
Maaf baru up😔Aku abis patah hati😗
Setelah mengetuk pintu beberapa kali, hingga tangan Bintang memerah akhirnya pintu itu bergerak terbuka. Berharap, kali ini berhasil bertemu Purnama.
Saat pintu itu bergerak terbuka, jantungnya berdetak kencang. Matanya berkedip beberapa kali melihat batang hidung orang yang diharapkan keluar.
Benar, itu adalah Purnama yang membuka pintu dan langsung menyambut Bintang dengan tatapan tidak bersahabat. Bintang agak takut melihat sorot mata tajam Purnama itu namun ia harus mengusir perasaan itu jauh-jauh.
Bintang menghela nafas panjang sebelum mengatakan tujuannya. "Aku ada-"
Belum selesai tapi Purnama sudah menyambar perkataan Bintang. "Masuk!"
Bintang bergeming. Alisnya bertautan. Seribu pertanyaan memenuhi pikirannya. Bintang berfikir bahwa Purnama akan mengusir, tetapi Purnama itu malah mengajaknya mampir ke dalam rumah.
"Aku mau tanya soal Bulan," ucap Purnama membuat Bintang tertegun. Purnama melenggang masuk mendahului Bintang.
Bintang mengikuti langkah Purnama. Langkah Purnama terhenti di depan pintu saat Bintang sudah masuk. Tangan kekar Purnama menutup pintu dengan pelan. Purnama kembali berjalan menuju sofa. Tubuhnya ia dudukkan di benda empuk itu. Purnama menatap Bintang yang hanya berdiri, ia menggerakkan matanya sebagai isyarat menyuruh Bintang duduk.
Dengan tubuh yang kaku, Bintang duduk menghadap Purnama.
"Ekhem." Purnama berdeham membuat Bintang terkejut dan kembali mematung.
"Gimana Bulan?" pekik Purnama.
"Baik. Kenapa Kamu tanya? Bukannya kamu sendiri yang usir Dia?" tanya Bintang balik.
Purnama memalingkan wajahnya. Helaan nafasnya menyusul. "Aku usir Dia karena aku gak mau Dia sama Helen bertengkar terus."
"Aku juga selalu kirim orang buat pantau Bulan."
"Aku masih cari cara agar Helen gak bersikap seenaknya sama Bulan."
"Aku juga tahu kalau Helen selalu semena-mena sama Bulan. Oleh karena itu, Aku usir Bulan. Mungkin, Bulan sudah benci sama aku karena Dia gak tahu kebenarannya."
Bintang menganga. Ternyata dugaannya semua orang itu salah. Nyatanya Purnama mengusir Bulan agar tidak ribut dengan Helen. Namun sayang, Bulan kini sudah menganggap Purnama adalah Pria yang kejam.
"Bahkan, Bulan sudah kirim surat cerai," lanjutnya diiringi senyum miring.
"Kamu benar," sahut Bintang membuat Purnama menatapnya serius.
"Bulan sudah benci sama kamu. Dia berfikir kamu tidak percaya bahwa Dia sedang mengandung anak kamu. Itu bahaya, dan dengan kamu mengusir Dia itu menjadi bukti bahwa kamu lebih memilih Helen dibanding Dia."
"Dia Istri pertama kamu tapi kamu tidak pernah membuatnya merasa menjadi seorang Istri."
"Setiap malam Aku dengar suara tangisannya. Itu menganggu, aku kasihan. Namun, orang yang menyebabkan itu semua sama sekali tidak merasa kasihan." Ucapan Bintang yang penuh penekanan membuat Purnama terdiam.
"Dan satu hal yang harus kamu tahu sebagai calon ayah dari anak Istri kedua kamu, Helen." Bintang menyeringai, lalu tangannya merogoh sakunya dan mengeluarkan benda yang sangat ia lindungi selama beberapa hari ini.
Bintang menyodorkan handphone itu pada Purnama. Purnama memutar vidio itu. Tepat di cafe waktu itu saat Bintang memergoki Helen sedang bersama seorang Pria dan membahas anak di dalam kandungan Helen yang nyatanya bukan anak dari Purnama, tetapi anak dari Pria itu.
__ADS_1
Betapa terkejutnya Purnama. Matanya melebar, pupilnya membesar. Bibirnya sedikit terbuka. Tanpa sadar tangan kekarnya menggenggam dengan erat handphone Bintang yang berada di tangannya.
"Ares, sialan!" umpat Purnama.
Purnama geram. Bibirnya sampai ia gigit sendiri. Matanya menjadi seram. Otot-otot tangannya menonjol hingga terlihat. "Ares, kurang ajar!" Purnama memicingkan matanya. Giginya saling menekan. Matanya ia pejamkan untuk meredam sedikit emosinya.
Purnama mengembalikan handphone itu pada Bintang yang menatap Purnama dengan datar. Dahi Bintang mengerut. "Kamu kenal Pria itu?" tanya Bintang.
Purnama mengangguk. "Dia salah satu pegawai ku, sekaligus sahabatku."
Bintang sangat kaget. Matanya melebar. "Sekarang?"
Purnama menghela nafas panjangnya. "Aku mau minta maaf sama Bulan," serunya.
Purnama berdiri, Bintang hanya menatap tubuh Purnama yang menegak. Purnama melenggang pergi meninggalkan Bintang yang tidak berkedip.
"Seriusan? Aku ditinggal, nih?" pekik Bintang kala melihat punggung Purnama yang membelakanginya.
Bintang menarik nafas dalam lalu menghembuskannya sebelum melangkah menyusul Purnama.
. . .
"Kok belum dibalas suratnya?"
"Seharusnya Mas Purnama langsung tanda tangan."
"Tapi sampai sekarang kok masih belum?"
Berada di bawah pohon rindang yang menghalangi sinar matahari mengenai Bulan. Punggungnya ia sandarkan di tubuh pohon besar itu. Sejuk, tenang rasanya. Tangan kirinya memainkan genangan air yang jernih itu.
Senyum yang terukir di wajahnya itu perlahan berkerut. Kepalanya ia tundukkan. "Bosan," gumamnya pelan.
Kepalanya terangkat, mendongak menatap daun-daun pohon yang menari-nari. "Kapan kamu lahir, Sayang?" ucapnya seraya mengelus perut buncitnya. Mungkin usianya sudah satu bulan lebih.
"Sehat terus, ya!"
"Biar bisa lihat dunia."
"Biar Kakak Kamu bisa lihat kamu main sama Bunda..."
"Eh? Bunda atau Mama, ya?"
"Mami? Aunty? Eh, aunty kan tante."
Bulan berandai-andai, senyum lebarnya kembali terlukis. Namun sayang, perutnya masih belum dielus oleh Purnama.
Wajah Bulan berseri-seri. Suasana juga bersahabat. Kicauan burung menemani seakan menjadi lagu alam. Jika bisa, Bulan ingin terbang dan merasakan menembus awan.
Namun, suara lantang memanggil nama Bulan membuat jantungnya berdetak kencang.
__ADS_1
"Bulan!" Itu yang ia dengar, tetapi saat mencari tidak ada siapapun.
Bulan celingukan. Suara langkah kaki mendekat dari belakang. Matanya membulat, perasaannya menjadi tidak karuan. Pria yang selama ini ia rindukan muncul di hadapannya. Bulan berdiri.
Purnama terlihat ngos-ngosan. Matanya berbinar menatap Bulan. Senyum lebar dan tulus yang Bulan lihat membuat hatinya tersentuh.
"Bulan, Mas kangen sama Kamu," sarkasnya. Tanpa permisi, Purnama menarik Bulan ke dalam pelukannya. Sangat erat hingga tak mau terlepas.
Tangan Bulan seakan mati rasa. Tidak bisa bergerak untuk membalas pelukan itu. Purnama yang tidak merasakan tangan Bulan tidak menyentuh punggungnya segera melepas pelukan itu.
"Bulan, Mas gak bermaksud untuk usir kamu."
"Mas cuma gak mau kamu bertengkar sama Helen."
"Kamu maafin Mas, kan?" Tatapan Purnama sendu.
Bulan hanya menatap dengan datar. Dia diam seribu bahasa. Matanya menyorot Purnama dengan malas. Rasanya ego itu sudah menguasai diri Bulan.
"Munafik!" pekik Bulan membuat Purnama tersentak.
"Gak usah munafik, Mas!"
"Pada awalnya Mas emang gak terima pernikahan ini. Mas cuma jadikan pernikahan ini untuk kesenangan Mas sendiri."
"Mas cuma mau gak ngelawan sama Mama, kan?" Purnama menggeleng.
"Aku tahu, Mas. Aku sadar. Aku hanya benda sebagai pelampiasan Mas kalau Helen gak ada." Butiran air mata Bulan menetes. Suaranya menjadi serak karena menahan tangis.
Tangan Purnama terulur menyeka air mata Bulan, tetapi dengan cepat Bulan menepisnya. Purnama bergeming.
"Bulan, kamu jangan bohongi perasaan kamu! Kamu masih sayang kan sama Mas?!" ucap Purnama dengan suara bergetar.
"Iya, aku memang masih sayang sama Mas."
"Tapi untuk saat ini aku gak mau lihat kamu, Mas!"
"Bukan aku."
"Tapi anak kamu yang nyatanya gak kamu anggap sebagai anak kamu. Iya, kan?" Suara Bulan terdengar lirih.
"Lebih baik sekarang Mas pulang, kasih sayang Mas cukup buat anaknya Helen, aja. Anak aku cukup dapat kasih sayang dari aku, aja." Bulan melenggang pergi meninggalkan Purnama yang mematung.
Tubuh Purnama seakan tidak bisa bergerak. Hanya matanya yang mampu melihat kesedihan Bulan. Tubuh nya tidak bisa bergerak. Kakinya melemas hingga membuat tubuhnya jatuh tersungkur.
Air mata Purnama menetes dengan deras. Kepalanya ia pukuli. Rambutnya ia acak-acak. Purnama sudah frustasi.
"Aku gak akan pernah maafin diri aku sendiri kalau kamu gak mau balik sama aku, Bulan..."
Gimana? Kasih Bulan balik sama Purnama tidak? Aku kasihan sama Purnama 😢
__ADS_1
Bagaimana kalau kita jodohkan Bila sama Bintang, setuju?