Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang

Berbagi Cinta: Cadangan Di Waktu Senjang
Detektif


__ADS_3

...HAPPY READING...


Pada akhirnya tidak ada kata cerai, perpisahan, dan Helen tetap menjadi istri Purnama meski sejak kejadian itu, Purnama tidak menyentuh Helen.


Beberapa hari ini perusahaan Purnama mengalami banyak kerugian. Beberapa saingannya mengambil kliennya. Sekarang kepalanya terasa pusing hingga ingin lepas.


Purnama duduk di kursinya dengan membuka dokumen satu persatu, menatap layar laptop dengan serius. Alisnya saling bertautan, dahinya berkerut. Merasa mulai kesal, dokumen yang dipegangnya dibanting ke meja hingga berjatuhan ke lantai.


Kepalanya hampir pecah, ia sembunyikan wajahnya diantara kedua tangan yang ia letakkan di meja. Napasnya tidak beraturan karena situasi ini.


Ini masih pagi, tetapi kabar buruk terus ia dapat. Managernya tiba-tiba datang tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Purnama mendongak menatap bawahannya yang terlihat panik.


"Gawat, Pak!"


Saat dibuka, brankas itu kosong. Tidak ada satu pun uang yang tersisa. Purnama menggelengkan kepalanya, dia berjalan menuju ruang CCTV.


Saat sampai, ia langsung membuka rekaman tadi malam. Direkam dari CCTV yang berada di depan lift.


Di ruangan khusus yang tidak ada orang lain tahu, kecuali orang dalam. Dua orang misterius berpakaian serba hitam itu mencongkel pintu masuk. Saat pintu itu sudah terbuka, mereka masuk. Beberapa saat setelahnya, mereka keluar dengan membawa tas plastik hitam.


Meski mereka berdua tidak memakai penutup wajah, tetapi tetap susah untuk dikenali karena kondisi ruangan yang gelap.


"Penyimpanan kita di bank hanya tinggal satu per empat, Pak karena sudah kita ambil untuk ganti rugi material klien yang waktu itu rusak. Itu hanya cukup untuk gaji satu bulan ini," katanya.


"Rio, kamu serahkan saja masalah itu sama saya. Kamu urus saja dokumen untuk kerja sama dengan William Company!" ujar Purnama.


Rio selaku bawahan Purnama itu mengangguk dan diiringi helaan napas berat. "Baik, semoga kerugian kita tidak terlalu banyak."


. . .


"Pak Purnama," panggil Rio pada Purnama yang menatap fokus layar laptopnya.


"Pak Winsen batalkan kontrak kita!" serunya.


Purnama membelalak kaget. "Pak Winsen klien besar kita? Kenapa?!"


Rio kembali melihat laptopnya. "Di e-mail yang beliau kirim, keyakinan beliau untuk mendapatkan keuntungan yang besar dengan bekerja sama dengan kita sudah hilang."


"Perusahaannya kurang aman, dan sudah lalai," lanjutnya.


"Ini juga adalah kesalahan Helen karena telat saat memberi instruksi pada bagian yang bertugas."


"Dia baru menyampaikan dua hari setelah Bapak perintahkan." Rio terlihat geram saat menyampaikan pendapatnya.


"Sepertinya ini bukan karena kelalaian kita saja, Pak." Purnama semakin dalam saat menyoroti wajah Rio yang berbicara. "Saingan Bapak ikut terlibat dengan pembatalan kontrak kita dengan perusahaan yang lain."


"Bukankah saat itu Pak Wandra sangat mengincar Pak Winsen?" Purnama mengangguk.


"Pak Wandra tidak gila harta, tetapi ingin mendapatkan popularitas lebih tinggi dari perusahaan kita."


Rio menghela napas panjang. "Saya serahkan semuanya kepada Bapak. Saran saya agar Bapak mencari Detektif untuk mencari tahu, apa penyebab klien melarikan diri dan siapa yang membobol brankas perusahaan."


"Baiklah. Kamu bantu carikan, ya," seru Purnama. Ia pasrah dengan keadaan ini. Rasanya saja sudah lelah dengan urusan pribadi, ditambah urusan pekerjaan yang sedang berada di ujung tanduk.


"Saya ada kenalan."


. . .


"Apa?!" kaget Bulan. "Siapa yang berkhianat?" Bulan duduk di samping Purnama.

__ADS_1


"Gak ada orang luar yang tahu selain pegawai aku," jelas Purnama seraya melepas jasnya.


"Kamu gak boleh langsung tuduh Helen atau pun Ares, Mas!"


Purnama membaringkan tubuhnya di kasur. Ia menghela napas panjang. "Bulan," panggilnya.


Bulan menoleh. "Apa?"


"Sun!" Purnama memajukan bibirnya.


"Suntuk aku, tuh!" balas Bulan berdiri dan melenggang pergi.


Purnama berdecak kesal, ia beralih tengkurap. Handphonenya berdering menandakan ada panggilan masuk.


"Langsung suruh ke rumah aja malam ini."


"Boleh, kok."


"Jam tujuh, oke?"


"Oke, deh."


Purnama mematikan handphonenya, lalu melangkah keluar kamar.


Suasana di rumah sangat sepi. Raja dan Areum jalan-jalan bersama Bila. Mama Sinta sudah lama tidak pulang karena menginap di rumah sahabatnya. Sahabat Mama Sinta itu baru saja kehilangan suaminya, jadi sebagai teman, Mama Sinta menemaninya. Helen sendiri berada di kamar dengan musik yang disetel dengan keras.


Purnama melewati kamar Helen. Musik pop galau itu menusuk telinganya. "Kecilkan musiknya! Atau kamu saya suruh ngamen di lampu merah?!" teriak Purnama.


Suara musik itu mengecil, setidaknya tidak terlalu berisik. Purnama melenggang menuruni tangga.


Purnama menghampiri Bulan yang menyiram tanaman di halaman rumah. Dia memeluk Bulan dari belakang sambil mencium-cium pipi Bulan. Bulan yang merasa geli itu pun mendorong Purnama agak menjauh.


"Siapa?"


"Detektif temannya Rio."


"Detektif?" Dahi Bulan berkerut.


"Buat memperingan masalah di kantor."


"Oke, aku masakin. Sekarang, kamu yang siram tanaman!" pinta Bulan memberikan alat penyiram tanaman itu pada Purnama.


"Bulan, nyebelin banget," pekiknya melihat kepergian Bulan.


. . .


"Mana, Mas? Katanya jam tujuh," seru Bulan. Dia duduk di sofa.


Purnama memainkan ponselnya. "Si Rio suka telat memang," sahutnya.


Bulan mengangguk-angguk. Ia menyenderkan punggungnya di sofa.


Tok tok tok


Purnama langsung berdiri dan berjalan menuju pintu. Bulan berjalan menuju dapur untuk mengambil beberapa camilan.


Rio dan seorang detektif pria itu disambut Purnama dengan hangat. Mereka duduk di sofa dan langsung membahas inti masalah.


Sudah satu jam berlalu. Untung saja Helen tidak menyetel musik dengan keras lagi.

__ADS_1


"Sebentar, ya," ucap Purnama dijawab anggukan oleh keduanya. Purnama pergi ke dapur.


"Sini! Biar aku yang bawa." Purnama mengambil piring berisi kue itu dari Bulan. "Loh? Ayo, kamu ikut!"


Bulan mengikuti langkah Purnama. Purnama meletakkan piring-piring itu di meja. "Silakan dimakan! Maaf, sederhana."


"Ini istri saya," ujar Purnama memperkenalkan Bulan pada detektif itu.


Sang detektif itu mendongak. Matanya lekat menatap Bulan. Bibirnya sedikit terbuka. "Bulan?"


"Tegar?" Keduanya menyapa dengan bersamaan.


Purnama bergantian melihat Bulan dan detektif itu. "Loh? Kalian saling kenal?"


"Dia teman SMA aku," ujar Bulan.


"Mantan juga," sambung Teger membuat Bulan memalingkan wajahnya.


"A-aku m-masuk ya, Mas," gugup Bulan lalu pergi ke kamar.


Bulan tidak mengatakan Tegar sebagai mantannya agar suaminya itu tidak marah, tetapi Tegar malah dengan mudah mengatakan itu.


. . .


"Baik, akan saya usahakan semaksimal mungkin," ujar Tegar mengulurkan tangan pada Purnama.


Purnama menjabat tangan Tegar. "Saya percayakan kepada Anda."


"Kalau begitu, Kami permisi, Pak," ucap Rio.


Mereka pergi dengan mobil jeep berwarna hitam. Tegar itu terlihat gagah dan tentunya tampan. Raut wajahnya bisa dikatakan sempurna dari segi mana pun.


Purnama memasuki kamar diam-diam. Bulan sudah terlelap tidur dengan posisi miring. Purnama memeluk tubuh Bulan dari belakang membuat istrinya itu terkejut.


Bulan melirik Purnama yang tersenyum miring itu. "Mas!" tegur Bulan.


"Jangan ngagetin!" gerutu Bulan.


"Cie ... abis ketemu mantan," pekik Purnama menggoda Bulan.


"Kenapa? Cemburu?" balas Bulan menatap Purnama dengan sinis.


"Kalo iya, kenapa?" Alis Purnama terangkat.


Bulan membuang muka dengan kesal. "Aku mau tidur sama Bila aja, deh." Bulan akan beranjak turun dari kasur, tetapi tangannya ditahan oleh Purnama. Bulan menoleh.


"Ayo, mumpung gak ada Raka!" sarkasnya memberi wink pada Bulan.


Bulan menghela napas panjang. "Ayo."


"Raka gak bisa tidur." Pintu itu tiba-tiba terbuka dan memperlihatkan Raka yang berlari mendekati kasur.


Purnama menatap tajam anak itu sembari berdecak kesal. Bulan terkekeh melihat ekspresi suaminya itu.


"Raka mau tidur di sini, aja. Di kamar Tante Bila kotor." Raka langsung menyusupkan dirinya diantara Bulan dan Purnama. Raka menatap Purnama yang berekspresi datar. "Hem ... Raka ganggu, ya?" Anak itu memelas.


"Enggak kok, Sayang," sahut Bulan dengan cepat.


Raka mengangguk. "Ayah, Bunda Raka pinjam dulu," ucap anak itu lalu memeluk Bulan.

__ADS_1


Malam ini Purnama gagal mendapatkan malam berdua dengan istrinya. Mau bagaimana, punya anak laki-laki yang manjanya melewati anak perempuan.


__ADS_2