Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang

Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang
Sakit hati pertama Bila


__ADS_3

Hai...


Kangen gak?


Mau minta tolong☺


Follow author, dong😚


Makasih.


HAPPY READING 💕


Dokter itu keluar dengan senyum yang mengembang membuat Bulan berdiri.


"Dokter, bagaimana keadaannya?"


Dokter itu mengangguk. "Sekarang dia sudah baik-baik, saja. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan untuk saat ini. Semangatnya untuk hidup besar karena anda."


Bulan menghela nafas dengan lega. "Terima kasih, Dokter."


. . .


Setelah melewati masa tenggang selama satu minggu lamanya, Purnama akhirnya dipindahkan ke ruang rawat. Tentunya dengan layanan VIP.


Purnama tidak lepas menggenggam tangan Bulan. Wajah tampan Purnama yang terlihat pucat membuat Bulan sedikit khawatir meski dokter sudah mengatakan tidak ada yang perlu dikhawatirkan.


"Bulan," panggil Purnama.


Bulan menatap lekat manik mata Purnama yang kali ini terlihat tulus itu.


Purnama menunduk. "Maaf," ucapnya lirih.


Bulan tersenyum simpul. Tangan mungilnya membelai rambut Purnama, lalu mengelus lembut kedua pipi Purnama. "Aku yang minta maaf. Seharusnya waktu itu aku gak-" Ucapan Bulan terputus, lantaran Purnama yang mencium bibir Bulan.


Manik mata Bulan melebar merasakan perutnya yang bergejolak hebat. Perlahan mata Bulan ikut menutup merasakan kehangatan yang nyaman dari suaminya.


Tangan Purnama memegang tekuk leher Bulan untuk memperdalam ciumannya. Ciuman yang semata-mata untuk melampiaskan kerinduannya terhadap kulit istrinya yang lama tidak ia sentuh.


Bulan langsung menunduk saat Purnama melepaskan ciuman itu. Dagu Bulan terangkat karena tangan kekar Purnama. "Udah dimaafkan berarti?" pekik Purnama.


Bulan meneguk ludahnya kasar. Kepalanya mengangguk pelan. "Sshh...mau lanjut?" celetuk Purnama membuat Bulan membelalakkan mata.


Tangan Purnama menyambar pinggang ramping Bulan. Membawa kepala Bulan ke dalam dada bidangnya. Memeluk istrinya dengan erat.


"Makasih," bisiknya di telinganya Bulan.


Bulan tersipu, pipinya memerah. Tangannya ikut mengeratkan pelukan dengan suaminya.


Akhir yang menyenangkan. Bulan kembali bersama Purnama, meski nanti ia tahu apa keburukan yang akan terjadi karena Helen masih menjadi istri Purnama. Bulan mengira begitu karena dia tidak tahu tentang apa yang terjadi dengan Helen dan Ares.


Perlakuan manis Purnama membuat kebencian Bulan padanya menghilang seketika. Suaminya itu kini sangat manja.


Masih berada di ruang rawat dengan fasilitas yang lengkap. Ini adalah hari ke 10 setelah kecelakaan itu. Purnama sadar setelah satu minggu memejamkan mata.

__ADS_1


Bulan menyuapi sepotong apel pada Purnama. Ada Bintang yang duduk di sofa memperhatikan kemesraan sepasang suami-istri itu. Bintang jomblo sebelum Bulan menjadi janda, dirinya sudah cinta mati dengan Bulan.


Pintu itu terbuka membuat ketiga orang yang berada di dalam menoleh. Alis Bulan saling bertautan. Purnama menghela nafas panjang. Bintang menatap dengan datar.


Helen dengan Ares di belakangnya. Senyum bahagia Helen mendekati Purnama. Lalu memeluk tubuh Purnama. Purnama hanya diam tanpa ekspresi.


"Mas, apa kabar?" tanya Helen dengan girang.


Purnama berdecih sambil membuang muka. "Kamu masih hidup ternyata," pekik Purnama membuat Helen berdecak kesal.


"Siapa yang bilang aku mati? Istri kamu itu?!" Helen menatap remeh Bulan.


Purnama memalingkan wajahnya. "Mau apa kamu ke sini?" Wajah Purnama datar.


Bulan kebingungan, kenapa suaminya itu terlihat membenci istri keduanya? Kenapa Helen datang bersama Ares?


"Aku mah jenguk suami aku, dong."


"Akan segera aku urus surat cerai kita," sarkas Purnama dengan ketus.


Dahi Bulan berkerut. Mulutnya sedikit terbuka. Bulan melihat Helen dan Purnama secara bergantian. Sepertinya dia ketinggalan sesuatu.


"Aku gak mau cerai sama kamu. Gak ada alasan yang jelas buat kamu ceraikan aku. Ini jelas anak kamu." Perkataan Helen terdengar penuh penekanan. Hal itu semakin membuat Bulan bingung.


"Jelas aku melakukan itu dengan kamu. Aku sama Ares memang punya hubungan tapi anak ini anak kamu, Mas." Helen menunjuk-nunjuk perutnya yang buncit. Namun, Purnama terlihat tidak menghiraukan hal itu.


"Ya udah, kamu minta nikah aja sama pacar kamu!" pekik Purnama.


"Mas Ares pacar Helen?" Ucapan Bila yang terdengar lirih membuat semua orang menoleh. Bila mematung di ambang pintu, tepat di belakang tubuh Ares.


"Mas Ares pacarnya Helen?" ucap Bila sekali lagi. Bulan berdiri menghampiri adiknya itu.


"Kamu ada hubungan apa sama Ares?" tanya Bulan.


Bila menatap Bulan sekilas, lalu beralih menatap Helen. "Helen, Mas Ares pacar kamu?" Helen mengangguk.


Manik mata Bila yang berair itu melebar. Dadanya terasa sesak. Langkah kakinya melangkah mundur lalu berlari meninggalkan semua.


"Bila!" teriak Bulan tak dihiraukan oleh Bila.


Ares yang sempat mematung itu mengejar Bila. "Sialan!" umpatnya seraya berlari.


Bila berlari menuju taman yang berada di dekat rumah sakit. Langkahnya tak terhenti sama seperti air matanya yang menetes dengan deras.


"Bila!" teriak Ares membuat langkah Bila terhenti.


Langkah pelan Ares mendekati Bila yang berdiri tegak. "Bila..." panggilnya dengan lembut.


Bila merotasikan bola matanya. Kedua telapak tangannya mengepal menahan emosi. "Pergi!"


Ares sontak berhenti. Dia menatap punggung Bila yang naik turun karena nafasnya. "Aku bisa jelaskan."


"Gak ada yang perlu dijelasin, Mas. Mulai sekarang, kita gak ada hubungan lagi." Bila melenggang pergi dengan langkah kakinya yang cepat.

__ADS_1


Ares hanya menatap kepergiannya dengan tangan yang mengepal. Matanya memanas. "Sialan!" Kakinya menendang batu yang ada.


Kini hubungannya dengan Bila sudah berakhir. Hubungan yang dia ciptakan hanya untuk mendekati Bulan, orang yang sebenarnya ia suka. Namun sayang, usahanya gagal dan membuat hati Bila menjadi korban.


Bila menangis sesenggukan sambil duduk di bawah pohon rindang. Kedua kakinya ia lipat untuk menyembunyikan wajahnya. Tangisnya pecah. Suasananya sepi, hanya ada suara Bila.


Langit juga tak berminat untuk meramaikan. Burung seakan tahu, bahkan mereka hanya melintas tanpa suara.


"Bila." Bulan datang menghampiri adiknya yang patah hati itu.


Bulan langsung memeluk tubuh Bila. Bila mendongak menatap Bulan. Tangan Bulan menyeka air mata Bila yang membasahi pipi. "Jangan nangis!" ujar Bulan.


Kepala Bila menggeleng. "Aku lemah, Kak," ucapnya lirih.


"Apa yang kamu tangisi dari Ares?" celetuk Bintang membuat Bila mendongak.


"Jangan ikut! Aku gak kenal kamu," ketus Bila membuang muka.


"Bintang," katanya sambil jongkok di hadapan Bila. Bila menatap Bintang dengan tajam, lalu memalingkan wajahnya dan lebih memilih menyembunyikan wajahnya di dalam pelukan Bulan.


"Sebelum Purnama datang minta maaf sama kamu, dia tahu sebuah kebenaran bahwa Helen ada hubungan dengan Ares," seru Bintang membuat Bulan membulatkan matanya.


"Hubungan?" tanya Bulan.


Bintang mengangguk. "Aku kasih tunjuk Purnama vidio saat Helen bilang sama Ares bahwa anak yang dikandung itu anaknya."


"Purnama langsung percaya. Purnama juga bilang alasan dia usir kamu, dia cuma gak mau kalau kamu bertengkar terus sama Helen."


"Kenapa harus Kak Bulan yang diusir?!" gerutu Bila. "Kalau itu alasannya, kenapa bukan Helen yang diusir? Mas Purnama emang sialan."


"Aku ketinggalan sebanyak itu, ya?" Bulan menyorot Bintang dengan tajam.


"Maaf, aku gak kasih tahu kamu karena gak diizinin sama Ibu."


"Kamu kok bisa pacaran sama Ares?" tanya Bulan pada Bila.


Bila mendongak, bibirnya mengkerut. "Aku gak sengaja ketemu di jalan waktu aku kecopetan. Dia tolongin aku, dan akhirnya kita kenalan," katanya.


"Padahal, dia pacar pertama aku." Wajah Bila terlihat sangat melas.


"Pungut dia, Bintang!" pekik Bulan.


. . .


"Aku gak mau cerai sama kamu!" rengek Helen.


"Oke, kita bisa cerai kalau sudah ada bukti DNA bahwa anak ini bukan akan kamu. Tentu itu gak akan ada karena anak ini memang anak kamu."


"Udah, Mas. Kasihan, aku pernah merasakan itu," ujar Bulan.


"Tapi nanti kalian-"


"Aku janji gak akan bertengkar sama Bulan."

__ADS_1


Purnama memaksa untuk cerai dari Helen, tetapi istri keduanya itu tidak setuju. Juga Bulan yang merasa kasihan terhadap madunya. Sepertinya hati Bulan terbuat dari kapas.


__ADS_2