
"Bulan!" panggil Bintang dengan tiba-tiba membuat Bulan yang sedang duduk termenung hampir melompat.
Bulan menoleh dan menatap Bintang yang datang dengan raut wajah bahagia. Alis Bulan saling bertaut. "Ada apa?" tanya Bulan.
"Aku udah ada bukti," sarkasnya. Bintang berbinar menyoroti wajah Bulan yang tidak berekspresi.
"Mana? Mana nomor whatsapp Purnama? Kasih ke aku!"
Bulan membisu dan menyerahkan handphonenya pada Bintang. Bintang menyalin nomor Purnama lalu segera mengirimkan video yang tadi ia ambil.
"Kamu akan segera dijemput Suami kamu," seru Bintang.
Bulan menyeringai. "Semoga," pekiknya, lalu melenggang pergi meninggalkan Bintang yang mematung tiba-tiba.
"Bintang, kamu baik tapi aku gak mau kembali secepat ini," gumam Bulan sembari berjalan.
"Bulan, aku sebenarnya gak mau kamu kembali tapi aku mau kamu cepat bahagia," ujar Bintang di sebrang yang diam menatap punggung Bulan.
. . .
Di kediaman Purnama, pria itu tengah menyiapkan setelan untuk meeting yang akan dilakukan sore ini. Semenjak Bulan pergi, ia selalu melakukan itu sendiri. Tiba-tiba Purnama menjadi orang yang sangat mandiri. Istri keduanya itu hanya pergi keluar rumah seenaknya dengan alasan ngidam dan tentu saja Purnama mengizinkannya. Namun, nyatanya Helen pergi dengan pria lain bukan? Semoga saja vidio itu tersampaikan pada Purnama.
Setelah cocok dengan pilihannya, kemeja abu-abu dan jas hitam ia letakkan di atas kasur.
Ting
Notifikasi pesan masuk membuat layar handphonenya menyala. Langkahnya terhenti dan sekilas melirik benda itu, tetapi kakinya kembali melangkah menuju kamar mandi. Tidak penting baginya jika itu adalah sebuah pesan. Namun, itu adalah hal yang sangat penting dan pengirimnya adalah Bintang yang sedari tadi menunggu tanda dua centang biru.
Setelah sekian menit Purnama keluar dari kamar mandi dengan handuk di tangan yang mengelap rambut basahnya. Handuk putih itu hanya melingkari pinggangnya. Langkahnya tertuju pada kasur, lalu tangan kekar itu meraih setelan yang tadi ia siapkan.
Memakainya dengan rapi, tidak lupa dasinya yang sudah menggantung di leher.
Purnama melenggang pergi. Saat membuka pintu, ia disuguhkan dengan kehadiran Istri tercintanya, Helen. Dengan senyum lebar Helen menyapanya.
"Dari mana? Sudah sore kok baru pulang?" tanya Purnama dengan nada yang agak tinggi.
Helen mengerutkan bibirnya. "Tadi ban mobilnya kempes, jadi harus ke bengkel dulu," ucapnya. Purnama mengangguk menanggapinya.
"Aku mau berangkat," ujar Purnama.
__ADS_1
"Iya, hati-hati!"
Purnama pun meninggalkan satu kecupan di kening Helen, tak lupa pergi dengan senyuman. Helen menatap kepergian Purnama. Setelah bayangan Purnama itu hilang tidak ia lihat, ia masuk ke dalam kamar lalu menutup pintunya.
Dengan puas ia meregangkan otot-ototnya yang kaku. Tatapan matanya tertuju pada benda pipih milik Suaminya yang tergeletak di kasur. Tangannya segera meraih benda itu lalu menyalakan layarnya.
"Wow," ucapnya takjub.
"Siapa ini?" Alisnya bertaut, senyumnya menyeringai menonton vidio yang terputar itu. "Hm?"
Handphone itu ia dekatkan ke telinga. Mendengarkannya dengan saksama. Tawanya semakin menjadi kala mendengarkan suaranya yang berada jelas di dalam vidio itu. "Hapus," pekiknya menekan tombol delete pada layar handphone itu.
Sedangkan di seberang sana Bintang menatap handphonenya dengan bahagia. Centang dua biru itu membuat hatinya girang. "Bulan, pesan aku sudah di lihat, nih." Bintang menyodorkan benda itu pada Bulan yang hanya menatap tanpa ekspresi.
"Bagus," pekik Bulan dengan senyum lebar yang terukir.
"Dibalas gak?" tanya Bulan kemudian.
Bintang kembali memeriksa handphonenya namun pesan yang ia kirim hanya dilihat oleh Purnama. Tidak, bukan Purnama tapi Helen. Namun Bintang mengira itu adalah Purnama.
"Hey!" Bulan memposisikan duduknya menghadap Bintang.
"Terus? Caranya gimana?" tanya Bintang.
Bulan mengembalikan posisi duduknya, tangannya ia lipat di depan dada dibarengi helaan nafas. "Cara menyelesaikan ini adalah dengan cara mengiriminya surat cerai?"
Bintang membulatkan matanya. "Gak. Aku akan ke rumah Purnama dan kasih tunjuk vidio ini."
"Jika gak ada Helen yang menghalangi. Sesudah dia melihat vidio kamu, dia pasti akan jaga Purnama dengan ketat," pekik Bulan.
Lagi dan lagi niat Bintang memudar di hancurkan kepercayaan diri Bulan yang ingin segera pisah dengan Purnama.
"Misalnya sekarang dia mengirim bodyguard untuk Purnama?" celetuk Bulan.
Benar, dugaannya sangat benar. Helen menghubungi beberapa anak buahnya yang bertubuh besar untuk mengawasi Purnama.
"Jika ada orang yang memiliki hubungan dengan Bulan dan orang itu mendekati Purnama segera usir mereka. Jika mereka mengelak, tebas saja kepalanya!" kata Helen dengan lantang berbicara di telepon. Dia benar-benar serius dengan hal ini.
Bulan tersenyum jahat menatap Bintang yang seketika diam seribu bahasa. Tatapannya tajam menyoroti mata Bintang yang hampir tidak berkedip.
__ADS_1
"Em... Helen yang tiba-tiba menjadi detektif?" celetuk Bulan.
Dengan kacamata hitam dan jaket jeans berwarna hitam, Helen melangkah dengan hati-hati. Bibirnya yang merah menarik perhatian orang yang berpapasan dengannya. Dia tidak sendiri, dia bersama pria di belakangnya.
"Helen, jangan terlalu serius!" tegur pria di belakangnya yang mulai kesal karena Helen berjalan dengan mengendap-endap.
Purnama sedang berjalan memasuki restoran untuk melakukan sebuah meeting. Bukan restoran biasa, tetapi restoran dengan harga yang fantastis yang ia sewa agar tidak mengganggu.
"Maaf," ucap seorang pegawai yang menghentikan langkah Helen.
"Lantai ini sudah disewa, jadi anda tidak bisa masuk. Silakan menikmati hidangan kami di lantai bawah!" ujarnya.
Helen menatap pegawai itu dengan kesal, lalu melangkah pergi dengan hentakan kaki yang sedikit keras.
"Aku kan Istrinya!" gerutunya.
"Kenapa gak bilang, aja?" tanya pria itu.
"Nanti mereka curiga."
"Anakmu lapar. Ayo, traktir aku!" Helen menarik pergelangan tangan pria itu.
"Jangan di sini! Di tempat lain, saja."
"Ares, di sini makanannya enak," ucap Helen.
Pria yang ternyata bernama Ares itu menggeleng. "Kalau ketauan, bagaimana?"
"Oke."
Helen mengikuti langkah Ares. Keduanya keluar dari restoran mewah itu.
Hai...
Terima kasih yang sudah baca karya aku yang abal-abal ini☺ Makasih banyak...
Jaga kesehatan juga buat kamu supaya bisa menyaksikan bumbu duka Si Bulan. Jangan lupa nyalain love ya buat dapet notifikasi cinta dari aku😗
Mungkin episodenya gak sampai 30an🙏
__ADS_1