Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang

Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang
Kecelakaan?


__ADS_3

"Bulan, besok Mas ada tugas ke luar kota," ucap Purnama membuat Bulan mengerutkan dahinya.


"Berapa hari?" tanya Bulan.


"Dua minggu?" Purnama menebak-nebak membuat alis Bulan saling bertaut.


"Oke," jawab Bulan singkat.


Bulan sedang memasukkan baju-bajunya ke dalam almari. Bulan dan Purnama sudah kembali ke Indonesia. Bulan duduk di sofa membuat Purnama menoleh. Purnama menatap Bulan yang sepertinya ada mau.


"Mau apa?" tanya Purnama. Bulan tersenyum malu, ternyata Suaminya lumayan peka.


"Mas, kalau Bu Irma kerja di sini lagi, boleh?"


"Boleh. Kapan? Sekarang mau dipanggil?" tawar Purnama membuat Bulan berbinar kesenangan.


"Beneran?"


"Gak, Mas cuma bercanda," pekik Purnama kembali memainkan ponselnya.


"Ih, Mas..." rengek Bulan.


"Iya, Sayang. Nanti, Mas suruh Pak satpam panggil Bu Irma deh."


Bulan tersenyum dengan lebar.


"Kamu kok kayak cinta bangat sama Bu Irma?" Purnama menaik turunkan alisnya.


Bulan yang kesal melayangkan satu bogeman pada lengan Purnama. Meski keras tapi Purnama tidak merasakan apapun.


"Mas," panggil Bulan lagi.


"Apa?" jawab Purnama ketus.


"Ih, Mas kok cuek. Helen dimana?" pekik Bulan membuat Purnama mendengus dengan kesal.


"Jangan bahas Helen!"


"Kenapa? Bukannya kamu suka Helen?"

__ADS_1


"Mas gak suka Helen."


"Tapi Mas sebut nama Helen."


"Mas gak suka Helen."


"Tuh, Mas sebut nama Helen lagi," ucap Bulan menggoda Purnama.


"Jangan bahas Helen!"


"Tuh, artinya Mas suka sama Helen." Bulan menunjuk-nunjuk wajah Purnama.


"Bulan!" sentak Purnama membuat Bulan diam.


"Nanti malam Mas mau ke kantor," ujar Purnama.


"Ngapain?"


"Ketemu Helen," jawab Purnama dengan dingin membuat Bulat cemberut.


"Gak, Mas mau ambil dokumen buat besok."


. . .


"Bu Irma, makasih ya udah mau kembali lagi," ucap Bulan dengan bahagia.


"Iya, sama-sama."


"Bintang jemput Ibuk?" tanya Bulan saat diambang pintu.


"Iya. Itu dia," pekik Bu Irma saat melihat anaknya berjalan mendekat.


Bintang menyapa Bulan dengan senyum, tentu saja Bulan membalasnya. Lesung pipit Bintang terlihat begitu manis. Tampan, manis, tinggi, gagah itu adalah perpaduan yang sangat sempurna bukan?


"Ayo, Bu!" ajak Bintang.


"Aku pamit ya, Bulan."


"Iya, hati-hati." Bulan melambaikan tangan pada Bintang dan Bu Irma yang berjalan menjauh.

__ADS_1


Tidak lama mobil Purnama datang. Purnama keluar dan berjalan dengan sempoyongan. Bulan sudah menduga bahwa Purnama mabuk.


"Bulan..." panggil Purnama dengan suara khas orang mabuk.


Suara berat Purnama terdengar menggelikan di telinga Bulan. Aroma alkohol menyusup masuk ke dalam hidung Bulan. Bagaimana tidak masuk jika wajah Purnama sangat dekat dengan wajah Bulan.


"Mas, katanya besok ke luar kota. Sekarang kok mabuk?!" tegur Bulan.


Purnama menyeringai. "Ares paksa aku," serunya.


"Aku gak percaya." Bulan menghentakkan kakinya dan berjalan meninggalkan Purnama.


Purnama mengejarnya dengan langkah yang melenggok-lenggok.


Purnama menutup pintu dengan keras hingga membuat Bulan kaget. Bulan hanya mengelus dadanya sabar.


"Sekarang Mas tidur! Aku buatin air lemon," ujar Bulan hampir melangkah tapi Purnama menarik tangan Bulan hinggap tubuhnya terbaring di kasur hingga sedikit terpental.


Manik mata Bulan melebar. Jantungnya berdegup kencang. Purnama mendekat, mencium pipi kiri Bulan lalu kanan tak lupa meninggalkan kecupan pada dahi Bulan.


"Mas, aku bau ke empph-."


Kedua mata Bulan terpejam paksa saat benda kenyal menempel pada bibirnya. Purnama sudah menciumnya terlebih dahulu sebelum Bulan berhasil melarikan diri.


. . .


"Mas berangkat, ya," ucap Purnama mengecup dahi Bulan.


Purnama melenggang pergi sambil melambaikan tangan pada Bulan.


"Hati-hati!" teriak Bulan ikut melambaikan tangan.


Sendiri lagi, nanti malam tidur sendiri lagi. Helen sudah pergi dan tidak tahu dimana tapi tetap saja dia akan tidur sendiri karena kini Purnama sudah berpamitan.


Dua minggu berlalu dengan cepat. Bulan tengah membersihkan kamar untuk menyambut kedatangan Purnama. Seprainya sudah diganti dengan yang lebih wangi. Hidung Bulan mengendus kamarnya yang kini beraroma wangi Bunga.


Handphone Bulan yang berada di meja nakas ia ambil karena ada telepon masuk. Bulan mengangkatnya dan meletakkan benda itu mendekati telinganya.


"Purnama kecelakaan." Orang di sebrang mengatakan dengan keras dan jelas membuat Bulan menjatuhkan handphone ke lantai. Kakinya melemas, kini ia terduduk dengan kepala yang menunduk.

__ADS_1


Kabar yang buruk ia dengar saat hari masih pagi seperti ini. Padahal Bulan sudah menyiapkan semuanya. Yang terpikirkan saat ini adalah Purnama harus selamat.


__ADS_2