Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang

Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang
Bahagia 2


__ADS_3

Ini cuma ekstra part yang pastinya setiap paragraf dipenuhi kebahagiaan. Cuma mau genapin jumlah angka, kok


Berbeda dengan kemarin. Raka yang sebelumnya hanya murung, sekarang dia terlihat sangat bahagia. Purnama membawanya ke kebun binatang hari ini.


Berbagai hewan ada di sini membuat kedua anak itu takjub melihatnya.


Banyak gajah, ada yang naik di atas tubuh besarnya. Raka dan Areum hanya menganga, ini adalah kali pertama mereka melihat hewan itu secara langsung.


Tidak hanya itu, ada monyet yang bergelantungan di pohon, dan berjalan-jalan menemani anak-anak yang lain.


Raka penakut, dia selalu lari jika ada hewan yang mendekat. Dia terus berteriak saat melihat hewan, apa pun itu jenisnya. Sampai-sampai Purnama harus menggendong anak lelaki itu.


Areum berjalan dengan santai sambil menggandeng tangan Bulan. "Areum, lihat! Ada burung." Bulan menunduk pohon yang tidak terlalu tinggi. Di situ ada sarang burung.


Areum berbinar, dia berlari mendekati pohon itu. "Ayah, Areum gak kelihatan," ucapnya. Purnama akhirnya membawa Areum ke gendongannya juga.


"Bunda! Lihat! Telurnya pecah!" Raka heboh mendapati telur-telur itu mulai retak.


Cangkangnya terbuka hingga dua telur itu pecah. Burung kecil tanpa bulu itu mengeluarkan bunyi "cit cit cit" membuat dua anak itu berbinar.


"Ayah, kita bawa pulang, yuk!" Raka berseru, ia memelas menatap Purnama.


"Gak boleh. Ini punya orang, Raka," sahut Areum.


. . .


Leher jerapah itu tinggi, dia memakan daun. Raka sampai mendongak untuk bisa melihatnya. Kali ini dia tidak menangis.


"Bunda, lehernya seperti Ayah, panjang," ujar Raka.


Bulan refleks melihat bagian bawah Purnama. "Iya," ucapnya sambil terkekeh.


"Bulan kadang mesum, ya?!" gerutu Purnama.


"Ayah, kita lihat buaya, yuk!" ajak Areum.


"Buaya? Ini buaya." Bulan menunjuk wajah Purnama.


"Loh? Ayah siluman buaya ya, Bunda?" tanya Areum.


Bulan mengangguk dengan cepat. "Bulan, jangan aneh-aneh!" tegur Purnama.


"Bercanda, Sayang ...." Tangan Bulan menoel hidung Purnama.


"Ayo, kita lihat buaya!" Purnama sangat bersemangat, karena dia akan melihat saudaranya. Sebelum ini, dia sudah bertemu dengan kembarannya, monyet. Kata Bulan seperti itu.


. . .


Mereka berada di atas jembatan, tentunya sudah ada pengaman. Raka sudah pasti menangis.


"Bunda, Ayah, Ara, ayo pulang!"


"Nanti Raka jatuh!"

__ADS_1


"Ayo pulang ...!"


Anak itu memukul-mukul pundak Purnama. Lalu wajahnya ia sembunyikan dengan napas yang sesenggukan. "Ayo, pulang."


"Ayo, Mas! Kamu sudah selesai bertemu saudara kamu, kan?" pekik Bulan.


"Saudara? Oh, iya, sudah, Sayang."


. . .


Mereka tidak langsung pulang. Singa itu terus melotot ke arah Raka. Raka mematung, bibirnya terbuka lebar. Napasnya tentu sudah tidak karuan, jantungnya berdebar.


Dindingnya terbuat dari kaca, jadi sangat jelas bila dilihat dan pasti sudah aman. Padahal singa itu masih jauh jaraknya dengan Raka.


"To-tolong Raka."


Areum menoleh ke arah Raka. Bibirnya terbuka lebar. "Raka ngompol?" pekik Areum.


Celana Raka itu basah, kakinya gemetar. Air matanya sudah menetes deras.


"Bunda! Raka pipis di celana!"


Bulan menggeleng melihat anak itu. Ingin sekali untuk menangis.


. . .


Mama Sinta dan Bila menyambut dengan hangat kedatangan mereka. Senyum keduanya mengembang.


"Tada ... tadi Mama sama Bila masak di dapur ...." Mama Sinta sangat bersemangat dengan hasil masakannya.


"Boleh, dong ...."


Bulan duduk bersebelahan dengan Purnama. Raka duduk di samping Bulan bersama Areum. Raka sudah berganti celana, dan Areum masih tidak berhenti tertawa.


"Raka, awas kamu kalau pipis di celana lagi." Bulan memberikan tatapan tajam pada anak itu. Raka hanya menunduk, lalu mengangguk.


"Raka jorok, ih," pekik Areum menggoda anak itu. "Kasihan tahu Bunda."


Raka bahkan tidak berani menatap bundanya. Bulan tidak marah, hanya saja kesal dengan anak itu.


"Raka, nanti sebelum tidur, kamu pipis dulu." Purnama berseru membuat anak itu mengangguk.


"Ayo dimakan! Ini Mama yang masak." Mama Sinta menyajikan makanan itu. Tidak banyak, hanya nasi goreng yang ia produksi.


Piring semua orang sudah terisi dengan nasi. Mama Sinta memasukkan satu sendok ke dalam mulutnya. Namun, rasa asin membuat matanya melotot. Bukan hanya mama Sinta, tetapi semua orang yang memakan nasi masakannya.


"Asin," gumam Purnama dengan mulutnya yang masih penuh.


"Ma ... Mama pengen nikah lagi, ya?" goda Bulan.


Raka menyipitkan matanya, segelas air ia teguk. "Raka, Areum minta," desis Areum. Raka menyodorkan gelasnya pada Areum membiarkan gadis itu meneguk airnya.


"Mama, tadi sudah pas, kan?" ucap Bila setelah meneguk segelas air.

__ADS_1


"Tadi garamnya gak terlalu banyak, kok." Mama Sinta kesal sendiri dengan masakannya. "Sudah lapar, kenapa malah asin?!"


"Gak terlalu asin juga kok, Ma." Bulan kembali menyuapi mulutnya.


"Iya, masih bisa dimakan, kok," sambung Purnama.


"Iya, gak apa-apa, Nek," lanjut Areum.


"Asin tapi enak," ucap Raka.


Mama Sinta terlihat menghela napas panjang, kedua sudut bibirnya tertarik. Ia ikut kembali menikmati masakannya yang asin.


"Bulan, nanti ajarin Mama masak yang enak, ya?!"


"Siap, Ma."


Begitu malam sangat baik, bisa memberikan kenangan yang membahagiakan. Dokumentasi itu sangat penting, tetapi yang pahit jangan selalu diingat. Cukup kebahagiaan, dan sedikit garam.


Namun, pria beranak dua ini tidak bisa diam. Dia selalu menggarami setiap keadaan. Sang istri sangat marah. Pasalnya, sebelum kembali ke kamar, Purnama melirik wanita lain, dan dia sengaja menyenggol bahu wanita itu agar dapat menyapanya.


"Yang namanya buaya gak akan berubah jadi kucing!" Bulan menggerutu sembari memasuki kamar. "Dasar! Sudah punya dua anak, masih saja jelalatan."


Purnama panik mendengar celotehan istrinya, dia sudah berusaha membujuk Bulan tapi Bulan sudah emosi.


Setelah pergi ke kamar mandi, Bulan merebahkan tubuhnya di atas kasur. Ia sangat kesal hingga membelakangi Purnama.


Purnama akan ikut membaringkan tubuhnya. Namun, Bulan membuatnya kaget.


"Mau apa kamu, Mas?!" Bulan tiba-tiba bangun dan melotot ke arah Purnama.


"Mau apa kamu?"


"Mau tidur?"


"Tidur sama wanita-wanita itu. Biar sekalian kamu ajak pulang mereka. Tapi, aku yang gak akan pulang ke rumah kamu."


Bulan menyeramkan. Dia membuat Purnama mematung.


"Maaf ...," ucap Purnama dengan suara lirih. Dia menunduk dengan wajahnya yang terlihat melas.


"Gak lebaran. Jadi, tidak menerima kata maaf." Bulan kembali tidur dengan posisi miring. Bibirnya berkerut.


Iris mata Bulan melebar, bagaimana tidak?! Suaminya itu memeluknya dari belakang, dan kepalanya ia letakkan di kepala Bulan.


"Maafin Mas, ya?" Bisikan Purnama seakan-akan bisikan setan yang dengan mudah memengaruhi Bulan. "Kalau Mas gitu lagi. Silakan, kamu mau congkel mata Mas atau apa, terserah!"


Bulan berbalik, tubuhnya berhadapan dengan Purnama. "Ginjal kamu boleh, gak?"


Purnama memalingkan wajahnya, sekarang dia yang terlihat marah. "Dikasih mata, mintanya ginjal."


"Bercanda," ucap Bulan seraya memeluk tubuh Purnama. Ia menyusupkan wajahnya di dalam dekapan Purnama.


"Sudah Mas bilang, jangan lelah untuk menerima kata maaf dari Mas."

__ADS_1


"Tergantung kesalahan itu." Bulan mendongak, ia tersenyum pada Purnama.


Purnama merasa sangat beruntung, Bulan adalah istrinya. Wajahnya ia dekatkan dengan wajah sang istri. Lalu memberikan kecupan pada bibir wanita itu. Menyalurkan kehangatan dan kebahagiaan.


__ADS_2