
Baru saja membuka mata tapi otaknya sudah disuruh untuk berfikir. Masih dalam keadaan setengah sadar, Bulan melihat Purnama yang berdiri di depan almari. Pergerakan Purnama masih terlihat buram. Bulan yang terkejut sontak mendudukkan tubuhnya.
"Mas?" ucap Bulan lirih.
"Mas Purnama, ngapain?" panggilnya namun Purnama seakan bisu, menoleh saja tidak.
Bulan beranjak turun dari ranjang lalu berjalan mendekati Purnama. "Mas," panggilnya sekali lagi dengan suara lebih keras.
Bulan sudah tidak sabar, lengan Purnama ia tarik hingga pergerakan Purnama terhenti.
"Mas, Mas ngapain keluarin baju-baju aku?" Suara Bulan bergetar namun hati Purnama tetap kaku.
Setelah berhenti sejenak Purnama melanjutkannya. Memindahkan baju Bulan dari almari ke koper. Bulan seakan bisu, tubuhnya kaku mematung melihat Suaminya yang seperti menahan amarah.
Purnama menyodorkan koper itu pada Bulan. Manik mata Bulan membulat kaget, bibirnya menganga, kepalanya menggeleng cepat.
"Mas? Mas mau aku pergi dari sini?" tanya Bulan dengan suara lirih.
"Pergi!" ujar Purnama dengan suara pelan namun bisa membuat Bulan membelalak kaget.
Bulan menggeleng-gelengkan kepalanya. Purnama mengembuskan nafas berat. Sebelum menyemprot Bulan dengan amarahnya. "PERGI!" bentaknya membuat Bulan terloncat kaget.
Butiran bening itu menetes dari matanya. Pedih. Dadanya terasa sesak. Penglihatannya menjadi buram karena air mata itu menggenang.
"Maaf, Mas..." Langkah lemas Bulan kini entah akan tertuju kemana. Hari hampir tengah malam dan Suaminya mengusirnya. Kalah, ia kalah lagi dari Helen.
Kini kakinya sudah menginjak tanah di luar rumah. Air matanya melambai pada rumah besar Tuan Purnama Bimangkara yang tadi mengusirnya dengan lantang dan tanpa perasaan serta alasan yang jelas.
Begitu besar cintanya pada Helen sehingga membuat Istri pertamanya kini lontang-lantung di jalan dengan koper yang ia seret dengan lemas. Matanya mengedar sengaja mencari tempat berteduh. Angin dingin mulai menyelinap masuk ke dalam baju, tidak tahu tempat dan tidak tahu waktu.
Langkah kaki lemahnya terhenti saat melihat kaki pria berdiri di hadapannya yang menghalangi jalan. "Mas, bisa minggir?" ucap Bulan.
"Enggak," jawab Pria itu. Suara yang tidak asing bagi Bulan membuatnya mendongak. Wajah tampan Bintang terpampang jelas di hadapannya. Tatapannya terasa hangat.
Bulan kembali menunduk. Isak tangisnya mulai didengar oleh Bintang. Namun, dengan peka Bintang menarik Bulan ke dalam pelukannya. Sesuatu yang sangat Bintang inginkan sejak dulu, memeluk Bulan dan memberikan kehangatan.
"Menyedihkan, ya?" pekik Bulan dalam pelukan Bintang.
"Sangat," jawab Bintang membuat tangis Bulan semakin pecah.
Tangan kekar Bintang mengelus punggung Bulan dengan lembut. Andai Dia bisa menciumnya sekarang juga.
"Nangis aja," ucapnya membuat Bulan mengangguk.
Nafas Bulan sesenggukan. Tangannya mendorong pelan tubuh Bintang. Matanya menyoroti mata Bintang dengan hangat.
Tangan kekar dan halus itu membelai pipi Bulan membuatnya meremang. Hatinya bergetar, bebannya seakan pergi diusir oleh Bintang.
__ADS_1
"Kamu sudah makan?" tanya Bintang.
Bulan menggeleng, dia jujur akan hal itu.
"Oke, sekarang kamu tinggal di rumah, mau?" tawar Bintang.
Kedua sudut Bulan tertarik, lalu mengangguk dengan cepat. "Makasih," seru Bulan.
"Sebenarnya aku sudah awasi kamu sejak ada keributan. Ibu yang suruh aku."
"Bu Irma?" pekik Bulan menganga. Bintang mengangguk.
Mereka berjalan sebab rumah Bu Irma tidak terlalu jauh. Malam terasa dingin membuat Bulan merinding, apalagi jalanan yang sepi ditemani langit gelap.
. . .
Bulan berbaring di atas kasur kamar Bu Irma. Bintang berdiri di ambang pintu, tatapan Bintang tertuju pada wajah pucat Bulan. Bu Irma mengompres Bulan, entah mengapa padahal udaranya dingin tapi suhu tubuh Bulan sangat panas.
Bu Irma berdiri, lalu pergi keluar kamar meninggalkan Bulan dan Bintang sendiri. Bintang berjalan mendekat dan duduk di samping Bulan.
"Bintang, kamu bisa tolong aku?" tanya Bulan dengan suara bergetar.
"Apa?" tanya Bintang balik.
Bulan menyoroti manik mata Bintang dengan tatapan serius. "Bisa minta tolong urus surat cerai?"
"Aku janji, secepatnya akan menemukan bukti tentang tuduhan tidak benar itu."
"Aku janji." Bintang menekankan kalimatnya. Bulan memalingkan wajahnya. Malu, sangat malu.
"Udah gak berguna lagi. Percuma," pekik Bulan.
"Jangan bohongi perasaan kamu. Kamu masih cinta, dan ada darah daging Purnama dalam perut kamu."
Bulan tidak bergeming. Hatinya bergetar. "Kenapa Mas Purnama gak kayak kamu, sih," gerutunya.
"Purnama ya Purnama. Bintang ya Bintang."
Keduanya saling melemparkan senyum. Bintang mengedipkan satu matanya membuat Bulan meremang. Lalu Bintang terbirit-birit pergi.
Bulan termenung. Kedua kalinya ia peluk sendiri dengan erat. Kepalanya ia sembunyikan di dalamnya.
"Bulan!"
Bulan tersentak kaget tiba-tiba mendengar suara keras yang memanggil namanya. Bu Irma datang dan memukul lengan Bulan membuat Bulan bingung.
"Kamu itu hamil, gak boleh duduk kayak gitu!" tegur Bu Irma.
__ADS_1
"Maaf, Bulan gak tahu," ucapnya menunduk.
"Gak boleh sedih! Nanti bayinya nangis di dalam perut terus nanti perutnya Bulan kebanjiran."
"Bu, bisa aja..." Bu Irma mengundang tawa Bulan.
Keduanya tertawa keras. Pecah, suasana pecah.
. . .
Pagi yang terang cahayanya. Burung bernyanyi dengan merdunya. Bulan meregangkan ototnya di depan jendela kamar menikmati udara segar. Tangannya bergerak mengucek matanya.
Bintang sudah bangun dan langsung pergi begitu saja membuat Bulan menyipitkan matanya. Entah dia mau pergi kemana.
Langkah Bintang tertuju pada toko bunga, tentu saja untuk bekerja. Dengan ramah Bintang menyapa bosnya. Tangannya bergerak menata beberapa pot yang berada di bawah.
Sepasang kekasih bergandengan tangan mencuri perhatian Bintang. Wajah yang tidak asing baginya. Orang yang dia cari.
"Helen?" gumamnya pelan. Tebakannya benar, itu Helen dengan seorang pria dan bergandengan mesra.
Tidak lama mereka berdua pergi. Tidak lupa Bintang mengambil foto itu karena tidak bisa pergi mengikuti mereka berdua.
Pikiran Bintang selalu dihantui sepanjang aktivitas yang ia lakukan.
Saat pulang bekerja Bintang kembali disuguhkan dengan pemandangan itu lagi. Helen bergandengan tangan dengan seorang pria namun pria kali ini berbeda dengan yang sebelumnya. Itu semakin membuat Bintang penasaran. Langkahnya menuju cafe yang keduanya masuki.
Saat di dalam pandangan Bintang tidak terlepas dari sikap manis Helen pada Sang pria. Manik mata Bintang melebar kala melihat Helen mengecup pipi pria itu. Tidak sekali namun lima kali Helen melakukan itu secara bergantian.
"Sayang, ini anak kamu mau makan," ucap Helen dari sebrang membuat Bintang kembali terlonjak kaget.
Alis Bintang saling bertaut, mata elangnya menatap tajam pergerakan Helen. Tangannya merogoh saku jaketnya dan mengambil handphone. Kamera ponselnya ia hidupnya dan ia arahkan ke arah Helen.
"Jangan sampai Purnama tahu," pekik pria yang berada di hadapan Helen.
"Tenang, dia gak akan tahu." Helen dan pria itu tersenyum miring secara bersamaan.
"Omong-omong, Bulan tinggal dimana?" tanya pria itu.
"Ada di rumah selingkuhannya," ucap Helen dengan ketus.
"Oke, kita lakukan terus sebelum mereka berdua cerai," ujar Sang pria.
"Tentu, lagian aku belum puas menyakiti Bulan."
Tangan kekar Bintang mengepal dengan keras. Saat ingin berdiri tidak sengaja dia menyenggol seorang pegawai yang membawa minuman. Tentu saja minuman itu tumpah. Untung saja Helen tidak menghiraukan hal itu.
Bintang meminta maaf, lalu pergi keluar dari cafe.
__ADS_1