
...HAPPY READING...
Matahari masih bersembunyi di timur, langit masih enggan membuka tirai. Embun dingin membuat siapa pun semakin nyaman untuk tidur. Sedangkan Bulan sudah bangun dan sibuk di dapur.
Bulan mendengar pintu belakang dibuka. Ternyata itu adalah Bu Irma yang datang.
"Maaf, Ibu baru bisa masuk. Bintang rewel banget kalau lagi sakit," ujarnya sambil menunduk beberapa kali.
"Gak apa-apa, Bu. Tapi Bintang sudah sembuh, kan?"
"Sudah, kok. Sudah lahap makannya."
Bulan mengangguk dan kembali memotong bawang. Tangan kanan Bulan bergerak menyeka air mata yang menetes membuat Bu Irma mendekati Bulan.
"Kenapa nangis, Nak? Ada masalah?" tanya Bu Irma panik.
Bulan menggeleng. "Aku paling gak tahan sama bawang," seru Bulan.
"Oh, gara-gara bawang. Sini! Biar Ibu yang potong." Bu Irma menggantikan posisi Bulan. "Mau masak apa memang?"
"Mau buat nasi goreng, Bu. Nanti buat makan malam, kita masak ayam, capcay, terus apa, ya?" Bulan menatap langit-langit rumah.
"Ada acara?"
"Perusahaan Mas Purnama lagi ada masalah, Mas Purnama sewa Detektif buat menyelidiki siapa pelaku pencuriannya."
"Oh, gitu. Nanti Ibu suruh Bintang bantuin, deh."
"Boleh. Bu Irma tahu, gak?"
Bu Irma mendongak menatap Bulan.
"Detektifnya mantan pacar aku." Manik mata Bulan melebar.
"Lucu, dong," ucap Bu Irma sambil tertawa lebar.
"Untung Mas Purnama gak marah," seru Bulan seraya mendudukkan pantatnya di kursi samping Bu Irma.
"Bu Sinta masih belum pulang, ya?" tanya Bu Irma melihat kanan-kiri.
"Belum, katanya nanti siang pulang," jawab Bulan. Tangannya meraih apel yang ada di hadapannya.
"Helen sudah gak berani lagi, kan sama kamu?"
"Dia sekarang sudah nurut, Bu. Kemarin bantuin aku ngepel rumah." Bulan sedikit terkekeh. "Lebih tepatnya satu minggu yang lalu. Kemarin Dia cuma karaokean."
. . .
Bu Irma meletakkan mangkuk besar berisi nasi goreng di meja. Sedangkan Bulan menata alat makan di meja. Purnama datang bersama dengan Raka dan Areum.
Purnama memakai kemeja biru dan jasnya ia lampirkan di pundaknya. Dia duduk di kursi sambil menyapa istrinya dengan senyum.
Bulan memberikan piring berisi nasi gorong pada Raka, lalu Areum. Purnama yang tidak sabaran itu mengambil sendiri.
__ADS_1
"Hallo ... I'am comeback ...." Suara Mama Sinta menggema. Dentuman sepatu haknya dengan lantai memenuhi ruangan. Lalu dia duduk di kursi sebrang Purnama.
"Kalian kangen Nenek, gak?" tanyanya pada kedua anak itu.
"Enggak kok, Nek," sahut Raka.
Mama Sinta mengerutkan bibirnya.
"Ma, mau makan?" tawar Bulan.
"Boleh, Mama juga lapar."
Bulan menyodorkan piring berisi nasi goreng itu pada Mama Sinta.
Tidak lama, Helen datang dan langsung duduk di samping Areum. Tangannya meraih piring di depannya.
"Hey!" bentak Mama Sinta menghentikan Helen. "Kamu ikut masak memangnya?" Alis Mama Sinta terangkat.
Helen menggeleng. Lalu menunduk mengurungkan niatnya untuk makan. Dia menghela napas berat. Areum hanya melirik ke arahnya.
"Mama," tegur Bulan. Lalu ia memberikan satu porsi nasi goreng untuk Helen.
Helen mendongak menatap Bulan. "Makasih," ucapnya.
. . .
Malam hari terasa menusuk tulang. Bulan dan Bila berdiri di tepi kolam renang membiarkan angin menerpa. Rambut keduanya berterbangan tanpa arah.
Dahi Bulan berkerut. "Dia itu seumuran Kakak, jadi kamu panggil Dia Kakak."
"Mas Bintang?"
"Kenapa? Kamu suka, ya?" Alis Bulan naik turun menggoda Bila.
"Iya," ucap Bila seraya menunduk. Bila memilih jarinya. "Tapi Mas Bintang sukanya sama Kakak, kan?" Bila menyorot wajah Bulan dengan lekat.
"Hush! Jangan bilang gitu, nanti Mas Purnama dengar, bagaimana?!"
Bila kembali menunduk. Tangan Bulan terulur menggenggam tangan adiknya. "Kamu beneran suka sama Bintang?"
Bila mengangguk sekali dengan lemah. "Aku harus gimana, Kak?" gumamnya pelan.
"Kakak juga gak tahu, Kakak gak terlalu perhatikan Bintang selama ini," ujar Bulan. Memang, meski sudah mengenal selama bertahun-tahun, tetapi Bulan sama sekali tidak tahu Bintang orangnya seperti apa.
"Kita tanya Bu Irma, gimana?" seru Bulan.
"Tapi Kakak yang tanya, masa' aku." Bibir Bila berkerut, dia sedang jatuh cinta untuk yang kesekian kalinya.
"Kamu sudah sip apa belum?" tanya Bulan sekali lagi untuk memastikan.
"Sejak kejadian Mas Ares waktu itu, sih."
"Lima tahun?!" Bulan terkejut bukan main, adiknya mencintai orang secara diam-diam selama lima tahun. "Oke, nanti aku tanya sama Bu Irma."
__ADS_1
"Makasih, Kakakku Sayang ...." Bila memeluk Bulan dengan erat. "Oke, kalau gitu aku mau ke kamar dulu."
Lalu Bila melenggang pergi.
"Ekhem," deham seseorang dari belakang Bulan membuatnya menoleh. "Lagi ngomongin aku, ya!"
Bulan membuang muka dengan malas. "Dih, memang kamu ganteng?!"
Tegar itu berjalan mendekat. Dia berdiri di samping Bulan. Kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celana. "Kamu kok gak undang aku waktu pernikahan kamu sama Pak Purnama?"
"Aku dijodohkan," pekik Bulan. "Lagian kamu bukan orang penting."
"Jangan gitu! Kamu pernah sayang sama aku."
"Itu dulu. Sekarang, aku sudah menikah."
"Dua bulan lagi aku menikah. Kamu bisa datang dengan keluarga kamu," serunya membuat Bulan membulatkan matanya.
"Kenapa? Kamu pikir aku gak bisa move-on dari kamu?" ledek Tegar.
"Kan waktu itu juga aku yang putusin kamu, demi sahabat aku." Bulan menundukkan kepalanya dibarengi helaan napas berat.
Kedua sudut bibir Tegar tertarik. "Waktu itu, Kamu adalah perempuan terhebat yang aku kenal. Kamu sudah kejar aku selama satu tahun, dan saat kamu berhasil jadi pacar aku, sahabat kamu malah suka sama aku." Tegar berdecih menceritakan masa lalunya.
Bulan melipat kedua tangannya di depan dada. "Jangan dibahas! Kamu jadi sok ganteng! Padahal waktu itu, aku kejar kamu biar dapat bakso gratis dari Ibu kamu," gerutu Bulan.
"Iya, deh. Percaya aku." Tegar terkekeh.
"Kamu ngapain di sini?! Nanti dilihat Mas Purnama, bahaya tahu."
"Oke, aku pergi," ucap Tegar, lalu melenggang pergi.
"Nyesel banget aku dulu kejar-kejar Tegar yang kayak gitu." Bulan bergidik geli mengingatnya kala itu mengejar Tegar mati-matian.
. . .
"Bu Irma!" Bulan berlari mendekati Bu Irma yang sedang mencuci piring.
"Kenapa?" tanya Bu Irma menghentikan aktivitasnya.
"Bintang sukanya sama cewek yang seperti apa?"
Bu Irma sedikit terkejut. "Kenapa, tiba-tiba tanya seperti itu?"
Bulan menghela napas panjang. "Bila suka sama Bintang. Sejak, lima tahun yang lalu," seru Bulan.
"Oh, ya?!" Kedua alis Bu Irma terangkat. "Kabar baik. Bintang juga suka sama Bila."
"Eh? Beneran, Bu?!" Bulan membelalakkan matanya, bibirnya sedikit terbuka.
"Ibu juga sudah merestui, kok."
"Sip. Aku mau kasih tahu ke Bila."
__ADS_1