
Dengan langit yang cerah, Bulan dan Purnama berjalan-jalan mengelilingi daerah yang tidak jauh dari hotel berada. Menaiki taksi jika lelah. Tak lupa mampir ke restoran untuk menyantap makanan luar.
"Mas," panggil Bulan.
Purnama menoleh dengan mulutnya yang mengunyah makanan. "Nanti kita naik itu, yuk." Bulan menunjuk ke sebuah tempat.
Kolam besar yang menyerupai sungai, mungkin memang sungai dengan kendaraan bebek yang mengapung di atasnya. "Iya, makanannya dihabiskan dulu itu!" pinta Purnama, dengan cepat Bulan mengangguk.
Sasa yang berada di kereta dorong itu sedang memakan biskuit dengan lahap, juga wajahnya sudah dipenuhi makanan itu.
"Pak, saya mau naik ini," ucap Purnama dengan bahasa lain.
"Maaf, tapi tidak boleh membawa anak kecil," ucap Petugas itu membuat Bulan yang mendengarnya sedih.
Purnama melihat ke arah Bulan yang menunduk menatap Sasa. Bulan mendongak, Purnama mengangkat kedua pundaknya. Purnama pun merangkul pundak Bulan untuk pergi.
"Kok sedih, sih. Mau pulang ke Indonesia?" pekik Purnama menatap Bulan yang menunduk dengan tangan kanan yang mengendong Sasa.
"E-enggak, kok," ucap Bulan.
Purnama mengelus kepala Bulan dengan lembut. Bayi berusia enam tahun itu menatap Bulan dengan mata yang melebar.
"Apa, Sayang?" ucap Bulan pada Sasa.
"Iya?" sarkas Purnama dikira Bulan bicara dengannya.
"Apa, Mas?"
"Loh...tadi kamu bicara apa?" kata Purnama bingung.
"Aku tadi bicara sama Sasa, kok."
Purnama hanya mengangguk dan segera memalingkan wajahnya. Sepasang suami Istri itu menaiki taksi dengan disupir seorang Pria tua berjenggot.
Langit gelap, bintang-bintang yang bertaburan. Bintang di langit mempunyai banyak teman namun Bulan itu sendiri. Berbeda dengan Wanita cantik yang bernama Bulan itu sedang berada di kamar Syela untuk saling berbincang.
"Ya, semoga kamu segera dapat momongan," ujar Syela.
"Aku juga dulu begitu," pekik Syela membuat Bulan mengerutkan dahinya.
"Dulu?" gumam Bulan.
Syela tersenyum tipis. "Sasa yang kedua. Setelah dua menit lahir, dia meninggal."
Pernyataan besar itu membuat Bulan bungkam. Kedua matanya membulat, tangannya yang menepuk-nepuk paha Sasa terhenti.
__ADS_1
"Yang saya tahu dia adalah laki-laki. Kata dokter ada masalah pada paru-parunya, sebenarnya nyawanya sudah terancam saat di dalam kandungan tapi saya memaksa dan syukurlah saya dan dia selamat. Saya sangat senang saat itu namun sayangnya Tuhan berkehendak lain." Senyum tipis Syela semakin mengembang. Air mata yang menetes dengan segera ia hapus.
"Pokoknya kamu harus semangat! Jangan putus asa! Selagi bisa dilakukan tidak ada yang tidak mungkin."
Bulan mengangguk. "Masih bisa dilakukan," kata Bulan diiringi tawa kecil.
"Eh? Sudah tidur?" pekik Syela terkejut melihat Sasa yang sudah tidur dengan lelap.
"Tangan kamu hebat, Bulan," ujarnya sambil mengelus tangan Bulan.
"Iya, tangan aku ada sihirnya."
"Besok aku pulang ke Indonesia," kata Syela.
"Pekerjaan Suamiku di sini sudah selesai."
"Oh, aku masih mau di sini. Tenang," ujar Bulan.
"Tenang kalau kamu sabar." Perkataan Syela lagi-lagi membuat Bulan bingung.
"Maksudnya?"
"Di sini banyak wanita cantik, gak mungkin suami kamu gak jelalatan. Iya, kan? Saya lumayan kenal sama Purnama," ujarnya dengan tatapan serius.
"Kamu sudah berapa lama menikah dengannya?" tanya Syela.
Bulan merotasikan matanya. "Em... Tujuh bulan, delapan bulan, sih. Gak tahu, lupa aku," jawab Bulan.
Syela mengangguk-angguk. "Sasa belum bisa bicara. Aku pingin banget dipanggil mami sama dia," ucap Syela dengan menatap Sasa.
"Aku pengennya dipanggil bunda sama anak aku nanti. Sebenarnya paling pengen itu dipanggil ibu."
"Tapi sama, aja," lanjut Bulan.
Bulan mengedarkan pandangannya menjelajahi kamar Syela. Tidak bisa diam memang. Hingga dia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul 9.
"Ya sudah, aku mau susul Mas Purnama," pekik Bulan seraya beranjak turun dari ranjang.
"Memangnya Purnama kemana?" tanya Syela.
"Ada di lantai bawah."
"Oh, iya. Hati-hati, ya," ucap Syela.
Bulan melambaikan tangan lalu keluar dari kamar.
__ADS_1
Bulan berjalan dengan pelan. Melihat kanan kiri mencari keberadaan Purnama. Bulan memasuki restoran yang tidak sepi orangnya. Langkahnya terhenti di samping sofa.
Dump
Saat melihat orang di sofa itu mata Bulan memanas. "Mas!" bentak Bulan.
Purnama menoleh. Kedua matanya membulat. Penglihatannya teralih pada wanita yang berada di pangkuannya. Dengan segera Purnama mendorong tubuh wanita dengan pakaian minim itu.
Bulan menahan air matanya, dengan cepat langkahnya pergi dari tempat itu. Purnama panik dan segera mengejar Bulan yang tak lagi menggubrisnya.
"Bulan, Mas bisa jelaskan." Purnama menarik-narik tangan Bulan tapi Bulan terus menepisnya.
"Bulan..." rengek Purnama.
Bulan duduk di kasur dengan tangan yang ia lipat di depan dadanya.
"Besok, kita pulang." Bulan menekankan perkataannya membuat Purnama terdiam.
"Bulan, yang tadi kamu salah paham." Bulan tidak peduli.
"Salah paham? Aku lihat secara langsung, Mas.
"Waktu aku sama Bintang pelukan karena aku hampir jatuh, apa Mas percaya waktu aku jelaskan? Enggak, kan?!
"Dan itu butuh bukti agar kamu percaya. Sekarang aku sudah punya bukti tentang kamu sama perempuan itu."
"Tapi Mas tadi gak-"
"Gak ngapa-ngapain? Iya?!" sarkas Bulan.
"Yang tadi belum aja," pekik Bulan.
"Mas tidur sama perempuan tadi aja!"
"Kamu usir Mas?" lirih Purnama.
"Mas tidur di sofa! Kalau gak mau, tidur di luar! Kalau gak mau juga, tidur sama perempuan tadi. Aku gak peduli!" Bulan menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
"Bantalnya..." Bulan langsung melemparkan bantal pada Purnama.
"Sayang, sun dulu," pekik Purnama.
"Gak ada."
Purnama pun terdiam. Tubuhnya ia dudukan di sofa, lalu kakinya ia luruskan. Memiringkan tubuhnya dengan tatapan yang tertuju pada punggung Bulan. Padahal bisa saja ia menyewa kamar lagi.
__ADS_1