
Huwaaaa kehabisan kuotaš
Purnama adalah ayah yang baik, ia tidak pernah mengingkari janjinya pada kedua anak itu.
Matahari bersembunyi dibalik awan membuat langit mendung. Wajah Raka tertekuk, bibirnya maju ke depan. Dia katanya kecewa karena Purnama bukan mengajaknya ke luar negeri, melainkan hanya liburan di Yogyakarta.
Berbeda dengan Areum yang sedari tadi tersenyum lebar. Tangannya senantiasa menggandeng Raka.
"Aka, kamu gak boleh gitu! Dari pada gak jadi liburan," ucap Areum menasihati Raka.
"Aka mau ke kebun binatang." Dia merengek sambil menghentakkan kakinya ke tanah.
"Kata Ayah besok ke kebun binatangnya. Sekarang jalan-jalan ke taman dulu."
"Oke."
Mereka mengitari taman. Raka dan Areum duduk di tepi kolam. Tidak sedikit ikan yang berenang di dalamnya. Purnama dan Bulan mengawasi dari jauh.
Mama Sinta dan Bila berteduh di bawah pohon rindang. Mama Sinta mengipasi dirinya dengan tangan. "Panas," ucapnya mengeluh.
"Beli es kelapa enak, Ma," ucap Bila.
"Di mana ada?"
Bila melihat kanan-kiri. Pandangannya ia edarkan. Matanya berbinar saat melihat gerobak yang dipenuhi buah kelapa. "Ma, di situ ada. Bila beli dulu, ya?" Bila berdiri lalu melenggang pergi.
Kedua alis Bulan saling bertautan. Dia duduk di kursi kayu sambil melihat kedua anaknya yang asik bermain air.
"Haduh, kita pulang saja, yuk!" Bulan sudah kewalahan. Hari semakin panas membuat keringat dari tubuhnya bercucuran.
"Ya sudah, panggil Raka sama Areum!" pintar Purnama diangguki oleh Bulan.
Keluarga ini tadi melakukan joging di pagi hari, hingga siang tiba dan membakar tubuh. Raka marah, dia ingin pergi ke kebun binatang, tetapi malah pergi berolahraga.
Raka memasukkan tangannya ke dalam kolam. Ia mengincar ikan koi berwarna putih. Matanya dengan tajam menyoroti pergerakan ikan itu.
"Aka, gak boleh. Nanti dimarahin Ayah, loh." Areum berdecak kesal, karena Raka tidak mendengarkannya.
Lelaki itu terus saja mengobok airnya hingga ikan-ikan itu berlarian. Kedua sudut bibir Raka tertarik lebar. Manik matanya berbinar saat merasakan tangannya mendapatkan sesuatu. Ia mengangkat ikan itu ke permukaan. Raka berhasil menangkap ikan koi putih yang ia incar.
"Yey, Raka dapat ikan," teriaknya dengan sangat senang.
Areum menganga. "Bunda! Raka nakal!"
__ADS_1
Bulan yang berjalan mendekat itu terkejut. Matanya terbuka lebar. "Raka!"
. . .
"Padahal tadi ikannya mau Raka bawa pulang."
"Raka gak punya ikan yang warna putih."
"Ayah gak beliin Raka warna itu." Bibirnya berkerut. Tangannya ia lipat.
"Raka, makan! Jangan banyak bicara!" sentak Purnama dengan suara yang agak pelan.
Namun, Raka malah membuang muka membuat Purnama mendengus kesal. Areum yang berada di sebelah Raka itu pun mencubit lengan Raka. Meski cubitan Areum tidak keras, tetapi Raka mendesis kesakitan hingga ingin menangis.
"Aka, nakal atau pulang?" Bulan yang berada di samping kiri Raka itu mengancam. "Nakalnya nanti aja di kamar!"
Karena mereka sekarang berada di restoran yang banyak orang. Raka sejak tadi tidak berhenti mengoceh hingga membuat beberapa orang melihat ke arah keluarga ini.
"Mama mau minum es campur, dong," pekik Mama Sinta.
"Pesan aja, Ma," sahut Purnama.
. . .
Areum memakan apel di pojok ruangan, Raka berada di sebelahnya memakan pisang. Mereka berdua duduk di kursi panjang sambil melihat pantai di luar.
Biarkan Bulan dan Purnama dinner satu menit. Mereka berdua saling menyuapi potongan melon. Bulan sesekali tersenyum. Purnama berekspresi datar untuk menutupi yang sebenarnya, bahwa dia tengah salah tingkah.
"Romantis," gumam Purnama. "Bagaikan bulan madu." Dia sedikit terkekeh.
"Mas, dingin." Bulan merasakan udara sejuk menusuk tulangnya. "Tapi aku masih mau di sini." Kepalanya ia sandarkan di pundak Purnama.
Tangan kekar Purnama mengelus pucuk kepala Bulan dengan lembut. "Masuk, yuk."
Areum mengerutkan dahinya. Hidung mendengus ke arah Raka. Dia mencium bau yang sangat menyeruak. Bau itu masuk dengan tidak sopan. Semakin Areum mendekati Raka, semakin kuat aromanya. Areum langsung memalingkan wajahnya dan mengikis jarak dengan Raka.
"Aka?" Lelaki itu menoleh. "Kamu pup, ya?"
Raka menggeleng dengan cepat. "Eng-enggak!"
"Bunda! Raka pup di celana!"
Benar saja, anak itu sudah dimarahi habis-habisan oleh Bulan. Bulan sambil menangis mencuci celana anak lelakinya itu. Raka langsung pergi tidur karena malu. Bahkan dia mendiami Areum.
__ADS_1
"Raka gak malu." Dia menutupi wajahnya dengan guling. "Raka masih kecil, jadi wajar, dong!"
"Areum sampai kaget, Tante. Tadi itu ternyata bau pupnya Raka." Areum tertawa pecah hingga saat ini.
Bila dan Mama Sinta yang mendengarkan cerita Areum ikut tergelak tawa.
"Raka jorok, ih!" ucap Areum menjahili anak itu. Areum memeluk Raka dari belakang dengan gemas. "Jangan sembunyi, Aka!"
Raka berbalik. Napasnya sesenggukan, pipinya dibasahi air mata.
"Besok, Raka harus minta maaf sama Bunda!" pinta Areum.
Raka mengangguk.
"Sudah, ayo tidur!" ucap Mama Sinta.
Mereka tidur berempat, memang niatnya ingin memberikan waktu berdua untuk Bulan dan Purnama. Ada dua kasur dalam kamar ini, yang memang sudah dipesan.
Ternyata Purnama kesenangan. Setelah masalah yang selama ini datang, akhirnya semua selesai. Kini keduanya akan menikmati malam berdua sebagai suami dan istri.
Bukan malam yang biasa, tetapi malam yang luar biasa. Ditemani bulan purnama di langit dan bintang yang bertebaran.
"Bulan, Purnama." Bulan sedikit terkekeh dengan ucapannya. "Kok bisa pas ya, Mas?" Dia menatap wajah Purnama dari samping.
"Ya pas, lah. Namanya juga jodoh."
Bulan dibuat merona. Tangannya ia lingkarkan di pinggang Purnama. Kepalanya ia sembunyikan di dekapan hangat suaminya. "Mas, tetap seperti ini," ucap Bulan lirih.
"Mas janji."
Senyum bahagia terukir di wajah Bulan. "Bahkan bulan purnama di langit ikut tersenyum."
"Maaf ... atas kesalahan Mas di masa lalu. Mas janji tidak akan mengulanginya di masa lalu."
"Kesalahan terbesar Mas yang gak akan terjadi lagi, Mas jamin. Kalau pun Mas melakukan lagi, semoga Mas akan ingat apa penyesalan dari itu."
"Kamu jangan bosan untuk memberi maaf sama Mas, ya. Mas gak bisa hidup tanpa maaf dari kamu, Bulan."
"Jika, Mas bersalah, maka hak penuh bagi kamu untuk menghukum Mas."
Kepalanya ia tundukkan, dan ia tompangkan di kepala Bulan. Senyum hangat ia pancarkan, berharap tidak akan terjadi lagi di masa depan.
"Mas, kamu bicara apa? Aku gak ngerti."
__ADS_1
Otak Bulan memang sedikit lemot, meski begitu ia adalah seorang ibu dan istri yang hebat. Sangat hebat, hingga masih bisa menerima Purnama dengan lapang dada meski sudah banyak dan besar kesalahan suaminya itu. Setidaknya, izinkan dia bahagia dengan cara satu-satunya, yaitu memaafkan kesalahan Purnama. Bukankah Bulan tidak memiliki siapa pun, keluarganya hanya tinggal Bila, sang adik yang juga pastinya akan menikah.