
...HAPPY READING...
Tegar tidak berhenti menyelidiki kasus yang diserahkan padanya. Sudah satu minggu berlalu. Hari ini, mereka akan melakukan meeting secara detail.
Tegar berada di ruangan Purnama. Hanya berdua.
"Ruangan itu berada di pojok. Tidak ada orang luar yang tahu tempatnya." Purnama menyimpulkan hal itu berulang kali.
"Siapa saja yang bisa masuk?" tanya Tegar dengan serius. Raut wajahnya hanya terfokus pada masalah ini.
"Hanya ... aku, Ares, Helen, Rio, dan Haidar."
"Siapa mereka?"
"Ares, Asistenku. Helen, sekretarisku. Rio, manager kepercayaanku. Haidar, bagian keuangan kepercayaanku."
"Helen ... istri keduamu?"
Purnama mengangguk. "Sudah pasti pelakunya adalah orang dalam."
"Apa di luar kantor ada CCTV?"
"Di depan kantor ada toko, pasti terlihat dari sana."
Keduanya langsung bergegas pergi untuk bertindak.
Tentang banyak kontrak Purnama yang gagal sudah dipecahkan. Semua klien yang membatalkan, sekarang sudah menjadi klien Pak Wandra. Ada yang menyebar luaskan tentang pencurian di perusahaan Purnama.
Satu-satunya yang harus dipecahkan adalah siapa pengkhianatnya?
Rekaman CCTV itu sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan mereka. Kupluk hoodie yang pelaku kenakan membuat wajah mereka susah untuk dikenali.
Tegar menghentikan rekaman itu di menit, dimana salah satu dari mereka membenarkan tali sepatunya. Titik hitam di tangannya terlihat jelas, seperti tanda lahir. "Siapa yang punya tanda lahir seperti itu?" tanya Tegar.
Purnama menyipitkan matanya. Gambar itu tidak terlalu jelas, dan Purnama tidak terlalu memperhatikan pegawainya. "Laki-laki," ucap Purnama. "Aku gak terlalu tahu tubuh mereka."
Tegar menghela napas panjang. Kepalanya terasa pusing. Ini adalah kasus yang mudah, tetapi sulit untuk dipecahkan.
Suara handphone Purnama terdengar membuatnya merogoh saku celananya.
"Hallo? Ada apa?"
"Mas, tolong! Perut aku sakit banget."
"Helen, kamu kenapa?!" Purnama mulai panik mendengar rintihan Helen dalam telepon. "Kamu lagi ada dimana?"
"Aku di rumah, Mas. Bulan lagi jemput anak-anak. Jadi, di rumah gak ada orang. Arrgh ...."
Panggilan itu diputus secara sepihak oleh Helen. Purnama yang panik tidak karuan.
"Aku harus pergi." Purnama melenggang pergi, Tegar belum menjawab.
"Aku harus mencari Dia sekarang."
. . .
Ruangan putih dan terang. Purnama ada bersama Bulan. Saat sampai, Purnama langsung membawa Helen ke rumah sakit.
Kata Helen perut kanannya sangat sakit, seperti di tusuk-tusuk.
Dokter laki-laki itu keluar membuat Bulan berdiri. "Dokter Pras, bagaimana keadaan Helen?"
"Bu Helen gagal ginjal, sudah lama. Harus segera mendapatkan donor ginjal. Jika, tiga bulan belum dioperasi, maka sudah tidak bisa diselamatkan."
Manik mata Bulan melebar. Ginjal? Helen mengidap penyakit ginjal? Padahal selama ini Helen baik-baik saja.
__ADS_1
"Kami akan membantu mendapatkan pendonor, semampu kami."
. . .
Helen terbaring lemas di atas brankar rumah sakit. Tangannya terdapat sebuah selang infus. Matanya sayur melihat kedatangan Bulan.
"Helen, kamu kok gak bilang?" tegur Bulan dengan suara halus.
"Aku bahkan gak tahu," ucap Helen. "Aku titip Areum, ya!"
"Hey! Jangan bilang begitu!" sentak Bulan.
Air mata Helen menetes. Bibir bawahnya ia gigit. Rasanya sesak. "Maaf, mungkin ini karma dari perbuatan aku."
"Bukan, jangan bilang seperti itu!"
"Kamu jangan sok baik, Bulan. Kamu senang, kan? Kamu pasti senang karena aku bakal mati."
Bulan tersentak kaget. Helen, dia hanya pura-pura. Seseorang yang jahat, tidak akan bisa berubah menjadi baik dalam waktu yang cepat.
Bulan yang ingin menangis malah tidak jadi. Dia menyesal karena telah kasih dengan wanita lemah dihadapannya itu.
"Kamu senang karena Mas Purnama akan jadi milik kamu seutuhnya. Lalu, kamu akan membuang Areum, kan?"
Bulan menggeleng dengan cepat. "Cih, munafik," umpat Helen.
"Gak tahu diuntung kamu!" pekik Bulan lalu melenggang pergi. "Didoakan supaya cepat sembuh, malah ngelunjak."
Purnama yang sedari tadi menundukkan kepala, kian mendongak melihat kedatangan istrinya. Bulan duduk di samping Purnama. "Kamu kok bisa suka sama Dia, sih?!" gerutu Bulan.
"Kenapa?" tanya Purnama dengan suara lirih.
"Dia bilang kalau aku kasihan sama Dia cuma pura-pura. Padahal, aku gak bohong." Ekspresi Bulan terlihat sangat kesal. Kedua tangannya ia lipat di depan dada.
Purnama sedikit terkekeh melihat Bulan. "Maaf," ucap Purnama.
"Aku akan sedih, Dia cinta pertama aku."
"Tapi aku cinta terakhir kamu, Mas?"
"Iya, Sayang."
"Mas, dua hari lagi anak-anak ada pementasan," ucap Bulan.
"Terus?"
"Kamu bisa datang, kan?"
"Iya, aku usahakan."
Bulan yang awalnya senang berubah menjadi kesal. Suaminya itu jarang di rumah. Sekali berbicara, sangat padat.
Tegar berjalan dengan santai tanpa arah. Dia hanya lewat untuk menyelesaikan niatnya. Mencari lelaki dengan tanda lahir di tangan.
Langkahnya beberapa kali terhenti untuk menyapa dan melihat lebih teliti. Seorang pria mencuri perhatiannya.
"Ares, kamu ada nomornya Pak Purnama, gak?" tanya Tegar.
"Ada," jawab Ares.
"Minta, dong. Handphone saya ganti."
"Oh, iya, Pak." Ares mengambil handphone miliknya, lalu menyodorkannya pada Tegar.
Keyakinan Tegar memudar, karena titik itu berada di tangan kanan yang seharusnya berada di tangan kiri. "Terima kasih, ya."
__ADS_1
"Sama-sama, Pak."
. . .
"Kenapa Dia?" tanya Mama Sinta sambil menatap sinis Helen.
Purnama itu menggendong Helen menaiki tangga. "Masih sakit, ya?" tanya Purnama. Helen mengangguk dengan lemah.
Bulan dan Mama Sinta berada di lantai bawah. Tangan Bulan menarik Mama Sinta duduk di sofa.
Mama Sinta menatap Bulan dengan penuh penasaran.
"Helen sakit ginjal."
Manik mata Mama Sinta melebar. Bibirnya sedikit terbuka ia tutup dengan telapak tangan. "Karma!" pekiknya diiringi gelak tawa.
"Ma, gak boleh gitu, ih!"
"Karma, loh ...."
"Dia juga menantu kamu, Ma."
"Bukan." Mama Sinta menolak mentah-mentah. "Terus, gimana?"
"Kalau dalam waktu tiga bulan gak ada pendonor ...," serunya.
"Mati?" Bulan mengangguk.
Wajah Mama Sinta terlihat berseri, bukannya sedih tapi malah kesenangan. Bulan sedikit khawatir, bagaimana nasib Areum kelak?
"Bunda, Mama Helen kenapa?" Raka datang diikuti Areum di belakangnya.
Bulan menatap wajah khawatir Areum. "Mama Helen sakit perut aja, kok."
Raka menganggukkan kepalanya. Areum itu hanya diam menunduk. "Areum Sayang, kamu temani Mama di kamar, ya!" ucap Bulan dibalas anggukan oleh Areum.
Areum menaiki tangga menuju kamar Helen. Areum bertemu Purnama yang keluar dari kamar.
Purnama berjongkok menyamakan tingginya dengan Areum. Tangan kekarnya mengelus pucuk kepala Areum. "Kamu jagain Mama, ya," ucap Purnama dengan lembut.
"Iya, Yah."
Purnama melenggang pergi.
"Mas, kamu mau kemana?" tanya Bulan.
Purnama menghampiri Bulan. "Aku mau balik ke kantor."
"Aku tadi tinggalin Tegar sendirian," lanjutnya.
"Tegar siapa?" tanya Mama Sinta.
"Tegar, mantannya Bulan," celetuk Purnama. Bulan kesal, ia mencubit lengan Purnama.
"Itu loh, Ma. Detektif yang aku sewa ... pacarnya Bulan." Purnama tertawa.
"Mas!"
"Aku pergi dulu, ya," pamit Purnama.
"Iya, hati-hati." Mama Sinta melambaikan tangan pada Purnama.
Sebelum pergi, Purnama meninggalkan satu kecupan di kening Bulan.
Mampir dulu, yukkk
__ADS_1
...Hubungan yang baru saja terjalin membuat hidup Nara menjadi rumit. Satria bertubuh tinggi dan tampan yang berstatuskan sebagai pacar Nara ternyata hanyalah bocah SD. ...