
~**HAPPY READING**~
"Areum ...," teriak Purnama memanggil putrinya yang berada di kamar Helen.
Areum berlari menghampiri Purnama. Helen yang tadinya menemani Areum bermain itu ikut mendekati Purnama.
"Ikut Ayah, yuk."
"Mau kemana, Mas?" tanya Helen dengan mata berbinar.
"Mau tes DNA Areum," jawab Purnama singkat. Ia menggendong Areum, lalu membawanya pergi. Namun, Helen lebih cepat menghentikan langkah Purnama.
"Buat apa, Mas?!" sentak Helen.
"Buat bukti, lah."
"Mas, jangan gini!"
"Kenapa? Kamu takut?" Purnama memicingkan matanya.
Helen merasa geram. Giginya ia gigit bersamaan melepaskan lengan Purnama yang sedari tadi ia tahan. "Oke, silakan!"
Purnama menatap tajam Helen, lalu melenggang pergi.
"Ayah, kita mau kemana?" tanya Areum dalam gendongan Purnama.
"Kamu ikut Ayah, ya!" Areum itu hanya mengangguk.
Bulan yang sedang mengelap meja itu menoleh kala melihat kepergian Purnama. Dahi Bulan berkerut. Ia melangkah menyusul suaminya.
"Mas!"
"Mas, mau kemana?" tanya Bulan dengan sedikit berteriak.
Purnama itu memasukkan Areum ke dalam mobil putihnya. "Mau tes DNA," jawab Purnama. Ia tidak menghiraukan Bulan, Purnama masuk ke dalam mobil. Lalu ia lajukan mobilnya.
Bulan mematung. Bibirnya ia jilat sekilas. Lalu ia kembali masuk ke dalam rumah.
Saat baru masuk, Helen berada di balik pintu membuat Bulan terkejut dengan kedatangan Helen yang tiba-tiba.
"Pasti kamu yang hasut Mas Purnama, IYA?!" sentak Helen.
"Kenapa? Kenapa kamu marah? Kalau itu memang darah daging Mas Purnama, seharusnya kamu tenang. Kenapa kamu panik?"
Helen memalingkan wajahnya. Dia kembali menatap Bulan dengan tajam. "Raka juga belum tentu darah daging Mas Purnama, kan?" balasnya.
"Kamu sebagai wanita seharusnya bisa memahami perasaan sesama wanita!" ketua Bulan, lalu berjalan melewati Helen.
Helen berdecih, dia berdecak kesal. Tangannya merogoh saku celananya untuk mengeluarkan handphone. Helen berjalan sembari memainkan handphonenya.
__ADS_1
"Hallo, situasi mendesak. Mas Purnama perjalanan ke rumah sakit mau tes DNA Areum."
"Lakukan apapun, pokoknya jangan sampai terbongkar semuanya!"
"Siap, Sayang," balas orang di sebrang.
Helen berjalan dengan buru-buru. Ia berdiri di luar gerbang, lalu menghentikan mobil taksi yang lewat.
. . .
"Makasih ya, Sayang. Kamu sudah mau," ujar Purnama pada putrinya itu.
Keduanya sudah melakukan tes, hanya menunggu hasilnya keluar.
"Mau ice cream?" tawar Purnama dijawab anggukan oleh Areum.
Purnama menggendong Areum, gadis itu terlihat sangat senang. Areum hanya menurut apa yang dikatakan ayahnya.
Purnama sebenarnya melakukan ini hanya sebagai bukti agar dirinya tidak terus terbebani dengan pikirannya tentang Areum bukan anaknya. Memang Purnama sudah ingat masalah video rekaman CCTV yang diberikan Helem waktu itu, dan benar dia melakukan hubungan badan dengan Helen karena dirinya mabuk.
Jika tes DNA hasilnya negatif, tentu saja Purnama akan menceraikan Helen tapi akan tetap menganggap Areum sebagai anak kandungnya. Tentang hubungan Helen dan Ares sebenarnya sudah terjalin sebelum Helen bersama Purnama.
Ketika Ares meminta pekerjaan pada Purnama untuk kekasihnya, Helen. Purnama langsung memberikan jabatan tinggi pada Helen, tetapi dengan syarat keduanya harus putus. Hal itu tidak menjadi masalah besar karena Helen mengakhiri hubungannya dengan Ares. Lalu Purnama menjadikan Helen sebagai kekasihnya hanya sebagai penyegar mata melihat tubuh seksi Helen.
Purnama membawa Areum ke cafe. Tidak lama pesanan mereka datang. Jarak cafe dan rumah sakit lumayan dekat, jadi mereka tidak perlu waktu lama untuk menempuh jalan karena hanya harus menyebrang.
Tepat di depan cafe itu, Helen turun dari taksi. Netranya tidak sengaja melihat suaminya bersama putrinya. Helen tidak menghampiri keduanya, melainkan menyebrang jalan menuju rumah sakit.
"Mas!" teriak Helen memanggil pria itu.
Perawat pria itu menoleh. Helen melambaikan tangan memanggilnya. Dia menghampiri Helen.
Helen menarik tangan perawat itu ke sebuah tempat yang lebih sepi. Perawat itu sampai kebingungan karena wanita yang menarik tangannya membawanya ke depan ruang mayat.
Helen menyodorkan amplop berwarna putih pada perawat itu. Lalu, setumpuk uang juga ia sodorkan. Helen berbicara dengan pelan, perawat itu mengangguk-angguk.
Helen tersenyum miring melihat perawat pria itu melangkah pergi. Helen menyeringai, matanya melirik ruangan yang berada di belakangnya.
"Kamar mayat," pekiknya langsung bergidik ngeri dan pergi.
. . .
Helen itu pintar, lebih tepatnya licik. Setelah menyelesaikan tugasnya, ia pergi ke cafe itu dan menyapa putrinya.
"Akhirnya ..., ketemu juga," serunya berbinar-binar. Ia duduk di kursi samping putrinya.
Areum itu hanya tersenyum sekilas lalu kembali menyantap ice creamnya.
Helen tersenyum berulang kali sambil mencuri pandang Purnama. "Dinner keluarga enak kayaknya, Mas."
__ADS_1
Purnama hanya menatap Helen sekilas. Ia lebih memilih melihat putrinya yang mengemaskan sedang makan ice cream.
Hening beberapa saat.
"Ma, kita kapan makan lagi kayak gini sama Om Ares?" pekik Areum.
Helen meneguk ludah dengan keras. Ia merasa geram pada putrinya itu. "Gak tahu," jawabnya. "Cuma makan biasa kok, Mas," sambung Helen untuk meyakinkan Purnama.
Namun, Purnama itu berekspresi datar tidak menggubris ucapan Helen.
"Sepertinya sudah keluar." Purnama berdiri dari duduknya. Ia mengambil Areum ke dalam gendongannya lagi. Areum itu mengalungkan tangannya pada leher Purnama.
"Ayah tampan seperti Raka," gumam Areum.
Purnama membelalakkan matanya. "Memang Raka tampan?"
"Sedikit." Areum memicingkan matanya. Senyum Purnama kembali mengembang.
"Areum mau jadi pacar Raka?" tanya Purnama membuat gadis itu mengerutkan dahinya.
"Pacar?"
"Ah, lupakan itu, Sayang!" Purnama menyadari ucapannya tidak benar. Seharusnya, ia tidak membahas pacar dengan anak berusia lima tahun.
Dokter itu keluar. Dia adalah dokter kepercayaan Purnama. Dia memberikan amplop pada Purnama, lalu permisi untuk pergi.
Purnama menurunkan Areum dari gendongannya. Gadis itu mendongak menatap Purnama. "Surat apa itu, Yah?" tanya Areum. Dia selalu banyak omong ketika bersama Purnama, apalagi saat bersama Bulan. Berbeda ketika bersama Helen, dia akan lebih bodoamat.
"Surat cinta," jawab Purnama diiringi senyum. Areum mengangguk, ia melirik kursi di belakangnya lalu duduk. Helen mengikuti anaknya itu.
Purnama sedikit gugup, bahkan jemarinya bergetar. Apapun hasilnya, ia harus siap. Napas panjang ia hembuskan. Matanya ia pejamkan beberapa saat. Ia membuka amplop itu, lalu mengeluarkan secarik kertas putih.
"Ayah!" bentak seseorang dengan keras membuat Purnama terkejut dan menatapnya. Itu Raka, diikuti Bulan di belakangnya.
"Loh? Kalian ngapain di sini?!" tegur Purnama.
"Kalian tinggalin Raka. Areum, kenapa tinggalin Raka?! Ayah, kenapa cuma ajak Areum?!" gerutunya.
"Raka, Diam! Ini rumah sakit!" sentak Bulan pada Raka membuat anak itu langsung membungkam mulutnya.
Raka berlari mendekati Areum. "Aku marah sama kamu," ucap Raka dengan ketus, lalu ia duduk di samping kiri Areum sembari melipat kedua tangannya di depan dada.
"Lanjutkan aja, Mas!" pinta Bulan. Ia tersenyum simpul.
Tangan Purnama yang bergetar kembali bergerak membuka lipatan surat itu. Apa pun itu, ia harus kuat. Helen menyoroti Purnama dengan bibirnya yang sedikit tertarik.
Manik mata Purnama melebar. Bibirnya sedikit terbuka. "Positif."
Senyum Helen mengembang dengan lebar. Bulan juga tersenyum melihat Purnama yang merasa lega.
__ADS_1
Kini surat itu membuat hati Purnama tidak gelisah lagi. Areum adalah putrinya, darah dagingnya. Areum bukan anak di luar nikah, ia diproduksi saat ayah dan ibunya sedang bertengkar.