
"Loh?" kaget Pak satpam melihat rekaman CCTV pada layar laptop.
"Wajahnya gak kelihatan, Pak."
"Em... coba lihat yang di belakang rumah!" pinta Purnama membuat Pak satpam mengangguk.
"Helen?" pekik Purnama.
"Ini pakaian Prianya sama seperti yang menabrak Bu Bulan," ucap Pak satpam dengan mata yang membulat.
"Iya, kamu benar."
"Artinya, Helen yang suruh Pria itu untuk menabrak Bulan."
Purnama naik pitam, langkah kakinya cepat menuju kamar Helen. Membuka pintu kamar dengan keras namun tidak siapapun yang ia lihat. Entah kemana Istri keduanya itu.
Pendengaran Purnama mendapatkan suara gemericik dari kamar mandi. Tanpa berpikir panjang, Purnama membuka pintu itu.
Dump
Helen dengan perut yang rata keluar dari kamar. Wajahnya pucat pasi, gemetaran.
"Coba jelaskan ke Mas!" tegas Purnama.
Helen hanya menunduk.
"Kenapa kamu lakukan ini ke Mas?! Kamu tega! Kamu jahat, Helen!"
"Kamu gak punya perasaan. Selama ini kamu bohongin Mas," sentak Purnama dengan keras membuat Helen meneteskan air matanya.
"Mas, aku bisa jelaska-"
"GAK ADA YANG PERLU DIJELASKAN. SEMUANYA SUDAH JELAS. KAMI BOHONG SAMA SAYA. KAMU GAK HAMIL. KAMU JUGA YANG MENYEBABKAN BULAN KEHILANGAN BAYINYA."
"KAMU! GAK PUNYA PERASAAN!"
"Mas... ada apa ini?" tanya Bulan baru datang. Pupil mata Bulan membesar melihat perut Helen yang rata.
"Loh? Helen..." Bulan mendekati Helen.
"Bulan, kamu jangan dekat-dekat sama Dia! Dia yang sudah menyuruh seseorang untuk menabrak kamu semalam."
Bulan terkejut. Tatapan iba Bulan terhadap Helen berubah menjadi tajam. "Tega kamu," gumam Bulan.
"Bulan, sekarang kamu ke kamar! Biar Mas yang selesaikan ini."
Bulan menurut. Kala sudah kecewa dengan Helen, tidak peduli lagi terhadap Helen. Biarkan saja Purnama memarahinya habis-habisan.
Purnama berjalan mendekat. Tangannya terulur mencengkram kuat kedua pundak Helen.
"Mas..." lirih Helen.
"Saya sudah baik sama kamu dan rela menikah lagi dengan kamu. Saya rela menjadi Suami yang jahat terhadap Istri saya demi kamu. Sekarang, kamu saya talak."
Bak dijatuhi batu besar. Remuk sudah harapan Helen. Air matanya begitu deras hingga membasahi pipinya.
"Alasan selama ini saya tidak tahu bahwa kamu tidak hamil, karena saya ketika melakukan hubungan dengan kamu, saya dalam keadaan mabuk. Iya, kan?"
"Dan kamu bangga akan hal itu."
"Selamat kamu berhasil. Silakan keluar dari rumah saya! Untuk surat cerainya akan saya urus segera."
"Mas, maafin aku, Mas!"
"Aku gak mau pisah sama kamu, Mas..."
"Mas..."
Helen merintih. Purnama mengeluarkan koper dari dalam lemari, lalu melemparkan baju Helen ke lantai.
Helen sesenggukan. "Oke, aku akan pergi tapi gak lama lagi aku akan kembali," ucap Helen dengan penuh penekanan.
__ADS_1
Purnama memejamkan matanya sejenak. "Pergi!"
Helen memasukkan baju-bajunya ke dalam koper lalu melangkah pergi dengan keadaan yang masih menangis.
"AARRGGHH! Helen sialan!"
Purnama meremas rambutnya. Kakinya menendang ranjang yang tidak bersalah. Rasa cinta yang sebelumnya seakan sudah lenyap dimusnahkan kejahatan Helen.
Purnama berjalan menuruni tangga. Mama Sinta menyambut Purnama dengan tatapan yang penuh tanya.
"Purnama," panggil Mama Sinta menghampiri Purnama.
Langkah Purnama terhenti. "Helen kenapa pergi?" tanya Mama Sinta.
Purnama menghembuskan nafas panjang, tangan panjang Purnama terulur menarik tangan Mama Sinta menuju sofa.
"Ha? Jadi, Sebenarnya Helen sedang tidak hamil?!"
Purnama mengangguk. "Terus, pelaku yang menabrak Bulan itu suruhan Helen?" Purnama mengangguk sekali lagi.
"Yang kasih racun juga Helen?!" Purnama mengangguk lagi.
"Dan sekarang kamu sudah talak Dia?"
"Iya," jawab Purnama.
"Sekarang lebih baik kamu bicara ajak Bulan refreshing! Dia pasti masih sedih," ujar Mama Sinta.
Purnama mengangguk setuju. "Aku pergi dulu, ya?"
"Iya."
. . .
"Bulan..." panggil Purnama seraya membuka pintu tanpa sengaja.
Bulan yang sedang memakai baju itu pun buru-buru memakai dengan sepenuhnya. "Mas!" tegur Bulan.
"Maaf," ucap Purnama cengengesan. Purnama membaringkan tubuhnya di atas kasur dibarengi helaan nafas.
"Helen bagaimana?" pekik Bulan.
"Sudah Mas usir," jawab Purnama singkat.
"Loh? Kasihan Helen, Mas!" gerutu Bulan.
"Dia jahat sama kamu."
"Tapi dia perempuan. Di luar juga panas, kasihan, Mas!"
"Ya sudah," ucap Purnama seraya merogoh saku celananya. Purnama mengirimkan pesan kepada seseorang.
"Kirim pesan ke siapa?" tanya Bulan penasaran. Kini Bulan ikut merebahkan tubuh di samping Purnama.
"Ares. Aku suruh dia antar Helen ke apartemen Mama," kata Purnama.
"Itu baru Purnama," pekik Bulan.
"Eh? Mas Purnama," ucap Bulan memperbaiki.
Purnama mengelus pucuk rambut Bulan dengan lembut. "Bulan, mau liburan gak?"
"Hem? Liburan? Boleh."
"Besok, ke LA, mau?"
Bulan mengangguk dengan cepat. Purnama tersenyum menggoda. "Sun dulu!"
Bulan mendengus kesal. Tubuhnya kini duduk di samping Purnama. "Gak mau," ledek Bulan beranjak turun dari kasur.
Bulan meraih handphone yang berada di nakas. "Bila?" gumam Bulan.
__ADS_1
"Hallo, iya?"
"Kak, nanti sore aku sampai di sana. Jangan lupa masak yang banyak, ya."
"Oleh-olehnya juga jangan lupa, ya."
"Oke, nanti aku belikan mangga buat calon keponakan aku."
Bulan terdiam sejenak. Tangannya mengelus perutnya yang sudah rata. Purnama yang melihat itu juga ikut mengelus perut Bulan sambil tersenyum. "Iya, sampai ketemu." Bila pun menutup teleponnya.
Purnama tersenyum ke arah Bulan dengan lebar. Purnama mendekatkan bibirnya ke telinga Bulan. "Ayo, buat dede lagi," bisik Purnama membuat Bulan merinding.
Bulan sontak berdiri membuat Purnama menatapnya tajam. "Mas, baru kemarin aku di operasi, loh!" gerutu Bulan dengan kesal.
"Lupa," pekik Purnama sambil memukul kecil kepalanya. "Sun saja, deh."
"Gak mau, aku mau masak." Bulan melangkah pergi meninggalkan Purnama yang termenung tidak mendapatkan ciuman dari Istrinya.
Sepi deh gak ada Bu Irma. Batin Bulan sambil memotong bawang.
"Loh? Kok kamu nangis?" pekik Purnama menghampiri Bulan.
"Potong bawang ini, loh."
"Sayang, kamu mau gak Bu Irma kerja di sini lagi?"
Bulan menatap Purnama dengan terkejut.
"Oh, iya aku lupa cerita sama kamu kalau sebenarnya bukan Bu Irma yang masukkan racun."
"Loh? Terus siapa?"
"Helen." Bulan kembali membulatkan matanya.
"Yang benar, Mas!"
Purnama mengangguk. "Mau? Besok juga boleh, kan kita mau liburan jadi sekalian buat teman Mama."
"Bila juga pulang sore ini, Mas."
"Kita ajak mereka aja, bagaimana?" tawar Bulan tanpa sadar membuat Purnama terdiam.
"Jangan, kita berdua aja, ya," ucap Purnama meyakinkan.
"Hem..." deham Bulan.
Bulan kembali memotong bawang untuk memasak nasi gorong.
"Mana kontak anaknya Bu Irma? Biar aku yang hubungi," seru Purnama.
Bulan menyodorkan handphonenya pada Purnama. "Ini, namanya Bintang."
Purnama meraih Ponsel dari tangan Bulan.
"Hallo, Bulan."
"Ini Saya, Purnama."
Bintang di sebrang bungkam sejenak. "Iya, ada apa, ya?"
"Bu Irma mau tidak kerja di sini lagi? Semuanya sudah terbukti bahwa beliau tidak bersalah."
"Iya, nanti saya sampaikan."
"Iya, baik. Terima kasih."
Purnama berkata dengan dingin membuat Bulan menahan tawa.
"Datar banget wajah kamu," kata Bulan sambil menunjuk wajah Purnama.
"Kamu ngeledek Mas?"
__ADS_1
Bulan menggeleng dengan cepat.