
Bulan tengah beristirahat, menghilangkan bebannya sejenak. Rasa sakit yang teramat mendalam membuat jiwa menjerit tanpa suara. Inikah yang dinamakan sakit tapi tak berdarah.
Bu Irma membuka pintu dengan perlahan. Kedua sudut bibirnya tertarik, senyum sedih yang terukir di wajahnya saat menatap Bulan yang terlelap. Bu Irma kembali menutup pintu seraya melangkah ke ruang tengah. Mengetik nomor yang tertera di selembar yang ia pungut di jalan tadi.
"Maaf, Ibu gak mau kamu di sini terus, nanti bayi kamu kekurangan vitamin," ucapnya sebelum menekan panggil pada handphonenya.
"Hallo," ucap Bu Irma ketika panggilannya diterima.
. . .
"Purnama," panggil Ares seraya berlari memasuki ruangan Purnama.
Langkahnya terhenti ketika mendapati seorang pria dan wanita yang tengah berciuman mesra. Ares sontak berbalik, lalu keluar dari ruangan. Matanya sudah ternodai.
Purnama dan Helen bergegas menyusul Ares. "Ada apa?" tanya Purnama.
"Tadi saya dapat telpon, katanya Bu Bulan ada di rumahnya," ujar Ares dengan semangat.
Kedua mata Purnama membulat, kedua sudut bibirnya tertarik. "Ya sudah kita ke sana, sekarang." Tentu saja setuju, dia sudah sangat rindu pada Istrinya.
Purnama dan Ares bergegas pergi, sedangkan Helen mengerutkan dahinya lalu menyusul kedua Pria itu.
Ares menyetir mobil di depan, dan Purnama duduk di kursi depan. Sedangkan, Helen duduk sendiri di belakang dengan raut wajah yang tak senang namun ia sembunyikan.
Hingga mobil Ares memasuki sebuah pelosok. Ares menghentikan mobilnya. Kedua Pria itu bingung.
"Benar, ini lokasinya?" tanya Purnama tidak yakin.
Rumah yang dikelilingi pohon mangga dan rerumputan yang menjulang tinggi. Ares merogoh sakunya dan mengeluarkan secarik kertas. "Benar, kok," katanya yakin.
"Ya sudah kita masuk." Purnama memutuskan untuk masuk, ragu? Tentu saja.
"Helen, kamu tunggu di sini, saja," pintar Purnama.
Helen menolak dengan gelengan. Purnama sudah tidak peduli, yang terpenting sekarang adalah apakah Bulan ada di dalam?
Ketiga manusia itu melangkah dengan hati-hati. Rumah Bu Irma yang sepi membuat mereka tidak yakin. Hingga ketiganya sampai di depan pintu rumah Bu Irma. Ares menghela nafas panjangnya sebelum memutuskan untuk mengetuk pintu.
Tok tok tok
Bu Irma yang tengah di dapur itu pun mendengarnya. "Mereka, ya."
Bu Irma bergegas untuk membuka pintu. Benar, saat membuka pintu, Purnama, Ares, Helen sudah berada di depan pintu.
"Mas Ares?" ucap Bu Irma.
Ares mengangguk.
"Bulan benar Bu ada di sini?" Itu Purnama.
Bu Irma mengerutkan dahinya. "Kamu suaminya?" Purnama mengangguk.
Bu Irma menunduk sejenak, lalu menyuruh ketiga orang itu untuk masuk. Bu Irma membuka pintu. Begitu senangnya Purnama ketika melihat Bulan yang tengah tidur dengan lelap.
"Bulan..." ucap Purnama, langkahnya mendekat ke arah Bulan.
Purnama duduk di ranjang, tangannya terulur mengelus rambut Bulan. Bulan merasakan sesuatu dan membuat matanya terbuka. Sontak Bulan terkejut, dan langsung mendudukkan tubuhnya.
__ADS_1
"Mas?" gumam Bulan.
Purnama tersenyum pada Bulan. Lega, sangat lega rasanya melihat Istri dan janinnya baik-baik saja.
"Maafin Mas, ya. Mas enggak antar kamu waktu periksa," ucap Purnama dengan lirih.
Bulan merasa iba melihat Suaminya yang meminta maaf dengan menundukkan kepala. "Mas..."
Purnama mendongak. "Kamu maafin Mas, kan?"
Bulan mengangguk. Tangan Purnama terulur untuk membawa Bulan ke dalam pelukannya. Hangat, akhirnya Bulan merasakan pelukan hangat dari Purnama.
Di suatu sisi, Helen melihat Bulan tidak suka. Tentu saja iri. Gejolak panas di tubuhnya mulai membara.
Bu Irma memandangi dengan senang. Entah ini untuk selamanya atau sebentar.
Bu Irma, Bulan, Purnama, Ares tengah berkumpul di ruang tengah untuk berpamitan. Helen, dia sudah pergi duluan ke mobil, katanya gatal kalau ada di sini.
"Terima kasih Bu sudah mau merawat Bulan," seru Purnama.
Bu Irma hanya tersenyum.
"Mas," panggil Bulan.
"Iya?"
"Bu Irma boleh gak tinggal di rumah kita?" tanya Bulan membuat Bu Irma menatapnya.
"Boleh, kok," jawab Purnama.
Bu Irma diam seribu bahasa. Menggaruk lehernya yang tidak gatal seraya menganggukkan kepala. Bulan tersenyum riang, dia punya teman di rumah selain Mama Sinta.
"Tapi Ibu jadi ART boleh, kan? Gak enak kalau tinggal dengan gratis," ucap Bu Irma.
"Iya, Bu. Nanti saya gaji, ya," seru Purnama.
"Ah, enggak usah digaji gak apa-apa, kok."
"Loh? Masa kerja gak digaji, sih," gerutu Bulan.
"Iya, digaji, Sayang," balas Purnama sambil mengelus rambut Bulan.
Memainkan ponselnya dengan kesal, Helen menaikkan kakinya di kursi, mumpung tidak ada orang. Rok pendek yang ia kenakan mungkin akan terlihat ********** jika dilihat dari depan.
"Sial! Sinyal sialan!" umpatnya. Bagaimana mau dapat sinyal di daerah pelosok.
Dengan segera Helen menurunkan kakinya saat melihat Purnama datang. Ares membuka pintu lalu masuk ke mobil untuk menyetir. Bulan dan Bu Irma duduk di belakang membuat Helen bergeser tempat duduk.
"Ibu ini kok ikut?" tanya Helen sambil menatap Bu Irma yang duduk di sampingnya dengan tidak suka.
"Bu Irma akan tinggal di rumah," jawab Purnama.
Helen memincingkan matanya, lalu melirik Bu Irma. Bu Irma hanya tersenyum pada Helen.
"Nyusahin," umpat Helen.
Rumah Purnama mulai terlihat membuat Bu Irma menatapnya takjub. Mereka pun turun. Bulan menuntun Bu Irma untuk masuk. Langkah kaki Bu Irma berhenti kala melihat mobil yang terparkir di samping rumah Purnama.
__ADS_1
"Loh?" katanya membuat Bulan bertanya.
"Kenapa, Bu?" tanya Bulan.
"Mobil itu yang semalam tabrak kamu," seru Bu Irma.
Kedua mata Bulan membulat, lalu menatap Purnama.
"Yang benar, Bu?" Purnama segera memanggil supirnya yang ada di belakang rumah.
"Pak Harto..."
"Pak Harto...."
Orang yang bernama Pak Harto itu pun muncul dan berlari menghampiri Purnama. "Iya, Pak?" katanya.
"Kemarin Bulan terserempet mobil dan kata Ibu ini mobil itu," jelas Purnama sambil menunjuk mobil yang dimaksud.
"Mobil ini kemarin di bengkel, Pak. Waktu siang pas saya mau ambil, Bu Helen bilang kalau dia yang mau ambil di bengkel," seru Pak Harto.
"Helen?" Purnama sontak melihat Helen yang ternyata sudah masuk ke rumah terlebih dahulu.
Purnama melangkah masuk, sepertinya sudah emosi. Ares masih berpikir bahwa dugaannya benar. "Pak," panggil Ares.
"Iya, Pak Ares?" jawab Pak Harto.
"Tolong cek rekaman CCTV yang ada di dekat tempat kejadian!"
Pak Harto mengangguk-angguk. "Baik, siap." Pak Harto melenggang pergi.
"Ares... Gak perlu seserius itu. Lagian semua sudah terjadi," ujar Bulan.
"Kalau benar Helen yang mengendarai mobil itu, bagaimana?"
"Ya, aku akan-"
"Akan memaafkan Helen?" Ares memutusnya. Kesal sekali terhadap Bulan.
Bulan menunduk. Tangan Bu Irma terulur dan mengelus punggung Bulan dengan lembut.
"Dia sudah rebut suami kamu, loh."
"Dan dengan mudahnya, kamu terima."
"Kamu jangan naif, deh, Bulan!"
"Kamu jangan pura-pura terima ini."
"Kamu Istri pertamanya, jadi jangan mau di kalahin sama Istri Kedua."
"Cukup, Res!"
"Aku memang Istri pertamanya. Tapi Helen itu cintanya." Ares seketika membeku.
Apa yang dikatakan Bulan itu benar.
Aku siap untuk mejadi cadangan, karena kebahagiaan mu itu penting. -Bulan
__ADS_1