadi aku kupas buat Helen," ujar Bulan.
Kedua mata Helen membulat.
"Helen, kenapa gak kupas sendiri?"
"Aku kan males, Mas," rengek Helen.
Malas, ya?
"Kamu jangan bergantung sama Bulan, deh! Bulan juga lagi hamil, loh," ujar Purnama.
"Kamu marahin aku, Mas?" ucap Helen dengan lirih.
"Mas gak marahin kamu, Mas cuma ingatin kamu."
Helen menunduk. "Tadi aku mau kupas sendiri tapi Bulan bilang mau kupasin buat aku."
Bulan mengangkat satu alisnya. Kapan aku bilang begitu?
"Mas, cuma perkara apel, loh," kata Bulan.
"Ya sudah," ucap Purnama dibarengi helaan nafas.
"Mas mau istirahat." Purnama melangkah meninggalkan dapur.
Helen menyeringai seraya berjalan mendekati Bulan. "Jangan macam-macam kamu!" kata Helen seperti mengancam.
Helen melenggang pergi. "Mas... Tunggu aku!" teriaknya kala mengejar Purnama.
"Bulan, yang sabar ya, Nak," seru Bu Irma.
"Bu Irma...masak apa, Bu?" sapa Mama Sinta memasuki dapur.
"Mau bikin soto, kata Bulan Bu Sinta suka soto ayam," ujar Bu Irma.
"Wah, kalau begitu saya bantu."
"Enggak usah, Bu. Ibu duduk, saja."
"Loh? Saya mau bantu, titik."
__ADS_1
Bulan terkekeh melihat perdebatan para ibu-ibu di belakangnya itu. Bulan berdiri. "Bulan mau ke kamar dulu, ya, Ma," kata Bulan. Mama Sinta mengangguk.
Bulan berjalan menaiki tangga, sekarang perutnya terasa lebih berat dari sebelumnya padahal belum satu bulan. Melewati kamar Helen yang hening dengan pintu yang tertutup. Bulan membuka pintu kamarnya.
Dump!
Apa-apaan ini?!
Suaminya yang bertelanjang dada tengah berpelukan mesra dengan madunya. Kedua mata Bulan membulat, bersamaan dengan detak jantung yang berdebar. Bulan kembali menutup pintu.
Tok tok tok
Dua orang yang berada di dalam sontak memisahkan tautan. Bulan membuka pintu dan pura-pura tidak melihat itu sebelumnya. "Mau istirahat. Kalian lanjut di kamar sebelah, saja," ucap Bulan dengan gugup.
"Nanti malam Mas mau tidur sama Bulan," kata Purnama membuat Bulan terkejut.
"Mas, nanti Mas sama Helen, minggu depan baru sama Bulan," gerutu Helen.
"Mas sama Helen, aja," seru Bulan.
"Tuh!" Helen menarik tangan Purnama pergi keluar dari kamar Bulan.
Bulan menghela nafas panjang, dia berdiri dengan kesal untuk menutup pintu.
Berdiri, bersandar di jendela, melihat pemandangan di siang hari. Begitu bahagianya para burung yang berterbangan seperti tidak memiliki beban hidup. Air matanya perlahan menetes.
"Aku cemburu sama burung, mereka damai. Aku juga cemburu sama kucing yang begitu kuat, setelah melahirkan anak dia di tinggal suami nya, bukankah dia kuat. Sedangkan, di sini aku merasa sebagai wanita yang paling tersakiti. Meski awalnya pernikahan ini terpaksa tapi ternyata cinta ku padanya bisa tumbuh dengan cepat."
Bulan berjalan, lalu naik ke atas kasur. Tangannya terulur mengambil bingkai yang berisi fotonya dan Purnama saat menikah kala itu.
"Dia, cinta pertamaku, sekaligus luka pertamaku," ujar Bulan.
Trining trining trining
Ponsel Bulan berbunyi yang menandakan ada panggilan masuk. Bulan segera menyeka air matanya. Lalu menerima panggilan dari Purnama itu.
"Hallo?"
"Bulan, nanti malam Mas ke kamar kamu, oke." Purnama, berucap seolah dia berusaha untuk menghindari Helen. Apa ada maksud tertentu?
Setelah itu Purnama langsung mengakhiri panggilannya membuat Bulan bertanya-tanya.
"Kayak ada maunya, apa jangan-jangan Mas Purnama mau minta izin aku buat nikah lagi."
Bulan menggelengkan kepalanya dengan cepat, membuang apa yang ia pikirkan barusan. "Aku siap untuk mejadi cadangan, karena kebahagiaan mu itu penting," kata Bulan sebelum menenggelamkan dirinya di alam mimpi.
Mungkin memang Purnama sudah diciptakan untuk menjadi pria buaya sejak lahir. Sepertinya Bulan perlu menanyakan hal ini pada Mama Sinta.
__ADS_1